Minggu, 31 Mei 2009

Karakter Istri Teladan

Karakter Istri Teladan

KARAKTER ISTRI TELADAN

Syaikh Muhammad Ustman Al-Khusyt* menyebutkan beberapa karakter istri teladan diantaranya adalah:
  1. Istri yang senantiasa memperhatikan kebersihan diri sendiri, suami, anak-anak maupun rumah tempat tinggalnya
  2. Senantiasa taat kepada suami selama suami tidak dalam kemaksiatan
  3. Mendidik anak-anak
  4. Merasa cukup bahagia dengan pemberian suami, tidak memaksa suami melakukan hal-hal di luar batas kemampuannya dan pandai mengatur kebutuhan rumah tangga
  5. Berakhlaq mulia dan selalu tampil dalam keadaan baik di setiap kesempatan, perkataan dan pembicaraanya senantiasa menyenangkan suami
  6. Menjaga perasaan suami, serta merasa senasib dan sepenanggungan.
  7. Selalu mensyukuri dengan apa yang dilakukan suami sehingga mendorong suami untuk berbuat lebih baik lagi bagi keluarganya. 
Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses pendidikan yang berkelanjutan, antara lain:
  1. Peningkatan kualitas diri, antara lain pemahaman tentang ilmu dasar (agama, fiqih dll), ilmu ttg pendidikan anak, ilmu perkembangan anak, ilmu ttg gizi dan kesehatan dll
  2. Pembinaan perasaan keibuan
  3. Pembinaan kemauan dan kemampuan tarbiyatul aulad (pendidikan anak)
  4. Pembinaan manajemen kerumah tanggaan
  5. Pengajaran surat An Nur, karena di dalam surat An Nur terkandung unsur tarbiyatul khuluqiah (akhlaq) dan tarbiyatul fikriyah (wawasan/pola fikir) antara lain: berbagai hukum dan adab kerumahtanggaan (hukum perzinaan, hukum menuduh berzina, hukum li'an, pedoman pergaulan dlam rumah tangga, adab memasuki rumah orang lain, adab hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan makhrom dan kisah tuduhan terdapat Ummul mu'minin Aisyah ra).  Jika suami tidak mampu melakukan pengajaran ini bisa diwakilkan dengan mengantarkan/memberi kesempatan untuk menuntut ilmu pada ulama atau murobbi
  6. Penanaman Nilai Keteladanan, karena seorang istri merupakan teladan bagi suami, anak-anak dan masyarakat.
Wallohu a'lam bissawab.

* Sumber: Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami karangan Ustad Cahyadi Takariawan

Jumat, 29 Mei 2009

Tata Ruang Rumah Islami

Tata Ruang Rumah Islami

Dalam sebuah perbincangan dengan beberapa teman saya, seorang teman saya bilang : "sebenarnya rumah Si A itu sudah bagus dan cukup ideal, cuma sayang yaa... kenapa jemurannya ditaruh di  depan".  Lebih jauh temen saya mengatakan, kalau memang kondisi memungkinkan kan rasanya kurang etis jemuran pakaian (termasuk jeroan, kan nggak sehat to?) di taruh di depan. Itu kan sama saja aurat juga kok diperlihatkan. Dari pembicaraan itu dapat terlihat bahwa perencanaan/perancangan rumah haruslah memperhatikan hal-hal yang kelihatan sepele tapi prinsip.
    
Pada dasarnya kita diberi kebebasan berkreasi dan memanfaatkan teknologi dalam merancang sebuah rumah. Namun ada prinsip-prinsip yang tidak boleh terlewatkan. Sebagai keluarga tentu rumah yang kita bangun akan mendukung terbentuknya keluarga yang islami, keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan penuh dengan ketaatan kepada Alloh swt.
    
Rumah Islami bukanlah rumah yang ditentukan dengan adanya kaligrafi atau nggak. Berciri arsitektur timur tengah atau nggak. Rumah yang Islami adalah rumah yang memungkinkan ditegakkanya adab adab islami baik untuk penghuni maupaun untuk orang lain (misalnya tamu, kita tentu masih ingat adab bertamu). Dengan demikian rumah tersebut akan mendukung terbentuknya keluarga Islami.
    
Adab-adab islami akan sulit tertunaikan dalam hal kondisi bangunan tidak kondusif misalnya karena keterbatasan tertentu sehingga rumah tidak ada sekat, jumlah kamar yang tidak memadai atau fasilitas pendukung seperti kamar mandi yang tidak memadai atau terpisah dari rumah. Tetapi ada juga yang dari sisi ekonomi tidak ada masalah tetapi rumah yang dirancang tidak memperhatikan aspek hijab dalam fisik bangunan. Rumah mereka besar tetapi ketika ada tamu, tamu dapat "leluasa" melihat semua aktivitas (aurat rumah)  yang ada di rumah tersebut.
   
