Rabu, 30 Juni 2010

Aspek Pajak Proyek Dana Bantuan Luar Negeri

Aspek Pajak Proyek Dana Bantuan Luar Negeri

Dana bantuan luar negeri sampai saat ini masih diperlukan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah daerah atau yang diteruskan ke perusahaan milik negara. Proyek-proyek tersebut dapat berupa proyek fisik (konstruksi), pengadaan barang dan jasa. Dana bantuan luar negeri (DBLN) adalah dana yang berasal dari luar negeri yang dapat berupa pinjaman luar negeri (loan) atau hibah luar negeri (grant). Proyek-proyek tersebut dikenal dengan isitilah Proyek Keppres 29 Tahun 1996. Dalam modul ini, proyek-proyek yang dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri, sebagian atau seluruhnya, disebut proyek dana bantuan luar negeri atau Proyek DBLN.
    
Pinjaman luar negeri adalah setiap penerimaan negara, baik dalam bentuk devisa dan /devisa yang dirupiahkan, maupun dalam bentuk barang dan / jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. 
   
Hibah luar negeri adalah setiap penerimaan negara, baik dalam bentuk devisa dan /devisa yang dirupiahkan, maupun dalam bentuk barang dan / jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali .
   
 Proyek-proyek pemerintah untuk keperluan BUMN/BUMD/Pemda yang dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri dilaksanakan melalui proses Perjanjian Penerusan Pinjaman (Subsidiary Loan Agreement/SLA ) antara Pemerintah RI cq Departemen keuangan dengan dengan BUMN/BUMD/Pemda.
    
Pemajakan terhadap perusahaan-perusahaan yang mengerjakan Proyek DBLN diatur terakhir dengan PP 25 tahun 2001, sebgai berikut: 
     
1.  Pajak Penghasilan Badan 
  • Pajak penghasilan yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh diperoleh kontraktor, konsultan, dan pemasok (suplier) utama, ditanggung Pemerintah
  •  Pajak penghasilan yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh diperoleh kontraktor, konsultan, dan pemasok (suplier) lapisan kedua, dipotong atau dibayar sesuai dengan  ketentuan UU Nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 38 tahun 2008. 
  • Pajak penghasilan yang terutang oleh kontraktor, konsultan, pemasok  utama yang ditanggung pemerintah dapat dikreditkan dengan PPh terutang atas seluruh penghasilan yang diterima dalam tahun yang sama 
  • Apabila Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan menyetakan kelebihan bayar, maka kelebihan bayar atas PPh yang ditanggung pemerinth tidak dikembalikan.
       
2.   Pajak Penghasilan Pasal 21/26 
  
PPh pasal 26 yang terutang oleh karyawan asing yang bekerja pada kontraktor, konsultan, dan pemasok utama maupun kontraktor, konsultan, dan pemasok lapisan kedua        yang diterima atau diperoleh dari pekerjaan Proyek DBLN, dipotong atau dibayar seseuai dengan  ketentuan UU Nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 38 tahun 2008. Dalam praktik masih banyak terdapat MoU dan kontrak kerja yang menyebut “all taxes levies” (dibebaskan atau “born by government (ditanggung pemerintah). Hal ini tentu bertentangan dengan UU PPh tersebut di atas.
     
3.  Pajak  Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah 
Pengenaan PPN adalah sama dengan PKP lainnya. Dalam  hal proyek tersebut dimiliki oleh pemerintah dan dana yang dipakai untuk proyek tersebut berasal dari DBLN, maka Faktur Pajak  Masukan dapat dikreditkan, sedangkan atas dana yang berasal dari APBN/APBD dipungut PPN oleh Bendahara Pemerintah.
    
PPN sehubungan dengan impor barang dan jasa kontraktor/konsultan dalam rangka pelaksanaan proyek DBLN, ditanggung Pemerintah dan tidak dipungut sehingga Pajak Masukan yang dibayar untuk keperluan proyek DBLN tersebut dapat direstitusikan karena merupakan PPN lebih bayar. Kewajiban pajaknya sama dengan PKP lainnya, yaitu membuat Faktur Pajak, mengisi dan melaporkan SPT masa bulanan.

Jumat, 25 Juni 2010

Makan di Jogja : Porsi Besar Harga Murah

Jika porsi besar dan harga murah yang kita cari, maka bisa dicoba Depot Makan Setiawan yang berlokasi di di Pertigaan Mantup Jl Wonosari Km.7 Baturetno, Banguntapan Bantul ( sekitar 250 M dari perempatan Wiyoro ke arah Wonosari. Catatan tambahan: dari perempatan Wiyoro ini kalau belok kiri sekitar 250 M ada rumah makan yang terkenal yaitu RM Mataram Indah dengan menu utama ikan segar. Sedangkan dari perempatan ini kalau kita belok kanan ada juga rumah makan terkenal RM Marem dengan menu ikan segar, udang dan tomyam.)
   
