Selasa, 28 Desember 2010

Lupa makan menyebabkan kegemukan

Betulkah lupa makan bisa menyebabkan kegemukan. Ternyata hasil penelelitian terbaru memang menyatakan seperti itu. 


Begini ceritanya:

Seorang yang lupa makan tentu dia akan bertanya, tadi saya sudah makan apa belum yaa...? Padahal sesungguhnya dia sudah makan. Karena dia merasa belum makan maka dia akan makan lagi. Lha bayangin kalau tiap hari dia melakukannnya berulang-ulang, otomatis dia akan bertambah berat badannya sampai pada titik tertentu yang dinamanakan kegemukan (obesitas). Jadi jangan sekali-kali lupa makan yaa... biar tidak beresiko kegemukan.

Beberapa resiko yang harus dipikul oleh orang yang kegemukan:

1. Konon mempunyai resiko penyakit yang lebih besar
2. Susah kalau naik angkutan umum (kecuali taksi) semacam kopaja atau metro mini
3. Premi asuransi bisa naik (kalau yang asuransi syariah, tabarru nya pasti dinaikkan) meskipun hasil chek up kesehatannya bagus, apalagi kalau tidak bagus
4. Kalau naik kereta, atau pesawat klas ekonomi pasti orang gemuk mengganggu orang disebelahnya, belum lagi kalau tidur ngorok
5. Dll isi saja sendiri, kalau kepanjangan saya nggak tega

Kamis, 16 Desember 2010

Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia 2010-2014

Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia 2010-2014

Prof. Mardiasmo, Ak., MBA, Ph.D telah terpilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) periode 2010 – 2014 dalam Kongres XI IAI yang berlangsung 10 Desember 2010 di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Kongres berlangsung sangat meriah dan demokratis dihadiri lebih dari 1100 akuntan dari seluruh Indonesia. Hasil perolehan suara  520 untuk Prof. Mardiasmo yang mengungguli dua kandidat ketua IAI lainnya: M. Afdal Bahaudin (306 suara) dan Erick (214 suara). Kongres juga memilih 14 orang anggota DPN sebagai “kabinet baru” kepengurusan IAI.  


Selain itu Kongres XI juga menerima Laporan pertanggung jawaban pengurus sebelumnya. Dalam kepengurusan sebelumnya, Ahmadi Hadibroto selaku Ketua DPN IAI periode 2006 – 2010 memaparkan IAI mengalami perkembangan yang sangat baik. Program Konvergensi International Financial Reporting Standards 2012, diterbitkannya Standar Akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik  dan terbentuknya Tim Implementasi IFRS menjadi salah satu keberhasilan dari kepengurusan sebelumnya.

Peran IAI di kawasan regional dalam masa kepemimpinan sebagai Presiden ASEAN Federation of Accountants (AFA) juga merupakan pencapaian yang sukses, apalagi dengan ditetapkannya IAI sebagai permanen sekretariat AFA. Pengembangan organisasi ditandai dengan pembentukan IAI wilayah  menjadi 25 Wilayah. IAI Wilayah baru telah terbentuk di Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, NTT, Bengkulu dan terakhir di Ambon. Peningkatan kompetensi SDM Akuntansi melalui kegiatan Pendidikan Profesional Berkelanjutan secara terstruktur terlaksana bahkan berhasil membentuk tiga IAI Knowledge Center baru di Mall of Indonesia, Depok dan Serpong. Pelaksanaan ujian sertifikasi Akuntansi Syariah serta Certified PSAK merupakan upaya yang berhasil dikembangkan untuk meningkatkan kualifikasi SDM Akuntansi. IAI juga telah berperan strategis dan memberikan kontribusi turut merumuskan kebijakan publik, membangun governance dan pengembangan profesi akuntan di Indonesia agar sesuai dengan standar Internasional. Diharapkan melalui keberhasilan yang diraih mampu meningkatkan peran profesi akuntansi dalam pembangunan ekonomi nasional dan global.
Ketua Dewan Pengurus IAI baru, Prof. Mardiasmo yang juga merupakan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) RI, melihat beberapa tantangan dan kondisi yang dihadapi oleh profesi akuntansi di Indonesia saat ini. “IAI selaku organisasi profesi diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh profesi akuntansi adalah berperan untuk meningkatkan kualitas public dan corporate governance. Kapitalisasi kedudukan Indonesia G-20 utk lebih berperan dalam organisasi profesi international juga merupakan tantangan yang harus direspons oleh profesi.”
Prof. Mardiasmo menambahkan “Gerakan penguatan governance systems, pemberantasan korupsi, tuntutan untuk lebih transparan dan profesional membutuhkan keterlibatan intens profesi akuntan. Tidak ada proses akumulasi dan distribusi sumberdaya ekonomi yang tidak memerlukan campur tangan profesi.” Dibawah kepemimpinan Prof. Mardiasmo diharapkan IAI dapat menjadi aset nasional terpercaya NKRI, terdepan di kawasan ASEAN, setara dalam status dan peran di tataran internasional.

Susunan lengkap Anggota Dewan Pengurus Nasional IAI Periode 2010-1014 yang terpilih pada Kongres XI IAI adalah sebagai berikut:

1.            Prof. Mardiasmo (Ketua)
2.            Dr. Cris Kuntadi
3.            Sudirman Said
4.            Ito Warsito
5.            Jusuf Halim
6.            Prof. Dr. Sidharta Utama
7.            Dwi Setiawan Susanto
8.            Dr. Khomsiyah
9.            Ardan Adiperdana
10.        Heliantono
11.        Kusmanadji
12.        Maliki Heru Santosa
13.        Erick
14.        Wahyu Tumakaka
15.        Eko Sunarko

Sebagai salah satu anggota organisasi IFAC dan salah satu pendiri ASEAN Federation of Accountants,  selama empat tahun ke depan IAI optimis akan menjadi organisasi profesi yang memberi nilai tambah dan berkontribusi kepada perekonomian nasional dan global dan meningkatkan daya saing bangsa. Melalui konsolidasi, revitalisasi, dan penataan organisasi profesi serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya organisasi profesi dan para anggotanya IAI siap membangun kebanggaan anggota dan memperkokoh kepercayaan stakeholder menuju peran yang lebih strategis. DARI KITA, OLEH KITA UNTUK MASYARAKAT, BANGSA DAN NEGARA.

di copas dari web IAI

catatan tambahan: ternyata dari kepengurusan tersebut ada 8 alumni STAN 

Rabu, 24 November 2010

Tempe Mendoan


Dalam sebuah milis yang saya ikuti, ada salah satu temen yang menyampaikan ide tentang mendoan lovers. Ternyata langsung mendapat respon yang luar biasa. Tidak hanya yang berasal dari Banyumas saja tetapi banyak juga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing dengan bangganya menyampaikan alamat outlet Tempe Mendoan yang pernah mereka datangi. Mereka berencana melakukan acara ngumpul bareng, cuma nggak tahu sudah kesampaian atau belum. Dari situ saya menyimpulkan bahwa tempe mendoan sudah mencuri hati banyak kalangan.

Lantas apa sih tempe mendoan itu? Apa bedanya dengan tempe yang biasa kita kenal?

Menurut Wikibooks, Tempe Mendoan adalah sejenis masakan tempe yang terbuat dari tempe yang tipis, dan digoreng dengan tepung sehingga rasanya gurih dan renyah. Secara tradisional di wilayah Banyumas, tempe yang digunakan untuk mendoan adalah jenis tempe bungkus yang lebar tipis, satu atau dua lembar perbungkus.

Sebenarnya tempe lebar dan tipis tidak hanya dikenal di wilayah Banyumas saja. Di Kota Gombong Kebumen tempe itu juga dikenal dan dijual di pasar. Karena pembuatannya memerlukan keahlian dan kualitas tempe yang bagus serta memerlukan bungkus yang khusus maka harga tempe ini lebih mahal dari tempe biasa. Di Pasar Gombong misalnya, bungkus di dalam menggunakan daun pisang sedangkan bungkus luarnya  menggunakan daun jati. Tempe semacam ini sebenarnya tidak hanya dapat dibuat untuk Tempe Mendoan saja tetapi juga dibuat tempe yang agak kering dengan menggunakan tepung. Bahkan untuk tempe kripik juga menggunakan tempe seperti ini.

