Rabu, 28 Januari 2009

JANGAN MAKAN IKLANNYA


PARODI IKLAN POLITIK

Buku harian Mas Bejo

Waktu lihat iklan politik di tv Mas Bejo Cuma geleng-geleng kepala dan pingin ketawa, inikah wajah perpolitikan Indonesia?

IKLAN BBM

Waktu harga minyak dunia turun dratis, para ahli dan pengamat (ahlinya ngamat-ngamati, prakteknya yo mbuh..) mengusulkan untuk menurunkan harga BBM, pemerintah diam seribu bahasa. Tapi begitu ahli iklan bilang bahwa turunnya BBM akan mendongkrak citra pemerintahan dan pemimpin pemerintahan. Presiden lebih percaya sama ahli iklan, mau buktinya? Begitu harga BBM turun Rp 500 turun lagi Rp 500 dan akhirnya turun lagi Rp 500 tidak begitu lama iklan partai muncul di tv: turun lagi turun lagi turun lagi. 

Pertanyaan Mas Bejo: Presiden lebih percaya dengan ahli iklan? Kok lama dan bertahap. jangan-jangan sengaja diulur-ulur menunggu iklan siap tayang.

Reaksi Parpol atas turunnya BBM:

PDIP kenapa turunnya kok cuma Rp 1.500,- sehingga harga premium Rp 4.500,- kalau PDIP yang berkuasa pasti bisa turun sampai Rp 2.800,- (maklum PDIP dapat no.urut 28) 

Golkar kita saat ini kan jadi Wapres, kalau presidennya dari Golkar premium pasti turun menjadi Rp 2.300,- (maklum no urut Golkar 23)

Mas Bejo:  seolah-olah mereka belum pernah berkuasa dan terlibat dalam pemerintahan, kalau memang  nggak mampu ya gentian dong sama angkat 80-an. Waktu dulu menaikkan BBM kok nggak   dibuat iklan yaa… (Mungkin bunyi iklannya: naik lagiiii ah.. naik lagiii ah..) Harga lain nggak turun, harga nggak turun, harga nggak turun mestinya juga jadi iklan.  


IKLAN HASIL KERJA PARTAI

Partai Golkar bersama ketua umumnya yang jadi Wapres, wakil ketua DPR, para anggota DPR dst dst telah turt serta menurunkan harga BBM, menurunkan angka pengangguran, meningkatkan ini meningkatkan itu dst…

PDIP berjuang bersama anda dengan program menurunkan sembako

Mas Bejo : seolah-olah Negara ini hanya milik mereka, lhaa wingi pas berkuasa kemana saja?

IKLAN PETANI DAN NELAYAN

Saya membawa pesan petani dan nelayan Indonesia, makanlah produk segar dari petani kita dan nelayan kita. Saya adalah ketua petani (bunga ? Bank?) dan ketua Nelayan

Mas Bejo: betulkah kesehariannya hanya makan dan belanja produk dalam negeri? Pas nelayan Indonesia ditangkep di Australi kok nggak muncul membela yaa…. terus yang diiklan dikemanakan?

JANJI IKLAN DAN LANGKAH NYATA

Ada lagi PKS yang karena melakukan demo besar-besaran untuk membela Palestina yang sedang diserbu Israel (dan itu telah dibuktikan dengan langkah nyata mengumpulkan dana bantuan ke Gaza Palestina) eee sama Panwaslu malah dilaporin ke POLRI dituduh melanggar aturan kampanye. Pihak Kejagung dan POLRI beranggapan PKS tidak melanggar aturan, tapi Panwaslu tetap ngotot melaporkan ke POLRI, otomatis pihak Penyidik POLRI setelah melakukan penyelidikan dan memanggil tersangka yaa mengelurkan SP3 (Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan) karena tidak cukup bukti. Herannya Panwaslu tetap ngotot bahkan mau melaporkan penyidik POLRI ke Komisi Kepolisian dan akan melakukan sanksi administrasi kepada PKS.

Mas Bejo : lhaa yang melakukan langkah nyata malah dituduh kampanye terselubung, yang janji-janji iklan tapi janji doang nggak diapa-apain. Atau jangan-jangan sebentar lagi para anggota Panwaslu, Panwasda DKI dan Panwas Jakpus akan mendapat "penghargaan" dari Israel

Catatan terakhir:

Para politisi faham benar bahwa mereka tak perlu dekat dengan masyarakat, yang penting duit banyak dan bikin iklan guna membangun citra yang baik dengan janji manis seolah merekalah yang akan membela rakyat, toh masyarakat kita bodo-bodo dan gampang lupa. 

Gambar Wayang: Patih Sengkuni, tokoh politik dalam pewayangan, menghalalkan segala cara, licik (hampir mirip-mirip sebagian politisi kita?).

Selasa, 27 Januari 2009

Pendidikan anak: Tetap Optimis, berdoa dan berusaha


Buku harian Mas Bejo

Bulan-bulan ini adalah bulan yang penuh “dag dig dug” terutama bagi orang tua yang mempunyai anak kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA.