Dalam kaitan ini, Syaikh Musthafa Masyhur memberi pesan:
  • Yang ingin kami pesankan kepada keluarga muslim perihal bangunan rumah hendaklah mengambil jalan tengah, sederhana,  berusaha memperkecil biaya pembuatan, dan hal-hal yang kurang perlu. Tidak (terlalu) luas tetapi tidak (terlalu) sempit, harus sehat, dan harus ada kamar yang cukup untuk memisahkan anak laki dan anak perempuan ketika tidur. Begitu pula harus dijaga agar jangan sampai aurat rumah terlihat dari luar. Usahakan kalau memungkinkan agar aktivitas penghuni rumah terpisah dari ruang tamu. Alangkah baiknya ada kamar khusus untuk shalat yang dijaga kebersihan dan kesuciannya.
   
Secara ringkas dapat di lihat sbb:
  1. Halaman dan bangunan yang "luas" dan sehat (higienis misalnya ventilasi udara, pembuangan air dsb)
  2. Ruangan dapat dibagi menjadi 3 kriteria : ruang publik (misalnya ruang tamu), ruang semi publik (misal ruang keluarga dan dalam kondisi tertentu bisa diubah menjadi ruang publik, untuk arisan atau pengajian) dan ruang privasi (misalnya kamar utama, kamar tidur tamu, kamar anak, kamar pembantu yang didukung fasilitas lain misalnya KM atau KM dalam jika memungkinkan). 
  3. Ruang pelengkap, jika memungkinkan misalnya ruang perpustakaan, ruang shalat yang terjaga kesuciannya (meskipun untuk laki-laki lebih utama shalat berjamah di masjid)
  4. Tatanan interior yang bersih dan menyenangkan, ruangan yang terjaga kesuciannya.
  5. Tempat menjemur pakaian yang terhindar dari pandangan umum
  6. Dapur yang hieginis
Wallahu a'lam bisawab,
Sumber: disarikan dari buku Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami karangan Ust. Cahyadi Takariawan

Rabu, 27 Mei 2009

Karakters Suami Ideal

Karakters Suami Ideal

KARAKTER SUAMI IDEAL

Saya masih “memelototi” buku Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami, yang disusun oleh Ust. Cahyadi Takariawan, nih hasil “pelototan”-nya :
Tulisan ini saya tujukan buat diri saya sendiri sebagai seorang suami yang harus selalu melakukan proses pembinaan yang berkelanjutan, kepada blogger yang berstatus calon suami maupun blogger yang sudah bestatus sebagai suami, mudah-mudahan ke depan ada tulisan buat bloggerwati.



Saya punya pengalaman, ada seorang ayah ditegor oleh anaknya gara-garanya sholatnya terlalu cepat bagaikan dikejar penagih utang.
Si ayah bilang: “ saya kan sholat sejak kecil, jadi sudah hafal makanya bisa cepat….”
Si anak : “……..@#Rp$%&*????? “
  
Mestinya ini jangan disikapi dengan marah, tapi disikapi dengan lapang dada dan sebagai sara introspeksi. Nah kira-kira sudah siapkah kita menjadi “imam” bagi keluarga kita? Ternyata tidak gampang ya menjadi suami ideal…?

      


Lha terus karakter suami ideal seperti apa?
Masih dalam buku yang sama, Ust. Cahyadi Takaryawan mengutip pendapat Syaikh Muhammad Ustman Al-Khusyt menyebutkan beberap karakter suami ideal adalah:
  1. Suami yang sejak awal telah menunjjukkan kejujuran dan sikap terus terang. Kelemahan dan kekurangannya tidak disembunyikan sejak melamar
  2. Suami yang menggauli istrinya dengan baik, lembut, memuliakan dan menerima kelebihan maupun kekurangan istrinya
  3. Suami yang mampu menghibur dan bersikap lemah lembut terhadap Istri. Ia berkata dengan bahas yang baik dan mendengar perkataan istri.
  4. Suami yang tidak terlalu pencemburu, tidak mengumbar prasangka, tidak suka memata-matai dan tidak berlebihan
  5. Suami yang memberikan belanja yang cukup kepada istri, tidak boros dan tidak pula bakhil
  6. Suami yang selalu tampil dimuka istrinya dengan rapi dan meyakinkan. Ia selalu menjaga penampilan dan kebersihannya, sehingga yang tercium adalah bau yang semerbak.
  7. Suami yang senantiasa menjaga rahasia rumah tangga. Hal ini mencegah orang-orang sekitarnya menggunjing keluarga mereka.
  8. Suami yang senantiasa menjaga kejantanannya, baik fisik maupun psikis, sehingga memancarkan kewibawaan
Sifat-sifat ideal di atas harus selalu diusahakan agar melekat pada diri seorang suami. Maka proses membina diri harus dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sbb:
  1. Selalu memperhatikan peningkatan kualitas diri, yang meliputi pembinaan fisik, akhlaq, aqidah, ibadah, kedisiplinan dan kesungguhan
  2. Pembinaan ketrampilan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain
  3. Pembinaan jiwa kepemimpinan, terutama untuk memahami peran sebagai seorang suami, peran sebai seorang bapak, peran sebagai mertua atau sebagai kakek. Perlu juga memahami fikih usroh (syariat rumah tangga), tarbiyatul aulad (pendidikan anak), psikologi pendidikan dsb.
  4. Pembinaan etos kerja
  5. Pembinaan tanggung jawab keteladanan
    Masalah keteladanan harus ditanamkan sejak seorang lelaki menempuh hidup berkeluarga. Ia akan menjadi sorotan mata seluruh anggota rumah tangga. Gerak geriknya adalah panutan bagi istri, anak-anaknya dan masyarakatnya. Suami harus memberikan keteladanan yang baik dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga diri dan keluarganya terhindar dari kemaksiatan. Alloh swt berfirman dalam Qur’an Surat At-Tahrim 6:
    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Wallahu a’lam bissawab,

