Selasa, 09 Februari 2010

Parkir Sepeda

Sudah beberapa hari ini saya ke kantor pakai kendaraan dinas berupa sepeda onthel. Disamping harga nggak mahal (bisa beli lewat cicilan koperasi he he he) nggak perlu mengeluarkan bensin, ramah lingkungan dan menyehatkan ( cuma dibisikkin sama tukang ojek langganan, wah Pak Sugeng nggak naik ojek lagi...)

Kalau dari pendekatan keuangan, cicilan tiap bulannya setara dengan ongkos ojek tiap hari dari kos-kosan ke kantor.  Keberanian ini saya tempuh karena waktu tempuh dari kos-kosan ke kantor nggak sampai 10 menit kalau pakai sepeda. Jadi jangan bayangkan kalau saya naik sepeda sebagaimana temen-temen yang sudah masuk komunitas Bike 2 Work yang jaraknya sampai puluhan kilometer dari rumah ke kantor. Jadi saya ngitung-ngitung kira-kira kekuatan saya. Cuma sayangnya saya nggak punya temen satu kos-kosan, mungkin kalau ada temen jadi lebih semangat yaa..?
Saat ngonthel sepeda rasanya jadi teringat waktu SMP(tahun 1980-1983). Selama tiga tahun saya hampir selalu naik sepeda ke sekolah  yang berjarak 7 km lebih 12 m 11 mm. Kalau temen-temen kebanyakan berangkat dari rumah jam 6 pagi, saya biasanya pasti lebih dari jam 6 pagi sebab saya selalu nunggu sarapan (nasi). Prinsipnya lebih baik terlambat daripada saya nggak sarapan. Dari desa saya mungkin hanya beberapa orang, tapi begitu kita sudah jalan 2 km biasanya sudah puluhan sepeda yang berjalan beriringan. Rasanya seneng dan udaranya sangat segar. Mungkin karena hal itulah saya menjadi pinter (he he he).

Kondisi itu sangat berbeda dengan jalanan di Jakarta saat ini. Polusinya luar biasa. Makanya saya lihat orang yang pakai sepeda sampai menggunakan masker  (seperti standar militer?). Kalau saya nggak perlu seperti itu karena jarak dan jalan yang saya tempuh tidak terlalu jauh dan sedikit mobil yang lewat. Sepertinya sih sehat.

Ada sedikit keprihatinan di kantor saya nggak ada parkir khusus sepeda, jadi kalau mau parkir ya nyampur sama sepeda motor di basement. Bukan pingin prioritas sih.. tapi kalau parkir di bawah saya agak takut pas lagi turun. Takut tali rem sepeda nggak kuat menahan beban sepeda dan terutama beban berat badan saya yang melebihi 100 kg he he he.  

Kalau baca-baca sepertinya memang pengelola gedung perkantoran, hotel dan mall di Indonesia belum memihak pada gerakan sehat dan menyehatkan serta peduli pada lingkungan. Makanya para pengguna sepeda kesulitan kalau mau parkir. Padahal kalau mau menyediakan sebenarnya juga tidak terlalu membutuhkan tanah yang luas. Kalau di perkantoran (pemerintah) malah pembagian area parkir lebih kepada berorientasi jabatan struktural di kantor itu. Misalnya Parkir khusus eselon I, II, II dlll, kenapa sih nggak bikin parkir khusus sepeda. Padahal konon sudah ada himbauan dari Gubernur DKI agar pengelola gedung dan perkantoran, mall dan hotel untuk menyediakan parkir khusus untuk sepeda.

Nah ini foto sepeda yang saya pakai, saya hanya bersyukur bahwa sepeda itu tidak bisa ngomong, tidak bisa ngomel dan tidak bisa menjerit atau minta tolong, sehingga saya tidak tahu sepeda itu akan bilang atau teriak apa pada saat saya naiki 

kaos ukuran besar XXXXXL
Parkir Sepeda
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

14 komentar