Kamis, 30 April 2009

YANG INI BENER BENER NGGAK SERIUS

YANG INI BENER BENER NGGAK SERIUS

Nggak Serius I:
Dulu saya dan istri  pernah belanja ke Pasar Cipulir (waktu itu saya lagi ikut program pendidikan Akuntan di Stan Jurangmangu)  untuk membeli celana anak-anak. Setelah memilih-milih celana anak-anak yang cocok, kemudian istri saya menanyakan ke penjual.
Istri saya : Bu.... saya mau yang ini, satunya berapa?
Penjual     : maaf bu ini nggak dijual bijian....
Istri saya : saya mau beli enam buah bu... jadi berapa?
Penjual     : wah nggak bisa bu, pokoknya nggak boleh beli satuan,  harus beli lusinan
Istri saya : yaa sudah saya nggak jadi beli satuan, saya beli setengah lusin jadinya berapa?
Penjual     : kalau setengah lusin jadi Rp 90.000,-
Istri saya : ........???       
   
Nggak Serius II
       
Kejadian ini waktu saya masih tugas di Purwokerto, ada seorang pegawai yang berobat ke dokter di poliklinik kantor:
Pasien  : bu dokter gimana yaa  penyakit maag saya kok sering kumat dan nggak sembuh
                sembuh...?
Dokter : penyakit maag memang begitu, saya saja nggak sembuh sembuh....
Pasien  : ....???*#@%*?
Cer

Senin, 27 April 2009

SERIUS: Mohon maaf teman-temanku...

SERIUS: Mohon maaf teman-temanku...

Saya sering dapat pesan biar nulis yang berbobot, lhaa saya ini kan selalu berbobot.... bobot saya saja sudah lebih dari .... kg.    Sudah berbobot masih tambah keGeeRan (otomatis yaa nambah bobot saya... ) soalnya di dunia semut blog saya masuk kategori 10 besar yang menjadi favorit dunia semut. Padahal belum berapa lama blog saya habis direviev oleh seorang notaris keren yang mempunyai jutaan cerpen (makan, tidur, kerja, percintaan pokoknya semuanya bisa jadi cerpen) dan suka melancong ke mana-mana. Malu, seneng, trenyuh, terharu, tersanjung campur jadi satu seperti gado-gadonya Bu Ning di Jogja. Nggak malu gimana, saya posting cuma seminggu sekali, jadi blogger belum genap satu tahun, gaptek (saya kalau mau ngubah tampilan, tinggal minta tolong ke anak pertama saya), dan yang lebih penting banyak lho blog yang lebih bagus dan lebih berisi, saya ini kan masih blajaran.
   
Ini memang menjadikan saya lebih terpacu tapi tidak mengubah target saya, pokoknya posting yaa seminggu sekali. Ada lagi lhoo yang serem, saya sudah pernah dapat peringatan 2 kali langsung dari pemilik blog dan 1 kali komentar yang menguatkan atas komentar-komentar saya. Jadi saya mohon maaf dan terima kasih telah mengingatkan saya. Prinsip saya kalau komentar yaa tidak hanya sekedar basa basi tapi harus ada isi, tidak ada target harus pertama, karena biasanya saya komentar setelah membaca isinya. Tapi yang namanya manusia(bukan semut) kadang perasaan pribadi naik turun (iman kadang naik kadang turun), akhirnya komentar saya ikut terpengaruh. Jadi sekali lagi mohon maaf yaa. Mohon maaf juga buat yang pernah ngasih awards tapi sepertinya saya cuekin, bukan maksud saya mau begitu tapi masange ki piye...? (gaptek sih... he he he). Walaupun ada sisi lain yang saya nggak setuju.
     
Terus kenapa kalau sabtu minggu kok nggak pernah komentar dan blogwalking? Ya iyalah hari itu hari keluarga yang kalau ditambah saja masih kurang apalagi ini cuma 2 hari. Hari itu adalah saatnya saya mengurangi beban istri saya, berkumpul dengan anak-anak dan menyelesaikan permasalahan yang numpuk 1 minggu. Kalau awal bulan biasanya saya sempatkan mbayar SPP anak-anak sekalian silaturakhim dengan guru, minta info tentang anak saya serta memberikan masukan-masukan (itu kalau pas kebetulan ketemu, kebetulan saya kenal sebagian besar guru-guru anak saya, kepala sekolah dan pengurus yayasan).  Khusus sabtu siang biasanya saya makan di luar (maksudnya di luar rumah bukan di luar negeri, tapi nggak nggelar tikar di jalan... pasti ditabrak nanti)  dengan anak-anak. Tapi yaa susah bisa lengkap lho.. biasanya yang SMA atau SMP sudah punya kegiatan sendiri, biasanya pagi-pagi harus kita tanya satu-satu. Sedangkan malam minggu saya punya agenda rutin pengajian yang punya kegiatan pembinaan di daerah Panggang Gunung Kidul (nah ke Gunung Kidulnya saya jarang bisa ikut, soalnya temen-temen "naik" kan tiap minggu sore sampai malam, paling bisa kalau hari senin libur). Malamnya masih ada jadwal ronda (tapi ini saya ikuti hanya kalau giliran di rumah saya) .
   