Depot Setiawan buka sore hari sampai malam. Masaknya sangat cepat tapi antriannya yang sangat panjang. Jadi yaa siap-siap nunggunya lama. Kalau mau antrian nggak terlalu panjang kita bisa datang menjelang jam 6 malam, tapi setelah itu biasanya rame sekali.





Sang Juru Masak sedang siap2 beraksi








Yang ini sedang merasakan "kekenyangan"?



ini adalah sample cap cay, semua porsi yaa seperti itu. Kalau saya biasanya pesen dengan sistem kombinasi (nasi goreng sayur, cap cay dan mie goreng). 

Jangan sekali kali pesen satu orang satu porsi karena nggak bakalan habis. 
Tapi kalau sisa bisa dibungkus kok

Senin, 21 Juni 2010

ke Pantai Depok (lagi)

Sudah lama saya nggak jalan-jalan jalan-jalan ke Pantai Depok Bantul. Keinginan untuk ke sana selalu menggelitik, nggak tahu kenapa yaa... Yang jelas asyik lah kalau ke sana. Pantai ini berjarak sekitar 30 km dari Yogyakarta. Lokasinya bersebelahan dengan Pantai Parangtritis. Jika kita dari arah Jogja menjelang pintu masuk (gerbang retribusi) Pantai Parangtritis kita belok kanan, itulah arah ke Pantai Depok. Retribusi masuk sebesar Rp 3.000 per orang belum termasuk parkir.  sedangkan parkir untuk mobil Rp 5.000.Pantai ini memang dirancang oleh pemda setempat sebagai wisata kuliner sekaligus wisata pantai. Ada lokasi TPI (tempat Pelelangan Ikan), kios2 penjual ikan dan warung makan yang siap untuk memanjakan lidah kita sesuai selera dan keinginan kita.

Begitu masuk ke lokasi pertama yang harus dilakukan adalah belanja ikan di Pantai Depok sesuai selera kita selanjutnya sudah ada pelayan warung makan yang menawarkan untuk memasak sesuai keinginan dan selera kita. Otomatis kita sudah merencanakan ikan yang kita beli mau dimasak apa. Pelengkap lain seperti nasi, sayuran lalapan dan sambal serta berbagai macam minuman dan es kelapa bisa dipesan di warung makan. (Sebenarnya bisa juga sih kita langsung ke rumah makan yang ada di pinggir pantai, nggak perlu pusing-pusing milih ikan, tetapi ada kepuasan lain yaa kalau kita milih ikan dulu, ditimbang dan dibayar)

    

Sambil menunggu masakan siap, kita bisa main-main di pinggir pantai Depok, bercengkerama dan bermain pasir bersama keluarga.




ada juga sih yang mandi di pinggir pantai, cuma memang harus hati-hati karena pantai selatan mempunyai ombak yang berbahaya.  Yang penting nyenggol air saja bagi anak-anak sudah cukup senang




Atau bisa juga main layang layang, nah kalau yang ini resikonya nggak terlalau besar dan angin sangat mendukung. Layang-layang bisa dibeli pada pedagang seharga Rp 12.000




Main layang-layang itu mengasikkan buktinya yang gede maupun yang kecil pingin ikut juga 




Capai main pasir, main air dan layang-layang ternyata makanan sudah siapdan saatnya : serbuuuu....maka dalam waktu yang relatif singkat makanan langsung habis.
Sampai lupa untuk bahan posting yang jelas isinya ca kangkung, sambal dan lalap, cumi tumis lombok ijo, udang goreng tepung 1 kg, ikan yang dibakar kayaknya 2 kg



Habis itu sempet jalan-jalan dan foto di depan kapal2 yang sedang "parkir"


Inilah rombongan yang ikut (anak no 1 dan 2 nggak ikut tapi sudah dibungkusin ikan bakar dan udang goreng tepung dan cumi tumis lombok ijo) Habis itu anak2 minta beli mainan sedang uminya beli pisang kepok 2 sisir
Pada tanggal 19 Juni kebetulan pas kebetulam ulang tahun anak no 3  yang ke 16 makanya fotonya saya pajang sendirian
pesen dari uminya biar semakin dewasa dan bijaksana pertahankan terus tadarus dan hafalan Al Qur'annya


Sedangkan tanggal 6 Juni adalah ulang tahun ke 18 anak no 1 meskipun nggak ikut yaa sekalian saja
masang fotonya
Kata Umminya : rajin or, rajin shalat jamaah dan tilawahnya
itu minum sudah habis kok nasinya nggak dihabiskan



Artikel terkait:

Kamis, 17 Juni 2010

MLM atau Sistem Vampire?

