Senin, 21 Februari 2011

Sepeda Santai

Mukernas PKS 2011 di Jogja

Salah satu acara untuk memeriahkan Mukernas PKS 2011 di Jogja adalah dengan diadakannya sepeda santai. Acara yang diberi tajuk "Pit-pitan kanggo sedaya" ini diikuti oleh ribuan peserta. Padahal panitia hanya mencetak kaos sebanyak 500 buah. Berarti antusiasme peserta  sungguh luar biasa. Apalagi waktu penedaftaran yang memang cuma sebentar.

Yang istimewa acara ini diikuti langsung oleh Presiden PKS Lutfi Hasan Ishak (bukan hanya melepas peserta) tetapi berbaur dengan peserta. Termasuk juga Ketua Umum DPW PKS DIY Sukamta , Ph.D serta pengurus lainnya termasuk bakal Calon Walikota Jogja dari PKS Zuhrif Hudaya

Ket: Zuhrif Hudaya (pakai blangkon, Ketua Umum DPW PKS DIY, Presiden PKS

Ada yang unik dalam sepeda santai ini, disamping diikuti oleh sepeda hias, peserta yang berpakaian jawa, ada juga peserta yang berpakaian ala punokawan dalam pewayangan (semar, gareng, bagong, petruk). Mungkin peserta sedang berpesan kepada PKS agar tidak mengabaikan budaya yang selama ini ada dalam masyarakat. Apalagi figur punokawan adalah figur yang merakyat, aspiratif dan selalu mengingatkan pada kebaikan.


Saya malah tertarik pada sepeda yang dipakai, dari mulai sepeda model kontemporer, sepeda antik jaman dahulu, sepeda baru, sepeda yang sudah nggak baru lagi sampai pada sepeda yang dimodifikasi dengan bentuk yang menarik perhatian 


Inilah salah satu sepeda modifikasi, cuma saya mikir kalau saya yang pakai gimana cara naiknya ya? Seandainya sudah jalan mungkin mikir lagi gimana turunnya ya?

nah kalau yang ini peserta lagi nunggu rombongan agar bisa bergabung

Tadinya saya mau nggabung dengan peserta setelah melewati daerah ini
ee ternyata nggak datang-datang
akhirnya saya ikut start bareng peserta lain



Saya merasa senang ikut acara ini, disamping saya jadi ikut OR, juga bisa reuni ketemu temen-temen yang sudah jarang ketemu




Catatan Foto : Foto no 1 dan 3 saya copas dari DPC PKS Piyungan

Rabu, 16 Februari 2011

Elegi Kenaikan Pangkat


Kira-kira  apa yang sedang diomongin atau dipikirin orang ini? Kenaikan pangkatkah? Angka Kreditkah? Mutasikah? Atau Kredit kah?
(Nyambung nggak nyambung yang penting narsis)



Saya baru saja ngobrol lewat telepon dengan temen yang kebetulan menduduki jabatan fungsional tapi bukan pemeriksa pajak. Cerita dari mulai grde, penghasilan dan yang terakhir adalah masalah kenaikan pangkat. Saya cukup kaget pas denger bahwa pangkat dia saat ini masih III c tapi secara jabatan dia sudah IV a (karena angka kreditnya sudah mencapai untuk ke golongan itu). Terus dia bilang ya dia sedang nunggu ke IIId karena IIIc-nya belum 2 tahun. Nanti dari IIId setelah 2 tahun yaa otomatis dia akan naik pangkat ke  IV-a. Secara berseloroh dia bilang bukan dia yang nunggu pangkat tapi pangkat yang nunggu dia. Luar biasa.
 
Apa yang terfikir di benak kita jika mendengar kata Jabatan Fungsional?
  1. Harus bikin Angka Kredit
  2. Bukan Struktural, tidak punya anak buah
  3. Naik pangkatnya cepet bahkan konon bisa setiap 2 tahun sekali
  4. Ada tunjangan fungsional
Apa yang diungkapkan di atas adalah tidak ada salahnya. Semua benar, kecuali untuk naik pangkat bisa 2 (dua ) tahun. Meski cerita naik pangkat 2 tahun adalah nyata sebagaimana cerita di atas, tetapi bagi saya kok sepertinya hil yang mustahal  (minjam bahasanya pelawak) untuk bisa terwujud. Mungkin masih berupa  mimpi yang entah kapan bisa diwujudkan.

