Kamis, 20 Agustus 2009

SOMBONG


Serial buku harian Mas Bejo (Repost):
Episode: Sekecil apapun sombong itu nggak boleh

Pagi itu metro mini yang Mas Bejo tumpangi memutar cukup jauh dari rute yang seharusnya, karenanya mobil itu sudah penuh penumpang sehingga sepanjang jalan tidak perlu mencari penumpang. Sopir dan keneknya terlihat senang dan bangga dengan kondisi tersebut. Setiap mendahului metro mini rute sama sang kenek terlihat seperti mengejek temannya. Satu, dua , tiga bahkan mungkin sepuluh metro mini yang dia ejek. Yang diejek terlihat hanya diam saja. Dalam hati Mas Bejo hanya merenung dan bertanya dalam hati, kenapa mesti melakukan itu. Tapi Mas Bejo berprasangka baik mungkin itulah wujud kegembiraan sang kenek atau cara meluapkan kegembiraan. 

Prittt….. metro mini tersebut distop Polisi. Ternyata metromini tersebut telah menurunkan penumpang/berhenti pada tempat yang dilarang. Dengan tidak bersemangat sang sopir memberikan “surat-surat kendaraan” yang nampaknya sudah dipersiapkan. Sejak saat itu sang kenek dan sang sopir lebih banyak terdiam. Mungkin yang terbayang adalah pendapatan pagi itu sudah harus dikurangi dengan sejumlah uang yang dilampirkan pada “surat-surat kendaraan” yang tadi diberikan pada Polisi. Atau barangkali sedang menyesali pelanggaran lalin yang telah dilakukan. Atau mungkin juga sedang menyesali kesombongan dan ejekan yang telah dia lakukan. Sopir dan kernek tersebut “beruntung” karena mereka langsung “ditegur” oleh Alloh swt. 

Begitulah dalam kehidupan sehari-hari sering kita merasa “di atas” orang lain, entah karena prestasi kita, entah karena harta kita, entah karena kecantikan dan ketampanan kita, entah karena kecakapan dan gelar kita, entah karena jabatan kita, atau karena sesuatu yang kita miliki lebih baik dari yang dimiliki orang lain. Padahal ustad yang ngajari kita mengatakan bahwa kita ini sekedar makhluk, kita bukanlah pemilik sesungguhnya, kita hanya dikasih kesempatan untuk memanfaatkan dan pemilik yang sesungguhnya adalah Al Kholiq yaitu Alloh swt. Karenanya kita nanti harus mempertanggungjawabkan kepada Alloh swt. Terus kalau mau sombong modalnya apa? Sungguh yang berhak memakai “baju” sombong adalah hanya Alloh Swt, karena Dia-lah pemilik segala sesuatu.

Ketika sombong melekat pada diri kita, efeknya adalah kita akan mengingkari perintah Alloh Swt. Yaa Alloh jauhkanlah kami dari sifat sombong dan sifat-sifat jelek lainnya. Amiin
Artikel lain:
 
Tambahan:
buat sahabat sahabat anggota jama'ah blogeriah semuanya,
 di bulan suci romadhon
saya memohon maaf bila ada
salah kata, salah ucap, salah tulis dan salah komen
yang tidak berkenan di hati sahabat semua.
Lega hati ini jika sahabat semua mau memaafkan kesalahan dan kekhilafan saya
semoga kualitas kita menjadi lebih baik. Amiin 
------------------------000----------------------

kaos ukuran besar XXXXXL
SOMBONG
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

36 komentar