Saya mengenal Tempe Mendoan ketika bertugas di Purwokerto. Di warung makan di daerah ini (Purwokerto Banyumas dan sekitarnya) banyak yang menyediakan Tempe Mendoan. Sedangkan di kota lain biasanya memang dibuat/dijual oleh orang  yang kebanyakan berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya.

Tempe Mendoan paling enak dinikmati pada saat masih panas. Bisa ditemani sambal kecap ataupun hanya dengan menggunakan cabai rawit hijau.

Yang mempengaruhi rasa Tempe Mendoan adalah kualitas tempe, kualitas minyak, cara memasak dan tentunya bumbu serta tepung yang dipakai.

Baca juga: Wedang Uwuh, Nasi Pecel dan Tempe Goreng Imogiri



Keterangan Gambar:
saya ngambil di google, ternyata disitu tidak jelas siapa yang membuat foto itu (mohon ijin bagi pemilik foto aslinya ya...)
Foto itu saya pilih karena secara pengamatan fisik tempe mendoan yang berpenampilan seperti itulah yang paling enak.

Kamis, 11 November 2010

Penumpang Gelap bikin Kereta Api Eksekutif Semakin Tidak Nyaman


Buat Anda yang rutin naik kereta api pasti anda bisa melihat mana penumpang yang beli karcis dan mana penumpang gelap tanpa beli karcis. Untuk kereta ekonomi maupun bisnis memang agak susah dibedakan karena penjualan karcis bisa melebihi kapasitas tempat duduk. Namun untuk kereta eksekutif sudah ada aturan bahwa penjualan  karcis mengikuti jumlah kursi. Walaupun demikian ketika kondisi sedang ramai kadang penumpang memaksakan untuk naik dengan membayar seharga resmi dan menggunakan karcis suplisi.

Dengan logika di atas mestinya tidak ada lagi penumpang gelap yang dibolehkan di kereta eksekutif. Apalagi kalau melihat aturan yang ada yang ditulis di spanduk disekitar stasiun, bahwa penumpang tanpa karcis dikenai denda 100% harga karcis. Berarti yang bersangkutan mesti membayar 2 kali harga tiket. Kenyataanya bagaimana?

Pengalaman saya jumat minggu kemarin. Saya strart dari Stasiun Gambir menggunakan kereta Bima jurusan Surabaya. Petugas dari stasiun Gambir melakukan sweeping beberapa menit sebelum kereta berangkat. Tapi karena penumpangnya juga sudah berpengalaman, maka dia loncat ke kereta beberapa saat sebelum kereta jalan.

Biasanya karena mereka tidak punya tiket otomatis akan berdiri di bordes dekat toilet. Mereka bergerombol bisa 5 orang atau lebih berdiri sambil ngobrol merokok. Saya kebetulan duduk di gerbong paling belakang dan tempat duduk di depan dekat pintu. Pada saat awal-awal kereta berjalan pasti banyak petugas yang lalu lalang sehingga pintu sering terbuka. Asap rokok langsung sebagian ikut masuk ke gerbong. Mereka sepertinya tidak henti-hentinya merokok baik secara bergantian maupun bersama-sama.

Gangguan berikutnya adalah jika kita mau ke toilet, otomatis disamping bau asap rokok kita juga merasa risih, apalagi kalau sudah malam mereka kan tidur disekitar itu. Jika seorang ibu yang mau ke toilet sementara disitu banyak laki-laki yang tidur di sekitar toilet pasti akan merasa terganggu.

Bagaimana mencegah ini?
Sebenarnya kuncinya ada pada ketegasan PT KA dalam hal ini adalah Kondektur kereta api yang bersangkutan. Jika mereka konsisten untuk menerapkan aturan yang telah ditetapkan dengan melakukan denda sebesar 100% dari tarif resmi, saya yakin penumpang gelap akan kapok. Masalahnya adalah selama ini kan pembayaran dari penumpang gelap itu masuk ke kantong pribadi nggak tahu siapa saja yang ikut kebagian.

Nah jika ini diterapkan maka pemasukan PT KA lebih besar, pelayanan lebih baik dan penumpang resmi tidak dirugikan. Kalau begitu asal PT KA ada kemauan pasti bisa dilakukan.

Senin, 01 November 2010

Soto Kampus (Sotkam)

foto by Nofree-STA 87

Buat Alumni STAN angkatan tahun 80 sampai 90 an istilah soto kampus pasti sangat populer. Soto itu ada sejak jaman kampus STAN masih di Jalan Purnawarman 99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat ini soto itu masih tetap ada meskipun Kampus STAN sudah pindah ke Bintaro Raya. Lokasi bekas kampus STAN tersebut sekarang dipakai oleh BPPK Kemenkeu. Sampai sekarang alumni STAN masih menjuluki sebagai Soto Kampus (Sotkam) meskipun lokasinya sudah bukan untuk kampus lagi.

Soto kampus sebenarnya tidak terlau istimewa. Soto Madura khas kaki lima dengan harga relatif murah. Temen temen alumni STAN banyak yang makan di situ, mungkin makan sambil bernostalgia.
   
Ada sesuatu yang menarik dari fenomena soto kampus. Di lokasi jualan mereka hanya ada tiga pedagang. Satu pedagang Soto, satu pedagang sate (kambing dan ayam) dan satu lagi Es Kelapa dan minuman botol lainnya. Ketiga-tiganya nampaknya orang Madura. Ketiganya nampak kompak dan rukun dan saling bersinergi. Bahkan sudah berlangsung dari tahun 80 an sampai sekarang.  Bukti  lainnya adalah ketika kita membayar ya bisa sekaligus makanan, sate dan minuman. Kita bisa mbayar di tukang soto atau tukang sate, nanti merekalah yang mendistribusikan ke pedagang lain tanpa terlihat membebani.


Hari ini saya telah belajar dari tukang soto. Perbedaan peran diantara bukanlah untuk saling bersaing dan saling menjatuhkan, tapi justru disinergikan untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Yang jualan Es Kelapa akan meningkat omsetnya jika banyak pembeli soto/sate. Tukang soto dan tukang sate bisa meningkatkan juga karena bagi konsumen ada variasi dan pilihan menu. Bahkan tidak jarang orang yang makan soto sekalian sate.


Jadi jangan jadikan perbedaan itu sebagai bibit perpecahan ataupun persaingan, tapi jadikanlah perbedaan itu untuk memaksimalkan peran. Selamat berkarya  sahabatku.



Rabu, 13 Oktober 2010

PENERIMAAN CPNS BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010

PENERIMAAN CPNS BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010

PENGUMUMAN
Nomor : PENG-1590/SU/02/2010
 TENTANG
CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
PADA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
TAHUN ANGGARAN 2010



Dalam rangka mengisi formasi pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Tahun Anggaran 2010. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan akan menerima Warga Negara Indonesia untuk mengisi lowongan :

I. FORMASI
No. Bidang/Disiplin Ilmu Kode 
1. Akuntansi (S1 Akuntansi Beregister Akuntan) AK 
2. Hukum (S1) HK 
3. Teknik Informatika/Manajemen Informatika/Teknik Komputer/Teknik Elektro Program Studi  
    Telekomunikasi (D3) TK 
4.Akuntansi (D3) AI
 
2. PERSYARATAN UMUM
1. Warga Negara Indonesia;
2. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK);
3. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil/Pegawai Negeri Sipil/Anggota Tentara Nasional Indonesia/Anggota Kepolisian Negara, atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai BUMN/BUMD atau Pegawai Swasta;
4. Tidak berkedudukan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil/Pegawai Negeri dan Calon/Anggota Tentara Nasional Indonesia atau Calon/Anggota Kepolisian Negara;
5. Sehat jasmani dan rohani serta tidak mengkonsumsi/menggunakan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya yang dibuktikan dengan Surat Keterangan oleh Dokter Rumah Sakit Pemerintah;
6. Menandatangani surat perjanjian wajib kerja;
7. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia;
8. Tidak menjadi anggota dan atau pengurus partai politik; dan
9. Diutamakan memiliki sertifikat TOEFL yang masih berlaku per 1 Januari 2011 dengan score minimal 400 untuk lulusan S1 dan minimal 350 untuk lulusan D3.