Selasa, 26 Mei 2009

Tidak Serius: Kebakaran (Rokok)

Tidak Serius: Kebakaran (Rokok)

Alkisah:
Tepat pukul 15.20 WIB sirine di sebuah kantor berbunyi meraung-raung. Bukan karena ada penelpon gelap yang mengabarkan adanya bom di gedung itu. Tapi di gedung berlantai 11 tersebut telah terjadi kebakaran. Seluruh penghuni panik. Mereka berlarian berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Mereka sudah nggak ingat anak istri/suami, apalagi teman sesama jamaah fesbukiyah, sesama jamaah plurkiyah, tidak inget teman sesama jamaah bloggeriah, pokoknya berusaha untuk selamat sendiri-sendiri. Lift yang kebetulan masih jalan otomatis dijejali dengan para penghuni gedung (tentunya tidak termasuk penghuni gedung selain manusia seperti malaikat, jin atau sejenisnya). Karena kapasitas tidak mencukupi otomatis sebagaian besar penghuni harus turun melalui tangga darurat. Watak asli jadi kelihatan, egois dan mau menangnya sendiri serta tidak mau menolong orang yang lagi kesusahan terlihat jelas. ( Apa yaa begini nih... gambaran orang???)
     
Sekitar setengah jam mereka sudah berhasil berkumpul di halaman. Yang wanita ada yang masih kelihatan cantik (karena memang aslinya cantik), ada yang kelihatan berkurang kecantikannya (karena takut serta berdesak-desakan sehingga merusak dandanan). Yang laki-laki juga demikian, ada yang pucat pasi, ada yang ketakutan dan ada yang nafasnya tak beraturan (ini terutama yang berfisik gendut).  Pihak keamanan kemudian melakukan penyisiran ke seluruh area gedung barangkali ada penghuni yang tertinggal atau yang memerlukan bantuan medis. Setelah seluruh ruangan disisir ternyata tidak ada penghuni, namun begitu pihak keamanan melakukan penyisiran di tangga darurat mereka menemukan banyak orang pingsan. Pihak keamanan kemudian memanggil ambulan dan tenaga medis untuk melakukan pertolongan. Pihak keamanan juga melakukan penyelidikan atas insiden ini termasuk sebab-sebab kenapa mereka pingsan.
    
Beberapa hari kemudian...
      
Hasil penelitian laboratorium, bahwa korban pingsan bukanlah karena mereka menghirup asap akibat kebakaran. Tetapi mereka pingsan karena menghirup asap rokok. Kok bisa? Padahal mereka kan bukan perokok. Ya bisa lah... kan selama ini tangga darurat dipakai sebagai smoking area sehingga sepanjang tangga darurat dipenuhi asap rokok.
Makanya mending tidak merokok, atau kalau merokok yaa asapnya ditelan gitu... atau merokoklah di tempat terbuka (di luar ruangan)
  

Tulisan ini hanyalah khayalan belaka, tulisan ini juga sebagai bentuk keprihatinan dan kendongkolan  saya atas perilaku beberapa oknum yang masih suka merokok di ruangan kerja ber AC padahal sudah diprotes, penggunaan tangga darurat sebagai smooking area sehingga begitu pintu darurat dibuka, asap rokok berterbangan ke ruangan. Pokoknya tidak nyaman. Wahai perokok tercinta, jangan membikin mereka (orang2 yang tidak berdosa) ikut menghirup asap rokok anda, kalau mereka tidak protes bukan berarti hati mereka rela, bukan berarti setuju. Jangan sampai ketidaksetujuan mereka mereka ungkapkan dalam bentuk doa (orang tertindas). Saya tidak membenci orangnya, saya membenci perilakunya. Maafkanlah saya.....

