Kamis, 25 Februari 2010

Pemimpin yang mempunyai hikmah

Pemimpin yang mempunyai hikmah

Pengantar :
Saya merasa tertarik dengan tulisan Ustad KH Dr Didin Hafidhuddin yang dimuat di Republika Online biar semua bisa sharing maka berikut (saya copas) uraian beliau yang berjudul pemimpin yang mempunyai hikmah. Bagaimanpun juga kita adalah pemimpin baik sebagai kepala keluarga, kepala rumah tangga ataupun minimal memimpin diri kita. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya :

Pemimpin yang Mempunyai Hikmah

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]: 269, ''Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).''

Hikmah dalam ayat tersebut berarti kebaikan yang banyak, yang dianugerahkan Allah SWT kepada seseorang sehingga dirasakan manfaatnya, baik oleh diri, keluarga, masyarakat dan bangsa, juga alam semesta. Ayat tersebut menjelaskan pula bahwa orang yang banyak kebaikannya itu termasuk kelompok cendekiawan Muslim (ulil albaab ).

Ternyata kecendekiaan seseorang bukan hanya ditentukan oleh ilmunya yang banyak, tetapi oleh kebaikan-kebaikan dari ilmu tersebut. Demikian pula halnya dengan pemimpin yang memiliki hikmah. Dari kepemimpinannya itu, dapat dirasakan kebaikan, kemaslahatan, dan keadilan oleh masyarakat yang dipimpinnya.

Paling tidak terdapat tiga ciri pemimpin yang memiliki hikmah, sebagaimana dijelaskan para ulama ketika menafsirkan ayat di atas, yaitu: 
  1. Kasrotun 'ilmi , atau memiliki berbagai macam pengetahuan. Di antaranya, ilmu yang berkaitan dengan keahlian tertentu; juga ilmu-ilmu humaniora, seperti teknik berkomunikasi dan psikologi massa. Ia menolak hidup mewah, atau memberikan kemewahan pada pembantunya di saat masyarakat sedang mengalami berbagai macam kesulitan hidup.
  2. Kasrotul hilmi , atau memiliki kesabaran dan kedewasaan yang matang, tidak mudah mengeluh dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Pemimpin yang memiliki hikmah justru akan menjawab dan membalas setiap ketidakbaikan dengan kebaikan. Cemoohan dibalas dengan introspeksi diri dan kerja keras untuk membuktikan ketidakbenaran cemoohan tersebut. Itulah pula yang digambarkan Allah SWT pada surah Fussilat [41]: 34-35.
  3. Kasrotul unah , atau memiliki kehati-hatian dan kewaspadaan, baik dalam ucapan apalagi tindakan. Ucapannya terukur, jelas, dan gamblang, tidak sembarangan. Demikian pula, tindakannya selalu memerhatikan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Tidak ada jarak antara ucapan dan tindakannya. Semuanya larut dan menyatu dalam kepribadiannya yang utuh dan tangguh. 
Pada saat bangsa kita sekarang ini sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang kompleks dan berat, keberadaan pemimpin yang memiliki hikmah merupakan sebuah kebutuhan dan keniscayaan, agar harmonisasi kehidupan yang melahirkan ketenangan akan segera bisa diwujudkan. Semoga.

Senin, 22 Februari 2010

Saling menghargai

Saling menghargai

Suatu saat datanglah rombongan pimpinan sebuah organisasi sosial keagamaan (biar mudah, selanjutnya  disebut ABC) dari Indonesia ke sebuah organisasi sosial keagamaan di negara timur tengah (selanjutnya disebut XYZ). 

Kunjungan hari pertama di rumah Pimpinan XYZ:

Sebagai bentuk penghormatan kepada Pimpinan Organisasi XYZ maka delegasi dari Indonesia berpakaian lengkap. Mereka mengenakan pakaian Jas. Sedangkan Pimpinan XYZ berpakaian "sederhana".  Akhirnya serba nggak enak, kenapa mesti berpakaian seperti ini? Sedangkan tuan rumah saja berpakaian sederhana. Mungkin pihak tuan rumah juga merasakan hal yang sama.

