Jumat, 29 April 2011

Belajar dari China ( Barang Palsu, Replika dan Inovasi)

Pengantar: Saya tertarik dengan sebuah topik di milis dengan judul seperti di bawah ini. Meskipun saya belum kenal penulisnya tetapi saya berusaha untuk mendapat ijin copas di blog ini. Dan alhamdulillah diijinkan.Tulisan ini sangat  menarik, menggelitik dan  menggugah dari cara pandang saya selama ini.  Ditambah dengan tulisan di Kompas tentunya akan menambah khasanah berfikir kita. Tentunya kita perlu belajar dari China sebagaimana ada ungkapan belajarlah sampai di negeri China. 

 Topik Jum'at: Barang Palsu, Replika dan Inovasi

 ditulis oleh : Oka Widana

Saya tak tulis barang palsu tapi replika. Barang palsu, misalnya Iphone dicontek habis2an kemudian diproduksi ulang dengan sangat mirip dan diberi merek Iphone juga dijual dengan harga murah, itu palsu. Barang replikas, prosesnya sama, tetapi dijual dengan merek lain, menggunakan strategi pemasaran jitu sehingga akhirnya menguasai pasar.

Contoh klasik kesuksesan barang replika adalah dibisnis IT, e.g jenis komputer IBM Compatible awal tahun 80-an. Desktop yang kita kenal sekarang awalnya adalah PC yang dibuat IBM dengan merek IBM. Ditiru rame2 oleh vendor lain, awalnya exactly the same lama kelamaan diberi tambahan feature dari produk aslinya. Tanpa PC IBM Comptabile mungkin, desktop PC tak akan semurah dan secanggih saat ini.

Saya sengaja membedakan antara palsu (fake) dan replika (replica). Barang palsu kesannya adalah hanya jualan barang sebanyak-banyaknya dengan harga semurah-murahnya. Kualitas tidak diperhatikan, apalagi bicara mengenai business sustainability. Sebaliknya replika, seharusnya memasukkan unsur inovasi didalamnya. Seperti cerita saya diawal, feature tambahan.......yang pada akhirnya, bisa jadi barang replika mengalahkan genuine productnya.

Walaupun demikian, even untuk menghasilkan barang palsupun tidak semudah yang dibayangkan. Ada level penguasaan teknologi tertentu yang harus dikuasai. Memang mencontek, adalah cara tercepat untuk bisa memahami dan menguasai suatu teknik produksi atau teknologi. Akan tetapi jika hanya berhenti mencontek, menghasilkan barang palsu, tanpa kemudian beralih menjadi penghasil replika dan kemudian berhasil membuat sustau yang genuine...yang tidak maju-maju. Dalam dunia yang serba HAKI sekarang ini, mencontek adalah perbuatan terlarang. Yang diperbolehkan adalah membeli paten atau license. Contoh Indonesia walau tak banyak, kita membuat replika pesawat terbang (Casa, jaman Nurtanio), senjata serbu SS1 (yang tadinya FnC)....kalo ini kita loncat tidak membuat fake product, tetapi langsung ke replica dan akhirnya genuine (CN 235 dan SS2, sudah akan SS3.

Hanya saja dengan cara “baik dan benar” seperti pada kasus CN235 dan SS2, tentu memakan biaya yang besar. Berapa banyak barang yang harus  kita bayar licensenya untuk menghasilkan barang replika, sebelum kita mampu membuat yang genuine? Barangkali diantara rekan disini akan menjawab, itulah gunanya spesialisasi...kita hanya perlu fokus terhadap suatu atau beberapa jenis industri yang akhirnya benar2 kita akan kuasai dan bisa produksi dengan sangat kompetitif.

Ada dua model, China dan Korsel. China mencontek dan mereplika apa saja, dari mulai mainan anak sampai pesawat tempur. Mereka telah berhasil menguasai teknik produksi yang efisien (ada yang cons disini terutama
soal perlakuan thd buruh dan lingkungan). Anyway, either banyak sekali principal yang mensub kan produksi ke China atau China sendiri mulai produksi barang-barang genuine sendiri. Sedangkan Korsel, mereka hanya
fokus terhadap beberapa jenis produk; electronik, automotive dan mungkin perkapalan. Saat ini mereka adalah salah satu player utama diproduk celular, consumer electronic dan automotive. Apakah mereka juga membuat fake product?...contoh saat ini Apple dan Samsung saling tuntut siapa yang pertama kali menciptakan touch screen...he ehe he...salah satu dari mereka pasti pembuat fake product.

