Senin, 04 Oktober 2010

Seorang Pegawai DJP menjadi Korban Kecelakaan KA

Dalam sebuah rekaman untuk acara internalisasi nilai nilai organisasi DJP ( DJP Maju Pasti) ketika ditanya tentang permasalahan SDM di DJP, Nanang Supriyanto mengatakan masalah mutasi. Alasannya bahwa setiap pegawai mempunyai planning untuk menata keluarganya.

( pendapat penulis: mungkin maksudnya  adalah bahwa pola mutasi saat ini di DJP tidak jelas,  tidak ada kejelasan berapa lama harus pisah keluarga, tidak adanya fasilitas rumah dinas/mess pegawai, tidak ada fasilitas untuk  sekolah anak-anak, tidak ada fasilitas biaya transportasi sehingga pegawai harus rela berpisah dengan keluarganya, harus rela memotong uang tunjangaanya untuk biaya kost dan untuk biaya perjalanan bolak-balik dan seandainya bisa bekerja di dekat home base maka biaya-biaya itu bisa dihemat dan dapat dipakai untuk planning dalam menata kehidupan misalnya biaya sekolah anak, pendidikan, rumah  dll).

Rekaman itu terus terngiang-ngiang dibenak saya karena kebetulan saya ikut menjadi fasilitator di kanwil DJP Jaksel selama 4 angkatan, otomatis minimal 4 kali saya melihat tayangan wawancara itu di kelas.
    
Sayang sekali disaat harapannya belum terwujud, beliau harus menerima takdir dalam perjalanan pulang dari tempatnya bekerja. Almarhum menjadi salah satu korban kecelakaan kereta api di Petarukan, Pemalang Jumat malam. Almarhum bertugas di KPDJP di Jakarta sedangkan keluarganya berada di Semarang karena itulah almarhum menjadi anggota PJKA (pulang jumat kembali ahad , fenomena yang juga dialami oleh beberapa pegawai DJP).   Almarhum meninggalkan seorang istri dan 2 orang putri. Jenasah almarhum telah dimakamkan di tanah kelahirannya di Boyolali.
  
Semoga Alloh swt mengampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Untuk putrinya semoga bisa meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan oleh almarhum. Amiin.
   
Bagaimanakah sosok Almarhum Nanang Supriyanto?
Secara pribadi saya tidak kenal terlalu dalam, hanya kadang habis sholat kadang ngobrol itupun bersifat umum. Lulusan D III STAN dan D IV STAN serta S2 Magister Akuntansi UGM. Dikalangan temen-temennya almarhum dikenal sebagai pegawai DJP yang bersih. Sedang dikalangan teman satu angkatannya almarhum dijuluki dengan profesor Nanang. Hal itu wajar karena saat lulus MAKSI UGM IP-nya 4.  
Temen saya yang ikut ta'ziah mendengar komentar ibu-ibu : bocahe bagus. Sedangkan dilingkungan tempat tinggalnya almarhum dikenal sebagai orang yang baik.
Kesaksian lain tentang beliau bisa dibaca di komentar di bawah ini:




kaos ukuran besar XXXXXL
Seorang Pegawai DJP menjadi Korban Kecelakaan KA
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

14 komentar