Kunjungan hari kedua, di kantor XYZ (menemui pimpinan dan seluruh pengurus)

Berfikir agar kejadian di hari pertama tidak terulang, akhirnya delegasi dari Indonesia mengubah penampilan. Mereka berfikir, Ketua nya saja yang sangat disegani di seluruh dunia berpenampilan sederhana, apalagi pengurus yang lain. Di sisi lain pihak tuan rumah mungkin berfikir, berkunjung ke rumah saja pakainnya seperti itu apalagi kalau kunjungan ke kantor.

Begitu sampai di kantor, alangkah terkejutnya  karena mereka disambut dengan pakaian yang serba "wah" dan pakaian resmi (Jas lengkap). Sedangkan  delegasi Indonesia mengubah penampilan menjadi "sederhana".

Beginilah jadinya kalau saling menghargai...., semua bertujuan baik
Ada komentar?

Kamis, 18 Februari 2010

Stasiun Gambir

Stasiun Gambir

STASIUN GAMBIR
Sudah 5 tahunan saya secara rutin menyambangi Stasiun Gambir. Biasanya saya datang ke Stasiun Gambir pada Jumat sore/malam untuk melakukan perjalan rutin ke Jogja  dan datang kembali pada Senin Pagi. Secara fisik ada perubahan yang menyolok yang saya lihat di Stasiun Gambir, misalnya penataan warung makanan  di samping stasiun. 
  
Perubahan yang lain adalah makin agresipnya pihak pengelola menyewakan bangunan untuk restoran dan penataan untuk perkantoran (kantor pos, travel dan BNI dan BRI). Ruangan Customer Service dan Satpam berada di luar sebelah pintu masuk. Di dalam stasiun juga ditata seperti Toilet gratis  dan Musolla mini. (Saya lihatnya toiletnya masih baru tapi kok sudah banyak yang rusak. Padahal di situ ada cleaning service yang selalu menjaga. Mungkin kualitas toiletnya kurang bagus sehingga gampang rusak). Perubahan lain yang saya lihat adalah pemisahan pintu masuk dan pintu keluar yang belakangan dicabut lagi. Nggak tahu kenapa, mungkin untuk memenuhi aspirasi para penyewa ruangan atau da alasan lainnya.

Ada lagi penataan tempat parkir. Jika anda menggunakan mobil tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat parkir karena sangat luas.Tapi memang tarifnya mahal karena dihitung berdasarkan jam. Misalnya jumat sore sampai senin pagi tarifnya hampir Rp 150 rb.  Bahkan Masjid yang cukup luas,  yang tadinya berada di ujung sebelah utara stasiun sekarang dipindah ke sebelah barat stasiun dengan ukuran yang lebih kecil. Mungkin karena alasan bahwa tanah di bekas Masjid lama lebih bernilai ekonomis tinggi dan yang penting sudah menyediakan tempat ibadah sebagaimana tuntutan UU. 

Ada satu hal yang menurut saya kurang terperhatikan. Memang dengan penataan seperti itu pihak pengelola Stasiun Gambir akan memperoleh other income antara lain dari parkir, uang sewa ruangan sehingga dapat menutup biaya operasional pengelolaan stasiun. Tapi pernahkan para customer merasa tambah nyaman dengan semua ini? Kalau para penumpang dianggap sebagai customermaka saya merasa "biasa-biasa" saja.

