Selasa, 06 Januari 2009

JANGANLAH MARAH



Serial Buku harian Mas Bejo
JANGANLAH ENGKAU MARAH

Malam itu sekitar pk. 19.30 WIB Mas Bejo pulang dari diklat menumpang Bus AC jurusan Depok dengan kondektur seorang wanita. Penumpang di dalam cukup banyak sehinggga ada beberapa orang yang berdiri termasuk Mas Bejo. Perjalanan biasa-biasa saja, artinya bus berjalan merayap di tengah-tengah kemacetan jalan di Jakarta. Tidak ada yang menarik sebenarnya, untuk mengisi kekosongannya Mas Bejo hanya melamun dan merenung. Merenungi nasibnya yang kini harus berpisah dengan keluarga. Di saat Mas Bejo harus berdiri di bis kota menuju ke tempat kost nya, terbayang anak-anaknya yang sangat membutuhkan kehadiran Mas Bejo sebagai ayah untuk membimbingnya. Sabarlah anakku… tanpa tersadar bibir Mas Bejo mengucapkan kata-kata itu, ayahmu tidak bisa berbuat apa-apa… ayah hanya pasrah dengan mutasi ini dan hanya bisa berdoa.

Tiba-tiba lamunan Mas Bejo pudar karena mobil berhenti karena ada penumpang turun. Akhirnya Mas Bejo dapat tempat duduk setelah berdiri lebih kurang satu jam. Mas Bejo merasa lega dan bersyukur.

Tidak lama setelah itu mobil berjalan dengan kencang. Wah … sudah nggak macet, pikir Mas Bejo dalam hati. Ternyata bukan karena jalan sudah lancar tetapi karena bus yang ditumpangi Mas Bejo masuk jalur busway. Ketika menjelang sampai di ujung jalur busway, bus tersebut berusaha keluar dari jalur busway, tetapi tidak berhasil. Begitu sampai di ujung jalur busway terlihat Pak Polantas dengan cekatan menyetop bus tersebut. Tanpa perdebatan, sang sopir menyuruh kondektur untuk mengurus. Kondektur yang seorang perempuan berusia sekitar 35 th-an tersebut turun, sedangkan bus tetap berjalan dengan pelan. Begitu sudah selesai urusan sang kondektur berusaha lari untuk mengejar bus yang terus berjalan. Rupanya si sopir tetap menjalankan bus tersebut sehingga sang kondektur tetap tidak bisa mengejar. Mungkin si sopir sedang melampiaskan kemarahannya dengan Polantas tadi, tapi kenapa yang jadi korban justru si kondektur yang tidak berdaya dan tidak berdosa? Si sopir dengan posisinya sebenarnya mau marah dengan Polantas tadi, tapi dia tidak bisa karena Polantas adalah cerminan penguasa, sehingga dia tidak berani.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orang yang marah bukan pada orang yang seharusnya. Kita mau marah pada boss kita, tapi yang jadi korban kemarahan adalah justru anak buah kita, istri kita, pembantu kita, anak kita dan orang-orang lain yang tidak berdosa yang berada di “level” di bawah kita. Bawahan kita tidak berani marah ke kita, maka yang jadi korban adalah istri bawahan kita, anak bawahan kita Istri bawahan kita tidak berani marah kepada suaminya, maka yang jadi korban adalah pembantuya, anaknya dan begitulah efek domino dari kemarahan yang tidak pada tempatnya.

Makanya jangan marah dong….. Jika engkau marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah, jika engkau marah dalam keadaan duduk maka tidurlah atau kalau kira-kira mau marah segeralah berwudhu, maka dijamin kita kan berfikir ulang untuk marah. Jangan marah, maka bagimu surga.

Catatan Tambahan:
Ada marah yang dibolehkan lhoo, marah ketika melihat kemungkaran (ini sebagai salah satu indikator keimanan). Ada tambahan yang lain?

kaos ukuran besar XXXXXL
JANGANLAH MARAH
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

10 komentar