Rabu, 12 Agustus 2009

Konsisten (Istiqomah)

Judulnya mungkin nggak nyambung, tetapi daripada nggak pakai judul, yang penting ada judulnya.

Alkisah. Si Fulan adalah seorang ahli dalam bangun membangun istana raja. Selain mampu merancang model istana yang indah dan megah, dia juga mampu membuat tata letak yang fungsional. Karenanya Sang Raja sangat membanggakan Si Fulan. Tidak hanya ahli dalam merancang, Si Fulan juga ahli dalam membuat rencana anggaran sekaligus sebagai pelaksana. 

   

Disamping keahlian dan kecerdasan dalam merencang bangunan, Si Fulan punya sifat yang sangat baik yaitu jujur, tidak sombong dan hidupnya sangat sederhana. Tidak ada perbedaan mencolok dari sisi gaya hidupnya, tetap sederhana, padahal "proyek" pembangunan istana mempunyai nilai yang sangat besar. Mungkin jika orang lain yang "jadi pimpro"-nya bisa-bisa sudah membangun istana kembaran di daerah tempat kelahirannya, atau sudah ganti kendaraan mewah atau bahkan sudah nambah istri muda.  Si Fulan tetap "biasa-biasa" saja.

    

Suatu saat Si Fulan dipanggil mendadak oleh Sang Raja. Karena mendadak, maka Si Fulan hatinya berdebar-debar, ada apakah gerangan saya dipanggil, jangan-jangan saya punya kesalahan, batin si Fulan.

  

" Wahai Si Fulan, engkau telah menyelesaikan pembangunan istanaku secara baik dan sangat memuaskan. Saya sangat senang dan bangga dengan model dan kualitasnya. Tapi saya masih memiliki proyek terakhir untukmu, saya ingin membuat rumah untuk orang yang sangat saya kasihi" 

  

Kemudian terjadilan diskusi antara Si Fulan dengan Sang Raja berjam-jam. Pokoknya maslah biaya tidak ada masalah, berapapun yang diajukan oleh Si Fulan maka Sang Raja pasti akan menyetujuinya. Setelah itu pulanglah Si Fulan. Siang malam Si Fulan merancang rumah yang diinginkan oleh Sang Raja.

  

Di sela-sela waktu merancang rumah tersebut, Si Fulan menyempatkan datang ke acara reuni para ahli rancang bangun di kerajaan itu. Melihat penampilan mereka, mobil mereka, HP mereka kelihatan semuanya fashionable dan trendy. Sedangkan Si Fulan penampilannya tetap biasa-biasa saja. Maka datanglah mantan sohibnya waktu di kampus. Setelah berbasa-basi mereka asyik ngobrol ngalor ngidul, ngobrol tentang cewek yang dulu dikejar tetapi apadaya tangan tak sampai,  sampai ngobrol masalah proyek dan pekerjaan. Sohibnya heran kenapa Si Fulan tidak melakukan mark up atas proyek-proyeknya. Jika itu dilakukan, maka kemewahan pasti ada di depan mata. Sohibnya bilang kan masih ada proyek terakhir, berarti masih ada kesempatan untuk mereguk kemewahan.  Si Fulan sedikit terpengaruh dengan obrolan tadi, tetapi hati kecilnya berontak.

 

Sesampainya di rumah kata-kata sohibnya masih terngiang-ngiang. Dia pun jadi membandingkan dengan teman-teman seangkatannya. Membandingkan penampilannya, membandingkan mobil mewahnya dengan mobilnya, membandingkan kehidupan ekonomi tetangga sebelahnya. Entah setan mana yang mempengaruhinya sehingga rasa syukur yang selama ini dia pelihara mulai luntur. Kejujuran yang selama ini dia pegang teguh bagaikan karang yang kokoh mesti dihantam ombak yang keras, kini mulai luntur dan pudar.

           

Melihat tingkah laku yang tidak biasanya, istri si Fulan mendekatinya. Ada apakah gerangan kakanda? Apakah ada blogger cantik yang membuat engkau jatuh hati padanya? Ataukah engkau habis dimarahi oleh Sang Raja? Demikian pertanyaan yang berkecamuk dalam hati istri Si Fulan. Dengan memijit-mijit  kaki si Fulan, pertanyaan itupun disampaikannya. Bagaikan mendengar petir di siang bolong, istrinya kaget bukan kepalang mendengar keterusterangan suaminya.

 

"Mas Fulan suamiku tersayang...... , lebih 20 tahun kita mengarungi bahtera rumah tangga. Selama ini kita baik-baik saja, hidup kita juga tenang-tenang saja. Kejujuran yang engkau telah contohkan kepadaku adalah perekat maghligai rumah tangga kita. Kesederhanaan yang engkau teladankan kepadaku juga merupakan perekat dari cinta kita. Semua bumbu itu menjadikan cinta kita begitu indah dilewati. Apakah engkau akan akan campakkan kejujuran begitu saja hanya karena harta dan kemewahan??? Meski aku sadar aku tidak muda lagi, tetapi aku nggak mau hidup dengan Fulan yang tidak seperti dulu lagi. Mending aku dikembalikan ke orang tuaku saja...... " dengan terputus-putus istri si fUlan menyampaikan tekadnya. Tanpa sadar air mata merekapun tumpah.

" Astaghfirulloh hal 'azdimm.... engkau memang istriku yang paling baik, paling cantik, paling sholihah..... mana mungkin aku tega meninggalkanmu" jawab Si Fulan sambil mendekap istrinya. Peristiwa selanjutnya: sensor

Singkat cerita, Si Fulan tetap bekerja dengan jujur dan menyelesaikan "proyeknya" tepat waktu dan kondisi yang sangat memuaskan Sang Raja. Pada saat peresmian selesainya pembangunan Istana,   Si Fulan dan istrinya diundang khusus oleh raja. Dan karena kejujurannya dan prestasinya Sang Raja menghadiahi rumah yang dibuat terakhir kepad Si Fulan dan Istrinya. Si Fulan dan Istrinya langsung sujud syukur. Apa jadinya jika Si Fulan tidak istiqomah????

Artikel yang berkaitan:

1. Peringatan bukan dari dini

 


kaos ukuran besar XXXXXL
Konsisten (Istiqomah)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

60 komentar