Senin, 31 Mei 2010

Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Insiden penyerangan kapal Mavi Marmara yang membawa misi kemanusiaan ke Gaza yang dilakukan  oleh tentara  Israel sungguh biadab dan terkutuk, bahkan informasi yang ada korban meninggal ada 19 orang.. Wajar kalau kemudian politisi PKS Mahfud Siddiq meminta kasus ini dibawa ke Mahkamah Militer. Selama ini memang PKS dikenal sebagai parpol Islam yang membela penuh perjuangan Rakyat Palestina. Semua bereaksi, dari Pemerintah RI juga mengutuk serangan ini.Pemerintah Turki menarik dubesnya dari Israel. Pihak HAMMAS meminta Dewan Keamana PBB untuk bersidang

Dari hiruk pikuk kapal tersebut, ada yang mengirimkan email yang menurut saya penuh dengan pelajaran mahal agar apapaun yang kita lakukan, keikhlasan adalah yang paling penting. Berikut email yang dimaksud yang saya peroleh dari milis Alumni STAN:

Gaza Tidak Membutuhkanmu! 
(Santi Soekanto, dari Freedom Flotilla, 30 Mei 2010)May 31, '10 2:13 AMfor everyone

Assalamu'alaykum warahmatulLahi wabarakatuhu,

Salah satu dari 12 orang Indonesia yang ada di armada Freedom Flotilla adalah Santi Soekanto. Ia mantan wartawati harian the Jakarta Post, sempat menjadi konsultan media bagi WHO Jakarta, kemudian memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Suaminya, Wisnu Pramudya, juga ada di atas kapal. Wisnu juga wartawan, sempat memimpin majalah Hidayatullah.

Kemarin, Santi mengirim email ini pada saya. Isinya menyentuh. Saya teruskan pada kawan-kawan, semoga juga bisa bermanfaat. Silakan teruskan pada kawan-kawan lain. Sampai saat mengirim email ini, saya belum tahu kabar mereka dan 10 orang Indonesia lain (selain Santi dan Wisnu, ada juga M. Yasin/ TV One, Surya Fachrizal/ majalah Hidayatullah, Ferry Nur/ Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina, tiga orang dari MER-C, sisanya saya belum tahu).
Mohon terus doakan mereka.
Salam,
--
Tomi Satryatomo
skype: tomi.satryatomo
From: Santi Soekanto
Sent: Sunday, May 30, 2010 8:47 AM
To: Tomi Satryatomo; Tomi Satryatomo

Subject: Just sharıng - Gaza Tidak Membutuhkanmu

Gaza Tidak Membutuhkanmu!Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalan an ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.
 
Activism 

Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku. Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati. 

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku. Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.
**** 
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…

29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.

*** mohon maaf bagian ini saya hilangkan
Banding di Pengadilan Pajak

Banding di Pengadilan Pajak

Dulu kita sempat rame-rame bicara Gayus dan Banding Pengadilan Pajak,  setelah sekarang proses bergulir mestinya kita perlu tahu juga gimana sih proses dan aturan main kalau mau banding.  Banding merupakan salah satu hak wajib pajak. Banding ditempuh setelah Wajib Pajak mengajukan keberatan atas ketetapan pajak hasil pemeriksaan, namun keberatan tersebut ditolak oleh DJP. Langkah banding ini ditempuh dengan mengajukan ke Pengadilan Pajak.


Apa yang perlu diketahui tentang Banding di Pengadilan Pajak
   
  1. Keputusan adalah suatu penetapan tertulis dibidang perpajakan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang bedasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan dan dalam rangka pelaksanaan UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. 
  2. Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
  3. Banding adalah upaya hukum terhadap suatu keputusan pejabat yang berwenang sepanjang diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan.
  4. Surat Uraian Banding adalah surat Terbanding kepada Pengadilan Pajak yang berisi jawaban atas alasan banding yang diajukan oleh pemohon banding.
  5. Surat Bantahan adalah surat dari pemohon banding kepada Pengadilan Pajak yang berisi bantahan atas surat uraian banding atau surat bantahan.
  6. Tanggal terima adalah tanggal stempel Pos pengiriman, tanggal faksimilie atau dalam hal diterima secara langsung adalah pada saat surat atau Putusan diterima secara langsung.
     
