Rabu, 24 November 2010

Tempe Mendoan


Dalam sebuah milis yang saya ikuti, ada salah satu temen yang menyampaikan ide tentang mendoan lovers. Ternyata langsung mendapat respon yang luar biasa. Tidak hanya yang berasal dari Banyumas saja tetapi banyak juga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing dengan bangganya menyampaikan alamat outlet Tempe Mendoan yang pernah mereka datangi. Mereka berencana melakukan acara ngumpul bareng, cuma nggak tahu sudah kesampaian atau belum. Dari situ saya menyimpulkan bahwa tempe mendoan sudah mencuri hati banyak kalangan.

Lantas apa sih tempe mendoan itu? Apa bedanya dengan tempe yang biasa kita kenal?

Menurut Wikibooks, Tempe Mendoan adalah sejenis masakan tempe yang terbuat dari tempe yang tipis, dan digoreng dengan tepung sehingga rasanya gurih dan renyah. Secara tradisional di wilayah Banyumas, tempe yang digunakan untuk mendoan adalah jenis tempe bungkus yang lebar tipis, satu atau dua lembar perbungkus.

Sebenarnya tempe lebar dan tipis tidak hanya dikenal di wilayah Banyumas saja. Di Kota Gombong Kebumen tempe itu juga dikenal dan dijual di pasar. Karena pembuatannya memerlukan keahlian dan kualitas tempe yang bagus serta memerlukan bungkus yang khusus maka harga tempe ini lebih mahal dari tempe biasa. Di Pasar Gombong misalnya, bungkus di dalam menggunakan daun pisang sedangkan bungkus luarnya  menggunakan daun jati. Tempe semacam ini sebenarnya tidak hanya dapat dibuat untuk Tempe Mendoan saja tetapi juga dibuat tempe yang agak kering dengan menggunakan tepung. Bahkan untuk tempe kripik juga menggunakan tempe seperti ini.

Saya mengenal Tempe Mendoan ketika bertugas di Purwokerto. Di warung makan di daerah ini (Purwokerto Banyumas dan sekitarnya) banyak yang menyediakan Tempe Mendoan. Sedangkan di kota lain biasanya memang dibuat/dijual oleh orang  yang kebanyakan berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya.

Tempe Mendoan paling enak dinikmati pada saat masih panas. Bisa ditemani sambal kecap ataupun hanya dengan menggunakan cabai rawit hijau.

Yang mempengaruhi rasa Tempe Mendoan adalah kualitas tempe, kualitas minyak, cara memasak dan tentunya bumbu serta tepung yang dipakai.

Baca juga: Wedang Uwuh, Nasi Pecel dan Tempe Goreng Imogiri



Keterangan Gambar:
saya ngambil di google, ternyata disitu tidak jelas siapa yang membuat foto itu (mohon ijin bagi pemilik foto aslinya ya...)
Foto itu saya pilih karena secara pengamatan fisik tempe mendoan yang berpenampilan seperti itulah yang paling enak.

Kamis, 11 November 2010

Penumpang Gelap bikin Kereta Api Eksekutif Semakin Tidak Nyaman


Buat Anda yang rutin naik kereta api pasti anda bisa melihat mana penumpang yang beli karcis dan mana penumpang gelap tanpa beli karcis. Untuk kereta ekonomi maupun bisnis memang agak susah dibedakan karena penjualan karcis bisa melebihi kapasitas tempat duduk. Namun untuk kereta eksekutif sudah ada aturan bahwa penjualan  karcis mengikuti jumlah kursi. Walaupun demikian ketika kondisi sedang ramai kadang penumpang memaksakan untuk naik dengan membayar seharga resmi dan menggunakan karcis suplisi.

Dengan logika di atas mestinya tidak ada lagi penumpang gelap yang dibolehkan di kereta eksekutif. Apalagi kalau melihat aturan yang ada yang ditulis di spanduk disekitar stasiun, bahwa penumpang tanpa karcis dikenai denda 100% harga karcis. Berarti yang bersangkutan mesti membayar 2 kali harga tiket. Kenyataanya bagaimana?

Pengalaman saya jumat minggu kemarin. Saya strart dari Stasiun Gambir menggunakan kereta Bima jurusan Surabaya. Petugas dari stasiun Gambir melakukan sweeping beberapa menit sebelum kereta berangkat. Tapi karena penumpangnya juga sudah berpengalaman, maka dia loncat ke kereta beberapa saat sebelum kereta jalan.

Biasanya karena mereka tidak punya tiket otomatis akan berdiri di bordes dekat toilet. Mereka bergerombol bisa 5 orang atau lebih berdiri sambil ngobrol merokok. Saya kebetulan duduk di gerbong paling belakang dan tempat duduk di depan dekat pintu. Pada saat awal-awal kereta berjalan pasti banyak petugas yang lalu lalang sehingga pintu sering terbuka. Asap rokok langsung sebagian ikut masuk ke gerbong. Mereka sepertinya tidak henti-hentinya merokok baik secara bergantian maupun bersama-sama.

Gangguan berikutnya adalah jika kita mau ke toilet, otomatis disamping bau asap rokok kita juga merasa risih, apalagi kalau sudah malam mereka kan tidur disekitar itu. Jika seorang ibu yang mau ke toilet sementara disitu banyak laki-laki yang tidur di sekitar toilet pasti akan merasa terganggu.

Bagaimana mencegah ini?
Sebenarnya kuncinya ada pada ketegasan PT KA dalam hal ini adalah Kondektur kereta api yang bersangkutan. Jika mereka konsisten untuk menerapkan aturan yang telah ditetapkan dengan melakukan denda sebesar 100% dari tarif resmi, saya yakin penumpang gelap akan kapok. Masalahnya adalah selama ini kan pembayaran dari penumpang gelap itu masuk ke kantong pribadi nggak tahu siapa saja yang ikut kebagian.

Nah jika ini diterapkan maka pemasukan PT KA lebih besar, pelayanan lebih baik dan penumpang resmi tidak dirugikan. Kalau begitu asal PT KA ada kemauan pasti bisa dilakukan.

Senin, 01 November 2010

Soto Kampus (Sotkam)

foto by Nofree-STA 87

Buat Alumni STAN angkatan tahun 80 sampai 90 an istilah soto kampus pasti sangat populer. Soto itu ada sejak jaman kampus STAN masih di Jalan Purnawarman 99, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat ini soto itu masih tetap ada meskipun Kampus STAN sudah pindah ke Bintaro Raya. Lokasi bekas kampus STAN tersebut sekarang dipakai oleh BPPK Kemenkeu. Sampai sekarang alumni STAN masih menjuluki sebagai Soto Kampus (Sotkam) meskipun lokasinya sudah bukan untuk kampus lagi.

Soto kampus sebenarnya tidak terlau istimewa. Soto Madura khas kaki lima dengan harga relatif murah. Temen temen alumni STAN banyak yang makan di situ, mungkin makan sambil bernostalgia.
   
Ada sesuatu yang menarik dari fenomena soto kampus. Di lokasi jualan mereka hanya ada tiga pedagang. Satu pedagang Soto, satu pedagang sate (kambing dan ayam) dan satu lagi Es Kelapa dan minuman botol lainnya. Ketiga-tiganya nampaknya orang Madura. Ketiganya nampak kompak dan rukun dan saling bersinergi. Bahkan sudah berlangsung dari tahun 80 an sampai sekarang.  Bukti  lainnya adalah ketika kita membayar ya bisa sekaligus makanan, sate dan minuman. Kita bisa mbayar di tukang soto atau tukang sate, nanti merekalah yang mendistribusikan ke pedagang lain tanpa terlihat membebani.


Hari ini saya telah belajar dari tukang soto. Perbedaan peran diantara bukanlah untuk saling bersaing dan saling menjatuhkan, tapi justru disinergikan untuk menghasilkan sesuatu yang positif. Yang jualan Es Kelapa akan meningkat omsetnya jika banyak pembeli soto/sate. Tukang soto dan tukang sate bisa meningkatkan juga karena bagi konsumen ada variasi dan pilihan menu. Bahkan tidak jarang orang yang makan soto sekalian sate.


Jadi jangan jadikan perbedaan itu sebagai bibit perpecahan ataupun persaingan, tapi jadikanlah perbedaan itu untuk memaksimalkan peran. Selamat berkarya  sahabatku.