Jumat, 11 Maret 2011

Waduh Sapinya Nggak Laku

Hari-hari kemarin masyarakat perpolitikan Indonesia sedang diramaikan dengan bursa penjualan sapi. Saking ramainya bursa sapi ini sampai-sampai jalan-jalan yang rusak, hargai cabai yang tinggi, harga minyak naik, premium langka sampai kepada nasib nelayan, petani dan buruh sama sekali terabaikkan. Ya jelas dong lha mereka para politisi kan sedang jualan sapi, karena pemilu masih 3 tahun lagi. Mereka sedang berusaha mengumpulkan modal dari dunia persapian untuk pemilu yang akan datang. Lha terus untuk dirinya sendiri gimana? Ya kan ini pengabdian, jadi dia cukup numpang kaya saja.
   
Politik dagang sapi sesungguhnya bukan menggunakan teori yang muluk-muluk. Kalau kita pernah ke pasar tradisional (pasar hewan) kita bisa lihat bahwa dalam transaksi jual beli sapi ternyata bukan hanya penjual dan pembeli saja yang terlibat. Ada pemilik sapi, ada blantik sapi dan kalau di pasar ada makelar sapi dan ada juga tukang clemik. Yang terakhir inilah yang banyak berkeliaran di pasar sapi. Dia hanya bermodalkan ngomong saja. Kadang seolah berpihak pada pembeli kadang seolah berpihak pada penjual. Yang dia pikirkan ketika transaksi jual beli itu terjadi dia akan mendapat "bagian" entah itu dari pembeli maupun dari penjual. Bagi dia nggak ada masalah ngomong mencla mencle, esuk dele sore tempe

Kenapa sih sapi saja diributkan?
Awalnya ada satu orang yang pingin punya sapi tapi modalnya masih kurang. Diajaklah beberapa orang untuk ikut kongsi. Lha pas sapinya sudah besar yang satu orang itu merasa bahwa sapi itu adalah miliknya. Semuanya pingin dia yang ngatur dan yang lain seolah-olah numpang. Bahkan tanpa permisi lebih dulu mereka menawarkan bagian modal kepada orang lain. Dalam proses dagang sapi itu kan banyak yang terlibat. Dengan bahasa yang yakin-seyakin-yakinnya beberapa orang mengatakan bahwa sapi itu sudah ada yang mau beli. Otomatis bagian saham pemilik lama akan berpindah kepada pihak lain. Dalam setiap kesempatan dia selalu bilang begitu. Seolah dialah sang pemilik sapi. Pernyataan yang sok yakin dan selalu diulang pada setiap kesempatan pastinya mengundang kegelisahan dan keributan dikalangan para pemegang sapi maupun para pihak yang mendapat tawaran atas sapi itu.

Sayang seribu sayang, ternyata sapi itu nggak jadi dijual. Entah karena nggak laku, entah harga nggak cocok atau jangan-jangan orang yang selama ini menawarkan sapi dan ngacam-ngacam itu ternyata hanyalah makelar yang pingin dapat untung dari jual beli sapi itu.....


gambar diambil dari goole

kaos ukuran besar XXXXXL
Waduh Sapinya Nggak Laku
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

6 komentar