Dalam kurun waktu hampir 20 tahun terakhir saya menjadi fungsional, saya selalu naik pangkat "tepat waktu" yaitu selalu 4 tahun. Bahkan sebelumnya pernah mengalami kenaikan pangkat 5 tahun.

Kenapa kok bisa seperti itu? Ternyata muaranya ada pada ANGKA KREDIT yang berapapun usulannya maka ditetapkan dengan rumus (kebutuhan AK untuk naik pangkat dibagi 7) tanpa melihat kasus per kasus. Seorang yang punya golongan III c untuk naik pangkat ke III d dibutuhkan angka kredit sebesar 100 dengan demikian berapapun usulanya angka kredit  yang ditetapkan akan berkisar 100/7 = 13 koma sekian sampai 14 koma sekian. Kemudian jika kita dari S1 sekolah ke S2 yang seharusnya mendapat angka kredit  50 AK (unsur pendidikan) disunat menjadi 5 AK (unsur penunjang).

Cara yang kedua yang ditempuh untuk "menghambat" kenaikan pangkat adalah dengan menunda penerbitan Angka Kredit. Penetapan Angka Kredit ditunda sehingga angka untuk kenaikan pangkat (misalnya untuk III d adalah 300) diterbitkan pada saat pegawai yang bersangkutan sudah hampir 4 tahun pada golongan IIIc

Misalnya seorang pegawai Golongan III c per 1-4-2007 mempunyai angka kredit sbb:

PAK Semester II tahun 2006 = 9,3014  sehingga menjadi   209,3232
PAK Semester I  tahun 2007 =  13,670  sehingga menjadi  222,3902
PAK Semester II tahun 2007 =  13,450  sehingga menjadi  235,4352
PAK Semester I  tahun 2008 =  18,150  sehingga menjadi  353,5882 (nilai tinggi krn ada S2 yang dinilai 5)
PAK Semester II tahun 2008 =  14,3840 sehingga menjadi 267,9722
PAK Semester I  tahun 2009 =  16,6500 sehingga menjadi 284,6222
PAK Semester II tahun 2009 =  17,7010 sehingga menjadi 302,3232 (diterbitkan tgl. 20 Desember 2010)
PAK Semester I  tahun 2010 = Usulan AK 14,600
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan :
Angka kredit di atas bisa besar krn disamping melakukan aktivitas rutin berupa Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak, selama periode tersebut memperoleh ijasah S2 yang "dihargai"  5 angka kredit, melakukan aktivitas penunjang sebagai trainer 5 angka kredit dan 1 angka kredit untuk seminar akuntansi dan pajak dan 1 angka kredit diklat. Jadi total unsur tambahan 12
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

dari data di atas untuk naik pangkat diperlukan AK sebesar 15,3778 ( yaitu 300-284,6222) yang sesungguhnya bisa dipenuhi dengan Angka Kredit semester II tahun 2009(dibuat pada awal tahun 2010). Dengan demikian mestinya pegawai yang bersangkutan bisa naik pangkat ke III d dalam waktu 3 tahun per 1-4-2010 jika tidak ada kesengajaan menunda penerbitan PAK.  Atau 3,5 tahun jika penerbitan PAK dibuat sebelum Oktober 2010. Ternyata PAK Semester II 2009 baru diterbitkan tanggl 20-12-2010.