3. PERSYARATAN KHUSUS
1. Sarjana Akuntansi/Akuntan
1. Pada tanggal 1 Desember 2010 berusia maksimal 30 tahun.
2. Memiliki Ijazah S1 Akuntansi dan memiliki Nomor Register Akuntan.
3. Lulusan Perguruan Tinggi yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), IPK minimal 2,75 (dua koma tujuh lima)untuk lulusan perguruan tinggi negeri atau 3,00 (tiga koma nol nol) untuk lulusan perguruan tinggi swasta.
2. Sarjana Hukum
1. Pada tanggal 1 Desember 2010 berusia maksimal 28 tahun;
2. Memiliki Ijazah S1 Ilmu Hukum
3. Lulusan Perguruan Tinggi yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), IPK minimal 2,75 (dua koma tujuh lima)untuk lulusan perguruan tinggi negeri atau 3,00 (tiga koma nol nol) untuk lulusan perguruan tinggi swasta.
3. D3 Teknik Informatika/Manajemen Informatika/Teknik Komputer/Teknik Elektro Program Studi Telekomunikasi
1. Pada tanggal 1 Desember 2010 berusia maksimal 25 tahun;
2. Memiliki Ijazah D3 Teknik Informatika/Manajemen Informatika/Teknik Komputer/Teknik Elektro Program Studi Telekomunikasi.
3. Lulusan Perguruan Tinggi yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), IPK minimal 2,75 (Dua koma tujuh lima), atau 3,00 (tiga koma nol nol) untuk lulusan perguruan tinggi swasta.
4. D3 Akuntansi
1. Pada tanggal 1 Desember 2010 berusia maksimal 25 tahun;
2. Memiliki Ijazah D3 Akuntansi.
3. Lulusan Perguruan Tinggi yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), IPK minimal 2,75 (dua koma tujuh lima)untuk lulusan perguruan tinggi negeri atau 3,00 (tiga koma nol nol) untuk lulusan perguruan tinggi swasta.

4. CARA PENDAFTARAN
1 Seleksi Tahap I (Administrasi)
1. Pelamar mengisi formulir dengan cara men-download formulir yang telah disediakan di website BPKP Formulir_Pendaftaran.xls (klik disini untuk download)
2. Pelamar mengirimkan formulir pendaftaran (format Ms. Excel) yang telah diisi ke alamat email: penerimaan.pegawai@bpkp.go.id paling lambat tanggal 14 Oktober 2010 pukul 24.00. WIB dan berkas pendaftaran dikirim ke PO BOX 333 JKP 10000 paling lambat tanggal 19 Oktober 2010 cap pos dan diterima oleh panitia paling lambat tanggal 22 Oktober 2010.
3. Berkas pendaftaran yang harus dilengkapi dan dikirimkan melalui PO BOX 333 JKP 10000 adalah:
1. Surat Lamaran yang ditujukan kepada Kepala BPKP c.q. Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi;
2. Print out formulir pendaftaran yang telah diisi;
3. Surat Pernyataan yang telah ditandatangani di atas kertas bermaterai; (klik disini untuk download)
4. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4X6=3 lembar (latar belakang warna merah);
5. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku;
6. Foto copy Akte Kelahiran/Surat Kenal Lahir;
7. Foto copy Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang masih berlaku;
8. Foto copy Ijazah/STTB atau Surat Keterangan Lulus dan transkrip pendidikan terakhir yang telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang (sesuai formasi yang dipilih);
9. Foto copy Kartu Tanda Pencari Kerja dari Dinas Tenaga Kerja (Kartu Kuning yang masih berlaku minimum sampai dengan 1 Januari 2011);
10. Foto copy Nomor Register Akuntan yang berlaku (khusus pelamar S1 akuntansi);
11. Fotocopy sertifikat TOEFL; dan
12. Semua berkas tersebut di atas [huruf a) sampai dengan huruf k)] dikirim dalam amplop tertutup dengan mencantumkan kode pilihan pada pojok kanan atas amplop.
4. Hasil seleksi administrasi tahap pertama akan diumumkan pada tanggal 27 Oktober 2010 melalui email peserta dan website BPKP.
5. Peserta yang dinyatakan lulus seleksi administrasi akan menerima kartu peserta ujian melalui email peserta yang wajib dicetak dan dibawa pada saat mengikuti seleksi ujian tertulis.
2. Seleksi Tahap II (Ujian Tertulis)
1. Seleksi ujian tertulis akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 November 2010, tempat akan ditentukan kemudian.
2. Materi Ujian Tertulis meliputi :
No. Materi Waktu
1. Test Kemampuan Dasar 09.00 – 11.00

  • Test Kemampuan Umum
30 menit

  • Test Bakat Skolastik
30 menit

  • Test Skala Kematangan
60 menit
2. Test Kemampuan Bakat 11.00 – 12.00

  • Test Akuntansi
60 menit

  • Test Teknologi Informasi
60 menit

  • Test Hukum
60 menit
*) Peserta diharapkan sudah hadir di tempat pelaksanaan ujian tertulis pada pukul 08.00.
3. Pada saat ujian peserta wajib membawa print out kartu ujian yang telah ditempeli pas foto terbaru dan perlengkapan ujian sebagai berikut:
1. Pensil 2B;
2. Penghapus;
3. Peruncing Pensil (Rautan);
4. Papan Alas Menulis; dan
5. Ballpoint Tinta Hitam.
4. Hasil seleksi tertulis akan diumumkan pada tanggal 6 November 2010 melalui email peserta dan website BPKP.

3. Seleksi Tahap III (Wawancara)
1. Seleksi tahap III (wawancara dan tes keahlian) akan dilaksanakan pada tanggal 9 s.d. 12 November 2010 dan tempat akan ditentukan kemudian.
2. Peserta yang dinyatakan lulus seleksi tertulis wajib menunjukkan dokumen asli (termasuk Ijazah Asli bagi yang masih menggunakan Surat Keterangan Lulus saat pengiriman dokumen pendaftaran) sebelum mengikuti seleksi tahap III (wawancara dan tes kahlian), (**Red: contoh soal ujian tes bisa di lihat di www.cpnsonline.com)
3. Dokumen asli dimasukkan dalam map secara rapi sesuai urutan yang tercantum dalam point IV.1.3) di atas ;
4. Warna map yang digunakan untuk setiap formasi adalah sebagai berikut:
1. Merah untuk Akuntan.
2. Hijau untuk S1 Ilmu Hukum.
3. Biru untuk D3 Teknik Informatika/Manajemen Informatika/Teknik Komputer/Teknik Elektro Program Studi Telekomunikasi
4. Kuning untuk D3 Akuntansi.
5. Pelamar yang tidak dapat memenuhi ketentuan sebagaimana yang disebutkan pada poin 1) sampai dengan poin 4) dinyatakan gugur dan tidak diperkenankan mengikuti seleksi tahap III.
6. Hasil seleksi tahap III akan diumumkan pada tanggal 19 November 2010 melalui email peserta dan website BPKP.

5. LAIN-LAIN
1. Pelamar yang dinyatakan lulus dan telah mendaftar ulang akan diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil pada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
2. Panitia Penerimaan berhak menyatakan seseorang calon tidak diterima menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil walaupun telah lulus ujian apabila kemudian diketahui terdapat persyaratan pada klausul di atas yang ternyata tidak benar.
3. Semua biaya (pengangkutan, pemondokan dan lain-lain) yang dikeluarkan oleh peserta ujian dalam rangka mendaftarkan diri dan mengikuti ujian saringan menjadi tanggungan pelamar.
4. Dalam proses penerimaan calon pegawai, Panitia/BPKP tidak memungut biaya.
5. Peserta telah dinyatakan lulus pada tahap akhir seleksi dan akan diproses untuk pengusulan sebagai CPNS BPKP tetapi mengundurkan diri dan atau mengundurkan diri selama ikatan wajib kerja yang telah diperjanjikan, bersedia membayar ganti rugi sebesar Rp15.000.000,00 (limabelas juta rupiah) untuk disetorkan ke Kas Negara.
6. Surat Lamaran Peserta beserta dokumen pendukungnya yang telah diterima panitia menjadi milik panitia dan tidak dapat diminta kembali.
7. Keputusan panitia penerimaan calon pegawai negeri sipil BPKP bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.