     
Syarat Pengajuan Surat Banding
  1. Harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.
  2. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.
  3. Banding diajukan dengan disertai alas an-alasan yang jelas, dan dicantumkan tanggal tanggal terima surat keputusan yang dibanding.
  4. Pada Surat Banding dilampirkan Salinan Keputusan yang disbanding.
  5. Banding hanya dapat diajukan apabila besarnya jumlah pajak yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50% lima puluh persen) dengan melampirkan Surat Setoran Pajak (SSP) atau Pemindah Bukuan (Pbk).

   
Pemprosesan Surat Banding
  1. Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak.
  2. Ditujukan kepada Pengadilan Pajak dengan melampirkan a. Salinan keputusan yang dibanding b.Bukti pembayaran sebesar 50 % dari pajak yang terutang yang dibanding Data dan bukti-bukti pendukung (SKP, Surat Permohonan Keberatan, SPT, Laporan Keuangan dll. 
  3. Pemohon Banding dapat melengkapi bandingnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterima Keputusan yang dibanding.
  4. Paling lambat 14 (empat belas hari) sebelum persidangan dimulai, Pemohon Banding mendapat pemberitahuan sidang.
     
     
Siapa yang mengajukan Banding
  1.  Banding dapat diajukan oleh Wajib Pajak, ahli warisnya, seorang pengurus atau kuasa hukumnya.
  2. Apabila selama proses Banding, pemohon Banding meninggal dunia, Banding dapat dilanjutkan oleh warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau Pengampunya dalam hal pemohon Banding Pailit.
  3. Apabila selama proses Banding pemohon Banding melakukan penggabungan, peleburan, pemecahan / pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban karena penggabungan, peleburan, pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi dimaksud.
     
     
Hak-hak Pemohon Banding
  1.  Pemohon Banding dapat melengkapi Surat Bandingnya untuk memenuhi ketentuan yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterima keputusan yang dibanding.
  2. Pemohon Banding dapat memasukkan Surat Bantahan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) sejak tanggal terima salinan Surat Uraian Banding.
  3. Dapat hadir dalam persidangan guna memberikan keterangan lisan atau bukti-bukti yang diperlukan sepanjang memberitahukan kepada Ketua Pengadilan Pajak secara tertulis.
  4. Dapat hadir dalam sidang Pembacaan Putusan.
  5. Dapat didampingi atau diwakili oleh Kuasa Hukum yang telah terdaftar/mendapat ijin Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak.
  6. Dapat meminta kepada Majelis kehadiran saksi.
     
     
Pencabutan Banding
  1.  Terhadap Banding dapat diajukan surat pernyataan pencabutan kepada Pengadilan Pajak.
  2. Banding yang dicabut tersebut, dihapus dari daftar sengketa melalui penetapan Ketua dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan sebelum sidang dilaksanakan dan putusan Majelis.Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan dalam siding atas persetujuan terbanding.
  3. Banding yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan tersebut, tidak dapat diajukan kembali.
     
     
Pengecualian
  
  1. Pengajuan Banding dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan tidak mengikat apabila dalam jangka waktu dimaksud tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaan pemohon banding.
  2. Pemohon Banding tidak harus melampirkan bukti pembayaran 50 % pajak yang terutang, sepanjang Banding diajukan atas Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).
      
     
Hal-hal lain yang perlu diketahui 

  1. Pengadilan Pajak meminta Surat Uraian Banding kepada Terbanding dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterima Surat Banding lengkap.
  2. Dalam hal pemohon banding melengkapi surat atau dokumen susulan, jangka waktu 14 hari dihitung sejak tanggal diterimanya surat atau dokumen susulan dimaksud.
  3. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding kepada Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Uraian Banding.
  4. Salinan Surat Uraian Banding oleh Pengadilan Pajak dikirimkan kepada Pemohon Banding dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima.
  5. Pemohon Banding memberikan tanggapan/bantahan atas Surat Uraian Banding yang diterimanya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Bantahan.
  6. Meskipun Terbanding atau Pemohon Banding tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan banding.

    (Sumber: Seri-01 Banding di Pengadilan Pajak) 

Penting 
Formulir SPT Tahunan WP OP Lengkap
Formulir SPT Tahunan WP Badan Lengkap
Formulir PPh 21
Formulir SPT Masa PPh 
SPT Masa PPN
Formulir Bukti Potong
Daftar Bukti Potong

Rabu, 26 Mei 2010

Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran

Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran

Waktu lihat-lihat file diklat TOT  dengan pendekatan Adult Learning Principles (ALP) saya menemukan sebuah file yang menurut saya pantas untuk didiskusikan, terutama buat yang biasanya ngajar. Mudah-mudahan bermanfaat.

Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran 

Cuplikan dari ‘The Adult Learner: a neglected species’ oleh Malcolm Knowles, edisi ke-4, 1990, Gulf Publishing Co. USA.

Sejak dahulu saya selalu menganggap bahwa seorang guru adalah seseorang yang bertanggung jawab (atau akuntabel, menurut jargon masa kini) atas apa yang harus dipelajari murid, bagaimana dan kapan mereka belajar, dan apakah mereka sudah belajar atau belum. Guru harus ‘mentransmisikan’ suatu pengetahuan dari kurikulum yang sudah tersedia, mengontrol cara murid menerima dan menggunakan pengetahuan yang diberikan, dan kemudian mengetes apakah mereka telah menangkap pengetahuan tersebut.

Begitulah cara guru-guru saya memberikan pelajaran. Ini satu-satunya model yang saya kenal waktu itu. Ketika saya diundang untuk mengajar di George Williams College di Chicago, cara mengajar seperti itulah yang diajarkan kepada saya. Pada awal pekerjaan saya, saya sangat senang dan bangga atas performansi saya. Saya adalah seorang ‘transmitor’ pengetahuan yang baik. Kurikulum saya terorganisasi dan terencana secara baik. Saya mengilustrasikan konsep-konsep abtrak dengan menggunakan contoh-contoh yang menarik. Saya berbicara dengan jelas dan dinamis. Saya seringkali mengundang tawa dari para murid sehingga mereka bersemangat. Saya mempersilahkan murid-murid untuk menginterupsi guna mengajukan pertanyaan atau meminta klarifikasi. Saya mengundang diskusi yang hangat dan juga melakukan kegiatan praktek dan latihan dalam kuliah saya. Tes yang saya berikan pun cukup adil dan menghasilkan kurva distribusi yang bagus.

Saya ingat merasa sangat senang ketika murid-murid saya melakukan apa yang saya suruh. Kebanyakan murid-murid saya waktu itu mempersiapkan diri untuk menjadi sekretari YMCA, dan mereka sangat rajin dan berkelakuan baik. Mereka mencatat, mengerjakan pekerjaan rumah, dan mampu mengerjakan ujian final dengan baik. Murid-murid yang mendapat nilai A bahkan mampu mengingat hampir tiap kata yang saya lontarkan ketika mengajar. Saya merasa mendapatkan penghargaan yang luar biasa karena telah mampu menjadi transmitor pengetahuan dan pengontrol murid yang baik. Saya benar-benar seorang guru yang baik.

Waktu itu saya juga mengambil program master di bidang pendidikan untuk orang dewasa di University of Chicago, dan kuliah-kuliah awal saya diberikan oleh guru-guru yang melakukan hal-hal yang sama dengan yang saya lakukan di kelas saya sendiri ketika saya mengajar. Di penghujung masa ajaran saya di George Williams, saya mengikuti seminar konseling psikologis di University of Chicago oleh seorang Profesor Arthur Shedlin, kolega Carl Rogers. Saya benar-benar kaget dengan apa yang terjadi pada pertemuan pertama. Ada sekitar 15 murid duduk mengelilingi meja seminar dan selama 20 menit kami saling menyapa dan berbasa-basi. Akhirnya, ada seseorang yang bertanya apakah ada yang tahu siapa guru kami. Salah satu dari orang-orang di sana lalu memperkenalkan dirinya, mengatakan bahwa namanya Art, dan dia telah ditunjuk oleh Departemen Psikologi untuk bertemu dengan kami. Kemudian sesorang lagi bertanya apakah ada garis besar kuliah untuk kuliah ini. Art menjawab, “Anda menginginkan sebuah garis besar kuliah?” Orang-orang terdiam selama beberapa menit. Seorang lagi memecah keheningan dengan mengatakan, “Saya ingin tahu mengapa Anda semua datang ke sini – apa yang ingin Anda pelajari?” Akhirnya kami bergiliran mengatakan apa tujuan dan harapan kami dari kuliah ini. Ketika sampai pada giliran Art, dia mengatakan, “Saya berharap Anda semua dapat membantu saya menjadi seorang fasilitator yang lebih baik dalam proses pembelajaran.”

