Senin, 30 Agustus 2010

Kereta Boleh Terlambat, PenumpangJangan Sekali-kali Terlambat

Selama saya jadi penumpang rutin tiap minggu dari Jogja Jakarta dan Jakarta Jogja baru sekali mengalami keterlambatan. Jumat kemarin sebenarnya saya sudah dapat tiket Argo Lawu dari Gambir jam 8 malam. Cuma karena keinginan yang kuat untuk dapat sahur di Jogja maka tiket tersebut saya tukar seminggu sebelumnya dengan Gajayana yang berangkat dari Gambir jam 17.30 WIB. Hitungan saya adalah saya keluar kantor jam 16.30 (jam kerja waktu puasa). Berarti masih ada waktu 1 jam perjalanan dari kantor di daerah Gatot Subroto ke Gambir. Normalnya nggak sampai setengah jam sudah sampai ke Stasiun Gambir.

Jumat Sore, 27 Agustus 2010, dari kantor di Lt.24 terlihat  langit Jakarta sudah menghitam, berarti tandanya Jakarta sedang diguyur hujan. Saya sudah mulai cemas, sebab biasanya jalan akan macet. Begitu absen saya setengah berlari ke luar dan kebetulan ada taksi. Dari kantor taxi berjalan merayap dan akhirnya lancar setelah melewati semanggi. Ternyata setelah itu jalanan kembali macet. Dan yang paling parah adalah menjelang monas. Akhirnya saya ganti naik ojek. Begitu turun dari ojek saya langsung berlari ke lantai atas Stasiun Gambir, alangkah kecewanya saya. Saya terlambat 2 menit kereta sudah berangkat. Tumben-tumbennya keretanya kok berangkat tepat waktu. Kalau sudah begini betapa berharganya waktu 2 menit
 
Sambil ngos-ngosan saya mencoba untuk bertanya ke petugas di Customer Service di bawah. Ternyata sudah ada 4 orang yang bernasib sama. Sesuai aturan, kata petugas, maka tiket hangus, jika mau naik kereta berikutnya maka saya diberi surat keterangan (penumpang tanpa tempat duduk) dengan harus membayar lagi 50% dari harga tiket (berarti kalau saya mau naik kereta Argo Lawu saya harus membayar Rp 150.000) lagi. Ketika saya bertanya apakah ada aturannya? Mereka menjawab bahwa itu hanyalah kebijaksanaan. Saya bertanya lagi, kalau kebijaksanaan kenapa saya mesti mbayar tiket lagi? Kenapa nggak dibikin kebijaksanaan hanya memberi surat keterangan bahwa saya bukan penumpang gelap. Saya juga sampaikan kalau posisi saya sebagai penumpang pasti lemah, berkali kali kereta mengalami keterlambatan baik keberangkatan maupun ke datangan di tempat tujuan, tetapi mana pernah PT KA memberikan kompensasi pada pelanggan? Akhirnya disepakati ngasih Rp 100.000 nggak apa-apa, kemudian uang tersebut distepler di karcis Gajayana dan surat keterangan dari Customer Service untuk nanti diberikan pada kondektur Argo Lawu. Dalam hati saya masih belum puas dan saya mengajukan komplain ke Wakil Kepala Stasiun, kenapa mesti mbayar dan di atas lagi.? Wk Kepala Stasiun Gambir memberikan keterangan hampir sama dengan petugas Customer Service bahwa tiket hangus dan harus membayar 50% dari harga tiket. Sayapun memberikan argumen yang sama dan akhirnya Wk Kepala Stasiun mengatakan nggak mbayar lagi nggak apa-apa. 
 
Di atas kereta api sayapun harus "berdebat" dengan Kondektur karena dia bilang seharusnya saya membayar  tambahan 50% dari tarif  yang saya naiki (Argo Lawu). Akhirnya saya hanya memberikan Rp 50.000 kepada kondektur ketika kondektur sudah berada di bordes. Pada saat yang sama kondektur sedang melakukan "transaksi" dengan penumpang gelap dan cukup membayar Rp 100.000 sampai Rp 150.000 untuk bisa "menumpang" sampai Solo.

