Kamis, 17 Desember 2009

Perbedaan Politisi Negarawan dengan Politisi Oportunis

Ada siang ada juga malam, ada hitam ada putih. Begitulah fitrah dalam kehidupan dunia. Manusia juga ada yang putih ada yang hitam.  Manusia mempunyai potensi baik tapi juga mempunyai bibit tidak baik. Jika kebaikan yang mendominasi maka jadilah ia manusia baik, tapi jika keburukan yang mendominasi maka jadilah ia manusia yang tidak baik. Yang harus diingat adalah orang baik bisa berasal dari warna kulit apapun. Demikian juga orang tidak baik bisa juga berasal dari warna kulit apapun.
Politik konon ujungnya adalah kekuasaan yang sebenarnya merupakan amanah yang harus ditunaikan dalam rangka membangun dunia ini, mengatur manusia dan membuat makmur dunia ini serta harus dapat dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat. Jika para politisi punya pemahaman ini pasti mereka akan menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Dalam dunia perpolitikan, ada politisi oportunis ada politisi negarawan, nah apa sih bedanya?

POLITISI NEGARAWAN
       
  1. Dalam melakukan pengabdian maupun pemikiran (program-programnya) tidak hanya berorientasi pada masa jabatannya saja, tetapi berorientasi ke masa depan (visioner). Baginya citra diri bukanlah sesuatu yang harus dimunculkan, tetapi secara alamiah rakyat melihat itu tanpa ada rekayasa tanpa ada pamrih.
  2. Melihat sesuatu dengan kacamata penyelesaian bukan kacamata proyek. Misalnya kalau ada banjir, jalan sering rusak, kemacetan dan bencana alam,  maka dia akan mencari akar permasalahannya dan menyelesaikan masalah ini. 
  3. Dia sangat percaya bahwa anak-anaknya, cucunya dan cicitnya dan keturunan lainnya sudah dikaruniai Alloh swt dengan potensi sehingga akan berkembang dan mampu mencari rizki tanpa harus menunggu warisan orang tuanya atau kakeknya. Jadi dia tidak perlu mewariskan harta kepada anak atau cucunya, tetapi dia akan mewariskan dengan memberikan bekal ilmu.
  4. Dia akan disegani baik oleh teman maupun lawan politiknya tidak hanya pada masa berkuasa tapi juga ketika sudah tidak berkuasa.
POLITISI OPORTUNIS


  1. Hanya baerorientasi pada masa jabatannya dan mencari peluang untuk berkuasa pada periode berikutnya. Citra diri harus dibangun misalnya sebagai orang yang baik, orang dermawan, orang yang taat dan orang yang punya perhatian pada rakyat kecil (meskipun semua ini hanyalah iklan saja yang nota bene syarat dan ketentuan berlaku). Biasanya tahapan yang dipakai adalah tahun pertama ancang-ancang, tahun ke 2 dan ke 3 dan ke 4 kapal keruk sambil membangun citra dan tahun ke 5 sudah siap segal-galanya untuk pemilihan berikutnya. Jika terpilih lagi  yang diperlukan adalah membangun citra dan kapal keruk untuk anak cucunya.
  2. Melihat sesuatu sebagai peluang, misalnya kalau ada banjir berarti ada peluang proyek penanggulangan banjir. Kalau ada kemacetan berarti peluang proyek penanggulangan kemacetan. Jalan sering rusak berarti ada proyek pembangunan atau pemeliharaan jalan. Pokoknya semua diorientasikan pada proyek. Dia bisa berkongsi dengan keluarga atau kelompoknya didukung pengusaha kelompoknya. Jadilah ini “modal”  untuk pemilihan selanjutnya maupun untuk persiapan pensiun. Tapi jangan harap politisi ini menerima langsung pasti menggunakan orang disekitarnya, supaya PPATK tidak bisa mendeteksi dan nanti kalau ada masalah bisa bersumpah di depan TV sambil pura-pura keluar air mata.
  3. Dia tidak yakin bahwa rizki anak dan cucunya berasal dari Alloh swt, makanya dia mengumpulkan sebanyak-banyaknya supaya anak cucunya tidak menderita kelak.
  4. Dia akan ditinggalkan baik oleh kawan apalagi oleh lawan. Akhirnya penyakitan dan hartanya tidak dapat menolongnya.
Wah banyak banget yaa nulisnya, karena para blogger adalah orang yang cerdas saya yakin ada banyak tambahan dari teman-teman blogger. Silakan....


kaos ukuran besar XXXXXL
Perbedaan Politisi Negarawan dengan Politisi Oportunis
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

14 komentar