  1. Buktinya adalah ketika kita sebagai penumpang harus antri tiket (untuk penjualan langsung), kita dibiarkan antri berdiri dalam ruangan yang panas tanpa kipas angin tanpa AC (sementara pegawai yang melayani tiket berada pada ruangan ber AC, kalau begitu siapa melayani siapa?). Hal yang sam juga pada loket pemesanan. Padahal para penumpang itulah sesungguhnya yang menopang bisnis inti PT KA, termasuk jika sepi penumpang di Stasiun Gambir, mana ada restoran yang mau nyewa. Saya bisa bandingkan loket pemesanan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Antrian sudah menggunakan nomor dan ruangan ber AC (mesti AC nya tidak terlalu dingin) dan ada toilet (meski lagi2 kurang bersih dan kurang terawat padahal ada petugas cleaning service yang selalu siap) dan tersedia tempat duduk. Jadi lebih manusiawi.
  2. Fasilitas lain yang menurut saya perlu diperhatikan adalah tangga untuk turun dari stasiun. Untuk naik dari lantai satu ke lantai tiga stasiun telah disediakan eskaltor maupun menggunakan tangga biasa. Namun pada saat penumpang turun dari kereta dan mau ke bawah tidak tersedia eskalator. Saya melihat kasihan penumpang yang membawa barang. Mungkin tangga untuk jalan perlu dikasih jalur di tengahnya sehingga memudahkan penumpang yang membawa koper beroda. Sukur-sukur kalau ada eskaltor untuk turun.

Nah kira-kira dengan pendapatan sewa yang begitu besar, saya tidak yakin kalau Stasiun Gambir tidak mampu untuk menyediakan loket pemesanan dan penjualan yang lebih representatif. Kecuali kalau para pimpinan seperti Kadaop dan pengelola stasiun tidak melihat kita para pemakai jasa sebagai sumber pendapatan PT KA. Saya yakin jika ada kemauan pasti bisa terwujud.


Artikel lain:

Minggu, 14 Februari 2010

Keterbukaan dalam masalah keuangan keluarga

Keterbukaan dalam masalah keuangan keluarga

Kasus:

Dilihat dari jumlah penghasilan, keluarga Pak Fulan (bukan nama sebenarnya) sebenarnya termasuk keluarga yang berpenghasilan lumayan.   Keluarga ini termasuk keluarga cukup.

Mungkin karena menerapkan teori dalam perencanaan keuangan, Pak Fulan termasuk orang yang punya pendirian yang teguh dan prinsip yang kuat serta anggaran ketat. Pak Fulan mempunyai tabungan yang cukup besar dan secara rutin juga menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Ini sungguh merupakan sesuatu yang pantas dicontoh. Namun dalam memberikan uang belanja kepada istrinya, Pak Fulan menerapkan anggaran yang ketat dan menuntut istrinya agar bisa mencukupinya dari uang belanja yang diberikan. Dia tidak mau tahu apapun yang terjadi. Istrinya takut pada suaminya padahal harga-harga kebutuhan cenderung naik, kebutuhan uang jajan anaknya yang menjelang remaja juga naik, kebutuhan pulsa serta kebutuhan mendadak untuk keluarga dari pihak istrinya. Istrinya tidak tahu apakah selama ini suaminya memberikan uang ke pihak keluarga suami atau tidak, yang jelas dia takut kalau mau minta uang untuk keperluan pihak kelaurga istri.

Akibat dari sikap Pak Fulan tersebut, istri Pak Fulan berusaha memperoleh penghasilan tambahan, namun ini belum menutup kebutuhannya. Ketika ada kebutuhan yang mendadak dan besar terkadang istrinya harus gali lobang tutup lobang.  Akibatnya banyak orang yang datang menagih utang. Bahkan pakai debt collector segala.Yang agak “menggangu” adalah hal kecil misalnya pada saat arisan ibu-ibu sering tidak datang dan tidak menitipkan uang arisan. Akibatnya ya jadi “rasanan” ibu-ibu peserta arisan. Semua kejadian-kejadian di atas tidak diketahui oleh suaminya, tapi kejadian-kejadian di atas diketahui oleh tetangga sekitar.