Kenapa demikian, karena sebentar lagi musim ujian nasional. Dari pengalaman tahun lalu betapa banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional. Tidak hanya itu, untuk yang punya anak kelas 3 SMA tentu lebih bingung lagi karena sebentar lagi anak akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sudah mulai mengadakan penerimaan mahasiswa, meski mereka belum tentu lulus unas.

Kekhawatiran dan kerisauan orang tua adalah hal yang wajar, tidak hanya masalah biaya (biaya kuliah yang semakin mahal) yang merisaukan, tetapi nasib anak ke depan itulah yang menjadi “pemikiran” orang tua.

Insya Alloh tahun ini juga di alami Mas Bejo, dua anak Mas Bejo akan ganti sekolah, 1 orang tamat SMA (berarti mau kuliah), 1 orang tamat SMP (berarti mau masuk SMA). Hati Mas Bejo terasa lega dan optimis ketika sabtu kemarin di acara POMG anak Mas Bejo yang kelas lima, ada ceramah dari Ustad yang juga wali murid kelas 5. Mas Bejo tetap optimis karena sesungguhnya "anak sudah punya jalur sejarah masing-masing". Peranan orang tua adalah dengan selalu mendoakan dan mendidik anak.  Kira-kira inilah ringkasan ceramah dari Ustad tersebut: 

Agar kita lebih “dingin” menghadapi situasi ini, kita perlu memahami sbb:

Mengimani Taqdir:

Alloh swt. berfirman dalam Alqur’an surat Al Hadiid ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلاَرْضِ وَلاَ فِى أَنْفُسِكُمْ إِلاًَ فِى كِتاَبٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَاَهَا , إِنَّ ذَلِكَ عَلىَ اللهِ يَسِيْر
لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلىَ مَا فَاتَكُمْ , وَلاَ تَفْرَحُوْا بِماَ ءَاتَكُمْ , وَالله ُلاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
(الحديد : 22-23)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al Hadid : 22 – 23)

Dari sisi
taqdir sesungguhnya ada 2 (dua) macam taqdir yaitu:

a. Taqdir yang bersifat mutlak hanya hak Alloh saja, tanpa ada campur tangan kita, misalnya:     umur kita, nasib kita, jodoh, karakter anak yang merupakan “bawaan lahir”, dll.  

Dengan memahami bahwa taqdir ini kita tidak perlu khawatir akan nasib anak kita ke depan,       anak kita akan jadi apa, anak kita akan nikah dengan siapa,  karena semua sudah ditentukan         "dari sononya". Untuk taqdir ini kita hanya bisa berdoa. Berdoa diberikan yang terbaik,                 karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh swt.


b.
Taqdir yang masih dapat diubah dengan upaya kita. Salah satu upaya kita adalah dengan         melalui pendidikan anak.

Kunci sukses dalam mendidik anak adalah SABAR sebagaimana kisah Nabi Musa dengan               Nabi      Khidir :


قَالَ لَهُ مُوْسَى : هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلىَ اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
قَالَ : إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِىَ صَبْراً . فَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلىَ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (الكهف : 66-68)

Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"

Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?“ (Al Kahfi : 66-68)

Kenapa dalam kisah Nabi Musa sering bertanya tentang sesuatu yang diperbuat oleh Nabi Khidir? Semua bisa terjadi karena Nabi Musa tidak mempunyai pemahaman yang cukup. Misalnya ketika Nabi Khidir merusak perahu dll.
Ketika seorang tukang batu sedang menggali tanah, ada orang yang bertanya: sedang apa hai tukang batu? Saya sedang membuat galian untuk pondasi gedung berlantai tiga. Orang tadi melanjutkan pertanyaanny: mau buat bangunan kok malah digali, bukankah kalau bangunan lantai tiga berarti kita memasang batu bata ke atas, bukan menggali ke bawah?
Pertanyaan ini dilakukan karena belum faham sehingga dia tidak sabar. Dalam mendidik anak kita seringkali tidak sabar.

Sabar dalam mendidik anak berarti kita harus memahami antara lain:

Umur anak

Ada kisah orang tua bilang: wah anak saya nakalnya bukan main. Setelah ditanya umur               anaknya 5 tahun. Benarkah anak tersebut “nakal”?

Keinginan anak

Keinginan dan kebutuhan anak akan berbeda-beda sesuai tingkatan umur. Tidak adail orang       tua yang memperlakukan anak sama rata, walaupun umurnya berbeda. Kebutuhan anak laki-     laki tentu berbeda dengan perempuan.

Permasalahan-permasalah anak sesuai dengan umurnya

Permasalahan anak ketika masih kecil, sd, smp, smp dan sma tentu akan berbeda-beda.               Orang    tua perlu memahami problematika dari masing-masing umur tersebut. Jangan               sekali-kali            marah ketika anak mengadukan masalahnya kepada kita. Bersukurlah kita       karena mereka          mau berbagi masalah dengan kita.