Rabu, 20 Mei 2009

PAJAK ATAS KEKAYAAN CAPRES DAN CAWAPRES

PAJAK ATAS KEKAYAAN CAPRES DAN CAWAPRES

Mencermati kekayaan capres dan cawapres saya jadi kut seneng, ternyata para capres dan cawapres kita suda "kaya" untuk ukuran saya sebagai rakyat jelata. Ada yang berjumlah hampir Rp 8 Milyar, Rp 253 M, 105 M ada yang dalam waktu enam tahun hartanya bertambah Rp 1,6 M sehingga berjumlah Rp 1,7 Trilyun. Dan rata-rata mereka punya dolar lho.... (emang mereka belanjanya di pasar tradisional apa di pasar Singapura atau Amerika, kok nyimpen dollar kok banyak amat..., lha cinta produksi sendiri yang digemorkan selama ini ke mana? Atau itu sangat perlu jika suatu saat dikudeta kan bisa lari ke luar negeri?).
    
Saya lagi mikir kalau uang Rp 1,7  T dalam bentuk ratusan ribu kemudian dijejer kira-kira berapa yaa panjangnya? Dapatnya dari mana yaa.....
         
Kalau jumlah harta kekayaan mereka sudah segitu banyak, maka mudah-mudahan mereka akan konsentrasi mikirin rakyat karena sudah nggak mikirin "perut" lagi. Tapi saya nggak yakin juga soalnya kan ada pepatah: awalnya lapar secentong nasi, lapar secentong berlian, lapar segunung berlian. Jadi kesimpulannya kita lihat saja sejauh mana keberpihakan mereka terhadap rakyat.
         
Baru-baru ini KPK sudah memverifiksi harta kekayaaan yang dilaporkan dalam LHKPN. Saya melihat bahwa verifikasi tersebut belumlah menyangkut kewajaran harta yang dimiliki jika dibandingkan dengan penghasilan capres dan cawapres. Disitulah mestinya akan terlihat apakah ada unsur K (korupsinya) atau nggak. Sedangkan sekarang yang dilihat cenderung hanya yang penting harta dilaporkan serta ada legalitas kepemilikan. Semestinya saat sekaranglah KPK menerapkan pembuktian terbalik bahwa para capres dan cawapres tidak terlibat harta korupsi.
        
Nah sekarang bagaimana aspek pajaknya?
     
Mestinya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga proaktif untuk menampung informasi tentang kepemilikan harta dari para capres dan cawapres. DJP dapat melakukan audit apakah atas harta tersebut telah dikenakan pajak atau belum. Apakah penambahan harta tersebut termasuk objek atau bukan objek pajak. Saya kira untuk persoalan ini kemampuan auditor pajak bisa diandalkan. Tinggal masalahnya adalah apakah ada kemauan politik (keberanian) dari petinggi DJP.
Sebab dalam UU Pajak Penghasilan pasal 4(1) huruf p, sudah jelas disebutkan bahwa yang menjadi objek PPh adalah penghasilan termasuk didalamnya adalah tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenai pajak. Jadi mumpung mereka belum jadi Presiden atau Wapres, cepet-cepet dong "diklarifikasi" juga masalah pajaknya.
Nah untuk kedepannya mestinya di UU Pilpres mencantumkan persyaratan LHKPN juga  mereka juga harus mendapat tax clearence dari DJP. Sehingga kita nggak bertanya-tanya, harta segitu sudah dibayar pajaknya atau belum?
Kalau mereka semua muslim, juga harus ditanya apakah zakatnya sudah dibayar?
Dengan semakin susahnya jadi Capres dan Cawapres mudah2an tidak banyak orang yang berambisi.   
  

Senin, 18 Mei 2009

EKOWISATA TAMAN AIR TLATAR BOYOLALI












Hari Sabtu beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh persatuan orang tua murid TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta yaitu "jalan-jalan" ke Ekowisata Taman Air Tatar Boyolali.

  

  

  

Meskipun saya hanya libur dua hari di Jogja, saya menyempatkan untuk ikut acara ini. Saya menganggap penting keikutsertaan saya karena kegiatan ini tentunya sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak sekaligus sebagai sarana untuk menjalin silaturakhim antar orang tua, orang tua dan guru. Kegiatan ini saya ikuti karena anak saya yang ke 6, Muhammad Hakam Mubarak tercatat sebagai siswa KB TKIT tersebut.

    

   

    

Berangkat dari Jogja sekitar jam 7 pagi, rombongan menggunakan 4 buah Bus Pariwisata dan beberapa mobil orang tua murid. Sesampainya di lokasi, orang tua dan rombongan masing-masing berkumpul untuk istirahat sambil mendengarkan penjelasan dari panitia, dan tentunya dengan menikmati snak dan teh hangat. 

Tampak ibu guru, murid dan kelurganya masing-masing terlihat "sibuk"

  

  

  

  

   

Kegiatan dibagi dua yaitu kegiatan untuk orang tua berupa game dan permainan ringan baik kelompok maupun perorangan.  

