Senin, 30 Maret 2009

CENTANG DAN CENTONG

CENTANG DAN CENTONG

CENTANG DAN CENTONG

Apa sih bedanya centang dengan centong? Selain huruf a dan o, ternyata bermakna sangat beda. Centang mempunyai makna lain contreng, sedangkan centong adalah alat untuk mengambil nasi (sendok nasi, bisa terbuat dari kayu atau plastik atau bahan sejenis).

Centong akan menjadi kata yang sangat terkenal dan membanggakan dibandingkan suap. Karena kedepan orang sudah tidak mau terima SUAP lagi, orang juga akan malu dengan kata SUAP, makanya orang tidak akan bilang lagi mencari sesuap nasi tapi dia akan bilang mencari secentong nasi.


Dalam pemilu nanti centang atau contreng dipakai sebagai tanda bukti akan pilihan partai, caleg atau calon DPD. Konon inilah yang membedakan dengan pemilu sebelumnya, supaya pemilu kita dianggap lebih beradab (?).


Meskipun tidak ada hubungan antara pemilu dengan centong, seorang caleg dari PKS, Partai Keluarga Saya, Partai Kita Semua menggunakan centong sebagai sarana kampanye. Pada saat dilakukan kampanye di Alun-alun Trirenggo Bantul Yogyakarta caleg tersebut membagikan selebaran yang berisi ajakan agar me-centang dia di pemilu nanti dan disertai kupon yang dapat ditukar dengan centong. Otomatis mobil caleg yang membagikan centong tersebut diserbu ibu-ibu yang ingin menukar kupon dengan centong, maklum yang ini kan gratis.
“Wah lumayan bisa dapat centong….” kata ibu yang datang dari daerah Banguntapan.
Siapa lagi yang mau dapat centong?

Pesan sponsor:

Jangan lupa tanggal 9 April 2009, CENTANG caleg dari Partai Kita Semua (PKS), Partai No. 8, dan jangan lupa sebelum berangkat ke TPS agar men-CENTONG nasi untuk sarapan (cukup satu centong atau dua centong atau tiga centong sesuai dengan porsi masing-masing), dan jangan kebalik yaa mencentong caleg dan mencentang nasi.

Kamis, 19 Maret 2009

Tentang Waktu


BANJIR HADIAH
Di musim kampanye ini lagi seru-serunya para jurkam dan caleg bagi-bagi hadiah, ada yang ngasih hadiah kaos ada yang ngasih hadiah uang ada yang ngasih hadiah sembako ada juga yang ngasih janji-janji entah janji palsu, janji boongan atau benar-benar janji doang. Di dunia blogger juga lagi musim saling memberi hadiah atau award sebagai bentuk saling menyayangi, saling mengasihi, saling perhatian, saling membagi (PR), saling mengenal, pokoknya utuk tujuan yang baik.

Masih menyangkut hadiah, seandainya kita mendapat hadiah dari bank (bank mana yang mau ngasih hadiah seperti itu….) setiap hari sebesar $ 86,400.00 dan semua uang tersebut harus dipakai. Seandainya kita hanya memakai uang tersebut sebesar $ 100 maka sisa uang yang tidak terpakai tersebut akan otomatis dihapus dalam rekening kita pada malam harinya. Besok paginya kita akan memperoleh saldo awal sebesar $ 86,400.00 Kira-kira apa yang akan kita lakukan? Tentu kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghabiskan uang tersebut dalam sehari.

 Setiap hari kita mempunyai “rekening” semacam itu yang bernama WAKTU, setiap hari tersedia 86.400 detik yang harus kita gunakan. Waktu yang tidak kita gunakan akan otomatis terhapus. Kita tidak bisa minta tambahan waktu dan kita juga tidak bisa mengambil yang akan datang untuk digunakan hari ini. Kita harus hidup dari simpanan hari ini. Maka investasikan waktu kita untuk kesehatan, kebahagiaan dan kesuksesan kita.