Meskipun pegawai yang bersangkutan sudah diusulkan oleh instansinya (bahkan sampai pakai rekomndasi E2) untuk naik pangkat per 1-4-2010 tetapi karena PAK terakhir ( 300 ) nya belum diterbitkan akhirnya usulan kenaikan pangkat tersebut masuk kategori : TIDAK LENGKAP.
Pada periode kenaikan pangkat 1-10-2010  pegawai itu kembali diusulkan untuk naik pangkat (bila terkabul maka kenaikan pangkat untuk jangka waktu 3,5 tahun) sampai detik terkhir persyaratan lagi-lagi PAK terakhir (300) belum terbit dan kembali masuk ke daftar : TIDAK LENGKAP.

Akhirnya karena angka kredit (PAK) dengan jumlah 3002,3232 diterbitkan pada tanggal 20-12-2010  maka mau nggak mau ya masuk pada usulan kenaikan pangkat per 1-4-2011 (4 tahun pas).
Ternyata unsur penunjang sebesar 12 , babarblas nggak ngaruh kepada percepatan kenaikan pangkat krn PAK diterbitkan di akhir tahun 2010. sehingga by design mau nggak mau ya harus masuk usulan kenaikan pangkat 1-4-2011.

Temen saya yang tidak ada unsur penunjang di atas, naik pangkatnya ya sama 4 tahun....

Melalui tulisan ini saya kok jadi pingin bertanya:
  1. Emang aturan angka kredit dibuat untuk menghambat kenaikan pangkat fungsional?
  2. Kalau memang harus 4 tahun yaa kenapa mesti bikin angka kredit?
  3. Emangnya kalau naik pangkat kurang dari empat tahun terus ada ketakutan fungsional pangkatnya tinggi2, kenyataanya fungsional umur 40 tahun masih banyak yang golongan IIIc sementara struktural yang belum umur 40 banyak yang sudah golongan IV. Ada apa sih?
  4. Apakah sama orang yang melakukan kegiatan penunjang (ngajar diklat, ikut diklat) dan sekolah lagi di luar jam kerja (S2),  dengan orang yang tidak melakukan itu kalau endingnya harus naik pangkat sama-sama 4 tahun?
   
Tadinya saya berkesimpulan bahwa ini hanyalah kasus yang hanya menimpa diri saya. Tapi kalau lihat dari data yang ada  sepertinya banyak temannya. Jadi?

Jadi selalu terngiang-ngiang nilai nilai organisasi yang semakin sayup-sayup terbawa dalam mimpi di bilik kos-kosan.

Pangkat bukanlah segala-galanya, telat pangkat ? Jangan ah... (makanya apapun yang terjadi harus tetap bikin DUPAK)

(repost setelah diupdate data terbaru)

Rabu, 09 Februari 2011

Refleksi Untuk Yang Mengkritik dan Yang Dikritik

Refleksi Untuk Yang Mengkritik dan Yang Dikritik

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berbagai kritikan dari satu pihak kepada pihak lain. Entah itu ber"cover" pengamat, ahli, mahasiswa, LSM ataupun masyarakat lainnya. Kritikan bisa berbentuk tulisan, dialog, demo dan bisa juga dalam bentuk pernyataan yang kemudian dimuat dalam berbagai mass media. Kalau melihat kata-kata dari yang melakukan kritik sepertinya semuanya bertujuan untuk kebaikan bersama. Tapai betulkah seperti itu?

Dalam sebuah milis alumni, saya tertarik dengan tulisan salah satu anggota milis Sampurna Budi Utama, sbb:


Seperti yang umum kita ketahui, apapun yang dilakukan manusia, baik atau buruk, tak lepas dari kritikan. Lazimnya, ada dua alasan yang melatarbelakangi motivasi seseorang untuk melakukan kritik:

1. Bisa jadi karena sang pengkritik peduli kepada yang dikritik, atau
2. Mungkin pula karena sang pengkritik ingin menjatuhkan pihak yang dikritik.

Yang penting, perlu disadari bahwa sang pengkritik tidak selamanya benar meski tidak selamanya pula selalu salah. Nah, kalau sudah seperti ini, Insya Allah kritik bisa dinikmati selezat rasa kripik.

Kemudian pula, kata kritik memiliki dua kemungkinan makna:

1. Menampakkan berbagai sisi positif untuk kita kembangkan, atau
2. Menampakkan berbagai sisi negatif untuk kita hindari atau minimalisir.

Kedua syarat inilah yang menjadi patokan apakah sebuah kritik dapat digolongkan sebagai kritik membangun/konstruktif atau sebaliknya: kritik yang destruktif karena muatannya ingin menjatuhkan.

Dalam kontek ajaran agama, saya sangat sepakat dengan nasehat dari Ibnu Taimiyah, "Sebagian orang selalu terlihat olehmu sebagai pengkritik. Ia melupakan berbagai kebajikan dan kelebihan orang/kelompok lain. Ia hanya mengingat sisi keburukan/kekurangan saja. Orang seperti ini seperti lalat. Ia tinggalkan tempat yang sehat dan tidak sakit, kemudian hinggap pada tempat yang luka dan tidak sehat.... "

Demikian, sekedar refleksi diri, mudah-mudahan bisa menjadi cermin.

Selasa, 01 Februari 2011

Forum AR Kanwil DJP Jaksel

Setelah di awal bulan Juni 2010 saya mengikuti Forum Fungsional.  Beberapa waktu lalu (Januari 2014) saya berkesempatan mengikuti Forum AR (Account  Representatif, pegawai DJP yang ditugasi untuk memberikan bimbingan dan pembinaan kepada Wajib Pajak  pada area tertentu)  Kanwil DJP Jaksel. Acara ini diikuti oleh 4 orang perwakilan AR dari tiap-tiap KPP di lingkungan Kanwil DJP Jaksel. Acara ini dibuka oleh Kakanwil DJP Jaksel yang baru yaitu Bp Pandu Bastari. Dihadiri oleh para Kepala Bidang dan Kabag Umum serta para Pejabat Fungsional Penyidik Pajak Kanwil DJP Jaksel serta beberapa kasi. 


Ket. gambar : Kakanwil Bp Pandu Bastari (tengah), Kabid Pemeriksaan Penyidikan dan Penagihan Pajak Bp Yunantoro (kiri, baju putih), 
Kabag Umum Bp Dadang Sahroni (kanan)

Sebelum acara pembukaan, didahului dengan doa yang dipimpin oleh Bp Suharmadi (Penyidik Pajak Kanwil DJP Jaksel):


Setelah pembukaan dilanjutkan dengan
  1. Sessi 1:  Pemaparan Data Perpajakan oleh Kabid Duktekon Kanwil DJP Jaksel Bp Wanajaya Kusuma.
  2. Sessi 2:  Teknik Analisis Laporan Keuangan untuk tujuan Pajak.  Session ini merupakan acara pokok karena sangat diperlukan oleh para AR dalam melakukan pembinaan maupun dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap Wajib Pajak. Pada session ini dijelaskan tentang teknik dasar maupun teknik analisis praktis untuk tujuan perpajakan. Dengan metode interaktif, peserta diberi kebebasan untuk sharing pengalaman. Session ini dibawakan oleh Bp Lukaman Sabadan, Penyidik Pajak senior dari Kanwil DJP Jaksel.

Saya kebagian menjadi fasilitator untuk session 3 siang yaitu Pembahasan Studi Kasus Analisis Laporan Keuangan dan Tanya Jawab. Session siang ini merupakan session yang lumayan "berat" karena ada kecenderungan peserta sudah jenuh maupun peserta sudah ngantuk. Akhirnya session yang berdurasi 2 jam ini bisa berlangsung dengan aman. Beberapa kasus baik yang berasal dari saya maupun kasus-kasus aktual yang dialami oleh para AR berhasil didiskusikan. Para peserta terpancing untuk ikut sharing pendapat maupun sharing pengalaman. Saya sebagai fasilitator hanya sebatas menengahi, memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengungkapkan pendapat. Hanya kalau saya anggap diperlukan barulah menyimpulkan ataupun memberikan solusi.

Mengingat blog ini adalah blog pribadi, maka foto yang saya pajang lebih banyak session yang saya bawakan.