Rabu, 25 Februari 2009

Pelajaran Mahal Bendaharawan dan Pemotong Pajak


Pelajaran mahal untuk para Bendaharawan dan Pemotong Pajak


Saya tidak tahu apa yang melatar belakangi tindakan Bendahara ( Sebut saja Mr. X dan Mrs. Y ) yang dengan “gegabah” melakukan penyetoran pajak melalui orang lain. Padahal jelas-jelas yang namanya Pajak yaa harus disetorkan ke Bank atau kantor pos dan harus diingat juga pajak nggak boleh disetor ke dan atau melalui orang pajak atau yang mengaku sok dekat dan atau mengaku sok kenal dengan orang pajak. Itu masalah tempat setor, lha masalah lain adalah mentang-mentang mengaku sok dekat dan atau mengaku sok kenal dengan orang pajak terus pada saat setor akan memperoleh “uang pungut” atau “komisi bank”. Itu pasti bohong.
.
.

Mr X dan Mrs Y adalah bendaharawan di sebuah instansi pemerintah daerah. Saat ini dia harus menjadi TERSANGKA dalam kasus Tindak Pidana di Bidang Perpajakan gara-gara keteledorannya dan ketidak tahuannya (?). Negara dirugikan puluhan milyar karena Bendaharawan sudah memotong PPh Pasal 21 tetapi tidak menyetor (setorannya nggak sampai ke bank otomatis nggak sampai ke Negara, karena dititipkan melalui orang lain dan orang tersebut kemudian memalsukan Surat Setoran Pajak [SSP] seolah-olah sudah diterima bank). Dari sisi Pidana Pajak mau nggak mau Bendaharawan lah yang harus bertanggung jawab karena dia sebagai pemotong pajak berkewajiban untuk menyetorkan (ke kas Negara melalui Bank) dan melaporkan SPT ke Kantor Pajak. Saat ini kasusnya ditangani oleh Penyidik Pajak. Sedangkan pemalsuan SSP merupakan Tindak Pidana Umum sehingga ditangani oleh Penyidik dari POLRI.  .
.

Kejadiannya sudah cukup lama yaitu tahun pajak 2006, 2007 dan 2008 dan sepanjang waktu itu Bendaharawan nggak pernah lapor SPT (Surat Pemberitahuan) Masa maupun SPT Tahunan ke Kantor Pajak, herannya Bendahara tersebut sudah rutin diaudit oleh Bawasko dan Bawasda. Terus yang di audit itu apanya ya….? Nah selama ini atasan Bendahara itu apa nggak tahu dan nggak nanyain? Apa mereka-mereka nggak ngerti pajak yaa? Kok nggak nanya-nanya ya…? Kalau nanyanya sudah jadi tersangka kan jadi repot…….
.
.
Pesan-pesan:

1. Sebagai bos/atasan, atau apapun profesi Anda (notaris dokter akuntan insinyur perawat guru buruh teknisi dll [mohon maaf tidak semua profesi disebutkan]) harus care dengan urusan pajak, sebab kalau enggak bisa-bisa perusahaan/instansi akan kecolongan.
2. Jangan sekali-kali sudah memotong pajak tapi tidak setor
3. Jangan sekali-kali setor bukan di Bank (lebih amannya jangan setor tunai jika jumlahnya besar) apalagi melalui perantaraan orang, jika perlu lakukan prosedur konfirmasi (yang ini untuk internal auditor) ke bank untuk lebih meyakinkan.
4. Kalau ada iming-iming dapat komisi dari bank atau dapat upah pungut dari pajak, orang tersebut harus dicurigai bagian dari komplotan pemalsu Surat Setoran Pajak (SSP).
5. Jangan lupa lapor SPT di Kantor Pajak (KPP Terkait)
6. Jangan sungkan-sungkan bertanya kalau belum tahu (saya siap membantunya he he he …. )
7. Waspadalah waspadalah, jangan lupa kalau kebanjiran yaa harus ngungsi (jangan malah bertanya pada “ahlinya”, karena ini hanya iklan pada saat pilkada DKI, makanya jangan makan iklannya tapi makanlah “ahlinya”)
Artikel yang berkaitan:

kaos ukuran besar XXXXXL
Pelajaran Mahal Bendaharawan dan Pemotong Pajak
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

35 komentar