MLM atau Sistem Vampire?

Artikel ini ditulis oleh seorang expert di bidang Perencanaan Keuangan yaitu Ahmad Gozali yang yang tergabung dalan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan. Disamping ahli dalam masalah perencanaan keuangan, Ahmad Gozali mempunyai pemahaman yang bagus tentang masalah keuangan syariah sehingga dalam setiap rekomendasinya beliau selalu mempertimbangkan aspek syariah. Kelebihan semacam ini tidak banyak melekat pada financial planner yang ada.
Tulisan ini saya muat di blog saya dan telah seijin beliau
Berikut tulisannya

Bisnis 5 eMber
Bisnis 5 eM adalah bisnis yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal sesendok, kita bisa dapat keuntungan sampai 5 eMber. Caranya mudah sekali, cukup dengan mendaftar dan menyetorkan biaya pendaftaran. Gak perlu merasa rugi, biayanya toh cuma sesendok saja.  Jauh lebih murah daripada biaya listrik Anda sebulan. Kalaupun tidak berhasil, anggap saja beramal. Gak perlu kerja keras lagi, gak usah pusing-pusing lagi, cukup dengan mencari 4 orang untuk bergabung dengan Anda dalam bisnis ini maka Anda akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa.  Dengan mengikuti bisnis ini, Anda akan kaya, dan Anda akan membuat orang lain juga menjadi kaya. Luar biasa sekali bukan?
  
Pernah mendapatkan tawaran seperti itu atau yang sejenisnya? Saya yakin sudah. Karena penawaran seperti ini sekarang ini luar biasa sekali bayaknya. Mulai dari yang tradisional dengan kertas fotokopian yang disebarkan atau ditaruh di bilik ATM, sampai pada yang modern yang diedarkan melalui imel di internet. Mulai dari yang murah meriah hanya lima puluh ribu rupiah, sampai yang cukup mahal beberapa juta rupiah.
    
Penawaran-penawaran bisnis  seperti ini layaknya kita telaah lebih dulu sebelum tergiur untuk masuk ke dalamnya. Walau semenarik apapun tawaran dari mereka, prinsip dasar yang harus kita ingat adalah Halal-Berkah-Bertambah. Diantara berbagai penawaran investasi dan bisnis, ingat selalu untuk pilih hanya yang halal, diantara yang halal pilihlah yang paling banyak membawa manfaat untuk banyak orang (berkah), dan diantara yang halal dan berkah, barulah kita pilih mana yang keuntungannya paling besar.
   
Kalau sebaliknya kita cari dulu yang untungnya paling besar, baru kemudian kita pelajari apakah itu halal dan berkah, khawatirnya adalah kita akan terlanjur tergoda dengan iming-iming keuntungan yang besar. Padahal Al-Quran sudah dengan tegas menyebutkan: Tidaklah sama antara yang baik dengan yang buruk, walaupun yang buruk itu sangat menarik hatimu.

Antara Bisnis dan Investasi
   
Saudaraku, saya ingin mengajak kita semua untuk menelaah kembali beberapa penawaran bisnis atau investasi  yang akhir-akhir ini sangat marak, namun meresahkan. Saya beri tanda kutip karena tidak semua yang disebut bisnis atau investasi itu benar-benar layak disebut bisnis dan investasi. Saya sebut marak namun meresahkan karena kuantitas penawarannya sudah mulai mengganggu, dan isinya pun sudah mulai memasuki ranah pelanggaran hukum dan merugikan beberapa pihak tertentu.
   
Bisnis adalah kegiatan muamalah yang pada intinya adalah terjadi pertukaran atau jual beli, baik itu jual beli barang ataupun jasa/manfaat. Sedangkan investasi, bisa berupa penggabungan (syirkah) yang nantinya juga harus melibatkan proses jual-beli. Bisa dibilang kegiatan inti muamalah adalah terjadinya transaksi jual beli.
   
Nah, sekarang coba pelajari skema berikut ini:  A merekrut B, C dan D agar mereka menjadi anggota dan membayar uang keanggotaan. Uang keanggotaan tersebut selajutnya dibagi-bagikan kepada A dan upline-nya. Jadi A mendapat bonus hanya karena merekrut saja.  Lalu untuk apa B, C, D direkrut? Apa kepentingannya? Agar mereka juga bisa merekrut orang lain, yaitu E,F,G sampai Z. Lho  untuk apa lagi merekrut E sampai Z? agar mereka mau bayar biaya anggota untuk membayar bonus B, C, D serta A. Dan begitu seterusnya.
   