Kesalahan yang sering terjadi adalah dalam menilai sesuatu terhadap anak kita menggunakan ukuran orang dewasa, padahal anak kita masih anak-anak. Kita kadang marah pada anak kita secara berlebihan, padahal anak kita tidak bersalah karena memang dia belum tahu dan kita belum pernah mengajarkannya. Ketika anak kita ngompol, kita marah luar biasa. Ketika anak kita menangis bukan ditanya malah dibentaknya. Bisa dibayangkan seandainya ujud kita kecil, sekecil anak-anak dan kita tidak boleh menjawab kita juga tidak mampu melawan karena yang kita hadapi Monster yang seukuran kita orang dewasa yang kalau marah lantangnya bukan main, kalau memukul tenaganya kuat bukan main. Jangan-jangan selama ini anak-anak kita menganggap kitalah Si Monster itu.

Yaa Alloh jadilah istri dan anak-anakku sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertaqwa. 

Yaa Alloh jadikanlah anak-anakku menjadi anak yang sholeh, anak yang selalu mendoakan orang tuanya dan mudahkanlah mereka dalam mengarungi kehidupan, mudahkanlah mereka dalam urusan sekolahnya, berilah selalu petunjuk kepada jalan kebenaran.

Yaa Alloh pindahkanlah tempat tugas saya ke Jogja  sehingga dapat selalu berkumpul dengan keluarga.


Amiin amiin amiin yaa robbal ‘alimiin.

Catatan:

Mohon masukan dari temen-temen ya..

foto: keluarga saya dengan 7 anak

Selasa, 06 Januari 2009

JANGANLAH MARAH



Serial Buku harian Mas Bejo
JANGANLAH ENGKAU MARAH

Malam itu sekitar pk. 19.30 WIB Mas Bejo pulang dari diklat menumpang Bus AC jurusan Depok dengan kondektur seorang wanita. Penumpang di dalam cukup banyak sehinggga ada beberapa orang yang berdiri termasuk Mas Bejo. Perjalanan biasa-biasa saja, artinya bus berjalan merayap di tengah-tengah kemacetan jalan di Jakarta. Tidak ada yang menarik sebenarnya, untuk mengisi kekosongannya Mas Bejo hanya melamun dan merenung. Merenungi nasibnya yang kini harus berpisah dengan keluarga. Di saat Mas Bejo harus berdiri di bis kota menuju ke tempat kost nya, terbayang anak-anaknya yang sangat membutuhkan kehadiran Mas Bejo sebagai ayah untuk membimbingnya. Sabarlah anakku… tanpa tersadar bibir Mas Bejo mengucapkan kata-kata itu, ayahmu tidak bisa berbuat apa-apa… ayah hanya pasrah dengan mutasi ini dan hanya bisa berdoa.

Tiba-tiba lamunan Mas Bejo pudar karena mobil berhenti karena ada penumpang turun. Akhirnya Mas Bejo dapat tempat duduk setelah berdiri lebih kurang satu jam. Mas Bejo merasa lega dan bersyukur.

Tidak lama setelah itu mobil berjalan dengan kencang. Wah … sudah nggak macet, pikir Mas Bejo dalam hati. Ternyata bukan karena jalan sudah lancar tetapi karena bus yang ditumpangi Mas Bejo masuk jalur busway. Ketika menjelang sampai di ujung jalur busway, bus tersebut berusaha keluar dari jalur busway, tetapi tidak berhasil. Begitu sampai di ujung jalur busway terlihat Pak Polantas dengan cekatan menyetop bus tersebut. Tanpa perdebatan, sang sopir menyuruh kondektur untuk mengurus. Kondektur yang seorang perempuan berusia sekitar 35 th-an tersebut turun, sedangkan bus tetap berjalan dengan pelan. Begitu sudah selesai urusan sang kondektur berusaha lari untuk mengejar bus yang terus berjalan. Rupanya si sopir tetap menjalankan bus tersebut sehingga sang kondektur tetap tidak bisa mengejar. Mungkin si sopir sedang melampiaskan kemarahannya dengan Polantas tadi, tapi kenapa yang jadi korban justru si kondektur yang tidak berdaya dan tidak berdosa? Si sopir dengan posisinya sebenarnya mau marah dengan Polantas tadi, tapi dia tidak bisa karena Polantas adalah cerminan penguasa, sehingga dia tidak berani.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orang yang marah bukan pada orang yang seharusnya. Kita mau marah pada boss kita, tapi yang jadi korban kemarahan adalah justru anak buah kita, istri kita, pembantu kita, anak kita dan orang-orang lain yang tidak berdosa yang berada di “level” di bawah kita. Bawahan kita tidak berani marah ke kita, maka yang jadi korban adalah istri bawahan kita, anak bawahan kita Istri bawahan kita tidak berani marah kepada suaminya, maka yang jadi korban adalah pembantuya, anaknya dan begitulah efek domino dari kemarahan yang tidak pada tempatnya.

Makanya jangan marah dong….. Jika engkau marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah, jika engkau marah dalam keadaan duduk maka tidurlah atau kalau kira-kira mau marah segeralah berwudhu, maka dijamin kita kan berfikir ulang untuk marah. Jangan marah, maka bagimu surga.

Catatan Tambahan:
Ada marah yang dibolehkan lhoo, marah ketika melihat kemungkaran (ini sebagai salah satu indikator keimanan). Ada tambahan yang lain?