Tadi pagi waktu saya baru sampai di stasiun gambir saya nelpon ke rumah, anak saya yang no 6 baru bangun (malamnya waktu berangkat dia sudah tidur) dia sudah nanyaian saya: "nanti dijemput jam berapa...?" Lha baru senin pagi kok sudah mau njemput, kerjanya kapan....
     
Inilah nasib seorang pegawai "kecil" di DJP yang harus pisah dengan keluarga. Mestinya boleh yaa saya minta ditempatkan di Jogja. Biar pengeluaran lebih irit, tidak perlu keluar biaya untuk kost, tidak perlu mengeluarkan biaya KA/Tiket pesawat, tidak perlu senin ngantuk-ngantuk. Masalahnya adalah orang-orang yang kompeten seperti Dirjen, Direktur dan Kabag yang menentukan mutasi tidak menjadi blogger sehingga tidak bisa mbaca tulisan ini. Dengan kondisi ini wajarlah kalau saya jadi "kurus" seperti foto dengan hansip. Apapun yang terjadi hidup ini memang untuk dinikmati, yaa nggak? Syukur bisa bermanfaat untuk orang lain. Tetap semangat.
 

PORTER DI STASIUN GAMBIR

Pagi itu sekitar jam 05.15 WIB saya baru sampai di stasiun Gambir untuk perjalanan rutin (orang bilang PJKA= pulang jumat kembali ahad). Tidak ada sesuatu yang istimewa yang ada di stasiun, semuanya biasa saja dan hanya rutinitas yang terjadi, penumpang yang baru datang, penumpang yang menunggu dan penumpang yang pergi. Namun sambil menuju tangga keluar pandangan saya tertuju pada sekitar 3 orang porter yang sedang berusaha untuk membuka pintu kereta yang mau berhenti. Sambil berlari mereka berusaha membuka pintu kereta dan nampaknya mengalami kesulitan. Dengan bersusah-payah akhirnya terbukalah pintu dan mereka masuk untuk menawarkan jasa membawa barang. Saya tidak mengetahui apa yang terjadi dalam kereta, tapi nampaknya tidak ada penumpang yang memakai jasa mereka karena terlihat mereka keluar tanpa membawa barang.
       

Itulah keseharian mereka. Setiap ada kereta dari luar kota yang masuk mereka akan berlari dan berusaha masuk ke gerbong kereta api. Mereka lakukan dari kereta ke kereta tanpa menyerah. Mereka selalu optimis bahwa kereta yang baru datang adalah merupakan harapan akan adanya rejeki yang mungkin mereka dapat. Mereka telah menerapkan etos kerja yang luar biasa. Pada akhirnya setelah berusaha mereka akan bilang bahwa rejeki sudah ada yang mengatur, mereka mensyukuri dengan apa yang mereka peroleh.
       

Saya jadi berfikir mereka yang berusaha dengan susah payah, hasil mungkin tidak seberapa tapi tetap optimis dan tetap bersyukur dengan yang ada, kenapa kita kadang tidak optimis tidak bersyukur (ini hanya dari satu sisi saja lho.. ) padahal yang kita peroleh jauh lebih banyak. Mungkin mereka tidak tahu apa definisi dan arti tawaqqal, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka telah mempraktekkannya. Saya jadi teringat salah satu ayat dalam Al qur’an surat Arrakhman yang artinya: maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? 
      
Jadi.... jangan remehkan siapapun, apapun profesi dia, karena di mata Alloh Swt. bisa-bisa dia lebih mulia dari kita..
     
Keterangan Foto:
Para porter berbaris (sebelah kanan) di Stasiun Gambir menanti kedatangan kereta, walaupun kereta belum masuk (baru terlihat lampunya saja)