Dengan skema di atas, kapan dan dimana terjadi transaksi bisnis? Atas dasar apa A berhak menerima bonus alias uang pendaftaran B,C,D? Lalu bagaimana caranya B,C,D mendapatkan keuntungan? Mereka harus menarik lagi uang keanggotaan dari E sampai Z agar bisa dapat bonus juga yang diambil dari biaya keanggotaan member baru tersebut. Jelas sekali terlihat sama sekali tidak ada transaksi bisnis disini, yang ada adalah downline setor pada uplinenya, agar downline tersebut dapast bonus dia harus cari lagi downline, dan seterusnya. Sama sekali tidak ada transaksi bisnis!

Sistem Vampire (Drakula) VS  MLM
Skema seperti ini sering disebut sebagai skema pyramid, atau arisan berantai, atau money game, atau penamaan lainnya yang lebih canggih supaya tidak terkesan negatif. Saya sendiri menyebutnya sistem vampire alias Drakula. Vampire dan drakula menghisap darah dari korbannya agar bisa bertahan hidup, korban yang sudah dihisap darahnya otomatis akan menjadi drakula juga, sehingga ia harus mencari korban lain untuk dihisap juga darahnya. Korban berikutnya juga akan menjadi drakula dan harus mencari korban lagi agar ia bisa terus bertahan hidup. Sama persis kan dengan skema pyramid di atas? Lho  itu kan sama saja dengan MLM! Begitu biasanya sanggahan yang datang dari para pelakunya. 

Ketahuilah, perbedaan system vampire dan MLM sangat berbeda jauh. System MLM yang benar memberikan bonus pada membernya berdasarkan hasil penjualan produk sebagaimana pedagang biasa. Agar bisa meningkatkan penjualan produk, member MLM mencari downline untuk dijadikan grupnya karena hasil penjualan bisa dihitung secara kolektif dengan anggota grupnya. Jadi jelas sekali, tujuan merekrut dalam MLM adalah untuk meningkatkan penjualan. Kalau member yang direkrut tidak menjual, maka tetap tidak bisa mendapatkan bonus, itulah MLM yang benar. Jadi intinya adalah tetap pada penjualan produk, bukan asal rekrut dapat bonus.
   
Bagaimana dengan system promosi Member Get Member, kan kita bisa dapat bonus hanya dengan mendaftarkan orang lain. Misalnya kita member klub fitness, kalau kita mengajak 2 orang teman kita maka kita akan mendapatkan bonus. Yang ini juga jelas beda, ketika sudah direkrut, 2 orang teman kita itu akan melakukan transaksi dengan klub fitness. Yaitu transaksi jasa penyewaan tempat fitness, ada transaksi bisnisnya. Iya kan?
    
Bisnis ini adalah solusi nyata untuk mengatasi kemiskinan bangsa. Karena siapa saja bisa bergabung. Bahkan tukang becak pun bisa mendapatkan keuntungan besar dan menjadi kaya tanpa perlu keahlian khusus. Ayo kita bantu sesama dengan saling bantu untuk mengentaskan kemiskinan.
    
Paragraph di atas atau yang sejenisnya biasanya  tidak pernah absen dari penawaran skema vampire. Tentu saja dengan maksud supaya terkesan sebagai bisnis yang mulia. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, bisa dibilang ini adalah bentuk penyesatan yang sangat nyata. Memang betul seorang tukang becak bisa saja mendapatkan keuntungan besar dan menjadi kaya. Tapi jika semakin banyak orang yang ikut skema ini, maka malah akan ada lebih banyak orang yang rugi dibandingkan dengan yang untung. Karena keuntungan satu orang di atas didapat dari menarik uang dari beberapa orang di bawahnya. Jadi tiap ada 1 orang untung, artinya adalah beberapa orang rugi. Semakin banyak orang untung, maka akan ada semakin banyak lagi orang yang rugi.
   
Di negara-negara maju, skema ini sudah dilarang secara hukum. Namun sayangnya aturan hukum di Indonesia masih belum tegas dan rinci mengatur hal ini.  Yang lebih disayangkan lagi adalah banyak diantara saudara-saudara kita yang tergiur dengan penawaran seperti ini. Awalnya memang hanya sebagai korban, tapi namanya juga vampir, kalau sudah jadi korban maka harus jadi pelaku juga agar tetap bisa survive.
    
Yang menyedihkan adalah, kadang hal ini terjadi tanpa disadari dan hanya sekedar ikut-ikutan saja dengan alasan tsiqah (percaya). Ini sangat berbahaya karena yang menawarkan dan yang ditawari sama-sama gak ngerti tapi asal ikut saja karena saking percayanya dengan yang mengajak. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini. Bahwa percaya akan integritas seseorang itu bukan berarti kita ikut (taqlid) apapun yang dikatakannya. Karena kita bisa sangat percaya bahwa yang mengajak kita itu tidak akan pernah berbohong dan menjerumuskan saudaranya sendiri. Tapi apakah kita juga percaya bahwa dia betul-betul tahu apa yang sebetulnya dia tawarkan?
   
