Senin, 27 Juli 2009

Kenapa mesti ALP (Adult Learning Principle)?

Jadi Trainer TOT
   
Bisa membayangkan nggak jika kita adalah seorang guru yang sudah cukup lama ngajar, kemudian harus mengikuti diklat selama dua bulan dengan materi yang hampir sama dengan materi kuliah dan dengan sistem klasikal. Pasti kita merasa bosen karena kita merasa "tidak dianggap", juga dua bulan adalah waktu yang cukup lama.
   
Jika kita seorang lulusan akuntansi, sudah bekerja di bidangnya, karena kita baru ikut diklat yang pertama (katakanlah Diklat Tk.I) maka mau nggak mau kita harus ikut kelas Pengantar Akuntansi. Juga materi-materi yang lain yang mungkin sudah pernah diikuti. Dan lebih "mboseni" lagi sistem pengajarannya kita "dianggap tidak tahu". Nanti kalau Diklat Tk.II, ya materinya ada Akuntansi Menengah dst.
   
Itulah gambaran diklat yang berlangsung di instansi saya selama ini. Diklat berjenjang dengan kurikulum yang sudah baku dan waktu rata-rata dua bulan. Pola diklat seperti itu menggunakan asumsi bahwa peserta diklat adalah "orang yang belum tahu". Sistem perdiklatan menggunakan pola klasikal dengan memposisikan Dosen sebagai orang yang serba tahu dan bersifat transfer ilmu. Porsi keterlibatan peserta diklat sangat sedikit karena cenderung didominasi oleh Dosen. Makanya pola ini cenderung membosankan.
  
Pola diklat seperti di atas saat ini mulai diubah. Sekarang menggunakan prinsip belajar orang dewasa (ALP), kalau di beberapa tulisan disebut Andragogi (bukan anda grogi), kalau salah-salah saya dimaklumi yaa.... (tulisan ini kan bukan mau dapat nilai kok, ngeblog kan gratis, internet juga gratisan).  Asumsi dasar yang dipakai adalah peserta diklat adalah orang dewasa yang mempunyai sisi lebih dan sisi kurang. Sisi lebihnya (termasuk berat badan?) diantaranya adalah orang dewasa sudah punya pengalaman yang banyak, ilmunya juga banyak (karena di situ kan banyak mantan, misalnya mantan akuntan, mantan sarjana hukum, mantan sarjana manajemen dll), dia akan antusias jika ilmu yang diajarkan bermanfaat dan sesuai minatnya. Sisi kurangnya adalah orang dewasa gampang ingat tapi juga gampang lupa. Dengan demikian posisi trainer adalah sebagai fasilitator dan bukan sebagai guru (sumber ilmu). Trainer dan traenee mempunyai posisi setara. 
  
Untuk mendukung pola itu, selama seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk ikut menjadi salah satu trainer TOT. Bukan karena hebat, cuma karena sudah pernah ikut TOT beberapa tahun yang lalu dan sudah 5 kali jadi trainer (bukan TOT) dengan pola seperti itu. Satu kelas diisi 21 tranee dengan 4 trainer. Hari pertama acara ceremonial dan pengenalan serta peserta diberi kesempatan untuk berbicara tentang dirinya selama 3 menit dan direkam. Kemudian selama 3 hari mendapat materi dengan pola pembelajaran orang dewasa, diskusi studi kasus, story telling, role ply dan metode pembelajaran yang lain. Diselingi dengan yel-yel, game dan performance baik perorangan maupun kelompok serta bersaing dengan point tiap kelompok. Malam hari ketiga tiap peserta menyampaikan satu tema yang telah ditentukan oleh trainer selama 5 menit dan direkam. Hasilnya akan dibandingkan sebelum memperoleh diklat dengan setelah mengikuti diklat sebagai bahan evaluasi. Pokoknya seru dan rame. Hampir di kelas tidak pernah sepi dan selalu dinamis, baik banyolan, celetukan, perdebatan bercampur membuat suasana selalu bersemangat dan bergairah.
   
Sebagai trainer merasa puas karena jerih payah selama seminggu tidak sia-sia ketika melihat presentasi baik perorangan, kelompok maupun kelas sudah dapat menerapkan ALP. Berarti mereka siap untuk "diterjunkan" pada diklat calon pemeriksa pajak yang akan datang. 
   
 )))))0(((((



Lagi sok action di depan kelas saat ngajar TOT

Materi yang sangat berkaitan:
1. Dari guru ke fasilitator proses pembelajaran

Selasa, 21 Juli 2009

Ngorok di Kereta Api Malam

Ngorok di Kereta Api Malam

Tahukah anda bahwa orang yang ngorok tidak tahu bahwa dirinya ngorok? Saya kalau tidur kan yaa ngorok juga. Untuk membuktikan bahwa saya bener-bener ngorok, pernah menjelang tidur saya rekam pakai HP, hasilnya..... luar biasa. Ternyata variasi suara ngoroknya banyak banget.
 