8 Oktober 2010


Ttd.
Panitia

- Pengumuman lengkap dapat dilihat di BPKP 

Selasa, 05 Oktober 2010

Masinisku Sayang Masinisku Malang

Masinisku Sayang Masinisku Malang


Tulisan ini telah dimuat di milis Alumni STAN. Atas seijin penulisnya tulisan ini bisa dimuat di blog ini. Berikut tulisan lengkapnya:

Masinisku Sayang Masinisku Malang

Penyedap rasa pemberitaan di setiap tabrakan kereta api ialah desakan publik agar Menteri Perhubungan mundur atau meletakkan jabatannya. 

Tapi apa...? 

Harapan itu bagaikan sebuah mimpi di siang bolong. Sebab sepanjang sejarah perkereta apian di tanah air tidak tercatat satupun Menteri Perhubungan yang mundur sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Tapi alih-alih Menteri Perhubungan yang mundur, yang muncul malah sebuah pernyataan resmi yang standard bahwa kecelakaan ini akibat "human error" atau kalau diterjemahkan secara serampangan artinya "cuman teledor".  Nah yang di anggap teledor itu ialah Masinisnya bukan Menterinya. Bahkan lebih naas lagi sang Masinis langsung dijadikan tersangka oleh pihak berwajib. Sungguh tragis memang nasib Masinis.

Secara teknis apakah memang Masinis itu bisa disalahkan ketika tabrakan terjadi...?

Perlu kita ketahui bahwa Masinis hanya bergantung pada instrumen yang ada karena jalannya sudah dijalurin/diatur. Sama seperti Pilot, Pilot tergantung pada instrumen navigasi dan arahan dari Tower Pengatur. Selain dari itu Pilot adalah buta. Tidak tahu apa-apa lagi di depannya. Kereta api adalah besi yang melaju diatas rel besi, ibaratnya seperti sebuah mainan besar yang dikendalikan oleh koordinasi antar masinis dengan petugas tiap stasiun serta penjaga pintu lintasan.

Lalu apa fungsi terbesar Masinis di dalam kereta?

Yang pertama adalah menjalankan kereta dan yang kedua mengerem kereta. Itulah dua tugas utamanya. Jadi bagaimana mungkin hanya Masinis saja yang disalahkan. Sebab jika Masinis yang selalu dipersalahkan maka, Bullet Train di Jepang, Maglev Train di China, MonoRail di Kuala Lumpur, MRT subway di Singapore, di Thailand, di United States of America di negara-negara Eropa lainnya, di mana sistem rute di sana 10x lebih kompleks, kecepatan kereta api juga 10x lebih cepat, serta frekuensi lalu lalang kereta juga 10x lebih sering. Kalau seandainya terjadi tabrakan bakal 10x lebih parah juga.

Tetapi mengapa jarang sekali atau hampir tidak satu kalipun bullet train saling tabrakan?

Jawabannya ialah bahwa sistem manajemen perkereta apian mereka telah ditata kelolakan dengan baik. Sementara di tanah air sangat buruk. Dari data statistik yang di sajikan website Kementerian Perhubungan (http://perkeretaapian.dephub.go.id/) di mana tersaji jumlah kecelakaan kereta api dalam rentang waktu antara tahun 2004 s.d. 2008 sebanyak 578 kali kecelakaan. Artinya jika dirata-ratakan maka tiap tahun terjadi 115 kali kecelakaan. Jika buruknya manajemen perkerta apian itu adalah sebuah penaykit kronis, maka tak satupun Menteri Perhubungan yang bisa mengobati "penyakit" ini, melainkan mewariskannya secara turun termurun. Bayangkan saja negara orang sudah pakai Magnetic Levitation sementara kita masih pakai gerbong diesel. Negara lain penumpang semuanya berada dalam gerbong kereta, sementara di kita masih banyak yang bertengger di atas gerbong kereta.

Seharusnya jika melihat sumber daya yang kita miliki maka sudah sepantasnya sistem manajemen perkereta apian kita sudah terbenahi dengan baik juga. Terserah mau pakai teknologi apa, jaman ini sudah jaman canggih. Mau pakai GPS untuk tracking antar kereta, mau pakai WIFI, mau pakai satelit, terserah kepada sang penguasa negeri ini. Yang intinya ialah bahwa teknologi yang dipergunakan bisa mengatur kereta agar lebih terjadwal waktunya, lebih teratur, lebih nyaman, dan tentu saja lebih aman.

Tetapi malah issue ini bukanlah yang menjadi concern penguasa. Yang jadi concernnya adalah mengkambing hitamkan Masinis dulu karena dengan begitu masalah dianggap beres. Besok-besok tabrakan lagi, ya tinggal kambing hitamkan lagi si Masinisnya. Besok lagi dan besok besok lagi sampai tujuh Presiden dan tujuh Menteri Perhubungan ke depan, Masinislah yang selalu dipersalahkan. Padahal sang Masinilah yang cukup banyak jasanya di dalam sistem perkerata apian di tanah air. Akan tetapi jika terjadi tabrakan, maka Masinislah yang paling nomor satu diberhentikan dari pekerjaannya lalu dijadikan tersangka.

Apakah ini balas jasa dan perlindungan hukum yang diberikan kepada Masinis kita....?

Jawabannya ialah kembali kepada pribahasa yang lama yang mengatakan:

"Habis Masinis Sepah Dibuang........"


Wassalam:
absar jannatin - 83

Senin, 04 Oktober 2010

Seorang Pegawai DJP menjadi Korban Kecelakaan KA

Seorang Pegawai DJP menjadi Korban Kecelakaan KA

Dalam sebuah rekaman untuk acara internalisasi nilai nilai organisasi DJP ( DJP Maju Pasti) ketika ditanya tentang permasalahan SDM di DJP, Nanang Supriyanto mengatakan masalah mutasi. Alasannya bahwa setiap pegawai mempunyai planning untuk menata keluarganya.

( pendapat penulis: mungkin maksudnya  adalah bahwa pola mutasi saat ini di DJP tidak jelas,  tidak ada kejelasan berapa lama harus pisah keluarga, tidak adanya fasilitas rumah dinas/mess pegawai, tidak ada fasilitas untuk  sekolah anak-anak, tidak ada fasilitas biaya transportasi sehingga pegawai harus rela berpisah dengan keluarganya, harus rela memotong uang tunjangaanya untuk biaya kost dan untuk biaya perjalanan bolak-balik dan seandainya bisa bekerja di dekat home base maka biaya-biaya itu bisa dihemat dan dapat dipakai untuk planning dalam menata kehidupan misalnya biaya sekolah anak, pendidikan, rumah  dll).

Rekaman itu terus terngiang-ngiang dibenak saya karena kebetulan saya ikut menjadi fasilitator di kanwil DJP Jaksel selama 4 angkatan, otomatis minimal 4 kali saya melihat tayangan wawancara itu di kelas.
    
Sayang sekali disaat harapannya belum terwujud, beliau harus menerima takdir dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja. Almarhum menjadi salah satu korban kecelakaan kereta api di Petarukan, Pemalang Jumat malam. Almarhum bertugas di KPDJP di Jakarta sedangkan keluarganya berada di Semarang karena itulah almarhum menjadi anggota PJKA (pulang jumat kembali ahad , fenomena yang juga dialami oleh beberapa pegawai DJP).   Almarhum meninggalkan seorang istri dan 2 orang putri. Jenasah almarhum telah dimakamkan di tanah kelahirannya di Boyolali.
  
Semoga Alloh swt mengampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Untuk putrinya semoga bisa meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan oleh almarhum. Amiin.
   
