Senin, 06 April 2009

ANAK NO 6 DARI 7

EPISODE SUAMI PISAH DENGAN ANAK DAN ISTRI KARENA MUTASI

Pengantar : Mestinya kalau cerita ini dibuat cerpen oleh Mba Fanny pasti seru, bayangkan suami jauh di Jakarta, seorang istri harus menghadapi anak yang sakit, siang dan malam. Sementara anak yang lain juga menuntut untuk disayang, lha ditambah lagi kalau yang nulis pulang. Berhubung yang nulis biasanya jarang membuat kata-kata karena lebih banyak ketemu dengan angka, yaa jadinya hasilnya terlalu to the point begini.
Anak ke 6 ini dipilih karena mengingatkan pada pengorbanan yang besar dan luar biasa istri saya



Waktu hamil istri saya lemes-lemes dan kebetulan penyakit ususnya kambuh, sehingga harus mondok di rs.

Pada saat melahirkan:

Lahir di RSU PKU Muhammadiyah Jogja, malam musim sekatenan. Selama kehamilan selalu konsul dengan dokter kandungan/ahli kebidanan. Pada malam kelahiran, oleh bidan sesuai dengan petunjuk dokter dilakukan suntikan pemacu. Cuma pasca disuntik ternyata cepat sekali reaksinya sehingga waktunya di luar perkiraan bidan. Dokter terlambat datang (padahal sudah pakai motor) karena macet terhambat acara sekatenan. Akhirnya lahir pendarahan dan bidannya panik sedang dokternya belum datang. Alhamdulillah akhirnya semua selamat. Karena pendarahan sehingga istri perlu ditambah darah. Kondisinya suka menggigil.

Catatan: karena sistem dan aturan main di RS tersebut kalau penanggung jawabnya dokter kandungan, bidan cenderung takut berbuat salah, tidak berani mengambil resiko







Pada usia 1,5 tahun kebetulan saya baru dimutasi ke Jakarta:
Punya keluhan kalau mau pipis pasti nangis, begitu pipis langsung nangisnya selesai. Kata dokter umum menderita fimosis(?) yaitu saluran kencing luar tersumbat. Kata dokter harus disunat. Karena hampir setiap malam pasti nangis (kasihan istri saya, sudah ditinggal suami, tiap malam kadang jam 10, kadang jam 11, kadang jam 2 malam kadang jam 3 kadang nggak pakai jam, sementara saya cuma sedih dan kasihan tapi nggak bisa berbuat apa). Kita konsultasikan ke dokter ahli bedah anak dan katanya tidak perlu disunat, cuma dikasih obat dan terapi tiap pagi. Dua minggu setelah itu nggak masalah, tapi berikutnya kisah nangis malam hari berulang kembali




Datanglah kita ke dokter ahli bedah anak, setelah dijelaskan akhirnya diputuskan untuk disunat. Karena anak masih kecil maka otomatis harus bius total (prosedurnya seperti operasi)





EPISODE OPERASI BATU DI KANDUNG KEMIH

Hati kami lega begitu sembuh dari sunat keluhan sakit pas kencing tidak ada lagi. Berarti penderitaan anak saya dan istri saya sudah berakhir. Ternyata belum sebab tidak lama setelah itu sakit pada saat pipis masih terulang. Dokter ahli bedah anak berpendapat tidak mungkin ada batu karena selama ini belum pernah ditemukan kasus pada usia anak 1,5 tahun, kecuali daerah pasca sunami atau di dataran tinggi. Singkat cerita kemudian dilakukan rongsen dan usg (kata petugas kasus semacam ini ditemukan di RS Sarjito dengan usia 5 tahun) dan hasilnya menurut dokter ahli bedah urologi yaa harus operasi. Akhirnya operasi dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah dengan ditangani oleh dokter ahli bedah urologi.  Saat yang paling mendebarkan bagi orang tua adalah saat penyerahan di ruang operasi, anak ketakutan sehingga menangis. Pikir saya, kalau masuk nangis nanti pas bangun habis operasi pasti nangis.





Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi. Si Hakam ini menangis dengan kerasnya, padahal di perutnya bekas jahitan hasil operasi, slang infus, slang kotoran darah dan kateter. Untungnya saya dan istri saya dibantu sama kakak perempuan saya. Besar batu seukuran biji rambutan cuma bunder.



Alhamdulillah sampai sekarang setelah usia empat tahun (berarti sudah 2,5 tahun pasca operasi), dia sudah ceria dan tidak ada keluhan lagi. Sekarang masuk kelompok bermain di TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta. Mudah-mudahan selalu sehat, pinter dan menjadi anak yang sholeh. Amiin

kaos ukuran besar XXXXXL
ANAK NO 6 DARI 7
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

44 komentar