Tidak Pernah Bekerja Sekeras Ini
Saya tidak akan menceritakan secara mendetil apa yang terjadi kemudian, tapi saya dapat memberi tahu Anda bahwa selama seminggu berikutnya saya sibuk membaca semua buku yang pernah ditulis Carl Rogers, mencari orang-orang yang sudah mengikuti seminar ini dan menyakan mereka apa sebenarnya seminar tersebut, dan mengembangkan suatu rencana untuk membentuk tim pencari jawaban yang terdiri atas murid-murid yang mengikuti seminar tersebut. Saya mempresentasikan usulan saya itu di pertemuan kedua (yang kemudian diterima, dengan beberapa modifikasi). Belum pernah sebelumnya saya membaca sebegitu banyak buku dan artikel dan bekerja sedemikian keras untuk suatu kuliah yang saya ambil. Saya belum pernah mengalami perasaan bertanggung jawab yang sedemikian besar atas proses belajar saya sendiri. Hal ini benar-benar mengagumkan. Saya baru mengerti apa rasanya ‘kecanduan’ belajar. Saya mulai berpikir bagaimana rasanya menjadi seorang fasilitator pembelajaran dan bukan sekedar menjadi seorang guru. Untungnya, di seminar berikut saya yang diberikan oleh Cyril O. Houle, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya tersebut.

Setelah saya menyelesaikan seminar saya dengan Cyril Houle, George Williams College meminta saya untuk mengajarkan metode pendidikan orang dewasa lagi. Di hari itu saya memutuskan untuk berubah dari seorang guru menjadi seorang fasilitator. Di awal pembukaan sesi, saya jelaskan pada murid-murid saya bahwa saya hendak bereksperimen dengan suatu pendekatan pengajaran yang baru dan menceritakan pengalaman saya sendiri yang saya peroleh dari kedua panutan saya – Shedlin dan Houlse – tentang peran fasilitator pembelajaran. Saya mengakui pada mereka bahwa saya masih tidak terlalu percaya diri untuk menerapkan hal baru ini karena saya belum pernah mencobanya sebelumya, dan ini baru bisa berhasil jika mereka semua setuju untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas proses belajar mereka sendiri. Saya juga katakan bahwa saya akan mengurungkan niat saya kalau mereka semua merasa resikonya terlalu tinggi. Secara aklamasi, semua murid setuju untuk melakukan eksperimen ini dengan saya.

Sisa hari pertama itu dipakai oleh para murid untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing dan mengidentifikasi ketertarikan khusus mereka dan sumber daya yang mereka miliki. Saya membagikan silabus yang berisi daftar tujuan kelas saya dan satu unit materi (saya menyebutnya “unit pertanyaan”) dengan rujukan ke berbagai materi dan informasi yang tersedia, yang akan membantu mereka mencapai tujuan tersebut. Saya lalu bertanya mereka ingin mengambil unit pertanyaan mana yang akan menjadi tanggung jawab mereka untuk minggu itu. Pada sesi kedua saya minta mereka mengajukan diri untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan yang sudah mereka pilih sendiri dan kami membentuk “tim pencari jawaban”.

Tim-tim pencar jawaban ini melakukan pertemuan rutin, dengan saya sebagai konsultan dan narasumeber, selama empat minggu berikutnya. Sisa semester kemudian dipakai sebagai sesi presentasi, di mana tiap tim mempresentasikan temuan mereka di depan kelas. Saya belum pernah melihat presentasi-presentasi sekreatif yang murid-murid saya berikan saat itu, dan saya dapat melihat betapa bangganya mereka karena merasa sudah berhasil melaksanakan tugas mereka dengan baik. Di akhir semester itu saya sudah menjadi seorang fasilitator sejati.

Inquiry Units and Teams
Ketika saya menganalisis apa yang telah terjadi pada diri saya, saya menemukan beberapa perubahan mendasar. Konsep-diri saya sudah berubah dari menjadi seorang guru ke menjadi seorang fasilitator pembelajaran. Saya melihat peran saya bergeser dari transmitor-materi menjadi manajer proses dan – pada level yang lebih rendah – narasumber materi.

Yang kedua, saya menyadari bahwa saya mengalami perubahan sistem penghargaan diri secara psikologis. Jika dulu saya mendapatkan penghargaan diri karena berhasil mengontrol murid, kini saya mendapatkan pengharggan diri dari melepaska murid. Dan saya lebih menyukai yang terakhir itu.