Dalam perjalanan rutin Jogja Jakarta dengan numpang Taksaka tadi malam, sebelah saya lebih gendut dari saya. Dari mulai duduk sudah tampak "kelelahan". Awalnya saya agak terhibur, dalam hati saya bilang, ternyata ada orang yang lebih "kurus" dari saya. Kita sempet ngobrol umum-umum saja. Begitu tiket diperiksa, maka sebelah saya langsung tidur dengan berbagai variasi suara ngoroknya. Saya terus terang baru kali ini agak susah tidur. Pertama karena siangnya saya sudah cukup tidur. Yang kedua saya lagi mengamati dan mendengarkan langsung ternyata orang ngorok itu variasinya buaaanyak sekali. Yang ketiga ternyata orang pulas tidur, ngorok dan fisik gedhe bisa mengganggu sebelahnya sehingga susah tidur. 
    
Untuk mengisi "kekosongan" saya berusaha blog walking dengan HP saya. Saya pingin menyapa sahabat-sahabat saya yang sudah lama tidak saya kunjungi (maklum waktu liburan anak, saya cuti satu minggu sekalian nyontreng, setelah itu dilanjutkan ngajar diklat TOT selama seminggu, jadi praktis dua minggu saya nggak berkunjung ke rumah sahabat). Ternyata baru beberapa sahabat saya kunjungi batre saya drop, ya sudah saya kembali fokus "menikmati" variasi ngorok sebelah saya.
   
Terakhir buat orang-orang yang mungkin tidak sengaja menjadi korban (apes) duduk di sebelah saya dalam perjalanan kereta mungkin dari Jogja ke Jakarta atau sebaliknya dan merasa terganggu seperti cerita saya di atas, saya mohon maaf yaa.... Bener lho orang ngorok itu tidak tahu kalau dirinya ngorok???  
Wahai para "pengorok" saya membutuhkan dukunganmu...... he he he.....

Selasa, 14 Juli 2009

TRADISI KHOTMIL QUR’AN

Di beberapa Masjid di daerah Kebumen, terdapat tradisi yang unik yaitu acara khotmil Qur’an. Dalam bahasa kebumenan, mereka bilang kataman Al Qu’an. Acara ini diikuti oleh anak-anak yang telah selesai belajar dan telah selesai membaca Al Qur’an. Biasanya acara diadakan bersamaan dengan peringatan hari besar islam, misalnya Isro Mi’roj atau Maulid Nabi.
   
Dengan menunggang kuda mereka diarak keliling desa dan finis di Masjid. Diiringi music tradisional dan beberapa atraksi seperti silat atau atraksai lainnya. Sesampainya di Masjid mereka kemudian mengikuti acara di Masjid. Setelah itu mereka tampil di panggung dan membaca satu persatu Surat yang ada di Juz 30 di panggung dihadapan para hadirin. Terakhir mereka membaca do’a khotmil Qur’an.

   
Bagi yang pernah ikut, acara ini merupakan kebanggan tersendiri. Mereka bangga karena sudah selesai belajar membaca Al Qur'an dan telah selesai membaca Al Qur'an.  Bangga karena mereka bisa tampil  di panggung serta bangga karena diarak pakai kuda. Untuk tahap berikutnya mereka belajar kitab fiqih sebagai kelanjutan belajar membaca Al Qur'an.
 
Saat saya pulang dari rumah orang tua saya di Kebumen menuju Jogja, saya berpapasan dengan iring-iringan mereka.


Peserta kataman memakai kacamata hitam dan dengan bangganya menunggang kuda


arak-arakan diiringi drum band dan musik tradisional lainnya


pakaian seragam bermacam-macam




Kamis, 02 Juli 2009

Pemandangan yang buram atau kacamata yang harus diganti

Pengantar:  Tulisan ini tidak saya ubah dari aslinya, pemuatan materi ini sudah atas seijin penulisnya Dadang Kadarusman prinsip saya, apa salahnya kalau kita turut menyebarkan nilai nilai kebaikan ke sesama manusia.  

Gambar : diambil dari google

Pemandangan yang buram atau kacamata yang harus diganti

Hore,

Hari Baru!

Teman-teman.


Kacamata. Sebuah frase yang memiliki makna denotatif dan konotatif. Dia bisa berarti sebuah alat untuk membantu memperbaiki daya penglihatan, namun bisa bermakna ’cara kita memandang sesuatu’. Dengan kacamata yang salah, situasi apapun yang kita hadapi; akan dipersepsikan secara negatif. Namun, dengan kacamata yang baik kita selalu mampu menemukan sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami. Bahkan sekalipun peristiwa itu kurang menyenangkan. Benarkah demikian? Benar. Karena kita percaya bahwa setiap peristiwa itu seperti keping mata uang. Terserah; apakah kita memfokuskan sudut pandang pada sisi positif, atau negatifnya?