Kasihan istrinya, kasihan suaminya, kasihan nama baik keluarganya

Bagaimana solusi menurut rekan-rekan jamaah blogeriah ? Terimakasih atas masukannya.


Artikel yang berkaitan:
 1. Pelanggaran Syariat dalam urusan keuangan

Selasa, 09 Februari 2010

Parkir Sepeda

Sudah beberapa hari ini saya ke kantor pakai kendaraan dinas berupa sepeda onthel. Disamping harga nggak mahal (bisa beli lewat cicilan koperasi he he he) nggak perlu mengeluarkan bensin, ramah lingkungan dan menyehatkan ( cuma dibisikkin sama tukang ojek langganan, wah Pak Sugeng nggak naik ojek lagi...)

Kalau dari pendekatan keuangan, cicilan tiap bulannya setara dengan ongkos ojek tiap hari dari kos-kosan ke kantor.  Keberanian ini saya tempuh karena waktu tempuh dari kos-kosan ke kantor nggak sampai 10 menit kalau pakai sepeda. Jadi jangan bayangkan kalau saya naik sepeda sebagaimana temen-temen yang sudah masuk komunitas Bike 2 Work yang jaraknya sampai puluhan kilometer dari rumah ke kantor. Jadi saya ngitung-ngitung kira-kira kekuatan saya. Cuma sayangnya saya nggak punya temen satu kos-kosan, mungkin kalau ada temen jadi lebih semangat yaa..?
Saat ngonthel sepeda rasanya jadi teringat waktu SMP(tahun 1980-1983). Selama tiga tahun saya hampir selalu naik sepeda ke sekolah  yang berjarak 7 km lebih 12 m 11 mm. Kalau temen-temen kebanyakan berangkat dari rumah jam 6 pagi, saya biasanya pasti lebih dari jam 6 pagi sebab saya selalu nunggu sarapan (nasi). Prinsipnya lebih baik terlambat daripada saya nggak sarapan. Dari desa saya mungkin hanya beberapa orang, tapi begitu kita sudah jalan 2 km biasanya sudah puluhan sepeda yang berjalan beriringan. Rasanya seneng dan udaranya sangat segar. Mungkin karena hal itulah saya menjadi pinter (he he he).

Kondisi itu sangat berbeda dengan jalanan di Jakarta saat ini. Polusinya luar biasa. Makanya saya lihat orang yang pakai sepeda sampai menggunakan masker  (seperti standar militer?). Kalau saya nggak perlu seperti itu karena jarak dan jalan yang saya tempuh tidak terlalu jauh dan sedikit mobil yang lewat. Sepertinya sih sehat.

Ada sedikit keprihatinan di kantor saya nggak ada parkir khusus sepeda, jadi kalau mau parkir ya nyampur sama sepeda motor di basement. Bukan pingin prioritas sih.. tapi kalau parkir di bawah saya agak takut pas lagi turun. Takut tali rem sepeda nggak kuat menahan beban sepeda dan terutama beban berat badan saya yang melebihi 100 kg he he he.  

Kalau baca-baca sepertinya memang pengelola gedung perkantoran, hotel dan mall di Indonesia belum memihak pada gerakan sehat dan menyehatkan serta peduli pada lingkungan. Makanya para pengguna sepeda kesulitan kalau mau parkir. Padahal kalau mau menyediakan sebenarnya juga tidak terlalu membutuhkan tanah yang luas. Kalau di perkantoran (pemerintah) malah pembagian area parkir lebih kepada berorientasi jabatan struktural di kantor itu. Misalnya Parkir khusus eselon I, II, II dlll, kenapa sih nggak bikin parkir khusus sepeda. Padahal konon sudah ada himbauan dari Gubernur DKI agar pengelola gedung dan perkantoran, mall dan hotel untuk menyediakan parkir khusus untuk sepeda.

