Kamis, 18 Februari 2010

Stasiun Gambir

STASIUN GAMBIR
Sudah 5 tahunan saya secara rutin menyambangi Stasiun Gambir. Biasanya saya datang ke Stasiun Gambir pada Jumat sore/malam untuk melakukan perjalan rutin ke Jogja  dan datang kembali pada Senin Pagi. Secara fisik ada perubahan yang menyolok yang saya lihat di Stasiun Gambir, misalnya penataan warung makanan  di samping stasiun. 
  
Perubahan yang lain adalah makin agresipnya pihak pengelola menyewakan bangunan untuk restoran dan penataan untuk perkantoran (kantor pos, travel dan BNI dan BRI). Ruangan Customer Service dan Satpam berada di luar sebelah pintu masuk. Di dalam stasiun juga ditata seperti Toilet gratis  dan Musolla mini. (Saya lihatnya toiletnya masih baru tapi kok sudah banyak yang rusak. Padahal di situ ada cleaning service yang selalu menjaga. Mungkin kualitas toiletnya kurang bagus sehingga gampang rusak). Perubahan lain yang saya lihat adalah pemisahan pintu masuk dan pintu keluar yang belakangan dicabut lagi. Nggak tahu kenapa, mungkin untuk memenuhi aspirasi para penyewa ruangan atau da alasan lainnya.

Ada lagi penataan tempat parkir. Jika anda menggunakan mobil tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat parkir karena sangat luas.Tapi memang tarifnya mahal karena dihitung berdasarkan jam. Misalnya jumat sore sampai senin pagi tarifnya hampir Rp 150 rb.  Bahkan Masjid yang cukup luas,  yang tadinya berada di ujung sebelah utara stasiun sekarang dipindah ke sebelah barat stasiun dengan ukuran yang lebih kecil. Mungkin karena alasan bahwa tanah di bekas Masjid lama lebih bernilai ekonomis tinggi dan yang penting sudah menyediakan tempat ibadah sebagaimana tuntutan UU. 

Ada satu hal yang menurut saya kurang terperhatikan. Memang dengan penataan seperti itu pihak pengelola Stasiun Gambir akan memperoleh other income antara lain dari parkir, uang sewa ruangan sehingga dapat menutup biaya operasional pengelolaan stasiun. Tapi pernahkan para customer merasa tambah nyaman dengan semua ini? Kalau para penumpang dianggap sebagai customermaka saya merasa "biasa-biasa" saja.

  1. Buktinya adalah ketika kita sebagai penumpang harus antri tiket (untuk penjualan langsung), kita dibiarkan antri berdiri dalam ruangan yang panas tanpa kipas angin tanpa AC (sementara pegawai yang melayani tiket berada pada ruangan ber AC, kalau begitu siapa melayani siapa?). Hal yang sam juga pada loket pemesanan. Padahal para penumpang itulah sesungguhnya yang menopang bisnis inti PT KA, termasuk jika sepi penumpang di Stasiun Gambir, mana ada restoran yang mau nyewa. Saya bisa bandingkan loket pemesanan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Antrian sudah menggunakan nomor dan ruangan ber AC (mesti AC nya tidak terlalu dingin) dan ada toilet (meski lagi2 kurang bersih dan kurang terawat padahal ada petugas cleaning service yang selalu siap) dan tersedia tempat duduk. Jadi lebih manusiawi.
  2. Fasilitas lain yang menurut saya perlu diperhatikan adalah tangga untuk turun dari stasiun. Untuk naik dari lantai satu ke lantai tiga stasiun telah disediakan eskaltor maupun menggunakan tangga biasa. Namun pada saat penumpang turun dari kereta dan mau ke bawah tidak tersedia eskalator. Saya melihat kasihan penumpang yang membawa barang. Mungkin tangga untuk jalan perlu dikasih jalur di tengahnya sehingga memudahkan penumpang yang membawa koper beroda. Sukur-sukur kalau ada eskaltor untuk turun.

Nah kira-kira dengan pendapatan sewa yang begitu besar, saya tidak yakin kalau Stasiun Gambir tidak mampu untuk menyediakan loket pemesanan dan penjualan yang lebih representatif. Kecuali kalau para pimpinan seperti Kadaop dan pengelola stasiun tidak melihat kita para pemakai jasa sebagai sumber pendapatan PT KA. Saya yakin jika ada kemauan pasti bisa terwujud.


Artikel lain:


kaos ukuran besar XXXXXL
Stasiun Gambir
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

12 komentar