Bagaimanakah sosok Almarhum Nanang Supriyanto?
Secara pribadi saya tidak kenal terlalu dalam, hanya kadang habis sholat kadang ngobrol itupun bersifat umum. Lulusan D III STAN dan D IV STAN serta S2 Magister Akuntansi UGM. Dikalangan temen-temennya almarhum dikenal sebagai pegawai DJP yang bersih. Sedang dikalangan teman satu angkatannya almarhum dijuluki dengan profesor Nanang. Hal itu wajar karena saat lulus MAKSI UGM IP-nya 4.  
Temen saya yang ikut ta'ziah mendengar komentar ibu-ibu : bocahe bagus. Sedangkan dilingkungan tempat tinggalnya almarhum dikenal sebagai orang yang baik.
Kesaksian lain tentang beliau bisa dibaca di komentar di bawah ini:



Senin, 06 September 2010

I'tikaf di Masjid KPDJP


Hari Jumat malam sampai Sabtu pagi Masjid Salahuddin KP DJP mengadakan acara i'tikaf bersama. Rangkaian acara dimulai dengan acara buka bersama dan shalat magrib. Kemudian shalat isya berjamaah dilanjutkan dengan shalat taraweh.

Setengah jam berikutnya adalah acara tasmi' Al Qur'an yaitu peserta i'tikaf menyimak bacaan Al Qur'an dari penghafal Al Qur'an. Surat yang dibaca adalah surat Ali Imron dan Surat Al Hujurot. Sebagian besar peserta sudah membawa Al Qur'an sendiri-sendiri, namun dapat juga disimak dari 2 layar besar yang ada di masjid.Meskipun hanya 2 surat yang dibaca, tapi cukup menggugah kita untuk lebih bersemangat  membaca  maupun menghafal Al Qur'an. Tasmi' kali ini bersama seorang Ustad Habibi, Al Hafids. Bacaannya tidak terlalu cepat sehingga lebih gampang diikuti oleh para peserta.

peserta sedang mengikuti acara tasmi' Al Quran

Malamnya ada juga acara kajian i'tikaf oeleh Ustad Nanang Mobarok (Manajemen Darul Akhirat) yang membawakan tema "Menjadi Rahib di Malam Hari dan Pejung di Siang Hari". Kajian ini cukup menarik karena menggunakan ilustrasi yang gampang difahami dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesannya adalah mari persiapkan mudik ke kampung halaman, tapi jangan lupa persiapkan juga mudik ke kampung akhirat. Salah satu sebab terjerumusnya manusia ke dalam neraka adalah karena Nafsu. Dan masih banyak uraianya.

Pada dini hari masih ada Muhasabah yang dibawakan oleh Ustad Adam Ibrahim, berisi tentang evaluasi pada diri kita masing masing. Setelah itu dilanjutkan dengan sahur bersama dansholat subuh berjamaah.


peserta sedang mengikuti acara muhasabah

Ada catatan kecil berlangsungnya acara ini, acara ini memang tidak dihadiri oleh Dirjen Pajak, namun dihadiri oleh sedikitnya 5 Eselon II seperti Sekditjen, Beberapa Kakanwil, Direktur dan Tenaga Penghkaji. Juga diikuti oleh beberapa E III. Mereka para pejabat tidak sungkan-sungkan lesehan selama berjam-jam dengan para pegawai. Acara yang diikuti lebih dari 120 an orang ini terbilang sukses. Mudah-mudahan nanti acara ini tidak hanya diadakan dalam satu malam tetapi lebih lama lagi. Salut buat kerja keras pengurus masjid dan panitia. Tentunya juga dukungan para jamaah.

Terimakasih atas konstribusi foto2 di atas untuk Mas Muhammad Saifulloh Al Mahdi

Senin, 30 Agustus 2010

Kereta Boleh Terlambat, PenumpangJangan Sekali-kali Terlambat

Selama saya jadi penumpang rutin tiap minggu dari Jogja Jakarta dan Jakarta Jogja baru sekali mengalami keterlambatan. Jumat kemarin sebenarnya saya sudah dapat tiket Argo Lawu dari Gambir jam 8 malam. Cuma karena keinginan yang kuat untuk dapat sahur di Jogja maka tiket tersebut saya tukar seminggu sebelumnya dengan Gajayana yang berangkat dari Gambir jam 17.30 WIB. Hitungan saya adalah saya keluar kantor jam 16.30 (jam kerja waktu puasa). Berarti masih ada waktu 1 jam perjalanan dari kantor di daerah Gatot Subroto ke Gambir. Normalnya nggak sampai setengah jam sudah sampai ke Stasiun Gambir.

Jumat Sore, 27 Agustus 2010, dari kantor di Lt.24 terlihat  langit Jakarta sudah menghitam, berarti tandanya Jakarta sedang diguyur hujan. Saya sudah mulai cemas, sebab biasanya jalan akan macet. Begitu absen saya setengah berlari ke luar dan kebetulan ada taksi. Dari kantor taxi berjalan merayap dan akhirnya lancar setelah melewati semanggi. Ternyata setelah itu jalanan kembali macet. Dan yang paling parah adalah menjelang monas. Akhirnya saya ganti naik ojek. Begitu turun dari ojek saya langsung berlari ke lantai atas Stasiun Gambir, alangkah kecewanya saya. Saya terlambat 2 menit kereta sudah berangkat. Tumben-tumbennya keretanya kok berangkat tepat waktu. Kalau sudah begini betapa berharganya waktu 2 menit
 
Sambil ngos-ngosan saya mencoba untuk bertanya ke petugas di Customer Service di bawah. Ternyata sudah ada 4 orang yang bernasib sama. Sesuai aturan, kata petugas, maka tiket hangus, jika mau naik kereta berikutnya maka saya diberi surat keterangan (penumpang tanpa tempat duduk) dengan harus membayar lagi 50% dari harga tiket (berarti kalau saya mau naik kereta Argo Lawu saya harus membayar Rp 150.000) lagi. Ketika saya bertanya apakah ada aturannya? Mereka menjawab bahwa itu hanyalah kebijaksanaan. Saya bertanya lagi, kalau kebijaksanaan kenapa saya mesti mbayar tiket lagi? Kenapa nggak dibikin kebijaksanaan hanya memberi surat keterangan bahwa saya bukan penumpang gelap. Saya juga sampaikan kalau posisi saya sebagai penumpang pasti lemah, berkali kali kereta mengalami keterlambatan baik keberangkatan maupun ke datangan di tempat tujuan, tetapi mana pernah PT KA memberikan kompensasi pada pelanggan? Akhirnya disepakati ngasih Rp 100.000 nggak apa-apa, kemudian uang tersebut distepler di karcis Gajayana dan surat keterangan dari Customer Service untuk nanti diberikan pada kondektur Argo Lawu. Dalam hati saya masih belum puas dan saya mengajukan komplain ke Wakil Kepala Stasiun, kenapa mesti mbayar dan di atas lagi.? Wk Kepala Stasiun Gambir memberikan keterangan hampir sama dengan petugas Customer Service bahwa tiket hangus dan harus membayar 50% dari harga tiket. Sayapun memberikan argumen yang sama dan akhirnya Wk Kepala Stasiun mengatakan nggak mbayar lagi nggak apa-apa. 
 
Di atas kereta api sayapun harus "berdebat" dengan Kondektur karena dia bilang seharusnya saya membayar  tambahan 50% dari tarif  yang saya naiki (Argo Lawu). Akhirnya saya hanya memberikan Rp 50.000 kepada kondektur ketika kondektur sudah berada di bordes. Pada saat yang sama kondektur sedang melakukan "transaksi" dengan penumpang gelap dan cukup membayar Rp 100.000 sampai Rp 150.000 untuk bisa "menumpang" sampai Solo.

Pesan saya buat calon penumpang kereta api, walaupun kereta api sering terlambat dan tidak akan pernah memberikan kompensasi, tapi jangan sekali-kali terlambat karena tiket anda tidak dihargai dan anda harus menambah 50% lagi tiket yang dinaiki.

Kenapa yaa mesti ada kebijaksanaan dengan harus membayar lagi tiket seharga 50%? Padahal yang seperti ini jelas-jelas bukan penumpang gelap dan uang pasti masuk ke kas PT KA. Kenapa PT KA  nggak bikin aturan bahwa bagi yang terlambat hanya diberikan surat keterangan saja tanpa harus membayar?
  
Walaupun begitu jangan jadi penumpang gelap meskipun kondektur akan lebih ramah meski hanya membayar Rp 100.000 an, dengan fasilitas yang sama dengan penumpang yang terlambat (tanpa tempat duduk tetapi harus membayar 150% harga tiket resmi, dan instink saya sebagai tukang akuntan sama sekali tidak yakin kalau uang 50% akan masuk ke Kas PT KA).