Pesan saya buat calon penumpang kereta api, walaupun kereta api sering terlambat dan tidak akan pernah memberikan kompensasi, tapi jangan sekali-kali terlambat karena tiket anda tidak dihargai dan anda harus menambah 50% lagi tiket yang dinaiki.

Kenapa yaa mesti ada kebijaksanaan dengan harus membayar lagi tiket seharga 50%? Padahal yang seperti ini jelas-jelas bukan penumpang gelap dan uang pasti masuk ke kas PT KA. Kenapa PT KA  nggak bikin aturan bahwa bagi yang terlambat hanya diberikan surat keterangan saja tanpa harus membayar?
  
Walaupun begitu jangan jadi penumpang gelap meskipun kondektur akan lebih ramah meski hanya membayar Rp 100.000 an, dengan fasilitas yang sama dengan penumpang yang terlambat (tanpa tempat duduk tetapi harus membayar 150% harga tiket resmi, dan instink saya sebagai tukang akuntan sama sekali tidak yakin kalau uang 50% akan masuk ke Kas PT KA).

Rabu, 18 Agustus 2010

Penghijauan dengan Tanaman Produktif

Setiap saya melihat pohon-pohon rindang di tepi jalan raya dan jalan tol serta taman-taman kota kok hati saya selalu bertanya-tanya kenapa ya tanaman yang ditanam oleh pemda dalam hal ini dinas pertamanan kota jarang terlihat tanaman yang menghasilkan? Bahkan ada tanaman yang berduri. Saya hanya berfikir seandainya tanaman perindang di tepi-tepi jalan adalah tanaman produktif misalnya tanaman buah, tentu disamping memberikan keteduhan dan kesegaran udara juga memberikan buah yang bermanfaat. Tentu saya juga memahami bahwa tidak mungkin untuk tanaman yang ditanam di tengah jalan menggunakan tanaman yang berbuah.

Mengamati tanaman disebagian besar rumah juga jarang terlihat tanaman hias atau tanaman perindang yang menghasilkan. Jika setiap rumah punya 5 pot yang berisi tanaman cabe atau tomat atau tanaman sayuran lainnya tentu akan memberikan penghematan buat kita. Daun slam, laos kunyit dan jahe tidak harus beli di pasar. Jika tetangga kehabisan tinggal ngambil di halaman. Kalau memang dianggap tidakk materii kan bisa penghematan itu dipakai untuk meningkatkan bonus ke assisten rumah tangga kita.
Padahal ada sebuah hadis (mohon dicek dan dikoreksi jika salah) yang kalau nggak salah bunyinya kurang lebih demikian:
Jika buah dari tanaman yang engkau tanam diambil oleh hewan maka itu adalah sedekah, jika diambil oleh manusia juga sedekah. 

Apakah pemda kita, kita tidak ingin bersedekah?
Jika iya mari kita galakkan penghijauan atau tanaman hias yang sekaligus menghasilkan, sebab itu bisa dijadikan sarana untuk bersedekah, sehingga semua mendapat berkah.

Keterangan Foto: pohon mangga samping rumah yang sudah mulai berbuah meskipun buahnya masih kecil
                           dan foto bawah setelah mangga agak besar tapi belum siap panen

Kamis, 12 Agustus 2010

Perasaan Seorang Ayah

Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil……
Papa biasanya mengajari buah hati kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Karena Mama takut anak yang di sayanginya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu sikecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi..


Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu..!!”

Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat berarti




sumber: milis alumni stan


Membaca ini saya jadi teringat perjuangan ayah saya ( foto di atas) yang selalu banting tulang pergi ke sawah sebelum ngajar di sekolah, yang selalu pusing ketika habis gajian karena gajinya nggak cukup, yang tanpa malu meski penampilannya tidak keren, yang selalu mendoakan anak-anakny. Kulit yang hitam legam adalah bukti bahwa ayah saya memang pekerja keras. Bahkan setelah pensiunpun masih seperti itu.
Ya Alloh .. ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku , sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil.

Jumat, 06 Agustus 2010

Berhati-hati dalam urusan Halal Haram

Beberapa hari yang lalu kita disuguhi dengan berita dua orang Janda Pahlawan dituntut di pengadilan gara-gara sengketa atas rumah dinas yang selama ini ditempati, akan diminta kembali oleh Pegadaian. Publik memberitakan dan mengekspos besar-besaran dan akhirnya hakim membebaskan mereka.