       

Kacamata ini sudah saya gunakan selama lebih dari tiga tahun. Salah satu alasan mengapa saya tidak ingin menggantinya adalah karena saya merasa nyaman dengannya. Dan, karena setiap hari saya menggunakannya; maka saya tidak menyadari bahwa sesuatu telah terjadi dengan penglihatan ini. Pada awalnya, saya merasakan sakit kepala yang semakin lama semakin sering terjadi. Kemudian, text film di TV terlihat kurang jelas sehingga saya berusaha mengubah-ubah kabel antena. Namun, setelah sekian lama; saya tidak berhasil membuat gambar di TV lebih jelas. Bahkah sekalipun tiang antena diatap rumah sudah diputar-putar kesana-kemari. Jangan-jangan, ’kesalahan bukan pada pesawat televisi….’.

Benar saja. Pemeriksaan menunjukkan bahwa kacamata itu tidak lagi cocok dengan kondisi mata saya. Rupanya, itulah yang menyebabkan mengapa pandangan saya tidak lagi jernih. Hari itu, tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya sering memandang hidup dalam suasana yang suram. Bahkan, kadang-kadang gelap seperti diselimuti kabut. Jangan-jangan, semua itu terjadi karena saya keliru menggunakan ’kacamata’ dalam memandang hidup. Ketika menghadapi kesulitan hidup; kita sering berkeluh kesah, hingga tak jarang kehilangan harapan. Seolah dunia ini nyaris runtuh. Bahkan, ketika prospek yang kita kunjungi mengatakan ’tidak’ terhadap produk yang kita tawarkan, kita merasa kesakitan yang tajam didalam hati. Atau, ketika surat lamaran kerja kita tidak kunjung mendapatkan balasan, kita merasa dunia ini tertutup bagi kita. Atau, ketika seorang gadis mengatakan ’maaf, saya belum bisa menerimamu,’ kita menganggap itu sebagai sebuah penghinaan. Kita sering gagal melihatnya dari sisi positif, sehingga batin kita dikuasai oleh kesimpulan dan sikap negatif.


Dengan kacamata yang keliru, bahkan kabar baikpun bisa dipersepsikan secara keliru. Ketika kita mendapatkan promosi jabatan; kita menganggapnya kesempatan untuk menepuk dada. ’Sekarang gue ini boss; elu pade mesti hormat sama gue!’ Ketika Tuhan memberikan kelapangan harta, kita melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa derajat kita lebih tinggi dari orang lain yang pada miskin. Ketika dianugerahi keluasan ilmu, kita mengira orang lain bodoh.


Petugas optik menyarankan saya untuk mengganti lensa kacamata itu. Lalu saya mengikuti sarannya. Ajaib sekali, sejak saya mengganti lensa kacamata itu, saya tidak lagi mengeluhkan sakit kepala yang selama ini menghantui. Pesawat televisi saya menampilkan gambar yang jelas lagi bersih. Dan saya memandang dunia seolah menampilkan suasana baru yang jauh lebih cerah dari sebelumnya. Hal ini benar dalam pengertian sesungguhnya, maupun dalam konteks metafora. Buktinya, dengan ’kacamata’ yang benar kita selalu melihat harapan didalam kesulitan hidup seberat apapun yang kita hadapi. Sebab, kita meyakini bahwa didalam setiap kesulitan, selalu terdapat kemudahan.


Ketika seorang pelanggan mengatakan; ’maaf, saya tidak jadi membeli produk anda’, tiba-tiba saja kita menyadari bahwa cara pendekatan atau teknik penjualan yang kita gunakan itu masih belum tepat, sehingga kita harus memperbaikinya. Atau, mungkin produk kita tidak lagi memiliki keunggulan sehingga kita menjadi tertantang untuk melakukan inovasi. Tanpa penolakan itu, kita mungkin tidak pernah sampai kepada kesadaran sedalam itu.


Kacamata itu jugalah yang memberi kita kemampuan untuk menerima semua cobaan yang Tuhan berikan sebagai sarana bagi kita untuk ’naik tingkat’ dimataNya. Sebab, bukankah para guru spiritual kita selalu mengatakan bahwa; ”Jika Tuhan ingin menaikkan derajat seorang hamba, maka Dia akan memberinya sebuah cobaan. Jika hamba itu dapat melalui cobaan itu dengan tulus dan penuh kesadaran, maka tingkat keimanannya akan semakin tinggi.”


Kita semua tahu, bahwa semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin tinggi juga rasa sayang Tuhan kepadanya. Dan semakin sayang Tuhan kepada seseorang, maka semakin besar peluang baginya untuk manjadi pribadi yang lebih baik. Sebab, ketika seorang pribadi yang baik tengah melalui roda kehidupan yang berat; maka dia akan melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. Sedangkan, ketika tengah ditaburi oleh berjuta keberhasilan; dia akan menjadi semakin rendah hati. Sebab, dengan kacamata yang baik, dia menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya; tiada lain selain kesempatan bagi dirinya untuk semakin mendekatkan diri, kepada Sang Pemilik Sejati.


Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman

Natural Intelligence Learning Facilitator

http://www.dadangkadarusman.com/

Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta


Catatan Kaki:

Mungkin sebenarnya masa depan kita itu sangat cerah. Namun, karena kita keliru menggunakan kacamata, kita melihatnya seolah-olah suram dan tanpa harapan.