Rabu, 18 Agustus 2010

Penghijauan dengan Tanaman Produktif

Setiap saya melihat pohon-pohon rindang di tepi jalan raya dan jalan tol serta taman-taman kota kok hati saya selalu bertanya-tanya kenapa ya tanaman yang ditanam oleh pemda dalam hal ini dinas pertamanan kota jarang terlihat tanaman yang menghasilkan? Bahkan ada tanaman yang berduri. Saya hanya berfikir seandainya tanaman perindang di tepi-tepi jalan adalah tanaman produktif misalnya tanaman buah, tentu disamping memberikan keteduhan dan kesegaran udara juga memberikan buah yang bermanfaat. Tentu saya juga memahami bahwa tidak mungkin untuk tanaman yang ditanam di tengah jalan menggunakan tanaman yang berbuah.

Mengamati tanaman disebagian besar rumah juga jarang terlihat tanaman hias atau tanaman perindang yang menghasilkan. Jika setiap rumah punya 5 pot yang berisi tanaman cabe atau tomat atau tanaman sayuran lainnya tentu akan memberikan penghematan buat kita. Daun slam, laos kunyit dan jahe tidak harus beli di pasar. Jika tetangga kehabisan tinggal ngambil di halaman. Kalau memang dianggap tidakk materii kan bisa penghematan itu dipakai untuk meningkatkan bonus ke assisten rumah tangga kita.
Padahal ada sebuah hadis (mohon dicek dan dikoreksi jika salah) yang kalau nggak salah bunyinya kurang lebih demikian:
Jika buah dari tanaman yang engkau tanam diambil oleh hewan maka itu adalah sedekah, jika diambil oleh manusia juga sedekah. 

Apakah pemda kita, kita tidak ingin bersedekah?
Jika iya mari kita galakkan penghijauan atau tanaman hias yang sekaligus menghasilkan, sebab itu bisa dijadikan sarana untuk bersedekah, sehingga semua mendapat berkah.

Keterangan Foto: pohon mangga samping rumah yang sudah mulai berbuah meskipun buahnya masih kecil
                           dan foto bawah setelah mangga agak besar tapi belum siap panen

Kamis, 12 Agustus 2010

Perasaan Seorang Ayah

Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil……
Papa biasanya mengajari buah hati kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Karena Mama takut anak yang di sayanginya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu sikecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi..


Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu..!!”

Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat berarti




sumber: milis alumni stan


Membaca ini saya jadi teringat perjuangan ayah saya ( foto di atas) yang selalu banting tulang pergi ke sawah sebelum ngajar di sekolah, yang selalu pusing ketika habis gajian karena gajinya nggak cukup, yang tanpa malu meski penampilannya tidak keren, yang selalu mendoakan anak-anakny. Kulit yang hitam legam adalah bukti bahwa ayah saya memang pekerja keras. Bahkan setelah pensiunpun masih seperti itu.
Ya Alloh .. ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku , sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil.

Jumat, 06 Agustus 2010

Berhati-hati dalam urusan Halal Haram

Beberapa hari yang lalu kita disuguhi dengan berita dua orang Janda Pahlawan dituntut di pengadilan gara-gara sengketa atas rumah dinas yang selama ini ditempati, akan diminta kembali oleh Pegadaian. Publik memberitakan dan mengekspos besar-besaran dan akhirnya hakim membebaskan mereka.

Ada lagi kasus yang disiarkan oleh TV yaitu  warga melakukan protes penggusuran dengan cara mengubur diri. Warga merasa berhak atas tanah yang telah mereka tempati selama lebih dari duapuluh tahun. Awalnya mereka menempati tanah kosong yang bukan hak miliknya. Meskipun  pada awalnya dengan perjanjian tertulis untuk tidak membangun dan tidak menuntut sesuatu dan bersedia pindah jika tanah tersebut akan digunakan oleh pemiliknya namun pada prakteknya tanah itu ada yang dibangun, ada yang disewakan ke orang lain dan bahkan ada yang dipindah tangankan (jual belikan). Justru sekarang yang terjadi adalah pemilik tanah yang berhak atas tanah itu harus berjuang untuk kembali mengambil haknya dengan berbagai cara. Ada yang lewat pengadilan ada juga yang harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak.
                         
Kasus pertama dalam menyuguhkan berita seperti dicampur adukkan antara janda pahlawan, tidak ada rumah, diusir dari rumah dinas. Kesan yang terjadi adalah betapa semena-menanya Pegadaian terhadap janda pahlawan. Padahal mestinya kasus ini harus dipilah-pilah sehingga tidak terjadi bias dalam mensikapi:
                                              
  1. Pemerintah semestinya memperhatikan kesejahteraan para pahlawan/pejuang bangsa dan juga janda Pahlawan misalnya dari sisi tunjangan pesiun dan juga menyediakan tempat tinggal/rumah yang layak. Jangan sampai mereka yang telah berjuang mempertahankan bangsa disia-siakan oleh negara. Habis manis sepah dibuang. Saya sangat setuju pemerintah jika memberikan alokasi dana dan menyediakan perumahan untuk mereka.
  2. Rumah dinas adalah rumah yang disediakan oleh perusahaan/negara yang diperuntukkan bagi para pegawai yang masih aktif sehingga dapat menunjang kelancaran tugas. Sudah semestinya begitu yang bersangkutan tidak bertugas lagi maka harus diserahkan kepada instansi atau perushaan karena memang bukan hak milik yang bersangkutan tetapi hak milik instansi atau perusahaan. Beberapa kecenderungan yang terjadi pada instansi pemerintah maupun perushaan BUMN/BUMD adalah begitu sudah pensiun mereka tetap berusaha menguasai  dan sampai ke anak dan cucu. Sementara pegawai yang masih aktif yang kelimpungan untuk mencari rumah kontrakan/kost dengan biaya sendiri. Bahkan yang lebih ironis saya pernah menjumpai kasus justru pegawai yang aktif tersebut kost di rumah dinas yang dikuasai oleh orang yang sudah pensiun. Orang yang sudah tidak aktif/pensiun memang tidak punya hak menempati rumah dinas. Kenapa mereka tidak berfikir bahwa selamaini mereka telah diberikan kesempatan untuk menempati secara gratis. Padahal jika harus ngontrak berapa yang harus mereka bayar?
                                        
Pada kasus kedua hampir mirip dengan kasus rumah dinas. Ada yang menuntut pesangon ada yang menuntut berbagai macam. Kenapa mereka juga tidak berfikir bahwa semestinya mereka berterima kasih selama ini telah menempati secara gratis. Seandainya harus ngontrak selama berpuluh-puluh tahun berapa yang harus mereka bayar? Kenapa justru keinginan untuk memiliki yang bukan haknya lebih dikedepankan?
                                 
Jalan pengadilanpun ditempuh dan hasilnya belum tentu dimenangkan oleh yang berhak. Dalam proses ini konon yang banyak bicara adalah kekuatan uang.
            
Saya jadi teringat pengajian tadi malam dimana Ustad membacakan ayat dalam Al Qura'an surat Al Baqoroh ayat 188`:
               
"Dan jangalah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." QS 2-188

Salah seorang ulama besar Sayyid Quttub dalam tafsir fii dzilalil'quran mengatakan bahwa walaupun pengadilan (hakim) telah memenangkannya, sesungguhnya keputusan pengadilan (hakim) tidak bisa menjadikan sesuatu yang tadinya haram menjadi halal.
Wallohu a'lam

Senin, 02 Agustus 2010

WC Kembar


Tulisan ini bukan terinspirasi dari adanya menara kembar di Malaysia, tetapi tanpa sengaja saya menemukannya di sebuah bangunan publik. Sekalian juga saya mau menuliskan tentang minimnya fasilitas publik misalnya pasar, mall, stasiun yang berkaitan dengan toilet, termasuk beberapa disain yang tidak tepat dengan kebutuhan penghuni.