       

  

  

  

     

Sedangkan untuk anak-anak disamping ada game juga ada kegitan untuk melihat cara bercocok tanam, melihat kerbau dan mandiin kerbau, bermain di kolam ikan dan menangkap ikan. Setelah itu anak-anak di bawa di kolam renang.

  

  

  

  

  

Setelah berganti baju dan istirahat, orang tua dan anak-anak berkumpul untuk makan siang bersama dengan menu ikan bakar.

    

  

     

   

     

Siangnya acara untuk orang tua dilanjutkan dengan lomba kelompok dan pengumuman pemenang dan pembagian hadiah serta kado silang. Setelah itu acara bebas masing-masing keluarga.

  

  

  

   

Sebenarnya saya pingin nyoba sepeda air, tapi takut "tumpah ke samping" jadi yaa cuma bertiga saja, sementara saya nggendong anak saya no 7, istri saya, Kuni dan Hakam bermain sepeda air.

  

   

   

   

   

   

   

   

   

   

Tampak fasilitas lain yang dapat dipakai untuk outbond

Artikel yang berkaitan:

1. Foto di Ekowisata Tlatar Boyolali

Rabu, 13 Mei 2009

RUMAH YANG TIDAK DIMASUKI SETAN

RUMAH YANG TIDAK DIMASUKI SETAN

Pengantar: Saya masih membaca buku Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami,  karangan Ustad Cahyadi Takariawan sebagai bagian proses belajar saya, maka saya tuliskan laporan pandangan mata saya:

Dalam buku Pernik Pernik Rumah Tangga Islami, dikutip pendapat Ustad Muhammad Ash Shayim dalam kitab Buyuut Laa Tadkhuluuhaa Asy Syayaathiin. Beliau memaparkan adanya rumah-rumah yang tidak dimasuki syetan lantaran kondisi anggota keluarga yang taat kepada Islam.
Rumah tersebut berdasarkan sebabnya dibagi menjadi dua yaitu:
        
Karena Aqidah dan Ibadah
      
  • Rumah orang yang mensucikan diri dan ingat kepada Alloh swt
  • Rumah orang yang sujud dan ruku'
  • Rumah orang yang benar dan menepati janji
  • Rumah yang makanan di dalamnya halal
  • Rumah orang yang memelihara silaturakhim
  • Rumah orang yang berbakti kepada orang tua
  • Rumah istri shalihah
  • Rumah orang yang menunaikan hak dan kewajiban    
   
Karena Akhlak dan Perilaku
  • Rumah orang yang menjaga rahasia
  • Rumah yang tidak menghimpun hal-hal yang haram
  • Rumah yang menolak kemungkaran
  • Rumah yang menolak bid'ah
  • Rumah yang di dalamnya ada ucapan salam dan permintaan ijin
  • Rumah orang yang tawadhu'
  • Rumah orang yang suka memaafkan dan berbuat baik
  • Rumah orang yang menolak hal-hal yang hina
  • Rumah orang yang mencintai dan taat kepada Alloh dan Rosul-Nya,
  • Rumah yang dicintai Alloh dan Rasul-Nya
Dari gambaran singkat di atas, dapat difahami bahwa rumah yang tidak dimasuki setan adalah rumah tangga islami. Rumah yang di dalamnya bersemayam anggota keluarga yang menaati Alloh dan Rosul-Nya dengan segala konsekuensinya. Mari kita perbaiki diri dan keluarga serta rumah kita. Jika itu terwujud, wah... betapa indah dan damai yaa...





Kamis, 07 Mei 2009

HARUSKAH RASA CINTA DIUNGKAPKAN?


HARUSKAH RASA CINTA DIUNGKAPKAN?

      
Pengantar : Saya hanya manusia biasa yang sedang belajar dari berbagai sumber. Termasuk diantaranya adalah sedang belajar dari buku, daripada saya hanya sekedar membaca kemudian buat sendiri saja, kan mending bikin rangkuman dan ditampilin di sini, siapa tahu ada masukan, komentar yang akan membuat saya menjadi lebih faham. Berikut adalah laporan pandangan mata saya:
           
       Dalam konteks rumah tangga islami, suami dan istri adalah orang-orang yang saling mencintai karena Alloh swt. Dalam sebuah rumah tangga islami, mengungkapkan kecintaan adalah bagian utuh dalam rangka beribadah kepada Alloh swt. Inilah sejatinya cinta. Inilah yang membedakan antara cinta yang terbangun dalam bingkai pernikahan dengan cinta selain itu. Pertanyaan yang sering timbul adalah: perlukah kecintaan itu diungkapkan? Dalam bentuk apa kecintaan itu diungkapkan.
Dalam buku Pernik Pernik Rumah Tangga Islami yang ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan, disebutkan bahwa pengungkapan itu adalah perlu, bentuknya adalah:
   
