Senin, 02 Agustus 2010

WC Kembar


Tulisan ini bukan terinspirasi dari adanya menara kembar di Malaysia, tetapi tanpa sengaja saya menemukannya di sebuah bangunan publik. Sekalian juga saya mau menuliskan tentang minimnya fasilitas publik misalnya pasar, mall, stasiun yang berkaitan dengan toilet, termasuk beberapa disain yang tidak tepat dengan kebutuhan penghuni.

WC kembar di atas menurut saya terjadi karena pihak pelaksana tidak merencanakan dengan bagus  dan hanya melihat dari sisi jumlah titik saja tanpa memperhatikan kenyamanan. Jumlah yang dipaksakan berakibat terlalu sempit. Jalan pintasnya sekat dibuang sehingga meskipun ada dua WC tetap saja yang bisa dimanfaatkan hanya satu saja, meskipun dua-duanya  masih berfungsi dengan baik. Kan nggak mungkin dua WC dipakai secara bersama-sama dalam satu sekat. Maksudnya menghemat malah terjadi pemborosan.

WC basah vs WC kering
Saya yang katrok dan ndesani rasanya masih kurang bisa menerima jenis WC kering yang hanya menggunakan sedikit air dan kertas tissue. Rasanya masih kurang bersih jika tidak memakai air "jebar jebur". Tetapi sesungguhnya ada sisi sosiologis yang mestinya diperhatikan yaitu pemahaman fikih toharoh dari sebagian kita orang Islam di Indonesia. Dalam pemahaman fiqih tersebut air adalah merupakan sarana yang utama dalam mensucikan diri. Dalam kondisi tidak ada air (darurat) barulah kita mensucikan diri dengan menggunakan selain air. Belum lagi kebutuhan untuk berwudu waktu-waktu menjelang sholat misalnya untuk dhuhur, asyar atau maghrib. Kebutuhan-kebutuhan itulah yang semestinya diperhatikan oleh perancang bangunan dalam menentukan apakah mau WC kering atau WC basah.

Saya menjumpai juga WC kantor yang menggunakan pola WC kering (sekat-sekat) hanya menggunakan partisi dan lantai bilik satu dengan yang lainnya tidak ada pembatas. Sedangkan penghuninya, karena kebutuhan di atas (konsep bersuci dan wudhu) mestinya lebih cocok jika menggunakan WC basah. Akibatnya jika sesesorang sedang memakai air di satu bilik, air tersebut mengalir juga ke bilik yang lain. Mestinya tiap-tiap bilik ada saluran pembuangan air dan lantainya juga disekat sehingga air di satu bilik tidak mengalir ke bilik yang lain.  

Jika para pemakai memang tidak membutuhkan hal-hal di atas mungkin cocok  menggunakan konsep WC kering. Buat para perancang kamar mandi/wc pemahaman seperti di atas sepertinya perlu dimiliki, tidak hanya masalah terkesan "modern" mengikuti gaya barat, tetapi mempertimbangkan aspek kebutuhan pemakai dan juga aspek sosiologis.

Toilet Kereta Api
Begitu nulis tentang ini saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu (28 Agustus 2005) saat saya terkunci di toilet kereta api taksaka hampir satu jam. Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Kalau lihat pintu toilet kereta api anda akan membaca tulisan sbb:

"Pergunakanlah saat kereta berjalan/please use only the train is running"


Kelihatannya tulisan tersebut biasa-biasa saja. Tapi bagi otak iseng seperti saya, pasti ada apa-apanya.

Catatan I
Kereta api selalu berhenti di stasiun baik itu stasiun kecil maupun besar. Kereta berhenti biasanya untuk menghindari penggunaan jalur yang sama. (Sebagaian besar jalur kereta api masih menggunakan  rel satu jalur, sehingga jika ada kereta yang bersimpangan  otomatis salah satu harus berhenti dan itu mesti di stasiun).

Catatan II
Ternyata jenis toilet kereta api itu tidak menggunakan penampungan. Jadi air dll  akan jatuh langsung ke bawah.
Inilah gambarnya (KA Eksekutif Taksaka)
tuh kan bolong langsung ke rel


Jadi agar air tidak jatuh di area stasiun maka dibuatlah aturan di atas.


kaos ukuran besar XXXXXL
WC Kembar
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

15 komentar