Ada lagi kasus yang disiarkan oleh TV yaitu  warga melakukan protes penggusuran dengan cara mengubur diri. Warga merasa berhak atas tanah yang telah mereka tempati selama lebih dari duapuluh tahun. Awalnya mereka menempati tanah kosong yang bukan hak miliknya. Meskipun  pada awalnya dengan perjanjian tertulis untuk tidak membangun dan tidak menuntut sesuatu dan bersedia pindah jika tanah tersebut akan digunakan oleh pemiliknya namun pada prakteknya tanah itu ada yang dibangun, ada yang disewakan ke orang lain dan bahkan ada yang dipindah tangankan (jual belikan). Justru sekarang yang terjadi adalah pemilik tanah yang berhak atas tanah itu harus berjuang untuk kembali mengambil haknya dengan berbagai cara. Ada yang lewat pengadilan ada juga yang harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak.
                         
Kasus pertama dalam menyuguhkan berita seperti dicampur adukkan antara janda pahlawan, tidak ada rumah, diusir dari rumah dinas. Kesan yang terjadi adalah betapa semena-menanya Pegadaian terhadap janda pahlawan. Padahal mestinya kasus ini harus dipilah-pilah sehingga tidak terjadi bias dalam mensikapi:
                                              
  1. Pemerintah semestinya memperhatikan kesejahteraan para pahlawan/pejuang bangsa dan juga janda Pahlawan misalnya dari sisi tunjangan pesiun dan juga menyediakan tempat tinggal/rumah yang layak. Jangan sampai mereka yang telah berjuang mempertahankan bangsa disia-siakan oleh negara. Habis manis sepah dibuang. Saya sangat setuju pemerintah jika memberikan alokasi dana dan menyediakan perumahan untuk mereka.
  2. Rumah dinas adalah rumah yang disediakan oleh perusahaan/negara yang diperuntukkan bagi para pegawai yang masih aktif sehingga dapat menunjang kelancaran tugas. Sudah semestinya begitu yang bersangkutan tidak bertugas lagi maka harus diserahkan kepada instansi atau perushaan karena memang bukan hak milik yang bersangkutan tetapi hak milik instansi atau perusahaan. Beberapa kecenderungan yang terjadi pada instansi pemerintah maupun perushaan BUMN/BUMD adalah begitu sudah pensiun mereka tetap berusaha menguasai  dan sampai ke anak dan cucu. Sementara pegawai yang masih aktif yang kelimpungan untuk mencari rumah kontrakan/kost dengan biaya sendiri. Bahkan yang lebih ironis saya pernah menjumpai kasus justru pegawai yang aktif tersebut kost di rumah dinas yang dikuasai oleh orang yang sudah pensiun. Orang yang sudah tidak aktif/pensiun memang tidak punya hak menempati rumah dinas. Kenapa mereka tidak berfikir bahwa selamaini mereka telah diberikan kesempatan untuk menempati secara gratis. Padahal jika harus ngontrak berapa yang harus mereka bayar?
                                        
Pada kasus kedua hampir mirip dengan kasus rumah dinas. Ada yang menuntut pesangon ada yang menuntut berbagai macam. Kenapa mereka juga tidak berfikir bahwa semestinya mereka berterima kasih selama ini telah menempati secara gratis. Seandainya harus ngontrak selama berpuluh-puluh tahun berapa yang harus mereka bayar? Kenapa justru keinginan untuk memiliki yang bukan haknya lebih dikedepankan?
                                 
Jalan pengadilanpun ditempuh dan hasilnya belum tentu dimenangkan oleh yang berhak. Dalam proses ini konon yang banyak bicara adalah kekuatan uang.
            
Saya jadi teringat pengajian tadi malam dimana Ustad membacakan ayat dalam Al Qura'an surat Al Baqoroh ayat 188`:
               
"Dan jangalah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." QS 2-188

Salah seorang ulama besar Sayyid Quttub dalam tafsir fii dzilalil'quran mengatakan bahwa walaupun pengadilan (hakim) telah memenangkannya, sesungguhnya keputusan pengadilan (hakim) tidak bisa menjadikan sesuatu yang tadinya haram menjadi halal.
Wallohu a'lam

Senin, 02 Agustus 2010

WC Kembar


Tulisan ini bukan terinspirasi dari adanya menara kembar di Malaysia, tetapi tanpa sengaja saya menemukannya di sebuah bangunan publik. Sekalian juga saya mau menuliskan tentang minimnya fasilitas publik misalnya pasar, mall, stasiun yang berkaitan dengan toilet, termasuk beberapa disain yang tidak tepat dengan kebutuhan penghuni.

