Kamis, 04 Juni 2009

Pelanggaran Syari'at Dalam Urusan Keuangan

Jangan serem dulu yaa, syari'at kan tidak identik dengan yang serem-serem. Ternyata dalam berhubungan sesama manusia juga ada kaidah syari'atnya. Bahkan notaris misalnya adalah profesi yang mendukung pelaksanaan syari'at berjalan baik, nah lho...?
 
Kasus I
Awalnya Sahab dan Sohib (bukan nama sebenarnya) adalah dua orang sahabat yang mempunyai idealisme yang tinggi. Perkenalaan keduanya dimulai ketika sama-sama aktif di kegiatan kampus. Setelah lulus kuliah keduanya merintis usaha bersama sebagai pengembang “kecil-kecilan”. Ketika usaha baru dimulai, karena merasa saling percaya, tidak ada perjanjian yang jelas tentang permodalan, pembagian kerja dan pembagian keuntungan serta tidak ada pencatatan/pembukuan yang jelas. Setelah usaha berjalan lebih kurang 2 tahun dan usaha mulai berkembang bibit-bibit perselisihan mulai timbul. Antara Sahab dan Sohib sudah mulai sering terjadi percekcokan dan mereka saling curiga. Akhirnya usaha mereka tidak dapat berjalan mulus dan putuslah persahabatan dua orang manusia dengan meninggalkan kebencian diantara mereka.
     
Kasus II
Tanpa sengaja saya mendengar pertengkaran 2 orang pedagang kecil, seorang mengatakan bahwa dia sudah melunasi utangnya sedang yang satunya bersikeras belum melunasinya. Penyebabnya mereka tidak mempunyai bukti dan catatan yang jelas.
      
Kasus III
Ahmad diajak berbisnis oleh calon mertuanya. Karena sungkan maka Ahmad langsung menanam modal pada suatu usaha yang ditawarkan oleh calon mertua. Sebagai calon menantu Ahmad merasa sungkan untuk mengkritisi proposal yang diajukan oleh calon mertuanya, termasuk ketika ada ganjalan tentang prosentasi bagi hasil bagi pengelola dan pemilik modal serta tidak jelasnya pengaturan masalah biaya. Karena ini menyangkut masalah muamallah, tidak seharusnya Ahmad sungkan, tapi sebagai orang timur dan calon mantu tentu dia malu. Kira-kira bagaimana nasib bisnisnya jika ternyata dia gagal jadi menantu?
     
Tiga contoh di atas adalah sebagian kecil kejadian yang berawal dari tidak memahaminya aturan syariat yang mengatur tentang harta (Makanya kita perlu belajar tentang fiqih muamallah ya…, dalam hati saya ternyata masih banyak yang perlu dipelajari yaa). Ujungnya adalah renggangnya tali ukhuwah dan renggangnya tali persaudaraan bahkan sampai putusnya persaudaraan. Padahal seandainya mereka saling memahami, maka kejadian di atas dapat dicegah. Dalam dunia bisnis yang cakupannya besar hal tersebut jarang terjadi karena sudah dilibatkanya profesi tertentu seperti misalnya: Notaris, Akuntan, Ahli Hukum dan Appraisals serta profesi lain yang berkaitan dan didukung dengan dokumentasi dan pencatatan yang sistematis.
   
Seorang guru besar di Al Azhar, legal accountant, ahli dalam fiqih muamallah ( Dr. Husain Syahhatah*) menyebutkan setidak-tidaknya ada tiga hal yang sering menimbulkan perselisihan antar sesama pengusaha yaitu:

   
1.  Tidak berpegang kepada fiqih mu’amallah, atau
2.  Menyepelekan syariat Alloh swt, atau
3.  Semangat dan ikatan ukhuwah, hubungan silaturakhim dan rasa tidak enak dan malu nyaris         mengalahkan aturan-aturan syariat, padahal seharusnya mereka harus tetap berkomitmen.
         
Beliau juga mengemukakan beberapa contoh pelanggaran syariat yang sering dilakukan, antara lain: ** 

     
  1. Tidak mencatat Utang Piutang
  2. Tidak mempertegas dan tidak mengembalikan amanah kepada pemiliknya
    (misalnya seorang menyerahkan sawah kepada saudaranya untuk digarap, tanpa saksi, ketika diminta kembali malah menunda-nunda)
  3. Tidak mencatat akad-akad perserikatan (usaha bersama), misalnya tujuan, pengaturan manajemen, pembagian keuntungan/kerugian, liquidasi dst.)
  4. Tidak adanya kesepakatan atas tata cara pembagian keuntungan (ini misalnya untuk penanam modal)
  5. Memberikan harta kepada orang yang tidak memiliki keahlian (hanya karena iba, akibatnya harta tersebut tersia-siakan karena tidak dikelola dengan baik )
  6. Mengeksploitasi rasa malu dan rasa tidak enak orang lain (misalnya sengaja menunda pembayaran, padahal mampu, karena yakin pihak yang berpiutang sungkan menagih)
    Hadist: Penundaan seorang yang mampu adalah kezaliman
  7. Memberikan Rekomendasi atas Suatu Pekerjaan atas dasar perasaan
  8. Tidak menjaga hak-hak istri yang berkaitan dengan harta
  9. Mengeksploitasi dan menggampangkan kaidah: darurat bisa mengubah hal-hal yang dilarang menjadi boleh
  10. Tidak menghitung saat menerima harta/uang dari orang lain
  11. Mencampur adukkan hak-hak pekerja dengan hak hak amal fi sabilillah

     

Apabila aktifitas mu’mallah sudah didasari pada syariat Alloh swt maka dapat tercipta : ta’awun (kerja sama/kemitraan), itsar, saling kasih sayang, saling memaafkan, saling memberi kelonggaran saat kesulitan, saling tolong menolong sehingga akan mendapat perlindungan Alloh swt.

Catatan: * Berbagai pelanggaran syari’at dalam urusan keuangan, Dr. Husain Syahhatah, Robbani Pres 2002

** Mestinya tiap-tiap poin ada uraian serta dalil Al Qur'an dan Hadis yang mendasarinya, jadi semestinya kalau utang/piutang harus dicatat dan ada saksi dst.....

Artikel yang berkaitan:

1. Utang oh utang


kaos ukuran besar XXXXXL
Pelanggaran Syari'at Dalam Urusan Keuangan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

38 komentar