Rabu, 26 Mei 2010

Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran

Waktu lihat-lihat file diklat TOT  dengan pendekatan Adult Learning Principles (ALP) saya menemukan sebuah file yang menurut saya pantas untuk didiskusikan, terutama buat yang biasanya ngajar. Mudah-mudahan bermanfaat.

Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran 

Cuplikan dari ‘The Adult Learner: a neglected species’ oleh Malcolm Knowles, edisi ke-4, 1990, Gulf Publishing Co. USA.

Sejak dahulu saya selalu menganggap bahwa seorang guru adalah seseorang yang bertanggung jawab (atau akuntabel, menurut jargon masa kini) atas apa yang harus dipelajari murid, bagaimana dan kapan mereka belajar, dan apakah mereka sudah belajar atau belum. Guru harus ‘mentransmisikan’ suatu pengetahuan dari kurikulum yang sudah tersedia, mengontrol cara murid menerima dan menggunakan pengetahuan yang diberikan, dan kemudian mengetes apakah mereka telah menangkap pengetahuan tersebut.

Begitulah cara guru-guru saya memberikan pelajaran. Ini satu-satunya model yang saya kenal waktu itu. Ketika saya diundang untuk mengajar di George Williams College di Chicago, cara mengajar seperti itulah yang diajarkan kepada saya. Pada awal pekerjaan saya, saya sangat senang dan bangga atas performansi saya. Saya adalah seorang ‘transmitor’ pengetahuan yang baik. Kurikulum saya terorganisasi dan terencana secara baik. Saya mengilustrasikan konsep-konsep abtrak dengan menggunakan contoh-contoh yang menarik. Saya berbicara dengan jelas dan dinamis. Saya seringkali mengundang tawa dari para murid sehingga mereka bersemangat. Saya mempersilahkan murid-murid untuk menginterupsi guna mengajukan pertanyaan atau meminta klarifikasi. Saya mengundang diskusi yang hangat dan juga melakukan kegiatan praktek dan latihan dalam kuliah saya. Tes yang saya berikan pun cukup adil dan menghasilkan kurva distribusi yang bagus.

Saya ingat merasa sangat senang ketika murid-murid saya melakukan apa yang saya suruh. Kebanyakan murid-murid saya waktu itu mempersiapkan diri untuk menjadi sekretari YMCA, dan mereka sangat rajin dan berkelakuan baik. Mereka mencatat, mengerjakan pekerjaan rumah, dan mampu mengerjakan ujian final dengan baik. Murid-murid yang mendapat nilai A bahkan mampu mengingat hampir tiap kata yang saya lontarkan ketika mengajar. Saya merasa mendapatkan penghargaan yang luar biasa karena telah mampu menjadi transmitor pengetahuan dan pengontrol murid yang baik. Saya benar-benar seorang guru yang baik.

Waktu itu saya juga mengambil program master di bidang pendidikan untuk orang dewasa di University of Chicago, dan kuliah-kuliah awal saya diberikan oleh guru-guru yang melakukan hal-hal yang sama dengan yang saya lakukan di kelas saya sendiri ketika saya mengajar. Di penghujung masa ajaran saya di George Williams, saya mengikuti seminar konseling psikologis di University of Chicago oleh seorang Profesor Arthur Shedlin, kolega Carl Rogers. Saya benar-benar kaget dengan apa yang terjadi pada pertemuan pertama. Ada sekitar 15 murid duduk mengelilingi meja seminar dan selama 20 menit kami saling menyapa dan berbasa-basi. Akhirnya, ada seseorang yang bertanya apakah ada yang tahu siapa guru kami. Salah satu dari orang-orang di sana lalu memperkenalkan dirinya, mengatakan bahwa namanya Art, dan dia telah ditunjuk oleh Departemen Psikologi untuk bertemu dengan kami. Kemudian sesorang lagi bertanya apakah ada garis besar kuliah untuk kuliah ini. Art menjawab, “Anda menginginkan sebuah garis besar kuliah?” Orang-orang terdiam selama beberapa menit. Seorang lagi memecah keheningan dengan mengatakan, “Saya ingin tahu mengapa Anda semua datang ke sini – apa yang ingin Anda pelajari?” Akhirnya kami bergiliran mengatakan apa tujuan dan harapan kami dari kuliah ini. Ketika sampai pada giliran Art, dia mengatakan, “Saya berharap Anda semua dapat membantu saya menjadi seorang fasilitator yang lebih baik dalam proses pembelajaran.”