Jika seorang ustadz mengajak kita ikut dalam bisnisnya, apapun itu bisnisnya, kita harus percaya dan yakin bahwa dia tidak punya niatan jelek untuk menipu kita. Tapi untuk yakin bahwa dia bisa menjalankan bisnisnya secara professional sebagai seorang businessman, tentu itu urusan yang berbeda lagi.
Wallahualam.

Disclaimer:
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan orang atau institusi tertentu, melainkan hanya sebagai bahan pertimbangan bagi pembaca yang perlu mendapatkan penjelasan yang jernih mengenai maraknya penawaran bisnis dan investasi yang tidak karuan. Tulisan ini dibuat di tengah keprihatinan penulis yang selama dalam perjalanan 4 hari di beberapa kota mendapatkan banyak pertanyaan mengenai hal ini melalui SMS, imel, bahkan melihat langsung penawaran tersebut dalam salah satu kunjungan.

Selasa, 15 Juni 2010

Video "Heboh" Artis (?): Yang Main Haram, Nyebarin Haram, Nonton Juga Haram

Video "Heboh" Artis (?): Yang Main Haram, Nyebarin Haram, Nonton Juga Haram

Heboh tentang penyebaran video mirip artis sepertinya tidak ada henti-hentinya. Pemberitaan yang gencar tidak hanya di infotainment tetapi sudah masuk ke berita yang lebih serius baik di TV, koran maupun media lain. Berbagai pernyataan baik dari kepolisian, pengacara, pengamat maupun orang awam juga menghiasi berbagai media massa. Ada kekhawatiran dari berbagai kalangan bahwa yang akan dilakukan tindakan hukum hanyalah penyebar, pemberi fasilitas (misalnya warnet) dan orang yang memperjualbelikan. Sementara pelaku dengan alasan itu masuk ranah "privasi" justru tidak dijerat hukum. Kekhawatiran masyarakat itu adalah wajar karena akar dan sumber masalahnya adalah para pelaku dan efek dari perbuatan pelaku yang ada di video tersebut adalah benar-benar punya daya rusak pada moralitas bangsa yang sangat menghebohkan. Hampir semua kalangan baik orang dewasa maupun pelajar terbukti dengan terjaringnya gambar tersebut pada HP para pelajar. Bahkan nama baik Indonesia pun di mancanegara dipertaruhkan. 

Lantas bagaimanakah sih hukumnya berkaitan dengan video tersebut?

Menurut Ketua Umum Front Umat Islam (FUI) Kota Bandung yang dikutip oleh Detik Bandung Hilman Firdaus menyatakan bagi pemilik dan penyebar video mirip Ariel-Luna-Cut Tari haram."Memiliki video itu haram, karena kan melihat aurat orang lain, yang menyebarkannya juga sama, apalagi orang yang melalukan adegan tersebut," Menurutnya organisasi Islam yang bergabung dalam FUI yaitu Garis, FPI, Laskar Pembela Islam, Laskar Fi Sabilillah, akan meminta semua pihak untuk menyetop penyebaran video mirip Ariel-Luna-Cut Tari

Bagaimana menurut Ketua Umum PBNU?

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Ketua Umum PB NU dalam Detik.com
"Yang jelas itu yang main haram, yang menyebarluaskan haram, yang lihat juga haram. Semuanya haram," kata Ketua PBNU Said Agil Siraj usai acara hari lahir ke-64 muslimat NU di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (15/6/2010). Said mengatakan, perbuatan orang-orang yang terlibat dalam video tersebut sudah keterlaluan, tidak beradab, dan tidak beretika. "Apalagi yang mau disikapi? Itu semua sudah jelas. Semuanya haram," tegasnya.

Apalagi sekarang juga sudah mulai ada titik terang tentang keyakinan siapa pelaku dalam video tersebut sebagaimana dikatakan oleh Roy Suryo
Kalau begitu mestinya Polisi segera tetapkan pelaku sebagai TSK dan segera tahan pelaku, karena efek kerusakan moralnya sudah sangat memprihatinkan. Jangan nunggu ada demo FPI atau dari elemen masyarakat yang lain. Apalagi dalam wawancara di TV artis tersebut sama sekali tidak ada penyesalan ataupun pengakuan, mereka "menantang" pihak berwajib untuk membuktikannya. 
 
Mudah-mudahan setelah itu tidak lagi muncul kasus serupa dari kalangan manapun.