silahkan lihat: tulisan ttg Stasiun Gambir

Senin, 20 April 2009

Cerita ringan waktu ngajar


Minggu kemarin saya dapat tugas untuk ngajar diklat pegawai baru ( penerimaan sarjana 2008) tempatnya di Purnawarman, pinginya sih ngajar Akuntansi Pajak cuma kok dapatnya malah Penegakan Hukum, yang merupakan materi terakhir diklat (mereka diklat hampir 2 bulan). Waduh... selama ini saya kan belum pernah (kuliah) dihukum. Mau nggak mau saya mesti harus belajar lagi dan ternyata penegakan hukumnya terbatas di bidang perpajakan (jadi nggak begitu nggak masalah he he he..). Dulu cuma pernah dapat mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum yang dosennya super killer dan sok jaim. Pernah juga sih dapat mata kuliah Hukum Dagang, dosennya yaa kaku dan nggak ngenakkin (beda banget sama dosen akuntansi dan pajak, apalagi kalau yang nulis yang ngajar, ehm.. ehm.. GR dan narsis). Kenapa  kalau orang hukum mesti seperti itu yaa... Kenapa orang-orang seperti Mba Fanny kok nggak jadi dosen hukum. Pasti mahasiswanya seneng lhoo, setiap materi hukum diselingi satu cerpen yang relevan (stok cerpennya sampai ribuan mendekati jutaan). Kan asyik... belajar hukum jadi tidak membosankan. Satu lagi kalau dosennya Mba Fanny  pasti mahasiswanya akan fokus, bukan focus ke materi tapi fokus ke yang ngajar (nah ini yang bahayanya...... ) apalagi kalau mahasiswanya semacam Seno Aji, Rio si Semut, Jonk, Sandal Jepit atau Attayaya  wah... pasti serius tingkat fokusnya, pasti pura-pura nanya lah(padahal cuma caper saja). Beda lagi kalau yang jadi mahasiswinya Ana, atau Dwina tapi nggak membayangkan kalau Yumaima, Ajeng, Wendy, Itik Bali, Maya OZK (kenapa ya pakai OZK?) atau Dhe atau Linda Belle ( yang terakhir nanti selingannya bukan cerpen tapi resensi film) pasti rame dengan karakter yang berbeda, bisa-bisa dosennya kabur.... (dan jadilah satu satu judul cerpen kira-kira judulnya apa yaa? )     
         
Saya sekarang nggak mau cerita materi, tapi cerita kondisi kelasnya.
Yaa karena mereka masih baru pasti mereka masih fresh, pinter pinter dan masih lugu (lucu dan belagu atau memang lugu bener...). Contohnya setelah  dilakukan ice breaking, saya bilang ke mereka: " Gimana sudah bosen diklatnya... ?" serentak mereka bilang " bosennnnn....." terus saya bilang begini: " ok kalau gitu nanti saya usulkan ke panitia untuk mempercepat diklat, jadi besok sudah nggak ada materi lagi" peserta "?????".
        
Ada satu lagi cerita pas saya menjelaskan tugas seorang penyidik dalam penegakan hukum. Ada salah satu peserta yang nanya, "berarti Bapak punya kartu penyidik dari Mabes POLRI?" setelah saya iyakan, peserta itu melanjutkan, " wah enak yaa punya kartu itu...?"
Saya menjawab " iya enak lhoo kalau punya kartu ini, nggak pernah berlaku yang namanya three in one, selama saya di Jakarta nggak pernah ditilang, pakai bahu jalan tol juga nggak ditilang, hebat kan?" terus saya lanjutkan begini, "soalnya selama di Jakarta saya kan paling naik taxi, buswae atau angkot he he he...." 
Catatan Foto:
1. Lagi serius, yang dipegang itu kertas absen, mau cari mana yang bisa "diusilin"
2. Lagi nggarap game
3. Wajah saya kok nggak jelas (yang njepret rodo grogi, atau nggak baca doa dulu)

Senin, 13 April 2009

HANSIP DAN PEMILU


Dari hiruk pikuk pemilu kemarin sepertinya ada sosok yang terlupakan. Dia cukup berjasa dalam pemilu kemarin yang nggak pernah diekspose sama wartawan. Sosoknya yang penuh dedikasi dalam bekerja dan tulus ikhlas. Ketika orang-orang tidur, dia justru berjaga, menjaga kotak suara dan kartu suara, mengawal dan menunggu proses pemilu di TPS selesai. Bahkan ada seorang Hansip yang akhir hidupnya meninggal pas jaga TPS.
Makanya pas pemilu kemarin saya sengaja ikut numpang terkenal dengan hansip. Biasanya kan kalau mau numpang terkenal ya foto bareng artis, presiden, mentri, bupati, gubernur, pejabat. 
Kalau saya cukup numpang terkenal dengan Hansip. Sekalian untuk melihat, inilah ukuran sebenarnya (kira-kira 1: berapa yaa?).  Jadi bukan karena punya pengalaman "khusus" dengan hansip lhoo...
Ada yang punya pengalaman dengan hansip? Misalnya pas mau nikah nunggu ditangkap hansip? Atau pas kecil lari terbirit-birit dikejar hansip gara-gara nyolong mangga tetangga?
  
   
   
   
Motto hari ini: Siapapun partai dan presidennya, hansip pilihannya, nah lho...
   