Jam terus bergerak, maka jangan sia-siakan waktu anda, gunakan waktu anda sebaik-baiknya
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN tanyakan pada siswa yang gagal naik kelas
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN tanyakan pada ibu yang melahirkan prematur
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU tanyakan pada editor majalah mingguan
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM tanyakan pada seorang yang menunggu kekasihnya
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT tanyakan pada seorang yang ketinggalan pesawat
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK tanyakan pada seorang yang terhindar dari kecelakaan
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK tanyakan pada peraih medali perak olimpiade
Sumber : dari milis sebelah

Selasa, 17 Maret 2009

Senin, 16 Maret 2009

Silaturakhim singkat

Jarak Jogja Kebumen sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 125 km, jarak itu kami tempuh hampir 3,5 jam, maklum disamping kondisi jalan yang tidak sama (ada yang mulus ada yang kurang mulus) yang ikut dalam “rombongan” adalah anak saya yang masih umur 5 bulan dan 3 kakaknya (TK, kelas 2 SD dan kelas 5 SD) , tentunya bersama istri , 3 anak saya yang besar tidak ikut rombongan, mesti hati-hati di jalan. Setelah shalat magrib di Purworejo kami sengaja mampir ke alun-alun Kutoarjo. Di situ ternyata banyak sekali pedagang makanan lesehan di sekitar alun-alun. Rombongan kami memilih ayam bakar dan ayam goreng serta bebek goreng dan lele goreng. Dalam waktu singkat makanan sudah tersedia. Untuk bebek gorengnya menurut saya sih sudah empuk, cuma rasa bumbunya kurang meresap. Tapi itu bisa dikompensasi dengan sambal dan lalapnya.



Alhamdulillah jam setengah delapan malam kami sampai di rumah ibu mertua (usia hampir 80 tahun) di Gombong. Cuma kami agak was-was kok lampu rumah mati semua. Tapi akhirnya begitu kami bisa masuk maka “berubahlah” suasana yang tadinya sepi langsung jadi “ramai”. Pagi hari kami menyempatkan belanja di Pasar Gombong beli tempe ukuran “jumbo” dengan bungkus daun pisang dan daun jati dan ada juga makanan khas “lanting”. Jam 10 pagi rombongan berangkat ke Petanahan (Gombong dan Petanahan masih dalam satu kabupaten yaitu Kabupaten Kebumen) jaraknya sekitar 23 km (emangnya diukur kok tahu sih….… ). Selain silaturakhim ke bapak saya, juga karena keponakan saya melahirkan anak pertama (berarti saya sudah punya cucu, jadi embah-embah… namanya ganti Mbah Sugeng). Ternyata di rumah kakak saya sudah berkumpul banyak orang. Pokoknya ramai…



Jam 2 siang rombongan kami pulang ke Jogja melalui jalur selatan (jalan dekat pantai, konon jalan itu merupakan rute perjuangan Pangeran Diponegoro dari Jogja – Cilacap, sehingga orang-orang bilang Jalan Diponegoro ). Cuma sayang yaa kalau ini jalannya ada yang mulus ada yang rusak (saya dulu berharap kalau Rustriningsih jadi Wakil Gubernur mungkin jalannya jadi bagus…, sekarang sudah jadi Wagub Jateng kok masih nggak ada perbedaan, padahal kan itu jalur alternative).




Dua puluh tiga kilometer dari rumah bapak saya sampailah ke Ambal di situ ada makanan khas yaitu Sate Ambal, sate ayam dengan bumbu khas dan sambal khas yang berbeda dengan bumbu sate lainnya. Nih saya bawakan oleh-olehnya…








Perjalanan kami lanjutkan. Memasuki Purworejo kami sempatkan minum Dawet Hitam ( gula jawa asli, tanpa pewarna kimia) nih saya juga bawakan:





Akhirnya sampai di Jogja jam 5 sore lebih sedikit, pegel-pegel masih terasa, jam 9 malam terpaksa saya harus tidur pulas di kereta Argo Dwipangga dalam perjalanan Jogja Jakarta, sampai-sampai kondektur saja nggak berani membangunkan saya untuk memeriksa karcis kereta api. "Orang ini bisa dipercaya dan yakin punya karcis" kira-kira batin si kondektur kereta, sementara saya sedang menikmati tidur entah sebelah saya punya perasaan seperti apa....

Rabu, 11 Maret 2009

GARAM DAN DANAU


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya. "Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda. Sang Guru terkekeh.




"Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu. "Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta. "Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. "Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru. "Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

   
   
   
"Sekarang kau ikut aku" Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.


"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?" "Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya. "Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?" "Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
   
   
   
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah." Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau."