WC kembar di atas menurut saya terjadi karena pihak pelaksana tidak merencanakan dengan bagus  dan hanya melihat dari sisi jumlah titik saja tanpa memperhatikan kenyamanan. Jumlah yang dipaksakan berakibat terlalu sempit. Jalan pintasnya sekat dibuang sehingga meskipun ada dua WC tetap saja yang bisa dimanfaatkan hanya satu saja, meskipun dua-duanya  masih berfungsi dengan baik. Kan nggak mungkin dua WC dipakai secara bersama-sama dalam satu sekat. Maksudnya menghemat malah terjadi pemborosan.

WC basah vs WC kering
Saya yang katrok dan ndesani rasanya masih kurang bisa menerima jenis WC kering yang hanya menggunakan sedikit air dan kertas tissue. Rasanya masih kurang bersih jika tidak memakai air "jebar jebur". Tetapi sesungguhnya ada sisi sosiologis yang mestinya diperhatikan yaitu pemahaman fikih toharoh dari sebagian kita orang Islam di Indonesia. Dalam pemahaman fiqih tersebut air adalah merupakan sarana yang utama dalam mensucikan diri. Dalam kondisi tidak ada air (darurat) barulah kita mensucikan diri dengan menggunakan selain air. Belum lagi kebutuhan untuk berwudu waktu-waktu menjelang sholat misalnya untuk dhuhur, asyar atau maghrib. Kebutuhan-kebutuhan itulah yang semestinya diperhatikan oleh perancang bangunan dalam menentukan apakah mau WC kering atau WC basah.

Saya menjumpai juga WC kantor yang menggunakan pola WC kering (sekat-sekat) hanya menggunakan partisi dan lantai bilik satu dengan yang lainnya tidak ada pembatas. Sedangkan penghuninya, karena kebutuhan di atas (konsep bersuci dan wudhu) mestinya lebih cocok jika menggunakan WC basah. Akibatnya jika sesesorang sedang memakai air di satu bilik, air tersebut mengalir juga ke bilik yang lain. Mestinya tiap-tiap bilik ada saluran pembuangan air dan lantainya juga disekat sehingga air di satu bilik tidak mengalir ke bilik yang lain.  

Jika para pemakai memang tidak membutuhkan hal-hal di atas mungkin cocok  menggunakan konsep WC kering. Buat para perancang kamar mandi/wc pemahaman seperti di atas sepertinya perlu dimiliki, tidak hanya masalah terkesan "modern" mengikuti gaya barat, tetapi mempertimbangkan aspek kebutuhan pemakai dan juga aspek sosiologis.

Toilet Kereta Api
Begitu nulis tentang ini saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu (28 Agustus 2005) saat saya terkunci di toilet kereta api taksaka hampir satu jam. Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan.

Kalau lihat pintu toilet kereta api anda akan membaca tulisan sbb:

"Pergunakanlah saat kereta berjalan/please use only the train is running"


Kelihatannya tulisan tersebut biasa-biasa saja. Tapi bagi otak iseng seperti saya, pasti ada apa-apanya.

Catatan I
Kereta api selalu berhenti di stasiun baik itu stasiun kecil maupun besar. Kereta berhenti biasanya untuk menghindari penggunaan jalur yang sama. (Sebagaian besar jalur kereta api masih menggunakan  rel satu jalur, sehingga jika ada kereta yang bersimpangan  otomatis salah satu harus berhenti dan itu mesti di stasiun).

Catatan II
Ternyata jenis toilet kereta api itu tidak menggunakan penampungan. Jadi air dll  akan jatuh langsung ke bawah.
Inilah gambarnya (KA Eksekutif Taksaka)
tuh kan bolong langsung ke rel


Jadi agar air tidak jatuh di area stasiun maka dibuatlah aturan di atas.