   
Catatan :kaos ukuran L3/L4 adanya di Toko Peralatan Beladiri "Jireuge" ( di dekat RSU PKU Muhamadiyah Jogja) dengan tulisan KARATE

Senin, 06 April 2009

ANAK NO 6 DARI 7

EPISODE SUAMI PISAH DENGAN ANAK DAN ISTRI KARENA MUTASI

Pengantar : Mestinya kalau cerita ini dibuat cerpen oleh Mba Fanny pasti seru, bayangkan suami jauh di Jakarta, seorang istri harus menghadapi anak yang sakit, siang dan malam. Sementara anak yang lain juga menuntut untuk disayang, lha ditambah lagi kalau yang nulis pulang. Berhubung yang nulis biasanya jarang membuat kata-kata karena lebih banyak ketemu dengan angka, yaa jadinya hasilnya terlalu to the point begini.
Anak ke 6 ini dipilih karena mengingatkan pada pengorbanan yang besar dan luar biasa istri saya



Waktu hamil istri saya lemes-lemes dan kebetulan penyakit ususnya kambuh, sehingga harus mondok di rs.

Pada saat melahirkan:

Lahir di RSU PKU Muhammadiyah Jogja, malam musim sekatenan. Selama kehamilan selalu konsul dengan dokter kandungan/ahli kebidanan. Pada malam kelahiran, oleh bidan sesuai dengan petunjuk dokter dilakukan suntikan pemacu. Cuma pasca disuntik ternyata cepat sekali reaksinya sehingga waktunya di luar perkiraan bidan. Dokter terlambat datang (padahal sudah pakai motor) karena macet terhambat acara sekatenan. Akhirnya lahir pendarahan dan bidannya panik sedang dokternya belum datang. Alhamdulillah akhirnya semua selamat. Karena pendarahan sehingga istri perlu ditambah darah. Kondisinya suka menggigil.

Catatan: karena sistem dan aturan main di RS tersebut kalau penanggung jawabnya dokter kandungan, bidan cenderung takut berbuat salah, tidak berani mengambil resiko







Pada usia 1,5 tahun kebetulan saya baru dimutasi ke Jakarta:
Punya keluhan kalau mau pipis pasti nangis, begitu pipis langsung nangisnya selesai. Kata dokter umum menderita fimosis(?) yaitu saluran kencing luar tersumbat. Kata dokter harus disunat. Karena hampir setiap malam pasti nangis (kasihan istri saya, sudah ditinggal suami, tiap malam kadang jam 10, kadang jam 11, kadang jam 2 malam kadang jam 3 kadang nggak pakai jam, sementara saya cuma sedih dan kasihan tapi nggak bisa berbuat apa). Kita konsultasikan ke dokter ahli bedah anak dan katanya tidak perlu disunat, cuma dikasih obat dan terapi tiap pagi. Dua minggu setelah itu nggak masalah, tapi berikutnya kisah nangis malam hari berulang kembali




Datanglah kita ke dokter ahli bedah anak, setelah dijelaskan akhirnya diputuskan untuk disunat. Karena anak masih kecil maka otomatis harus bius total (prosedurnya seperti operasi)





EPISODE OPERASI BATU DI KANDUNG KEMIH

Hati kami lega begitu sembuh dari sunat keluhan sakit pas kencing tidak ada lagi. Berarti penderitaan anak saya dan istri saya sudah berakhir. Ternyata belum sebab tidak lama setelah itu sakit pada saat pipis masih terulang. Dokter ahli bedah anak berpendapat tidak mungkin ada batu karena selama ini belum pernah ditemukan kasus pada usia anak 1,5 tahun, kecuali daerah pasca sunami atau di dataran tinggi. Singkat cerita kemudian dilakukan rongsen dan usg (kata petugas kasus semacam ini ditemukan di RS Sarjito dengan usia 5 tahun) dan hasilnya menurut dokter ahli bedah urologi yaa harus operasi. Akhirnya operasi dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah dengan ditangani oleh dokter ahli bedah urologi.  Saat yang paling mendebarkan bagi orang tua adalah saat penyerahan di ruang operasi, anak ketakutan sehingga menangis. Pikir saya, kalau masuk nangis nanti pas bangun habis operasi pasti nangis.





Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi. Si Hakam ini menangis dengan kerasnya, padahal di perutnya bekas jahitan hasil operasi, slang infus, slang kotoran darah dan kateter. Untungnya saya dan istri saya dibantu sama kakak perempuan saya. Besar batu seukuran biji rambutan cuma bunder.



Alhamdulillah sampai sekarang setelah usia empat tahun (berarti sudah 2,5 tahun pasca operasi), dia sudah ceria dan tidak ada keluhan lagi. Sekarang masuk kelompok bermain di TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta. Mudah-mudahan selalu sehat, pinter dan menjadi anak yang sholeh. Amiin