Rabu, 02 September 2009

Balada Mudik Lebaran

Mudik, mudik dan mudik... jangan lupa menabung dan investasi
   
Puasa belum dimulai, tiket mudik sudah habis. Entah itu di loket di stasiun, di agen dan di pasar gelap. Nggak tahu "Jin" mana yang mborong. Kita nanya ke PT KA katanya habis, kita nanya ke agen yaa habis. Tapi orang baru antri 5 menit kok tiket sudah habis. Di stasiun Purwokerto ada ibu-ibu yang "ngamuk". Bayangkan dia sahur di bawah kolong loket antrian. Begitu dibuka dan 5 biji tiket dijual, dapat pengumuman kalau tiket sudah habis, padahal mestinya setelah itu giliran si ibu tadi. Alangkah sedih, kecewa, ndongkol marah campur aduk bagaikan gado-gado (kalau gado-gado sih enak dimakan, lhaa ini...?). Saya bisa merasakan bagaimana perasaan ibu tersebut, saya yang pengguna kereta api lebih dari 4 tahun tahu betul perilaku tiket dan harganya. Tiket pasti susah diperoleh pada saat libur hari senin, libur hari jumat, liburan sekolah, musim pendaftaran mahasiswa dan menjelang puasa dan waktu lebaran.

   
Mikirin tiket, mikirin lebaran saya kok jadi kepikiran, seandainya ada lembaga sosial yang mau mengaudit "menguapnya" tiket lebaran maka saya ndaftar sebagai sukarelawan untuk menjadi salah satu auditor atau investigatornya. Pasti akan ketemu di mana simpul menguapnya. Silahkan saya dihubungi lewat email di blog ini he he he ....
   
Tiket KA adalah salah satu persiapan mudik yang sangat penting. Ada lagi persiapan mudik yang nggak kalah penting adalah persiapan dana untuk mudik. Persiapan lainnya adalah bikin kue dan bikin baju lebaran. (Lha puasanya kok nggak dipikirin???) Mestinya kan dipikirkan juga tadarusnya bisa khatam nggak? Tarawihnya bisa lengkap nggak? Shalat jamaahnya bisa lengkap nggak? Zakat maalnya bisa dibayar nggak? Zakat fitrahnya gimana? Sama yang nggak kalah penting adalah konsistensi ibadah pasca romadhon. Betul nggak yaa?
Khusus masalah keuangan karena ini adalah peristiwa rutin, mestinya juga sudah dapat diprediksi dan direncanakan, jangan sampai utang tambah nggak terkontrol
lebaran bergaya di kampung halaman tapi habis lebaran dikejar-kejar "tukang tagih" sehingga nggak mikirin program menabung dan investasi padahal itu akan sangat berarti buat kehidupan kita dan anak kita di masa yang akan datang.
  
    
Nah kalau saya ditanya apa persiapan saya mudik ke Jogja?
Jawab saya: sambil nunggu mudik lebaran maka saya setiap jumat sore saya pulang ke Jogja, Senin pagi saya sudah di Jakarta. Soalnya kalau nggak gitu saya bosen nunggu lebaran, kelamaan sih.  
Artikel yang berkaitan:

kaos ukuran besar XXXXXL
Balada Mudik Lebaran
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

46 komentar