Senin, 16 Maret 2009

Silaturakhim singkat

Jarak Jogja Kebumen sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 125 km, jarak itu kami tempuh hampir 3,5 jam, maklum disamping kondisi jalan yang tidak sama (ada yang mulus ada yang kurang mulus) yang ikut dalam “rombongan” adalah anak saya yang masih umur 5 bulan dan 3 kakaknya (TK, kelas 2 SD dan kelas 5 SD) , tentunya bersama istri , 3 anak saya yang besar tidak ikut rombongan, mesti hati-hati di jalan. Setelah shalat magrib di Purworejo kami sengaja mampir ke alun-alun Kutoarjo. Di situ ternyata banyak sekali pedagang makanan lesehan di sekitar alun-alun. Rombongan kami memilih ayam bakar dan ayam goreng serta bebek goreng dan lele goreng. Dalam waktu singkat makanan sudah tersedia. Untuk bebek gorengnya menurut saya sih sudah empuk, cuma rasa bumbunya kurang meresap. Tapi itu bisa dikompensasi dengan sambal dan lalapnya.



Alhamdulillah jam setengah delapan malam kami sampai di rumah ibu mertua (usia hampir 80 tahun) di Gombong. Cuma kami agak was-was kok lampu rumah mati semua. Tapi akhirnya begitu kami bisa masuk maka “berubahlah” suasana yang tadinya sepi langsung jadi “ramai”. Pagi hari kami menyempatkan belanja di Pasar Gombong beli tempe ukuran “jumbo” dengan bungkus daun pisang dan daun jati dan ada juga makanan khas “lanting”. Jam 10 pagi rombongan berangkat ke Petanahan (Gombong dan Petanahan masih dalam satu kabupaten yaitu Kabupaten Kebumen) jaraknya sekitar 23 km (emangnya diukur kok tahu sih….… ). Selain silaturakhim ke bapak saya, juga karena keponakan saya melahirkan anak pertama (berarti saya sudah punya cucu, jadi embah-embah… namanya ganti Mbah Sugeng). Ternyata di rumah kakak saya sudah berkumpul banyak orang. Pokoknya ramai…



Jam 2 siang rombongan kami pulang ke Jogja melalui jalur selatan (jalan dekat pantai, konon jalan itu merupakan rute perjuangan Pangeran Diponegoro dari Jogja – Cilacap, sehingga orang-orang bilang Jalan Diponegoro ). Cuma sayang yaa kalau ini jalannya ada yang mulus ada yang rusak (saya dulu berharap kalau Rustriningsih jadi Wakil Gubernur mungkin jalannya jadi bagus…, sekarang sudah jadi Wagub Jateng kok masih nggak ada perbedaan, padahal kan itu jalur alternative).




Dua puluh tiga kilometer dari rumah bapak saya sampailah ke Ambal di situ ada makanan khas yaitu Sate Ambal, sate ayam dengan bumbu khas dan sambal khas yang berbeda dengan bumbu sate lainnya. Nih saya bawakan oleh-olehnya…








Perjalanan kami lanjutkan. Memasuki Purworejo kami sempatkan minum Dawet Hitam ( gula jawa asli, tanpa pewarna kimia) nih saya juga bawakan:





Akhirnya sampai di Jogja jam 5 sore lebih sedikit, pegel-pegel masih terasa, jam 9 malam terpaksa saya harus tidur pulas di kereta Argo Dwipangga dalam perjalanan Jogja Jakarta, sampai-sampai kondektur saja nggak berani membangunkan saya untuk memeriksa karcis kereta api. "Orang ini bisa dipercaya dan yakin punya karcis" kira-kira batin si kondektur kereta, sementara saya sedang menikmati tidur entah sebelah saya punya perasaan seperti apa....

kaos ukuran besar XXXXXL
Silaturakhim singkat
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

29 komentar