Sumber: dari milis sebelah

Foto : Kaliurang Jogjakarta

Kamis, 05 Maret 2009

Cerita Mobil Dinas


Serial Buku harian Mas Bejo (sang pemeriksa pajak)


Episode: Mobil Dinas

Hari pertama Mas Bejo dan tim akan melakukan tugas di tempat baru. Sebagai persiapan pemeriksaan tim memutuskan untuk mencari data-data yang ada di KPP terkait. Karena kelompok Mas Bejo tidak ada mobil dinas, maka Mas Bejo berinisiatif untuk meminjam mobil dinas. Hati Mas Bejo terkaget-kaget dalam hati dengan jawaban pemegang mobil. Dia bilang : maaf yaa di nota dinas yang bertanggung jawab adalah saya, untuk service dan lainnya saya yang bayar, kemarin saya tidak minta ganti ke kantor. Walaupun habis itu Mas Bejo ditawarin (mungkin dipikir-pikir lama-lama nggak enak) untuk memakainya dengan pesan-pesan agar hati-hati, akhirnya Mas Bejo terpaksa minjam mobil temen yang lain. Mas Bejo memutuskan karena kalau urusan dinas dan mobilnya milik dinas kenapa mesti meminta-minta? Malu ah..

(Hasil temuan tim pencari fakta tentang mobil dinas: Tiap bulan mendapat uang bensin dan apabila mau melakukan service dan ganti oli dapat langsung ke bengkel yang ditunjuk maka bendahara yang akan langsung membayar, meskipun semua tergantung keterbatasan anggaran)
Mas Bejo berfikir jangan jangan yang mengalami hal seperti itu bukan hanya Mas Bejo, mungkin Mas Bejo Mas Bejo yang lainnya banyak. Mas Bejo berusaha memahami kondisi ini dengan melihat seperti apa cara pandang orang yang diserahi tanggung jawab fasilitas negara? Dia merasa bahwa itu adalah hak pribadi dia dan melekat pada jabatannya. Dengan demikian dia berhak untuk memakai dari rumah ke kantor dan dari kantor ke rumah, bahkan di hari libur sekalipun dia berhak memakai. Sementara orang yang tidak beruntung yaa harus mengeluarkan uang taksi atau pinjam mobil pribadi temennya untuk melaksanakan tugas-tugas negara. Dunia memang kadang nggak adil?? Haruskah gaji modern yang ada dipakai untuk membiayai (mensubsidi) pelaksanaan tugas? Hal-hal seperti itu sepertinya perlu dibahas biar tidak terjadi gap yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
.
.


Ada contoh ekstrim yang bisa dijadikan sebagai ilustrasi. Apa yang terjadi jika pola pikir di atas dimiliki oleh pejabat dinas kebersihan? Semua mobil dinas untuk operasional kebersihan dari mulai dump truk, truk kecil sampai mobil bak terbuka mereka anggap sebagai fasilitas pribadi. Petugas sampah di lapangan mengangkut sampah dengan susah payah menggunakan sepeda pribadi, kantong sampah pribadi, gerobak sampah pribadi (mereka menggunakan apa yang dimilikinya untuk kepentingan kelancaran tugas, karena mereka sangat merasa bertanggungjawab agar tugasnya bisa selesai). Di saat yang sama mobil operasional sampah yang kosong sedang bersliweran untuk mengantar pejabat dinas kebersihan dengan berbagai keperluan. Apa kata dunia?????????
.

.
Nampaknya di era terbuka sekarang perlu ada aturan yang jelas tentang aturan main pemakaian mobil dinas dan fasilitas-fasilitas negara yang lain. Jangan sampai judulnya mobil operasional untuk pelaksanaan tugas kedinasan tapi justru lebih banyak dipakai oleh pribadi dari orang tertentu. Pengaturan bisa dimulai dari siapa yang diserahi tugas untuk bertanggung jawab, siapa yang berhak memakai, saat kapan bisa memakai, di mana mobil dinas disimpan dan bagaimana prosedur dan administrasi peminjaman. Tapi semua adalah dalam konteks pemakaian untuk kepentingan kelancaran pelaksanaan tugas/dinas sehingga dana rakyat melalui anggaran negara tidak sia-sia. Lagi-lagi keteladanan dan kelapangan dada dari para “pejabat” dan “pimpinan” perlu dilakukan.
.
.
Kalau usul Mas Bejo (Cuma dalam hati, habis mau usul ke siapa, computer saja sudah mengajukan pakai nota dinas dari 12 orang setelah 3 bulan bertugas masih ada yang belum kebagian, sedangkan yang 10 orang yang sudah kebagian computer ternyata masuk kategori generasi agak lama) mobil untuk operasional perlu ditambah atau ada penataan ulang atau pemberdayaan yang sudah ada dengan aturan dan mekanisme yang jelas. Usul lain agar plat nomer tidak boleh diganti plat hitam dan setiap mobil dinas ditulis besar-besar nama instansinya (biar kalau keluarganya atau yang megang mobil sungkan untuk dipakai kondangan). Ada masukan lagi dari temen-temen?
.
Sumber Foto: Inilah.com