1. Nyatakan Cinta dengan Bahasa Verbal
Bagi laki-laki hal seperti ini kurang disukai, laki-laki cenderung “malas” untuk mengungkapkan rasa cintanya dalam bentuk bahasa verbal. Lelaki akan berfikir rasional bahwa pengungkapan cinta tidak harus dalam bentuk pernyataan/kata-kata. Sedangkan bagi wanita, lebih menyukai ini, nggak tahu kenapa ya.. Kata temen sebelah saya karena wanita lebih suka “dibohongi” daripada harus berkata jujur. Kalau temen saya yang lain bilang, kalau bicara dengan wanita tidak harus jujur, tidak harus apa adanya, tidak boleh bohong, tetapi harus diplomatis. Mungkin dalam pengungkapan rasa cinta kepada wanita juga harus demikian. Gimana pendapat temen-temen semua?
 
2. Nyatakan Cinta dengan Bahasa Non Verbal
Senyuman, belaian sayang, kemesraan hubungan, intonasi kalimat yang lembut dan manja, mimik muka, wajah ceria adalah bahasa non verbal yang dapat mengungkapkan rasa sayang kita kepada pasangan kita. Jika suami senantiasa bersikap lembut dengan istrinya, banyak senyuman tentu akan senantiasa menentramkan hati istrinya, demikian juga suami pengertian dengan kerepotan istri. Sebaliknya senyuman istri juga akan menentramkan hati suami adalah manifestasi kecintaan yang tulus (bukan fulus) kepada suaminya. Bahkan sekali-kali perlu juga suami menyuapi istri ( habis itu lupa nyuapinnya yaa nggak masalah).


3. Nyatakan Cinta dengan Kecemburuan Proporsional

Cemburu itu penting, selama proporsional. Jika tidak ada lagi kecemburuan, maka masing-masing pihak akan saling membiarkan pasangannya melakukan penyimpangan yang justru akan merusak keharmonisan keluarga.
     
4. Nyatakan Cinta denga Hadiah
Hadiah sekecil apapun nilainya tetap menyenangkan. Apalagi bila diberikan pada momen-momen tertentu. Nggak percaya? Coba saja….
   
5. Nyatakan Cinta dengan Nasihat
Nasihat seorang istri kepada suaminya dan nasihat seorang suami kepada istrinya adalah sebagai bentuk rasa sayang. Tentu saja dipilih saat serta cara yang tepat.
      
6. Nyatakan Cinta dengan Indahnya Penampilan

Apapapun kondisi kita, tampil indah dihadapan suami atau istri adalah sangat menyenangkan bagi pasangan kita. Jangan hanya tampil indah ketika mau ke kantor atau kondangan tetapi “sedap dipandang mata” sepanjang masa
   
7. Nyatakan Cinta dengan Segala Cara (sepanjang tidak bertentangan dengan sar’i)
Contoh kecil adalah dengan memberikan kejutan pada pasangan kita. Saya punya cerita ada seorang istri yang mau memberikan kejutan pada suaminya, diriaslah kamarnya seperti kamar pengantin. Harapannya begitu pulang suami akan mengingat kembali masa-masa dulu, eee si suami cuek saja, nggak komentar nggak ngapa-ngapain. Yaa jelas lah si istri ngambek bukan kepalang…. Tuh kira2 suami seperti perlu diapakan yaa?
   

Sebenarnya masih ada yang lain misalnya nyatakan cinta dengan: perhatian, kesetiaan, kepercayaan dan selalu berprasangka baik, Cuma sayanya sudah capai menulis dan nanti yang mbaca juga bosen, jadi cukup dulu yaa hasil membacanya, ada baiknya temen2 membaca sendiri bukunnya biar lebih top markotop
 
Bagi yang sudah mengalami dan merasa seru heboh dan paling berkesan, bisa dong cerita di sini
Jangan lupa, ungkapkan cinta dengan BERKEBUN EMAS 

biar cintanya semakin mekar....

Selasa, 05 Mei 2009

Mengapa Takut Pada PKS


Ada satu cerita di musim kampanye yang lalu, seorang ibu yang kebetulan punya toko kelontong kecil-kecilan. Dia cerita sama yang punya toko grosir yang kebetulan keturunan tionghoa. Si empunya toko yang keturunan tadi bilang, " kalau mau pilih partai yang bersih yaa PKS." Sejak saat itu si ibu selalu mencari info tentang PKS.
        
Di samping citra positif dari berbagai kalangan baik muslim maupun non muslim, akhir-akhir ini PKS mendapat berbagai macam fitnah, terutama menjelang koalisi dengan SBY dimana SBY perlu pendamping Cawapres. Secara itungan angka yaa mestinya dari PKS wong ranking perolehan suaranya di bawah PD atau menempati urutan paling tinggi diantara partai lain yang bergabung dalam koalisi SBY (minjam logikanya Saiful Mujani pas dialog di metro tv). Cuma itu tadi banyak orang yang ketakutan kalau Cawapres dari PKS, padahal yang ndukung juga banyak.
        