Tadinya saya ingin jump kepada suatu spekulasi, bahwa proses yang tercepat menjadi bangsa industrialis yang inovatif adalah.......mencontek (membuat fake produk), membuat replika, menciptakan genuine product (sumber di journal inovasi, belumlah saya menemukan ini, makanya saya bilang spekulasi). Tak akan punya waktu kita mulai dulu dari awal, seperti yang dilakukan orang-orang barat. Tetapi membuat fake product berarti tidak menghargai HAKI.....China berhasil  dengan cara itu


http://nasional.kompas.com/read/2011/02/02/04073610  

Kreativitas dan Inovasi Jadi Modal Utama


Peristiwa pertunangan keluarga kerajaan Inggris, yakni antara PangeranWilliam dan Kate Middleton, bulan November 2010, menyedot perhatiandunia. Namun, bagi Zhou Mingwang (31), warga kota Yiwu di Provinsi
Zhejiang, berita itu hanyalah berita biasa yang tidak menarik.

Perhatian Zhou Mingwang baru tergugah ketika di layar televisi terlihat cincin pertunangan yang dulu dimiliki ibunda Pangeran William, almarhum Putri Diana. Cincin yang sangat mahal dan indah ini telah membangunkan
intuisi bisnisnya. Ia langsung berpikir untuk membuat replika dari cincin itu. Dengan memakai batu zirkonium sebagai pengganti batu blue sapphire berbentuk oval, dan memakai 14 kristal sebagai pengganti berlian, Zhou memasarkan cincin replikanya dengan harga hanya 3 dollar AS.

Dua hari setelah ia mengunggah gambar cincin replikanya di situs perusahaannya, www.chinamingwang.cn, Zhou menerima pesanan 10.000 cincin  dari seorang importir Inggris. Tidak lama kemudian, belasan importir
juga melakukan pemesanan dengan jumlah yang sama. Mereka tidak hanya dari Inggris, tetapi juga dari Australia.

”Ketika pertama kali saya melihat cincin itu, saya yakin cincin itu akan memutar roda bisnis saya,” kata Zhou dalam wawancaranya dengan harian China Daily, 14 Januari 2011.

Apa yang dilakukan oleh Zhou sebenarnya juga dilakukan pengusaha aksesori lain. Namun, Zhou adalah orang pertama yang memiliki ide membuat replika cincin tersebut. ”Salah satu kunci kesuksesan saya
adalah berpikir cepat. Saya yang menjadi orang pertama sehingga orang lebih percaya kepada saya,” kata Zhou.

Kreatif dan inovatif

Pertumbuhan ekonomi China yang signifikan memang dipercaya sebagai buah dari stabilitas politik yang mantap. Namun, di balik itu, kreativitas dan inovasi yang mendorong roda perekonomian lebih lancar berputar.

Menurut Imron Cotan, Duta Besar Republik Indonesia untuk China, ada empat nilai utama yang ada dalam kebiasaan hidup warga China. ”Mereka memang orang yang kreatif dan inovatif. Tetapi selain itu, mereka juga rajin, hemat, dan mempunyai disiplin yang tinggi. Bangsa kita juga memiliki keempat nilai itu. Tetapi, di China, keempat nilai-nilai ini seperti mendarah daging dan ditemukan dalam diri setiap warga China,
lalu terbawa hingga ke pemerintahan,” kata Imron.

Ia mencontohkan, hampir di semua kota besar di dunia pasti ada china town yang selalu ramai dan sibuk selama 24 jam. Kondisi ini akhirnya diadopsi dunia dan menjadi budaya kerja 24 jam sehari, tujuh hari
seminggu. Mereka rajin bekerja apa saja, yang penting menghasilkan uang.

Uang yang mereka hasilkan itu tidak mereka habiskan seketika. Mereka bisa hidup berhemat agar punya tabungan. Memiliki rumah dan mobil pribadi adalah idaman setiap warga China. Mereka tahu harga kedua barang itu mahal sehingga jika mereka tidak hemat, maka mereka tidak bisa memilikinya. Apalagi bagi kaum pria sekarang, tidak akan berani melamar  seorang gadis idamannya jika tidak memiliki rumah dan mobil. ”Di sini sudah seperti menjadi kewajiban jika mau melamar gadis harus punya rumah dan mobil. Jarang ada cerita suami istri menabung bersama untuk membeli rumah. Sebelum menikah, setidaknya rumah harus sudah ada,” kata Gandhi Priambodho, warga negara Indonesia yang bekerja sebagai broker properti di Beijing.

Berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat, masyarakat China tidak pernah berutang. Jika mereka ingin membeli sesuatu, mereka akan membelinya secara kontan. Tidak pernah ada dalam benak mereka akan membelinya secara kredit. Inilah yang membuat kartu kredit baru bisa masuk ke China beberapa tahun terakhir. Jadi, jika berbelanja di China, terutama di kota-kota kecil, kita harus menyiapkan uang tunai karena banyak toko yang tidak menyediakan mesin kartu kredit.