Minggu, 13 Juni 2010

Tax Planning

Tax Planning

Tax Planning  (01)*

Tax Planning biasanya merujuk pada proses merencanakan usaha dan transaksi Wajib Pajak sehingga hutang pajak berada dalam jumlah minimal yang sesuai dengan peraturan pajak. Namun sebetulnya perencanaan pajak dapat pula mempunyai konotasi positif konstruktif dalam arti perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap, benar dan tepat waktu sehingga dapat  dihindari pemborosan sumber daya secara optimal.  
Tax Planning  selalu dimulai dengan meyakinkan apakah suatu transaksi terkena pajak, apabila transaksi tersebut terkena pajak apakah dapat diupayakan untuk dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya dan apakah pembayaran pajak tersebut dapat ditunda pembayarannya. Hal ini sesuai dengan pengertian yang disampaikan oleh Mohammad Zain[1] sebagai berikut:


Tax Planning (Perencanaan pajak) adalah merupakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan konsekuensi potensi pajaknya, yang tekanannya kepada pengendalian setiap transakasi yang ada konsekuensi pajaknya. Tujuannya adalah bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefisienkan jumlah pajak yang akan ditransfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai penghindaran pajak (tax avoidance)  dan bukan penyelundupan pajak (tax evasion).
                
Dari difinisi di atas dapat diketahui bahwa tax planning merupakan upaya yang legal karena upaya  penghindaran pajak masih dalam ruang lingkup pemajakan dan tidak melanggar peraturan perpajakan.  Ide dasarnya adalah usaha pengaturan terlebih dahulu semua aktivitas perusahaan guna menghindari impak perpajakan yang besar. Pertimbangan impak perpajakan dilakukan sebelum terjadinya suatu transaksi
Spitz merumuskan definisi tax planning sebagai berikut:
         “Arrangement of bussiness and personel affairs in such in way as to attract the lowest possible incident of tax and pre arrangement of facts in the most tax favored way".[2]
  
 Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan tax planning yaitu tax avoidance dan tax evasion
 Dalam literatur keduanya dibedakan berkaitan dengan masalah legalitasnya. Sommeifeld menulis:
Succesful tax planning, or tax avoidance, must be clearly distiguished from tax evasion. In tax jargon the latter term refers to the illegal reduction of a tax liability, whereas the former term encompasses only legal means achieving that some objective."[3]

Tax avoidance (penghindaran pajak) dapat dikatakan legal (tidak melanggar hukum) karena memanfaatkan celah dari suatu peraturan perundang-undangan (loope hole) dalam hal memenuhi kewajiban perpajakan.  Berbeda dengan tax evasion (penyelundupan pajak) dilakukan dengan melanggar peraturan perundang-undangan perpajakan sehingga dikatan illegal. Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tax planning dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh pemerintah antara lain:
·           Menentukan bidang usaha (eksportir)
·           Menjadi Pengusaha ekspor tertentu (PET)
·           Menentukan tempat lokasi usaha (Bonded Zone)
·           Penanggguhan PPN atas pembelian mesin baik lokal maupun impor
·           Pembebasan Bea Masuk, PPN Impor dan PPh Pasal 22.
Tujuan utama dari perencanaan pajak adalah meminimalkan beban pajak dari pengenaan sanksi berupa denda dan bunga serta biaya lainnya apabila dilakukan pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal Pajak, karena tidak melanggar peraturan perpajakan.
Early Suandy[4] memberikan 3(tiga)  rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam tax planning sebagai berikut:
  1. Tidak melanggar ketentuan perpajakan, apabila suatu perencanaan pajak melanggar peraturan perpajakan maka akan menambah risiko beban pajak yang lebih besar. Kesalahan dalam menerapkan aturan pajak dapat berakibat dikenakan sanksi baik berupa sanksi administrasi maupun sanksi pidana.
  2. Secara bisnis masuk akal karena tax planning merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi menyeluruh dari perusahaan.
  3. Didukung oleh bukti-bukti yang memadai seperti; kontrak, faktur pajak baik pajak masukan maupun pajak keluaran dengan didukung oleh sistem akuntasi yang konsisten (accounting treatment). Hal ini sangat penting terutama jika perusahan dilakukan audit pajak oleh kantor pajak.