Mungkin temen2 sudah bosen dengan pulitik, saya juga merasakan hal yang sama (beruntung ada cerita ketua KPK sehingga Tipi tidak didominasi oleh berita pulitik). Terserah temen temen mau baca atau nggak, mau komen atau nggak, mau muntah atau nggak... semua sah-sah dan  tidak melanggar hukum, tapi yang jelas saya punya pendapat (egois) bahwa kita harus melek pulitik supaya kita tidak dipulitiki oleh para pulitisi. Ada tulisan yang menarik yang dapat membuka wawasan dalam perpulitikan Indonesia, sehingga saya tampilkan di sisini (kalau sekarang saya nggak dituduh kampanye to?):
    
MENGAPA TAKUT PADA PKS ?
ditulis oleh:  Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)
    

Jika ada kelompok yang takut atau memusuhi Partai Islam, maka perlu diselidiki apakah mereka memiliki komitmen yang sama untuk membasmi korupsi, kemiskinan dan pengangguran? Membatasi, apalagi mengisolasi Partai Islam, hanya akan menambah panjang persoalan yang berkecamuk di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia.

    

Sebuah acara talk show di stasiun televisi berlangsung seru pasca Pemilu yang baru berlalu di Indonesia. Para pembicara berasal dari partai-partai besar peraih suara terbanyak: Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat yang tampil sebagai pemenang pemilu, Sumarsono (Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya yang sempat shock karena tergeser ke ranking kedua), dan Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang menempuh jalan oposisi). Narasumber keempat adalah seorang anak muda, doktor bidang teknik industry lulusan Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Mohammad Sohibul Iman, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

     

Usai debat panas, Kumolo mendekati Iman dan berbisik: “Mas, bagaimana sikap teman-teman PKS terhadap PDIP? Posisi Hidayat Nur Wahid cukup berpengaruh di kalangan PDIP, dia menempati ranking kedua untuk mendampingi Ibu Mega.” Perbincangan intim itu tak pernah dilansir media manapun, meski publik mencatat Hidayat pernah diundang khusus dalam acara rapat kerja yang dihadiri pengurus dan kader PDIP se-Indonesia. Dua pekan setelah Pemilu, DPD PDIP Sulawesi Utara, yang berpenduduk mayoritas non-Muslim masih mengusulkan lima calon wakil presiden yang layak mendampingi Mega, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid dan Surya Paloh (Republika, 21/4). Itu bukti kedekatan partai nasionalis sekuler dengan Islam, lalu mengapa selepas pemilu yang aman dan lancar, tersebar rumor sistematik bahwa partai Islam radikal (PKS) menjadi ancaman keutuhan nasional Indonesia?

    

Partai Demokrat dan PKS sekali lagi membuat kejutan. Dalam Pemilu 2004, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina itu, hanya menempati urutan kelima dengan perolehan suara 7,5%. Sekarang mereka menempati tempat teratas dengan raihan suara lebih dari 20,6% menurut perhitungan suara sementara. Sementara PKS yang menempati ranking keenam pada Pemilu 2004 dengan suara 7,3% memang tak bertambah secara drastis, diperkirakan hanya meraih 8,2% suara, menurut tabulasi sementara Komisi Pemilihan Umum. Tapi, PKS dengan posisi keempat dalam pentas nasional menjadi Partai Islam terbesar di Indonesia. Inilah yang menjadi sumber kontroversi bagi sebagian pengamat Barat.

     

Bila kemenangan Partai Demokrat disambut meriah oleh media Barat, sehingga majalah Time berencana untuk memasukkan sosok SBY sebagai satu di antara 100 tokoh berpengaruh di dunia, maka kemunculan PKS dinilai negatif oleh penulis semisal Sadanand Dhume. Dalam Wall Street Journal Asia (15/4), Dhume menyatakan: “The most dramatic example of political Islam’s diminished appeal is the tepid performance of the Prosperous Justice Party (PKS), Indonesia’s version of the Muslim Brotherhood. PKS seeks to order society and the state according to the medieval precepts enshrined in shariah law.” Pandangan serupa diungkapkan Sara Webb dan Sunanda Creagh yang mengutip kekhawatiran pengusaha keturunan Cina, Sofjan Wanandi dan pengamat beraliran Muslim liberal, Muhammad Guntur Romli (Reuters, 26/4).

      

Wanandi, pengusaha sekaligus pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), berkata terus terang: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.” Sedangkan, Romli menegaskan: “PKS have a conservative ideology but are portraying themselves as open and moderate because they are also pragmatic.” Kesangsian Wanandi dan Romli justru menimbulkan pertanyaan, karena mereka mungkin sudah membaca Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan yang dikeluarkan PKS setahun sebelum penyelenggaraan pemilu. Buku setebal 650 halaman itu menjelaskan segala langkah yang sudah, sedang dan akan dilakukan PKS untuk mewujudkan masyarakat madani yang maju dan sejahtera di Indonesia. Tak ada sedikitpun disebut ide Negara teokratis atau diskriminasi terhadap kaum minoritas.