Terakhir, saya menyadari bahwa saya melakukan satu set fungsi yang berbeda, yang memerlukan satu set keahlian yang berbeda pula. Jika dulu saya melakukan fungsi sebagai perencana dan transmitor materi, yang membutuhkan terutama keahlian presentasi, kini saya melakukan fungsi sebagai perancang dan manajer proses, yang memerlukan keahlian membangun hubungan, menilai kebutuhan, melibatkan murid dalam membuar rencana belajar, menghubungkan murid ke sumber daya belajar yang ada, dan mendorong inisiatif murid.

Saya tidak pernah tergoda untuk kembali ke peran sebagai guru lagi sejak itu.

Materi yang berkaitan:
1. Kenapa mesti ALP (adult learning principles - pembelajaran untuk orang dewasa )
2. Trainer untuk Calon Pemeriksa Pajak dengan metode ALP

Senin, 24 Mei 2010

Ban Kempes

Ban Kempes

Ahad Pagi itu rencananya saya akan ikut menjadi peserta pelatihan tentang kemasyarakatan dari jam 08.00 WIB sampai 19.30 WIB. Daripada saya membawa kendaraan kan mendingan saya diatar saja sehingga kendaraan bisa dipakai di rumah. Maklum yang membutuhkan kan banyak, ada anak saya yang mau latihan karate, ada yang mau ketemu temen2nya dan ada yang mau ngumpulin tugas bisa juga untuk keperluan istri saya.

Akhirnya saya naik motor diantar anak no 3. Dalam perjalanan lancar-lancar saja nggak ada masalah. Saya memang berangkat agak buru-buru karena acara pasti sudah dimulai.  Enamratus meter menjelang sampai lokasi acara terdengar bunyi ban belakang meletus. Pas saya lihat bannya memang sudah harus ganti (jadi bukan karena faktor kelebihan berat, atau jangan-jangan karena ban luar memang harus ganti dan kelebihan berat). Waduh dalam hati berfikir sudah telat di acara ditambah lagi ban kempes dan bingunngnya lagi dompet saya lagi "kering" dan malamnya belum dapet tiket kereta ke Jakarta. Meskipun begitu hati saya kok rasanya "tenang-tenang" saja. Dan untuk menghibur diri saya mencari-cari kata lanjutan dari "untungnya"
  1. Walaupun ban meletus tetapi baik saya mapun anak saya semua selamat tidak jatuh
  2. Untungnya saya yang lagi pakai motornya, coba kalau anak saya yang lagi pakai, dia buru-buru, nggak bawa uang lha terus gimana? 
  3. Untungnya tidak jauh dari lokasi ada bengkel motor yang meskipun hari libur tapi dia buka sehingga sekalian saja ganti ban luar dan ban dalam
  4. Untung saya pernah baca tulisan dari  teman blogger sehingga saya berfikir inilah saatnya terjadi distribusi pendapatan sesuai dengan yang ditentukan oleh Alloh swt. 
Akhirnya saya bisa ikut acara meskipun telat, bisa mendengarkan tausiah dari penulis buku, saksi sejarah, penggerak masyarakat dan bisa silaturakhim dengan teman2 yang sudah lama nggak ketemu

Kamis, 20 Mei 2010

Sri Mulyani bicara Etika dalam Kebijakan Publik

Sri Mulyani bicara Etika dalam Kebijakan Publik

Pengantar: 
Dalam forum kuliah umum yang diadakan oleh Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), sekaligus sbg acara perpisahan dgn org2 yang selama ini mendukung Bu Ani dalam kisruh politik belakangan ini, Bu Ani berbicara soal "Etika dalam Kebijakan Publik." Soal apa yg ia coba lakukan di Depkeu, memberi batas soal apa yg bisa dan tidak bisa dilakukan oleh Menkeu. Lalu ia juga mengritik soal pengusaha yg jadi pejabat terkait etika. Dan bagaimana rendahnya etika banyak anggota DPR yg dalam rapat2 suka bertanya keras hanya untuk kelihata keras, tapi ketika dijawab malah santai keluar ruangan.
Berikut transkrip lengkapnya:

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 'pak', dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk tangan)
;;
   
Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal.
   
Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.
Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.
   
Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.
     
Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.
   
Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.
   
Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.
     
Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.
   
Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
   
Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.
   
Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan 'kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?'
   
Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.
   
Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).
  
Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.
     
Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.
   
Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.
   
Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.
   
Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.
Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.
     
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.
   
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.
   
Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.
   
Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.
Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan 'Ini adalah panggung politik bu.'
   
Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.
   
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. " Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.
     
Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.
     
Nah, oleh karena itu, didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.
     
Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don'ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.
   
Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.
   
Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong itu.
   
Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.
Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.
         
Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, "Mba ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu."
   
Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti 'Lihat saja Sri Mulyani, neolib.'
       
Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.
   
Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.
   
Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.
   
Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi. Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal. 
   
Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.
   
Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal.red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)
   
Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).
   
Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti. Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. 
    
Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.
   
Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.
   
Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.
   
Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
   
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.
     
Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.
   
Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.
   
Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.
   
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.
   
Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.
Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)
 
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih
(standing applause)


sumber: dari suatu milis 
Artikel lain yang berkaitan:

Senin, 17 Mei 2010

Aspek Pajak untuk Piutang Yang Nyata-nyata Tidak Dapat Ditagih

Aspek Pajak untuk Piutang Yang Nyata-nyata Tidak Dapat Ditagih

Pemerintah telah menerbitkan aturan terbaru berkaitan dengan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang dapat dikurangkan dari Penghasilan Bruto berupa  Peraturan Menteri Keuangan nomor : 57/PMK.03/ 2010 tanggal 9 Maret 2010.  Meskipun aturan ini baru, namun secara substansi tidak terlalu berbeda dengan aturan pajak terdahulu yang mengatur tentang Piutang yang tidak dapat ditagih.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menerapkan aturan pajak ini antara lain sebagai berikut:
  1. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir oleh Wajib Pajak.
  2. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto, sepanjang memenuhi persyaratan:
    a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
    b. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih
    tersebut dalam bentuk hard copy dan/atau soft copy kepada Direktorat Jenderal Pajak;
    dan
    c. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara, atau terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut, atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus, atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.
  3. Daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dan dokumen/bukti untuk pemenuhan ketentuan dalam butir 2 diserahkan kepada Direktorat Jenderal Pajak dengan cara melampirkannya dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh tahun pajak dihapuskannya piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. 
  4. Penerbitan umum atau khusus sebagaimana dimaksud dalam butir 2 huruf c adalah
    penerbitan yang meliputi:
    a. Penerbitan umum adalah pemuatan pengumuman pada penerbitan surat kabar/majalah atau media massa cetak yang lazim lainnya yang berskala nasional; atau
    b. Penerbitan khusus adalah pemuatan pengumuman pada:
    1) penerbitan Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA)/Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (PERBANAS)
    2) penerbitan/pengumuman khusus Bank lndonesia; dan/atau
    3) penerbitan yang dikeluarkan oleh asosiasi yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan pihak kreditur menjadi anggotanya. 
  5. Apabila di kemudian hari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dilunasi oleh debitur seluruhnya atau sebagian, maka jumlah piutang yang dilunasi tersebut merupakan penghasilan bagi kreditur pada tahun pajak diterimanya pelunasan.  

Selasa, 11 Mei 2010

Perkembangan Warung Kejujuran

Perkembangan Warung Kejujuran

Setelah Warung Kejujuran yang menjual minuman dan makanan kecil dan beberapa item barang diresmikan pada bulan Januari 2010 ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati. Sekarang sudah berjalan kurang lebih 4 bulan prosentase tingkat kejujuran berfliktuasi. Prosentase tingkat kejujuran dihitung dengan perbandingan kas yang diterima dengan kas yang seharusnya diterima. Pada bulan pertama prosentase tingkat kejujuran 92,75 %. Meskipun tidak 100% pengurus masih cukup seneng karena masih di atas 90%. Pengurus berprasangka baik mungkin terdapat salah hitung atau salah dalam melihat daftar harga. Bulan kedua pengurus terkaget-kaget karena prosentase kejujuran turun menjadi 85,51%. 

Dengan anjlognya prosentase tingkat kejujuran, pengurus langsung melakukan evaluasi. Hasilnya adalah perbaikan sistem administrasi pencatatan dan perbaikan lainnya diantaranya: memberikan label harga tiap barang (supaya pembeli tidak pusing melihat daftar), menyediakan kalkulator (supaya pembeli tidak salah hitung baik jumlah pembelian maupun tidak slah hitung uang kembalian), khusus uang 50 ribuan dan 100 ribuan disediakan kotak khusus yang nggak bisa diambil (ini untuk mengamankan) dan menyediakan uang dengan berbagai pecahan. Setelah upaya dari pengurus warung hasilnya langsung kelihatan. Prosentase tingkat kejujuran bulan ketiga kembali naik 92,11 %.