[1] Mohammad Zain, Manajemen Perpajakan, Jakarta: Penerbit salemba Empat, 2005
[2]   Barry Spitz, International tax Planning, 2nd ed: London, Butterworth, 1983
[3] Ray M. Sommerfeld, An Introduction to Taxation, Harcourt Brace Javanovich Tnc, 1983, hal. 29/1

[4] Early Suandy, Perencanaan Pajak, Jakarta: Salemba Empat, 2003




* Tulisan ini merupakan bagian dari Tesis saya yang berjudul : Analisis Tax PlanningDalam Rangka Pemilihan Status Lokasi Usaha Sebagai Kawasan Berikat Studi Kasus Pada PT XYZ Tahun Pajak 2005 pada Program Studi Magister Ilmu Administrasi (Konsentrasi : Administrasi Perpajakan )STIAMI tahun 2008


Kamis, 10 Juni 2010

Tumpeng Kuning pada 10 Juni

Saya nggak tahu apa makana dan filosofi tumpeng kuning, karena bentuknya seperti kerucut semakin ke atas semakin kecil. Saya memahaminya bahwa orang hidup apapun aktivitasnya haruslah menuju ke atas. Dalam Islam apapun yang kita lakukan haruslah diniatkan dalam rangka mencari ridho Alloh swt. dengan cara ceribadah kepada Alloh swt. Bisa juga dimaknai semakin tua seseorang sudah semestinya semakin mendekat kepada Alloh swt. Karena semakin ke atas ternyata "jatah hidup" seseorang semakin berkurang sebagaimana terlihat dalam tumpeng itu. Wallohu a'lam saya bener2 nggak tahu.

Tulisan ini sengaja karena hari ini tgl 10 Juni saya ulang tahun sekalian majang tumpeng yaa (bukan kue)
mudah2an Alloh swt selalu memberikan berkah atas umur saya. Amiin
(seumur-umur belum pernah ngrayain, yaa ini karena di kantor saja, acaranya ya cuma doa saja)
Sebagai bahan renungan ternyata jatah umur saya telah berkurang  43 tahun sementara saya belum berbuat apa-apa
Ya Alloh ampunilah dosa-dosa saya

sebaik-baiknya umur adalah umur panjang dan dipenuhi dengan amal sholeh
sejelek-jeleknya umur adalah umur panjang tetapi dipenuhi dengan ma'siat kepada Alloh




Tumpengnya kecil yaa karena orangnya besar2, padahal kapasitasnya adalah 35 orang lhoo

Forum Fungsional Pemeriksa Pajak Kanwil DJP Jaksel

Rabu tanggal 9 Juni 2010, bertempat di Aula Gd. Utama KPDJP lantai 27 telah diadakan acara Forum Fungsional Pemeriksa Pajak Kanwil DJP Jaksel. Forum ini dihadiri oleh seluruh Pemeriksa Pajak dilingkunan Kanwil DJP Jaksel ditambah dengan beberapa perwakilan Account Representatif. Acara dibuka oleh Kepala Kanwil DJP Jaksel Bp Sutrisno Ali dan Kabid P4 Bp Yunantoro.

Acara ini bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang hal ikhwal yang berhubungan dengan Pemeriksaan pajak. Acara ini diisi dengan pemaparan dan diskusi tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak, Standar Pemeriksaan Pajak, Pemeriksaan Bukti Permulaan dan Penyidikan Pajak, Komunikasi dan Teknik Negosiasi serta diakhiri diskusi tentang berbagai permasalah pemeriksaan pajak. Pemaparan disampaikan oleh Penyidik dari Kanwil Jaksel, kecuali untuk komunikasi dan teknik negosiasi mengundang ibu Ani dari Kanwil DJP Jaktim.  Mudah2an acara semacam ini dirutinkan sehingga selalu ada komunikasi antar pemeriksa pajak. Mestinya juga seluruh kanwil mengadakan acara serupa.
  
Acara yang berlangsung sehari ini terbilang sukses, peserta tidak beranjak dari tempat duduk (meskipun kadang ada yang ngantuk dan cerita sendiri). Saya kebagian session pertama.  Kebetulan kan materinya  memang "sangat serius" yaitu  Pedoman Pemeriksaan Pajak. Prinsip saya kalau materinya "sangat serius" maka harus dibawakan dalam suasana "tidak serius" tetapi tetap dalam rangka memudahkan untuk memahami sesuatu.



big sugeng lagi in action
narsis 1


" hayo  ... ada yang berani dengan saya ?" saya bertanya ke peserta sambil petentang petenteng
narsis 2


narsis 3


Narsis 4 (bareng) setelah sesion pertama selesai(dari kiri ke kanan : Paduanta, Pak Bagus, Pak Yunantoro, big sugeng dan Yudi )
Meskipun nggak dapat honor, tapi minimal bisa mejeng 


Beberapa masukan yang menurut saya perlu adalah:
  1. Materinya jangan terlalu banyak sehingga ada tumpang tindih 
  2. Aspirasi dan diskusi dari peserta perlu lebih digali sehingga tidak terkesan satu arah saja
  3. Forum fungsional perlu diformalkan dalam bentuk organisasi profesi tersendiri menjadi misalnya semacam Ikatan Auditor Pajak Indonesia sehingga kedepannya lebih dapat berbicara untuk membela kepentingan para Auditor Pajak baik dalam pembinaan profesi (pendidikan berkelanjutan) maupun memperjuangkan hak-hak yang selama ini belum berjalan dengan baik (eg. Angka kredit, kenaikan pangkat, mutasi dll)
  4. Forum fungsional semestinya menyusun rekomendasi kepada pihak-pihak terkait untuk perbaikan "nasib" fungsional pemeriksa pajak