     

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyediakan waktu khusus untuk menyimak platform PKS setebal 4,5 centimeter itu dan berkomentar, “Isinya cukup komprehensif seperti Garis-garis Besar Haluan Negara atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disusun pemerintah meliputi seluruh aspek kehidupan Negara modern.” Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menilai inisiatif PKS merupakan tradisi baru dalam dunia politik agar setiap partai menjelaskan agendanya ke hadapan publik secara transparan dan bertanggung-jawab. Sementara Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri, memberikan apresiasi khusus karena PKS berani melakukan obyektivikasi terhadap nilai-nilai Islam dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Siapa yang harus kita percaya saat ini, pengusaha dan pengamat yang gelisah karena kepentingan pribadinya mungkin terhambat atau menteri dan pakar yang menginginkan perbaikan dalam kualitas pemerintahan di masa datang?

    

Kehadiran partai Islam memang kerap memancing perhatian, tak hanya di Indonesia. Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki yang secara harfiyah menyebut diri berideologi sekuler ternyata masih dicap sebagai kelanjutan dari partai fundamentalis Islam. Gerakan Hamas yang secara patriotik membuktikan diri berjuang sepenuhnya untuk kemerdekaaan nasional Palestina disalahpersepsikan sebagai ancaman perdamaian dunia. Perhatian publik semakin kritis setelah partai Islam berhasil memenangkan pemilu yang demokratis, dan berpeluang menjalankan pemerintahan. Stereotipe buruk kemudian disebarkan untuk menggambarkan partai Islam seperti virus flu yang berbahaya, dengan merujuk pengalaman di Aljazair, Sudan atau Pakistan.

     

Tapi, semua insinuasi itu tak berlaku di Indonesia karena partai Islam dan organisasi sosial-politik Islam yang lebih luas telah berurat-akar dalam sejarah dan memberi kontribusi kongkrit dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hanya orang bodoh yang tak tahu bahwa: organisasi modern yang pertama lahir di Indonesia adalah Serikat Dagang Islam (1905), partai politik yang pertama berdiri dan bersikap nonkooperasi terhadap penjajah Belanda adalah Syarikat Islam (1911), organisasi pemuda yang mendorong pertemuan lintas etnik dan daerah ialah Jong Islamienten Bond hingga terselenggaranya Sumpah Pemuda (1928), mayoritas perumus konstitusi dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (1945) adalah tokoh Islam, dan penyelamat Negara kesatuan Indonesia dari ancaman komunisme (1966) adalah organisasi pemuda dan mahasiswa Muslim nasionalis. Kekuatan Islam juga sangat berperan dalam mengusung gerakan reformasi di tahun 1998, tanpa meremehkan peran kelompok agama/ideologi lain.

    

Tak ada yang perlu ditakuti dari kiprah Partai Islam di masa lalu dan masa akan datang, termasuk dalam membentuk pemerintahan baru di Indonesia. Partai Islam memiliki agenda yang jelas untuk memberantas korupsi melalui reformasi birokrasi, meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menekan angka kemiskinan dan pengangguran, sehingga semangat “jihad” yang sering disalahtafsirkan itu, dalam konteks Indonesia modern bisa bermakna: perang melawan korupsi, kemiskinan dan pengangguran. Jika ada kelompok yang takut atau memusuhi Partai Islam, maka perlu diselidiki apakah mereka memiliki komitmen yang sama untuk membasmi korupsi, kemiskinan dan pengangguran? Membatasi, apalagi mengisolasi Partai Islam, hanya akan menambah panjang persoalan yang berkecamuk di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia.

    

Partai Islam tak hanya mampu meraih dukungan yang cukup luas dalam pemilu, bahkan tokoh-tokohnya yang berusia relatif muda mulai mendapat kepercayaan pemilih. Exit poll yang digelar Lembaga Pengkajian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada tanggal 9 April menunjukkan bahwa pasangan Yudhoyono-Hidayat meraih suara 20,8 persen, mengungguli Yudhoyono-Jusuf Kalla yang meraih 16,3 persen, dan Yudhoyono-Akbar Tandjung yang hanya memperoleh 5,4 persen dukungan responden. Jika fakta elektabilitas yang tinggi ini masih diingkari, maka kecurigaan terhadap Partai Islam sungguh tak berdasar dan melawan kehendak rakyat yang menjadi inti demokrasi.

    

*) Center for Indonesian Reform (CIR), Gedung PP Plaza Lantai 3, Jalan TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur Email: sapto.waluyo@gmail.com

diambil dari : PKS Bersih Peduli Profesional