WC kembar di atas menurut saya terjadi karena pihak pelaksana tidak merencanakan dengan bagus  dan hanya melihat dari sisi jumlah titik saja tanpa memperhatikan kenyamanan. Jumlah yang dipaksakan berakibat terlalu sempit. Jalan pintasnya sekat dibuang sehingga meskipun ada dua WC tetap saja yang bisa dimanfaatkan hanya satu saja, meskipun dua-duanya  masih berfungsi dengan baik. Kan nggak mungkin dua WC dipakai secara bersama-sama dalam satu sekat. Maksudnya menghemat malah terjadi pemborosan.

WC basah vs WC kering
Saya yang katrok dan ndesani rasanya masih kurang bisa menerima jenis WC kering yang hanya menggunakan sedikit air dan kertas tissue. Rasanya masih kurang bersih jika tidak memakai air "jebar jebur". Tetapi sesungguhnya ada sisi sosiologis yang mestinya diperhatikan yaitu pemahaman fikih toharoh dari sebagian kita orang Islam di Indonesia. Dalam pemahaman fiqih tersebut air adalah merupakan sarana yang utama dalam mensucikan diri. Dalam kondisi tidak ada air (darurat) barulah kita mensucikan diri dengan menggunakan selain air. Belum lagi kebutuhan untuk berwudu waktu-waktu menjelang sholat misalnya untuk dhuhur, asyar atau maghrib. Kebutuhan-kebutuhan itulah yang semestinya diperhatikan oleh perancang bangunan dalam menentukan apakah mau WC kering atau WC basah.

Saya menjumpai juga WC kantor yang menggunakan pola WC kering (sekat-sekat) hanya menggunakan partisi dan lantai bilik satu dengan yang lainnya tidak ada pembatas. Sedangkan penghuninya, karena kebutuhan di atas (konsep bersuci dan wudhu) mestinya lebih cocok jika menggunakan WC basah. Akibatnya jika sesesorang sedang memakai air di satu bilik, air tersebut mengalir juga ke bilik yang lain. Mestinya tiap-tiap bilik ada saluran pembuangan air dan lantainya juga disekat sehingga air di satu bilik tidak mengalir ke bilik yang lain.  

Jika para pemakai memang tidak membutuhkan hal-hal di atas mungkin cocok  menggunakan konsep WC kering. Buat para perancang kamar mandi/wc pemahaman seperti di atas sepertinya perlu dimiliki, tidak hanya masalah terkesan "modern" mengikuti gaya barat, tetapi mempertimbangkan aspek kebutuhan pemakai dan juga aspek sosiologis.

Toilet Kereta Api
Begitu nulis tentang ini saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu (28 Agustus 2005) saat saya terkunci di toilet kereta api taksaka hampir satu jam. Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Kalau lihat pintu toilet kereta api anda akan membaca tulisan sbb:

"Pergunakanlah saat kereta berjalan/please use only the train is running"


Kelihatannya tulisan tersebut biasa-biasa saja. Tapi bagi otak iseng seperti saya, pasti ada apa-apanya.

Catatan I
Kereta api selalu berhenti di stasiun baik itu stasiun kecil maupun besar. Kereta berhenti biasanya untuk menghindari penggunaan jalur yang sama. (Sebagaian besar jalur kereta api masih menggunakan  rel satu jalur, sehingga jika ada kereta yang bersimpangan  otomatis salah satu harus berhenti dan itu mesti di stasiun).

Catatan II
Ternyata jenis toilet kereta api itu tidak menggunakan penampungan. Jadi air dll  akan jatuh langsung ke bawah.
Inilah gambarnya (KA Eksekutif Taksaka)
tuh kan bolong langsung ke rel


Jadi agar air tidak jatuh di area stasiun maka dibuatlah aturan di atas.

Rabu, 21 Juli 2010

Pantai Pandankuning Petanahan, Kebumen

Pantai Pandan Kuning Petanahan tak ubahnya pantai-pantai lain di selatan pulau Jawa. Pantai ini mempunyai gelombang yang besar karena langsung terhubung dengan samudra Indonesia. Lokasinya 4 km dari arah Petanahan. Kalau dari Guyangan (Jl Raya Kebumen Gombong) sekitar 15 km. Dari sisi pemandangan ya sama saja dengan Pantai Parangtritis ataupun Pantai Depok di Bantul Yogyakarta. Bedanya adalah di hari-hari biasa kedua pantai ini banyak pengunjung, sedangkan di Pantai Pandan Kuning hanya ramai di  hari minggu pagi. Walaupun begitu bukan berarti di hari-hari biasa tidak ada pengunjung, buktinya setiap saat pedagang makanan masih tetap berjualan di sekitar pantai. Favorit saya adalah tempe mendoan (ukuran jumbo), pecel (bukan pecel lele tetapi sayur-sayuran), kacang godog, lepet dll.

Jika anda berminat ke sana, sebaiknya datang di pagi hari untuk menikmati segarnya udara pagi. Konon udara pagi di pantai sangat bermanfaat untuk kesehatan. Setelah anda puas untuk jalan-jalan tinggal makan-makanan khas yang harganya murah. Bisa juga sambil menikmati kelapa muda. Atau kalau agak bersabar sambil pulang bisa menikmati SOTO khas di dekat pasar Petanahan ( kalau dari arah pantai ya sekitar 4 km atau 200 meter sebelum sampai Pasar Petanahan). Namanya SOTO PAK KORED, buka di rumah sekitar jam 9 pagi, kalau siang biasanya sudah habis (tapi di dalam pasar Petanahan juga buka kalau siang hari). Mending nanya saja deh kalau bingung, soalnya nggak ada tulisaanya. Atau di Pasar nanti bisa beli GULA KELAPA dengan kualitas yang bagus.

Ada yang unik di Pantai Pandan Kuning, Petanahan ini. Kalau dari sisi pemandangan dan fasilitas sih biasa-biasa. Tapi pada saat lebaran ramainya luar biasa. Pengunjung dari daerah sekitar dan para pemudik tumpah ruah di sini. Itu terjadi hampir 2 minggu setelah lebaran. Pada saat lebaran haji juga ramai tetapi tidak seramai idul fitri. Hal itu sudah berlangsung dari dulu sampai sekarang.

Pada saat saya kecil, saya biasa berangkat pagi-pagi bersama temen. Dari rumah saya di desa Kuwangunan sekitar 5 km. Saat itu sepertinya nggak ada masalah karena suasananya ramai sekali. Ada yang naik dokar/andong, ada yang naik sepeda, ada yang naik becak ada yang pakai mobil atau motor dan banyak yang jalan kaki.

suasana di pinggir pantai, beberapa pohon kelapa hasil penghijauan


pohon kelapa tidak sempat berbuah karena calon buahnya sudah diambil niranya sebagai 
bahan baku gula kelapa




Lagi narsis saja kok


Ngemong 4 anak bermain pasir (yang 3 ditinggal di rumah)



bermain pasir pinggir air

 ada juga naik kuda, tarifnya Rp 5000 bisa dinaiki 2 orang
inilah rombongan tour de pandan kuning
mau motret tempe, pecel dan lepet kok batre drop ya sudah

Jumat, 16 Juli 2010

Sejarah Anak masih belum berhenti

Sejarah Anak masih belum berhenti

Setiap orang tua yang menerima raport anaknya pasti akan merasa senang dan bangga jika nilai anaknya bagus. Apalagi jika memperoleh ranking satu ataupun masuk sepuluh besar. Sebaliknya orang tua merasa khwatir dan was-was jika menjumpai nilai anaknya tidak sesuai harapannya. Seolah sudah terbayang nasib yang jelek dan masa depan yang suram.

Menghadapi hal ini, seorang penulis buku tentang kerumah tanggaan dalam sebuah ceramahnya memberikan catatan yang menurut saya sangat mendasar
  1. Sebagai orang tua tidak perlu sedih dan khawatir karena sesungguhnya sejarah anak masih berjalan dan berlanjut dan tidak berhenti saat itu. Sejarah anak masih panjang.
  2. Jangan ukur kemampuan anak kita dengan kemampuan kita, karena latar belakang dan minat bisa saja berbeda.
  3. Orang tua hanya perlu memotivasi dan mendorong agar anaknya berkembang
Catatan di atas terngiang  kembali saat saya menerima email yang berisi tentang tulisan dari seorang pakar marketing,  DR. RHENALD KASALI, berikut tulisan beliau yang dikutip dari Epaper Harian Seputar Indonesia (saya nggak tahu judul aslinya apa, tapi judul di email yang saya terima seperti ini):


Encouragement Rhenald Kasali


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?"

"Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.*

*Budaya Menghukum *

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.

Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!" Dia pun melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

*Melahirkan Kehebatan *

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*) *

*RHENALD KASALI *
*Ketua Program MM UI*
*http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/





 
Tulisan lain yang mungkin perlu dibaca:
 
1. Dari Guru ke Fasilitator Pembelajaran


 

Jumat, 09 Juli 2010

GENTENG SOKKA



Dimanakah gerangan SOKKA itu? Kalau yang biasa naik kereta, diantara stasiun Karanganyar dengan Stasiun Kebumen terdapat Stasiun SOKKA. Sokka lebih dikenal gentengnya daripada daerahnya. Sokka merupakan nama salah satu dusun di Kecamatan Pejagoan dan masuk wilayah Kabupaten Kebumen.
             
Nama SOKKA menjadi jaminan  genteng berkualitas tinggi. Wajar kalau kemudian muncullah nama genteng SOKKA yang tidak benar-benar berasal dari SOKKA. Sebagai contoh di daerah Godean Jogjakarta, terdapat juga genteng dengan nama Genteng SOKKA “Godean”. Meskipun saya bukan ahlinya, kalau ada dua genteng yang satu dari SOKKA yang satu ngaku namanya SOKKA, saya pasti bisa membedakan, misalnya dari berat genteng dan tampilan fisik genteng tersebut.
    
SEJARAH GENTENG SOKKA
     
Kompas edisi 27 Juni 2009 pernah mengulas tentang genteng sokka antara lain:
"Terletak hanya sekitar 500 meter dari Stasiun Sokka di Pejagoan yang sudah puluhan tahun tak beroperasi, terdapat satu pabrik tua yang masih memproduksi genteng, yakni AB Sokka. Perusahaan itu termasuk yang paling awal berdiri, sekitar tahun 1930. Pemiliknya almarhum Abu Ngamar mendatangkan mesin pres dari Jerman. Karena berkualitas baik, produknya banyak digunakan untuk atap sejumlah pabrik gula di Jawa.   Saat ini di lokasi pabrik itu masih dapat ditemui cerobong pembakaran genteng yang kuno, meski sebagian tak lagi digunakan. Demikian pula dengan deretan ruang penyimpanan genteng. Pola pikir higienis pengusaha ketika itu juga sudah tampak dari sisa rel dari dalam pabrik yang tersambung menuju Stasiun Sokka. Mereka memanfaatkan stasiun kecil itu sebagai sarana pengiriman produk. Dari dalam pabrik mereka menggunakan lori kecil. Berdasar penuturan sejumlah warga setempat, lori itu mulai dibangun generasi kedua pemilik Genteng AB Sokka pada tahun 1950-an. Usaha itu sempat terguncang selama revolusi fisik berlangsung. Namun, setelah pemulihan itu, genteng AB Sokka terus menanjak hingga naik daun hingga periode 1970-1980.  Pemerintah saat itu bahkan merekomendasikan genteng Sokka untuk digunakan di gedung pemerintah. Kesuksesan AB Sokka mendorong pengusaha lainnya sehingga menjamurlah industri genteng Sokka, terutama di Pejagoan".

Saat ini produsen genteng SOKKA dapat dilihat sepanjang jalan antara di Kecamatan Sruweng dan Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Kini genteng sokka harus bersaing dengan genteng dari beton dan keramik. Kualitas masih sama, tapi selera pengguna berubah seiring dengan perubahan dan trend di bidang perumahan.

Bagi temen2 yang  mau pesen genteng sokka berkualitas bisa hubungi:

Perusahaan Genteng "SUPER SKD SOKKA"  yang dimiliki oleh Bp Akhmad Barokah telp (0287) 381574    di sini tersedia berbagai jenis genteng misalnya Morando, Magas, Plentong tentunya dengan harga bersaing dan kualitas prima.


catatan : foto di atas diambil secara on the spot saat naik mobil di daerah penghasil genteng sokka

Rabu, 30 Juni 2010

Aspek Pajak Proyek Dana Bantuan Luar Negeri

Aspek Pajak Proyek Dana Bantuan Luar Negeri

Dana bantuan luar negeri sampai saat ini masih diperlukan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah daerah atau yang diteruskan ke perusahaan milik negara. Proyek-proyek tersebut dapat berupa proyek fisik (konstruksi), pengadaan barang dan jasa. Dana bantuan luar negeri (DBLN) adalah dana yang berasal dari luar negeri yang dapat berupa pinjaman luar negeri (loan) atau hibah luar negeri (grant). Proyek-proyek tersebut dikenal dengan isitilah Proyek Keppres 29 Tahun 1996. Dalam modul ini, proyek-proyek yang dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri, sebagian atau seluruhnya, disebut proyek dana bantuan luar negeri atau Proyek DBLN.
    
Pinjaman luar negeri adalah setiap penerimaan negara, baik dalam bentuk devisa dan /devisa yang dirupiahkan, maupun dalam bentuk barang dan / jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. 
   
Hibah luar negeri adalah setiap penerimaan negara, baik dalam bentuk devisa dan /devisa yang dirupiahkan, maupun dalam bentuk barang dan / jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali .
   
 Proyek-proyek pemerintah untuk keperluan BUMN/BUMD/Pemda yang dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri dilaksanakan melalui proses Perjanjian Penerusan Pinjaman (Subsidiary Loan Agreement/SLA ) antara Pemerintah RI cq Departemen keuangan dengan dengan BUMN/BUMD/Pemda.
    
Pemajakan terhadap perusahaan-perusahaan yang mengerjakan Proyek DBLN diatur terakhir dengan PP 25 tahun 2001, sebgai berikut: 
     
1.  Pajak Penghasilan Badan 
  • Pajak penghasilan yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh diperoleh kontraktor, konsultan, dan pemasok (suplier) utama, ditanggung Pemerintah
  •  Pajak penghasilan yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh diperoleh kontraktor, konsultan, dan pemasok (suplier) lapisan kedua, dipotong atau dibayar sesuai dengan  ketentuan UU Nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 38 tahun 2008. 
  • Pajak penghasilan yang terutang oleh kontraktor, konsultan, pemasok  utama yang ditanggung pemerintah dapat dikreditkan dengan PPh terutang atas seluruh penghasilan yang diterima dalam tahun yang sama 
  • Apabila Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan menyetakan kelebihan bayar, maka kelebihan bayar atas PPh yang ditanggung pemerinth tidak dikembalikan.
       
2.   Pajak Penghasilan Pasal 21/26 
  
PPh pasal 26 yang terutang oleh karyawan asing yang bekerja pada kontraktor, konsultan, dan pemasok utama maupun kontraktor, konsultan, dan pemasok lapisan kedua        yang diterima atau diperoleh dari pekerjaan Proyek DBLN, dipotong atau dibayar seseuai dengan  ketentuan UU Nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 38 tahun 2008. Dalam praktik masih banyak terdapat MoU dan kontrak kerja yang menyebut “all taxes levies” (dibebaskan atau “born by government (ditanggung pemerintah). Hal ini tentu bertentangan dengan UU PPh tersebut di atas.
     
3.  Pajak  Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah 
Pengenaan PPN adalah sama dengan PKP lainnya. Dalam  hal proyek tersebut dimiliki oleh pemerintah dan dana yang dipakai untuk proyek tersebut berasal dari DBLN, maka Faktur Pajak  Masukan dapat dikreditkan, sedangkan atas dana yang berasal dari APBN/APBD dipungut PPN oleh Bendahara Pemerintah.
    
PPN sehubungan dengan impor barang dan jasa kontraktor/konsultan dalam rangka pelaksanaan proyek DBLN, ditanggung Pemerintah dan tidak dipungut sehingga Pajak Masukan yang dibayar untuk keperluan proyek DBLN tersebut dapat direstitusikan karena merupakan PPN lebih bayar. Kewajiban pajaknya sama dengan PKP lainnya, yaitu membuat Faktur Pajak, mengisi dan melaporkan SPT masa bulanan.