Yang agak aneh adalah prosentase tingkat kejujuran bulan April 2010 malah di atas 100% (nah lho...) yaitu 105,37%.  Kok bisa yaa... Dari hasil wawancara dengan beberapa orang dapat disismpulkan karena pada saat membeli uang kemblian sering tidak diambil.

Kesimpulan saya adalah (dengan prinsip berprasangka baik ) tingkat kejujuran masih OK cuma mungkin salah hitung atau salah ngambil kembalian. Begitu ingat langsung dibayar sehingga prosentasenya di atas 100%


Pengumuman Penerimaan CPNS Kemenkeu 

Senin, 10 Mei 2010

Jika Seorang Anggota Komisi XI DPR berbicara Optimalisasi Penerimaan Pajak

Jika Seorang Anggota Komisi XI DPR berbicara Optimalisasi Penerimaan Pajak

Membaca Media Indonesia dimana seorang Anggota Komisi XI DPR RI merasa telah "berjasa" untuk mengoptimalkan penerimaan Pajak sebesar Rp 11 Trilyun sehingga merasa berhak menerima Rp 2 Trilyun, biar lebih jelas saya kutip saja ya:
 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
Komisi XI DPR RI meminta  imbalan program/kegiatan senilai Rp2 triliun karena merasa telah mampu melakukan optimalisasi penerimaan Negara dari Pajak sebesar Rp11 triliun. Imbalan tersebut, menurut Wakil Ketua Komisi XI DPR RI (Fraksi Partai Demokrat) Achsanul Qosasih, akan dialokasikan di daerah pemilihan masing-masing anggota Komisi XI. "Komisi XI kan sudah berhasil melakukan optimalisasi dari Pajak sebesar Rp11 triliun, wajar kalau Komisi XI meminta Rp2 triliun digunakan untuk program atau kegiatan yang dialokasikan di daerah pemilihan masing-masing anggota Komisi XI," ujar Achsanul; ketika dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Minggu (9/2).
 
Menurut Achsanul dana Rp2 triliun kalau dibagikan untuk setiap anggota Komisi XI akan mendapat sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. "Jumlah anggota Komisi XI; 53 orang, alokasi untuk dapil  anggota Komisi XI, itu sudah kami sepakati dengan pemerintah; Tapi kesepakatan itu tidak diabaikan Badan Anggaran dengan alasan tidak ada dasar hukumnya," ujarnya. 
 
Achsanul menjelaskan, anggaran Rp2 triliun itu tetap ditempatkan di anggaran Kementerian/Lembaga (K/L). "Kami meminta supaya program/kegiatan yang dialokasikan untuk dapil anggota Komisi XI tersebut dimasukkan dalam pos anggaran Kementerian/Lembaga seperti PU dalam bentuk proyek pembangunan jalan, jembatan, air bersih, atau irigasi. Proyek seperti ini kan tidak ada di mitra kerja Komisi XI, ini adanya di mitra kerja komisi lain seperti Komisi V," ujarnya.

Achsanul mengatakan pengalokasian anggaran untuk program/kegiatan  yang dimintakan Komisi XI, tetap punya dasar hukum dan sesuai aturan. "Kalau dibilang tak punya dasar hukum, Komisi Komisi lain mengalokasikan anggaran untuk suatu proyek/program yang dialokasikan untuk satu tempat, apa dasar hukumnya? Itu kan tergantung kesepakatan. Kalau Komisi XI dan Pemerintah sudah sepakat, kenapa Badan Anggaran tidak menyetujuinya," ujarnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
 
Saya nggak habis pikir apa sih sebenarnya yang ada di benak Anggota Dewan Yang Terhormat. Apakah yang terpikir hanyalah bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya kemudian dapat dipakai untuk Daerah Pemilihan (Dapil). Ataukah Dapil hanyalah sebagai alasan bagaimana mendapatkan uang. Atau mereka berfikir sebagaimana cara berfikir seorang makelar. Ketika sesuatu sudah dianggap "sukses" kemudian dengan serta merta untuk memperoleh komisi. Mungkin dia tidak berfikir bahwa selama ini mereka mendapat Honorariun dan Tunjangan Kehormatan lainnya adalah dalam rangka untuk melaksanakan tugas.
 