Tidak Pernah Bekerja Sekeras Ini
Saya tidak akan menceritakan secara mendetil apa yang terjadi kemudian, tapi saya dapat memberi tahu Anda bahwa selama seminggu berikutnya saya sibuk membaca semua buku yang pernah ditulis Carl Rogers, mencari orang-orang yang sudah mengikuti seminar ini dan menyakan mereka apa sebenarnya seminar tersebut, dan mengembangkan suatu rencana untuk membentuk tim pencari jawaban yang terdiri atas murid-murid yang mengikuti seminar tersebut. Saya mempresentasikan usulan saya itu di pertemuan kedua (yang kemudian diterima, dengan beberapa modifikasi). Belum pernah sebelumnya saya membaca sebegitu banyak buku dan artikel dan bekerja sedemikian keras untuk suatu kuliah yang saya ambil. Saya belum pernah mengalami perasaan bertanggung jawab yang sedemikian besar atas proses belajar saya sendiri. Hal ini benar-benar mengagumkan. Saya baru mengerti apa rasanya ‘kecanduan’ belajar. Saya mulai berpikir bagaimana rasanya menjadi seorang fasilitator pembelajaran dan bukan sekedar menjadi seorang guru. Untungnya, di seminar berikut saya yang diberikan oleh Cyril O. Houle, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya tersebut.

Setelah saya menyelesaikan seminar saya dengan Cyril Houle, George Williams College meminta saya untuk mengajarkan metode pendidikan orang dewasa lagi. Di hari itu saya memutuskan untuk berubah dari seorang guru menjadi seorang fasilitator. Di awal pembukaan sesi, saya jelaskan pada murid-murid saya bahwa saya hendak bereksperimen dengan suatu pendekatan pengajaran yang baru dan menceritakan pengalaman saya sendiri yang saya peroleh dari kedua panutan saya – Shedlin dan Houlse – tentang peran fasilitator pembelajaran. Saya mengakui pada mereka bahwa saya masih tidak terlalu percaya diri untuk menerapkan hal baru ini karena saya belum pernah mencobanya sebelumya, dan ini baru bisa berhasil jika mereka semua setuju untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas proses belajar mereka sendiri. Saya juga katakan bahwa saya akan mengurungkan niat saya kalau mereka semua merasa resikonya terlalu tinggi. Secara aklamasi, semua murid setuju untuk melakukan eksperimen ini dengan saya.

Sisa hari pertama itu dipakai oleh para murid untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing dan mengidentifikasi ketertarikan khusus mereka dan sumber daya yang mereka miliki. Saya membagikan silabus yang berisi daftar tujuan kelas saya dan satu unit materi (saya menyebutnya “unit pertanyaan”) dengan rujukan ke berbagai materi dan informasi yang tersedia, yang akan membantu mereka mencapai tujuan tersebut. Saya lalu bertanya mereka ingin mengambil unit pertanyaan mana yang akan menjadi tanggung jawab mereka untuk minggu itu. Pada sesi kedua saya minta mereka mengajukan diri untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan yang sudah mereka pilih sendiri dan kami membentuk “tim pencari jawaban”.

Tim-tim pencar jawaban ini melakukan pertemuan rutin, dengan saya sebagai konsultan dan narasumeber, selama empat minggu berikutnya. Sisa semester kemudian dipakai sebagai sesi presentasi, di mana tiap tim mempresentasikan temuan mereka di depan kelas. Saya belum pernah melihat presentasi-presentasi sekreatif yang murid-murid saya berikan saat itu, dan saya dapat melihat betapa bangganya mereka karena merasa sudah berhasil melaksanakan tugas mereka dengan baik. Di akhir semester itu saya sudah menjadi seorang fasilitator sejati.

Inquiry Units and Teams
Ketika saya menganalisis apa yang telah terjadi pada diri saya, saya menemukan beberapa perubahan mendasar. Konsep-diri saya sudah berubah dari menjadi seorang guru ke menjadi seorang fasilitator pembelajaran. Saya melihat peran saya bergeser dari transmitor-materi menjadi manajer proses dan – pada level yang lebih rendah – narasumber materi.

Yang kedua, saya menyadari bahwa saya mengalami perubahan sistem penghargaan diri secara psikologis. Jika dulu saya mendapatkan penghargaan diri karena berhasil mengontrol murid, kini saya mendapatkan pengharggan diri dari melepaska murid. Dan saya lebih menyukai yang terakhir itu.

Terakhir, saya menyadari bahwa saya melakukan satu set fungsi yang berbeda, yang memerlukan satu set keahlian yang berbeda pula. Jika dulu saya melakukan fungsi sebagai perencana dan transmitor materi, yang membutuhkan terutama keahlian presentasi, kini saya melakukan fungsi sebagai perancang dan manajer proses, yang memerlukan keahlian membangun hubungan, menilai kebutuhan, melibatkan murid dalam membuar rencana belajar, menghubungkan murid ke sumber daya belajar yang ada, dan mendorong inisiatif murid.

Saya tidak pernah tergoda untuk kembali ke peran sebagai guru lagi sejak itu.

Materi yang berkaitan:
1. Kenapa mesti ALP (adult learning principles - pembelajaran untuk orang dewasa )
2. Trainer untuk Calon Pemeriksa Pajak dengan metode ALP

kaos ukuran besar XXXXXL
Dari Guru ke Fasilitator Proses Pembelajaran
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

2 komentar