Selasa, 05 Oktober 2010

Masinisku Sayang Masinisku Malang


Tulisan ini telah dimuat di milis Alumni STAN. Atas seijin penulisnya tulisan ini bisa dimuat di blog ini. Berikut tulisan lengkapnya:

Masinisku Sayang Masinisku Malang

Penyedap rasa pemberitaan di setiap tabrakan kereta api ialah desakan publik agar Menteri Perhubungan mundur atau meletakkan jabatannya. 

Tapi apa...? 

Harapan itu bagaikan sebuah mimpi di siang bolong. Sebab sepanjang sejarah perkereta apian di tanah air tidak tercatat satupun Menteri Perhubungan yang mundur sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut. Tapi alih-alih Menteri Perhubungan yang mundur, yang muncul malah sebuah pernyataan resmi yang standard bahwa kecelakaan ini akibat "human error" atau kalau diterjemahkan secara serampangan artinya "cuman teledor".  Nah yang di anggap teledor itu ialah Masinisnya bukan Menterinya. Bahkan lebih naas lagi sang Masinis langsung dijadikan tersangka oleh pihak berwajib. Sungguh tragis memang nasib Masinis.

Secara teknis apakah memang Masinis itu bisa disalahkan ketika tabrakan terjadi...?

Perlu kita ketahui bahwa Masinis hanya bergantung pada instrumen yang ada karena jalannya sudah dijalurin/diatur. Sama seperti Pilot, Pilot tergantung pada instrumen navigasi dan arahan dari Tower Pengatur. Selain dari itu Pilot adalah buta. Tidak tahu apa-apa lagi di depannya. Kereta api adalah besi yang melaju diatas rel besi, ibaratnya seperti sebuah mainan besar yang dikendalikan oleh koordinasi antar masinis dengan petugas tiap stasiun serta penjaga pintu lintasan.

Lalu apa fungsi terbesar Masinis di dalam kereta?

Yang pertama adalah menjalankan kereta dan yang kedua mengerem kereta. Itulah dua tugas utamanya. Jadi bagaimana mungkin hanya Masinis saja yang disalahkan. Sebab jika Masinis yang selalu dipersalahkan maka, Bullet Train di Jepang, Maglev Train di China, MonoRail di Kuala Lumpur, MRT subway di Singapore, di Thailand, di United States of America di negara-negara Eropa lainnya, di mana sistem rute di sana 10x lebih kompleks, kecepatan kereta api juga 10x lebih cepat, serta frekuensi lalu lalang kereta juga 10x lebih sering. Kalau seandainya terjadi tabrakan bakal 10x lebih parah juga.

Tetapi mengapa jarang sekali atau hampir tidak satu kalipun bullet train saling tabrakan?

Jawabannya ialah bahwa sistem manajemen perkereta apian mereka telah ditata kelolakan dengan baik. Sementara di tanah air sangat buruk. Dari data statistik yang di sajikan website Kementerian Perhubungan (http://perkeretaapian.dephub.go.id/) di mana tersaji jumlah kecelakaan kereta api dalam rentang waktu antara tahun 2004 s.d. 2008 sebanyak 578 kali kecelakaan. Artinya jika dirata-ratakan maka tiap tahun terjadi 115 kali kecelakaan. Jika buruknya manajemen perkerta apian itu adalah sebuah penaykit kronis, maka tak satupun Menteri Perhubungan yang bisa mengobati "penyakit" ini, melainkan mewariskannya secara turun termurun. Bayangkan saja negara orang sudah pakai Magnetic Levitation sementara kita masih pakai gerbong diesel. Negara lain penumpang semuanya berada dalam gerbong kereta, sementara di kita masih banyak yang bertengger di atas gerbong kereta.

Seharusnya jika melihat sumber daya yang kita miliki maka sudah sepantasnya sistem manajemen perkereta apian kita sudah terbenahi dengan baik juga. Terserah mau pakai teknologi apa, jaman ini sudah jaman canggih. Mau pakai GPS untuk tracking antar kereta, mau pakai WIFI, mau pakai satelit, terserah kepada sang penguasa negeri ini. Yang intinya ialah bahwa teknologi yang dipergunakan bisa mengatur kereta agar lebih terjadwal waktunya, lebih teratur, lebih nyaman, dan tentu saja lebih aman.

Tetapi malah issue ini bukanlah yang menjadi concern penguasa. Yang jadi concernnya adalah mengkambing hitamkan Masinis dulu karena dengan begitu masalah dianggap beres. Besok-besok tabrakan lagi, ya tinggal kambing hitamkan lagi si Masinisnya. Besok lagi dan besok besok lagi sampai tujuh Presiden dan tujuh Menteri Perhubungan ke depan, Masinislah yang selalu dipersalahkan. Padahal sang Masinilah yang cukup banyak jasanya di dalam sistem perkerata apian di tanah air. Akan tetapi jika terjadi tabrakan, maka Masinislah yang paling nomor satu diberhentikan dari pekerjaannya lalu dijadikan tersangka.

Apakah ini balas jasa dan perlindungan hukum yang diberikan kepada Masinis kita....?

Jawabannya ialah kembali kepada pribahasa yang lama yang mengatakan:

"Habis Masinis Sepah Dibuang........"


Wassalam:
absar jannatin - 83

kaos ukuran besar XXXXXL
Masinisku Sayang Masinisku Malang
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

4 komentar