Selasa, 27 Januari 2009

Pendidikan anak: Tetap Optimis, berdoa dan berusaha


Buku harian Mas Bejo

Bulan-bulan ini adalah bulan yang penuh “dag dig dug” terutama bagi orang tua yang mempunyai anak kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA.

Kenapa demikian, karena sebentar lagi musim ujian nasional. Dari pengalaman tahun lalu betapa banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional. Tidak hanya itu, untuk yang punya anak kelas 3 SMA tentu lebih bingung lagi karena sebentar lagi anak akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Bahkan beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sudah mulai mengadakan penerimaan mahasiswa, meski mereka belum tentu lulus unas.

Kekhawatiran dan kerisauan orang tua adalah hal yang wajar, tidak hanya masalah biaya (biaya kuliah yang semakin mahal) yang merisaukan, tetapi nasib anak ke depan itulah yang menjadi “pemikiran” orang tua.

Insya Alloh tahun ini juga di alami Mas Bejo, dua anak Mas Bejo akan ganti sekolah, 1 orang tamat SMA (berarti mau kuliah), 1 orang tamat SMP (berarti mau masuk SMA). Hati Mas Bejo terasa lega dan optimis ketika sabtu kemarin di acara POMG anak Mas Bejo yang kelas lima, ada ceramah dari Ustad yang juga wali murid kelas 5. Mas Bejo tetap optimis karena sesungguhnya "anak sudah punya jalur sejarah masing-masing". Peranan orang tua adalah dengan selalu mendoakan dan mendidik anak.  Kira-kira inilah ringkasan ceramah dari Ustad tersebut: 

Agar kita lebih “dingin” menghadapi situasi ini, kita perlu memahami sbb:

Mengimani Taqdir:

Alloh swt. berfirman dalam Alqur’an surat Al Hadiid ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلاَرْضِ وَلاَ فِى أَنْفُسِكُمْ إِلاًَ فِى كِتاَبٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَاَهَا , إِنَّ ذَلِكَ عَلىَ اللهِ يَسِيْر
لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلىَ مَا فَاتَكُمْ , وَلاَ تَفْرَحُوْا بِماَ ءَاتَكُمْ , وَالله ُلاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
(الحديد : 22-23)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al Hadid : 22 – 23)

Dari sisi
taqdir sesungguhnya ada 2 (dua) macam taqdir yaitu:

a. Taqdir yang bersifat mutlak hanya hak Alloh saja, tanpa ada campur tangan kita, misalnya:     umur kita, nasib kita, jodoh, karakter anak yang merupakan “bawaan lahir”, dll.  

Dengan memahami bahwa taqdir ini kita tidak perlu khawatir akan nasib anak kita ke depan,       anak kita akan jadi apa, anak kita akan nikah dengan siapa,  karena semua sudah ditentukan         "dari sononya". Untuk taqdir ini kita hanya bisa berdoa. Berdoa diberikan yang terbaik,                 karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh swt.


b.
Taqdir yang masih dapat diubah dengan upaya kita. Salah satu upaya kita adalah dengan         melalui pendidikan anak.

Kunci sukses dalam mendidik anak adalah SABAR sebagaimana kisah Nabi Musa dengan               Nabi      Khidir :


قَالَ لَهُ مُوْسَى : هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلىَ اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
قَالَ : إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِىَ صَبْراً . فَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلىَ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (الكهف : 66-68)

Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"

Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?“ (Al Kahfi : 66-68)

Kenapa dalam kisah Nabi Musa sering bertanya tentang sesuatu yang diperbuat oleh Nabi Khidir? Semua bisa terjadi karena Nabi Musa tidak mempunyai pemahaman yang cukup. Misalnya ketika Nabi Khidir merusak perahu dll.
Ketika seorang tukang batu sedang menggali tanah, ada orang yang bertanya: sedang apa hai tukang batu? Saya sedang membuat galian untuk pondasi gedung berlantai tiga. Orang tadi melanjutkan pertanyaanny: mau buat bangunan kok malah digali, bukankah kalau bangunan lantai tiga berarti kita memasang batu bata ke atas, bukan menggali ke bawah?
Pertanyaan ini dilakukan karena belum faham sehingga dia tidak sabar. Dalam mendidik anak kita seringkali tidak sabar.

Sabar dalam mendidik anak berarti kita harus memahami antara lain:

Umur anak

Ada kisah orang tua bilang: wah anak saya nakalnya bukan main. Setelah ditanya umur               anaknya 5 tahun. Benarkah anak tersebut “nakal”?

Keinginan anak

Keinginan dan kebutuhan anak akan berbeda-beda sesuai tingkatan umur. Tidak adail orang       tua yang memperlakukan anak sama rata, walaupun umurnya berbeda. Kebutuhan anak laki-     laki tentu berbeda dengan perempuan.

Permasalahan-permasalah anak sesuai dengan umurnya

Permasalahan anak ketika masih kecil, sd, smp, smp dan sma tentu akan berbeda-beda.               Orang    tua perlu memahami problematika dari masing-masing umur tersebut. Jangan               sekali-kali            marah ketika anak mengadukan masalahnya kepada kita. Bersukurlah kita       karena mereka          mau berbagi masalah dengan kita.


Kesalahan yang sering terjadi adalah dalam menilai sesuatu terhadap anak kita menggunakan ukuran orang dewasa, padahal anak kita masih anak-anak. Kita kadang marah pada anak kita secara berlebihan, padahal anak kita tidak bersalah karena memang dia belum tahu dan kita belum pernah mengajarkannya. Ketika anak kita ngompol, kita marah luar biasa. Ketika anak kita menangis bukan ditanya malah dibentaknya. Bisa dibayangkan seandainya ujud kita kecil, sekecil anak-anak dan kita tidak boleh menjawab kita juga tidak mampu melawan karena yang kita hadapi Monster yang seukuran kita orang dewasa yang kalau marah lantangnya bukan main, kalau memukul tenaganya kuat bukan main. Jangan-jangan selama ini anak-anak kita menganggap kitalah Si Monster itu.

Yaa Alloh jadilah istri dan anak-anakku sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertaqwa. 

Yaa Alloh jadikanlah anak-anakku menjadi anak yang sholeh, anak yang selalu mendoakan orang tuanya dan mudahkanlah mereka dalam mengarungi kehidupan, mudahkanlah mereka dalam urusan sekolahnya, berilah selalu petunjuk kepada jalan kebenaran.

Yaa Alloh pindahkanlah tempat tugas saya ke Jogja  sehingga dapat selalu berkumpul dengan keluarga.


Amiin amiin amiin yaa robbal ‘alimiin.

Catatan:

Mohon masukan dari temen-temen ya..

foto: keluarga saya dengan 7 anak


kaos ukuran besar XXXXXL
Pendidikan anak: Tetap Optimis, berdoa dan berusaha
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

8 komentar