Mereka sudah menentukan apa yang mereka inginkan kelak, lalu mulai menabung. Seperti yang dilakukan Zhang Xin (45), pemilik properti raksasa Soho di Beijing. Zhang Xin yang kini menjadi 10 orang terkaya di
Asia berasal dari keluarga miskin. Perempuan pekerja keras ini telah berhemat sejak berusia 14 tahun agar bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia pun bekerja di pabrik pada pagi hari dan sekolah pada malam
hari. Ketika dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Sussex, Inggris, uang hasil tabungannya itu pun dipakai untuk biaya perjalanan dan biaya hidup di Inggris.

Hemat

Di tingkat pemerintah, kebiasaan berhemat ini bisa dilihat dari cadangan devisa yang mereka miliki. Sekitar 10 tahun lalu, cadangan devisa yang  mereka miliki hanya 800 miliar dollar AS. Namun, sekarang, cadangan
devisa China mencapai 2,7 triliun dollar AS. Dengan uang sebanyak itu, apa pun bisa mereka beli atau wujudkan.
 
Untuk mendatangkan uang, mereka tidak hanya mengandalkan bekerja pada orang, tetapi terus berusaha membuka pekerjaan baru. Mereka terus berkreasi dan berinovasi. Perdana Menteri China Wen Jinbao mendorong rakyat China untuk berinovasi, membantu negara mengatasi turunnya perekonomian dunia. ”Kami harus membangun masa depan perekonomian China berdasarkan inovasi,” kata Wen.

China memang saat ini menjadi sorotan dunia karena daya kreasi dan inovasi yang mereka kembangkan bukan untuk menciptakan barang baru, tetapi menjiplak karya orang lain. Mereka hanya melakukan perubahan sedikit atau memakai bahan baku yang lain sehingga tidak bisa dituntut sebagai pencuri hak intelektual orang lain.

Namun, Kasim Ghozali, seorang pengusaha Indonesia yang membuka pabrikpengemasan di Foshan, Guangdong, mengatakan, praktik penjiplakan ini tidak hanya dilakukan oleh China. Amerika, Eropa, Jepang, dan negara-negara maju lainnya juga melakukan hal yang sama dalam sejarah mereka. Amerika Serikat dan Eropa melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hak asasi manusia, seperti perbudakan. Jepang dan Korea Selatan juga menjiplak barang-barang asing dan memproduksinya kembali dengan harga murah. ”Tetapi, ketika ekonomi mereka mulai membaik, banyak warganya yang mengenal pendidikan tinggi, mereka mulai sadar tentang menghargai hak orang lain. Saya yakin China pun sedang menuju ke sana,” kata Kasim.

Apa yang dikatakan Kasim agaknya benar. Ketika Presiden Hu Jintao berkunjung ke Amerika Serikat pertengahan Januari lalu, Hu berjanji akan menegakkan hak intelektual dalam barang-barang produksinya. Hal itu  diwujudkan dengan razia-razia yang dilakukan polisi pada toko-toko yang menjual barang palsu di pusat-pusat perbelanjaan di seluruh China. Beberapa toko di pusat perbelanjaan Ya Show di Sanlitun, Beijing, misalnya, terlihat tutup ketika mengetahui akan ada razia polisi. Mereka diketahui menjual barang-barang palsu dari merek-merek terkenal. Karena razia-razia seperti ini mulai banyak dilakukan oleh polisi, para pedagang pun akhirnya perlahan-lahan memilih untuk mengganti merek palsu mereka dengan merek mereka sendiri dengan kualitas yang lebih baik.  Kemampuan ekonomi yang semakin tinggi telah mengubah perilaku konsumen. Mereka memilih mengeluarkan uang untuk barang yang bermutu, bukan yang murah.

China yang semula tidak mengeluarkan banyak modal untuk riset sehingga membuat barang produksinya murah, kini mulai berani mengeluarkan modal untuk itu. Mereka melihat jauh ke depan bahwa riset akan membuat produksi mereka bagus dan lebih menguntungkan di kemudian hari.

China juga berani menginvestasikan 34 miliar dollar AS untuk melakukan riset mendapatkan energi yang terbarukan. Saat ini, 40 persen energi yang tidak terbarukan di dunia dikonsumsi oleh China. China bertekad
25-50 tahun ke depan mereka tidak lagi menggunakan energi yang tidak terbarukan.

Kebijakan ini menunjukkan China sedang berusaha untuk menghapus kesan penjiplak dari diri mereka. Perlahan namun pasti, mereka akan membangun ekonomi mereka berdasarkan kreativitas dan inovasi yang bisa muncul dari berbagai macam peristiwa yang mereka hadapi. (ARN)


kaos ukuran besar XXXXXL
Belajar dari China ( Barang Palsu, Replika dan Inovasi)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

5 komentar