Kamis, 03 Juni 2010

Gaza sedikit terlupakan karena sedang menyambut "Pahlawan"

Gaza sedikit terlupakan karena sedang menyambut "Pahlawan"

Hari hari ini kita disuguhkan oleh berita paska penyerbuan tentara para komando Israel laknatulloh ke kapal Mavi Marmara berupa "hebohnya" kepulangan para relawan setelah "dideportasi" oleh Israel laknatulloh. Hampir seluruh TV baik dalam negeri maupun luar negeri semuanya menampilkan penyambutan kepulangan para relawan bak seorang "pahlawan". 

Opini yang dibangun oleh TV dengan menampilkan keluarga relawan dengan menjual "emosi" berupa tangis bahagia karena sebentar lagi mereka akan berkumpul. Sangat manusiawi perasaan keluarga pasti was-was dan sangat kangen dan rindu untuk berkumpul bersama mereka. Sangat manusiawi bagi relawanpun pun demikian. Saya ingin menyampaikan sepertinya ada perpedaan pola fikir antara TV dengan pola fikir para rellawan. Para relawan sejati pasti tidak akan memprioritaskan kepulangan (meskipun pasti kangen keluarga) tetapi lebih memilih untuk melanjutkan misi kemanusiaan ini.  Saya juga melihat ketika keluarga relawan diwawancarai, sepertinya sebagaian besar mereka telah siap dengan resiko yang akan diperoleh oleh relawan, apalagi medan yang ditempuh memang penuh resiko. Tetapi seorang ibu yang diwawancarai justru selalu mendoakan akan keselamatan anaknya, berpesan agar selalu berpegang teguh pada aagama agar nanti meninggal dalam kondisi khusnul khotimah. Saya kagum dengan ibu seperti ini, yang memberikan support kepada anaknya untuk selalu berjuang menolong sadaranya di Gaza dan bukan merengek kapan anaknya segera pulang ke tanah air. Sepertinya antara anak dan keluarganya memang telah siap lahir dan batin untuk berjuang membela saudara kita di Gaza. Saya jadi malu karena mereka telah berjuang sedangkan saya tidur nyenyak, makan enak, boro-boro membantu dana, membantu doa saja sepertinya nggak pernah.

Lantas setelah hiruk pikuk ini, bagaimana kelanjutan nasib warga Palestina yang sekarang kelaparan, pengangguran dan ancaman serbuan tentara Israel?

Yaa Alloh berikanlah kemenangan kepada Saudara kita yang tertindas baik di bumi Palestin.maupun di bumi yang lain. Amiin

Rabu, 02 Juni 2010

Acara Tutup Tahun TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta

Hari Sabtu biasanya saya pakai untuk acara keluarga. Tapi hari Sabtu ini agak berbeda kareana ada acara tutup tahun TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta yang berjudul: Sumringahe Bocah Salman.

 
Acara dipandu oleh MC sekaligus pendongeng anak yang terkenal  : Kak Wuntad WE ES dan Kak Deden dari Salsabila Training Center.


Acara dibuka oleh Ketua Yayasan dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Sekolah dan Pengawas dari Dinas Pendidikan. Walaupun ada acara sambutan, suasana tidak membosnkan karena selalu diselingi penampilan anak2 TK Salman Al farisi. Belum lagi kemampuan MC untuk membawa suasana anak-anak memperhatikan acara dan selingan canda tawa. Masing-masing kelas menampilkan seni yang bernuansa tradisional. Ada tari jawa yang telah dimodifikasi. Ada juga Hafalan Al Qur'an. Pokonya seru rame dan kreatif. Termasuk pemilihan seragam bagi anak-anak. Saya salut sama guru2 TK Salman Al Farisi yang selalu mengembangkan kreatifitas dalam acara ini. Sayang sekali saya tidak punya foto2 yang lengkap.

ini adalah penampilan dari kelas  A Pesawat


antusiasme pengunjung dalam menikmati penampilan anak2 Salman Al Farisi


sedangkan di luar gedung diadakan bazar buku, baju dan produk lain juga ada asuransi takaful
diramaikan juga penjual mainan anak dan minuman


Saya sebagai salah satu Wali Murid yang tidak dapat aktif di komite sekolah mengucapkan selamat dan salut atas kerja keras dari pihak Yayasan, Kepala Sekolah dan Guru serta Orang Tua yang tergabung  dalam POMG