Saya kok jadi pusing dengan cara berfikir mereka, mungkin karena saya bukan anggota Yang Terhormat sehingga level berfikir saya nggak sampai. Atau jangan-jangan karena "tuntutan" semakin tinggi, tuntutan dari gaya hidupnya, tuntutan dari keluarga dan kerabatnya, tuntutan dari partainya atau tuntutan dari siapa.
  
Berkaitan dengan pajak, maka yang bertugas mengawasi adalah Komisi XI DPR RI. Sedangkan tugas Komisi DPR RI adalah:
 
Tugas Komisi dalam pembentukan undang-undang adalah mengadakan persiapan, penyusunan, pembahasan, dan penyempurnaan Rancangan Undang-Undang yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya.
Tugas Komisi di bidang anggaran lain:

Mengadakan Pembicaraan Pendahuluan mengenai penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya bersama-sama dengan Pemerintah; dan mengadakan pembahasan dan mengajukan usul penyempurnaan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya bersama-sama dengan pemerintah.

Tugas komisi di bidang pengawasan antara lain:
 
Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, termasuk APBN, serta peraturan pelaksanaannya; membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan yang terkait dengan ruang lingkup tugasnya;melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah; serta membahas dan menindklanjuti usulan DPD.
 
Nah menurut Anda apakah pantas seorang Anggota Komisi XI merasa "berhak" untuk menuntut Rp 2 Trilyun dari uang pajak untuk dibagikan ke daerah pemilihannya? Sedangkan dia telah mendapat honorarium dan uang kehormatan yang jumlahnya sudah sangat besar. Kira-kira prestasi apa sih dari Anggota Komisi XI telah mengoptimalkan penerimaan pajak?

Rabu, 05 Mei 2010

Ibu Sri Mulyani : Saya tidak bisa membuat alumni STAN sekaya Gayus

Ibu Sri Mulyani : Saya tidak bisa membuat alumni STAN sekaya Gayus

Saya kebetulan tidak ikut  pada acara seminar  yang diadakan dalam rangkaian acara Konggres dan Reuni Akbar STAN 2010, makanya saya copykan dari Detik Finance

Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui dirinya tidak bisa membuat para alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang menjadi pegawai di Kementerian Keuangan bisa sekaya Gayus Tambunan. Tapi Sri Mulyani berjanji mereka dapat hidup dan menghidupi keluarganya dengan normal. "Saya memang tidak bisa buat mereka (alumni STAN yang menjadi pegawai Kemenkeu) sekaya Gayus, tapi hidup descent, tidak kaya sekali, tapi tidak dianggap miskin. Bisa menghidupi anak secara normal, dihormati, dihargai. Seluruh reformasi di Kemenkeu desainnya untuk itu," tegasnya dalam sambutan pada acara Ikanas di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (5/5/2010).
   
Namun, Sri Mulyani menilai harapan hidup descent itu tidak menjamin seluruh pegawainya tidak melakukan korupsi. Menurutnya, ada saja manusia yang hidup hanya sekadar hidup, asal dia kaya, populer, dan tidak peka. "Tapi hidup itu tidak menjamin orang tidak korupsi, bahkan mereka sering dikagumi karena mereka terkadang royal. Dia nyumbang tapi habis itu dia ambil yang lebih gede lagi. Jadi jangan kita tempatkan orang-orang itu pada tempat yang mulia," jelasnya.

Sri Mulyani yakin masih banyak orang yang ingin berbagi nilai-nilai yang baik dalam komunitas."Prinsip yang baik yaitu tanggung jawab, ketaatan hukum,tenggang rasa. Dari sisi governance, entitas sebagai perusahaan, korporasi,seperti Depkeu, disclosure-nya melalui laporan keuangan," ujarnya. Oleh karena itu, Sri Mulyani mengharapkan para pegawainya bisa memberikan nilai-nilai tersebut dalam masyarakat.

"Buktikan Anda punya dignity,jangan mau dikalahkan hanya karena satu Gayus merusak belanga kita, dan jangan merasa bersalah, toh kita nggak dapat uangnya juga. Jangan malu menyebut Anda alumni STAN," tegasnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Artikel terkait: