Kamis, 31 Maret 2011

Sepak Terjang Debt Collector?

Saya kok agak miris membaca berita ini. Bayangkan orang yang mengalami kesulitan keuangan sehingga menunggak pembayaran utangnya, menemui bagian collector, pulang sudah meninggal.  Beda banget sama bagian marketingnya yang pinter merayu, begitu menunggak galaknya minta ampun.

Kasus kasus yang tidak menyenangkan ini banyak ditulis di media massa. Sebagaian besar mereka selalu menggunakan cara kekerasan fisik. Ada juga yang cara menagihnya dengan membuat pengumuman yang ditempel di tempat umum di sekitar rumah. Ada yang menelpon keluarga atau anak, ada yang meneror ada juga yang mengancam.

Kenapa mereka bisa seperti itu?
Beberapa kasus ternyata disebabkan karena debt collector memperoleh komisi (upah jasa) dari hasil menagih,  berkisar antara 40 sd. 60%.  Setelah mereka bekerja keras mencari informasi, mendatangi alamat dan menunggu sampai ketemu bisa berhari-hari, tentu mereka tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Segala cara mereka tempuh termasuk mereka membawa barang bernilai yang bukan menjadi jaminan utang.
Yang lebih repot adalah kadang para debt collector tidak tahu berapa pokok utangnya, berapa bunganya sehingga ketika ditanya mereka tidak bisa menjelaskannya.

Untuk menghindari kejaran debt collector mau nggak mau kita harus mengatur dan mengelola keuangan secara baik sehingga tidak terjerat utang dan bunga yang mencekik.


Kondisi ini sesungguhnya sangat mencoreng citra lembaga pengguna jasa debt collector. Karena itu mestinya bank maupun pengguna jasa ini selektif dalam memilih mengingat ini menjadi tanggungjawab dan menyangkut nama baik pengguna (bank).

Dengan adanya kasus ini, mestinya pihak Bank Indonesia selaku otoritas di bidang perbankan harus mengambil tindakan tegas kepada Bank yang bersangkutan. Pihak bank pun tidak bisa cuci tangan dengan alasan mereka menggunakan jasa pihak ketiga, karena bagaimanapun para debt collector bertindak untuk atas nama bank tsb.

Berikut berita yang ada di Detik Finance:

YLKI: Bank Harus Tanggung Jawab Soal Sepak Terjang Debt Collector

Herdaru Purnomo - detikFinance

Jakarta - Perilaku penagih utang alias debt collector kerap meresahkan nasabah karena terkadang menggunakan cara yang tidak manusiawi. Bank tetap harus bertanggung jawab atas berbagai perilaku debt collector tersebut.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, jika perilaku debt collector tidak sesuai dengan etika, sudah seharusnya pihak bank memberikan sanksi tegas.

"Bank tidak bisa lepas tanggung jawabnya. Kontrol dari debt collector itu sepenuhnya ada ditangan bank," ujar Ketua YLKI Husna Zahir ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Kamis (31/3/22011).

Menurut Husna, debt collector itu merepresentasikan bank-nya sendiri dalam penagihan kredit. Bagaimana cara debt collector tersebut menagih utang tentunya sesuai dengan arahan pihak bank. "Bank harus hati-hati dan peduli juga terhadap nasabahnya, bagaimanapun perlindungan nasabah menjadi nomor satu," tegasnya.

Lebih jauh Husna memberikan saran jika nasabah ada masalah mengenai pelunasan kredit ada baiknya langsung menghubungi pihak bank yang bersangkutan. Jadi menurutnya jangan menunggu sampai ditagih.

"Itu diperlukan untuk mencari jalan keluar, jadi jangan didiamkan saja itu akibatnya justru utang atau tagihan bertumpuk. Dan itu bisa dikejar-kejar debt collector," tuturnya.

Oleh sebab itu, lanjut Husna begitu menyadari ada kesulitan pembayaran jangan pernah takut menghubungi bank bersangkutan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa (50) tewas dalam proses pelunasan kredit kepada debt collector Citibank.Korban pada Selasa (29/3) pagi mendatangi kantor Citibank untuk melunasi tagihan kartu kreditnya yang membengkak. Menurut korban, tagihan kartu kredit Rp 48 juta. Namun pihak bank menyatakan tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 100 juta.

Di situ, korban kemudian dibawa ke satu ruangan dan ditanya-tanya oleh 3 tersangka. Usai bertemu 3 tersangka, korban kemudian tewas di depan kantor tersebut.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan, korban tewas setelah mendatangi Menara Jamsostek.

"Dia datang ke Citibank bermaksud menanyakan jumlah tagihan kartu kreditnya yang membengkak," kata Gatot saat dihubungi wartawan, Rabu (30/3).

Sumberi: Detik Finance

kaos ukuran besar XXXXXL
Sepak Terjang Debt Collector?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

7 komentar