Nah ini foto sepeda yang saya pakai, saya hanya bersyukur bahwa sepeda itu tidak bisa ngomong, tidak bisa ngomel dan tidak bisa menjerit atau minta tolong, sehingga saya tidak tahu sepeda itu akan bilang atau teriak apa pada saat saya naiki 

Minggu, 07 Februari 2010

Resep agar daging terasa empuk

Resep agar daging terasa empuk

Seorang mahasiswi jurusan Tata Boga bertanya kepada Ibu Dosen.
"Bu... gimana sih resepnya supaya daging yang kita masak terasa empuk?"
Sambil keheranan sang Ibu Dosen kembali bertanya kepada mahasiswinya.
"Bukankah hasil masakanmu tadi sudah terasa empuk kok......."
"Maaf Bu.... Ibu tadi nyicipi yang mana?"
"Lha yang ini lho di piring ini..."
"Maaf Bu... daging yang tadi Ibu cicipi sudah saya kunyah....." jawab mahasiswi ketakutan.
Ibu Dosen: " .................@%£&!!?"

Rabu, 03 Februari 2010

PPN atas Penyerahan BKP dalam rangka pembiayaan Syari'ah

PPN atas Penyerahan BKP dalam rangka pembiayaan Syari'ah

Pengantar:
Kemarin saya membaca Kompas.com tentang tunggakan pajak sebuah bank. Dari berita tersebut dapat diketahui bahwa utang pajak tersebut berkaitan dengan PPN atas transaksi murabahah.

Dalam UU PPN yang lama pengaturan khusus atas transaksi syariah (murabahah) memang belum diatur sehingga atas transaksi tersebut dikenakan PPN. Dalam perubahan UU PPN yang berlaku mulai 1 April 2010 atas transaksi tersebut telah diatur khusus yaitu dalam Pasal 1 A ayat (1) huruf h UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas UU No.8 tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPn atas Barang Mewah yang berbunyi sbb:

penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak
Skema Transaksi: 

  1. Untuk memenuhi ketentuan syariah dalam memberikan pembiayaan syariah kepada Nasabah, Bank harus terlibat dalam jual beli barang, tidak hanya sekedar memberikan kredit (uang) kepada Nasabah.
  2. Bank melakukan pembelian barang dari supplier, kemudian menjualnya kepada Nasabah. Terdapat dua transaksi penyerahan BKP yang terutang PPN, yaitu dari supplier kepada Bank Syariah dan dari Bank Syariah kepada Nasabah. Margin merupakan imbalan jasa yang dibebankan Bank Syariah kepada Nasabah (jasa pembiayaan)
  3. Jasa pembiayaan termasuk jasa keuangan yang bukan merupakan Jasa Kena Pajak berdasarkan Pasal 4A ayat (3) huruf d UU PPN.
  4. Dengan mekanisme passthrough (Pasal 1 A ayat (1) huruf h UU PPN), maka penyerahan BKP dianggap diserahkan langsung dari supplier kepada Nasabah.

Kesimpulan
  1. Penyerahan BKP dalam rangka syariah terutang PPN agar equal treatment dengan penyerahan BKP dalam rangka pembiayaan lainnya. Namun, penyerahan BKP dalam rangka syariah dianggap dilakukan langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada pihak yang membutuhkan barang (mekanisme passthrough). Dengan demikian, Bank Syariah atau Lembaga Pembiayaan Syariah tidak terbebani dengan PPN atas penyerahan BKP.
  2. Pada prinsipnya, Bank Syariah dan Lembaga Pembiayaan tetap mendapat fasilitas, dengan tidak mengganggu mekanisme PPN.

     

Penting 
Formulir SPT Tahunan WP OP Lengkap
Formulir SPT Tahunan WP Badan Lengkap
Formulir PPh 21
Formulir SPT Masa PPh 
SPT Masa PPN
Formulir Bukti Potong
Daftar Bukti Potong