Selasa, 12 April 2011

Mensikapi Kasus Arifinto Anggota DPR FPKS

Saya sedih mengikuti kasus ini, tapi saya terus terang bangga dan salut untuk jiwa ksatria dari Arifinto Anggota DPR FPKS dengan mengundurkan diri menjadi Anggota DPR. Meskipun bagi orang atau partai lain ini merupkan keslahan kecil. Bahkan menurut komentar Permadi yang mantan anggota DPR, bahwa hampir semua anggota DPR punya gambar-gambar seperti itu. Kalau istilahnya dia, ya Arifinto hanya "apes" saja. Kalau lihat komentarnya Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti di beberapa stasiun TV, sebenarnya banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh banyak anggota DPR yang jauh lebih parah tetapi mereka tidak mau mundur. Misalnya sudah jelas-jelas menjadi tersangka kasus korupsi. Sementara yang dilakukan Arifinto justru dengan ksatrianya dia mundur. 
        
Nasi sudah menjadi bubur, yang bersangkutan sudah meminta maaf, sudah mengundurkan diri, dan akan melakukan perbaikan. Kurang apa lagi?  Tetapi saya melihat meskipun sudah melakukan hal-hal itu opini entah itu TV entah itu media on line maupun media cetak masih saja menyalahkan dan menuntut yang lebih dari itu. Dengan judul yang sangat bombastis. Menurut saya, kita melihat bahwa dari sisi etika memang melanggar, dari sisi kemanusiaan dia adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dia telah menyadari kekeliruannya. Gimana pendapat teman blogger?
-----0O0---- 

Mafia Wartawan (studi kasus Arifinto)

Posted on 15 April 2011 , 10:18 am by Admin  
Gambar http://kaskusus.info/mafia-wartawan-studi-kasus-arifinto/

Saya mencoba membuat skenario, mungkin saja salah 100%, atau benar 100%, atau sebagian dari skenario ini ada yang benar. Skenario ini berjudul Mafia Wartawan.
Terkait kasus Arifinto Ada beberapa yang janggal, Berikut ini point-poin utama :
1. Meta data itu tidak bisa dipercaya
2. 60 frames itu bisa ambigu

3. kemungkianan email palsu dan manipulasi link

4. gambar beresolusi rendah juga tidak bisa dipercaya
1. Meta data itu tidak bisa dipercaya
Meta data dari suatu file adalah informasi tambahan yang berupa plain text yang tersembunyi dan tersimpan di dalam file. Meta data itu bisa diubah. Baik itu metadata basic (Date Modified, Date Created, Width, Height) maupun meta data spesific (Camera Model, Shutter Speed). Anda bisa menggunakan PHP untuk merubah metadata (1). Jadi jika Roy Suryo mengatakan bahwa metadata adalah fakta (2), maka saya berani mengatakan kepada Roy Suryo : “Anda keliru, Bung”.
(1) http://www.ozhiker.com/electronics/pjmt/index.html
(2) http://news.okezone.com/read/2011/04…ka-video-porno

2. 60 frames itu bisa ambigu
Terkait pernyataan wartawan yang mengatakan “Saya punya 60 frame yang sudah saya kirim ke kantor,”(3). Disini ada kejanggalan. Apa benar 60 frame tersebut diambil selama kurun waktu 2,5 menit seperti yang tercantum pada metadata. Padahal metadata tersebut bisa jadi dipalsukan. Maka ada kemungkinan 60 frame tersebut adalah “burst mode” (4). Sekali jepret dapat 15 frame. Atau akal-akalan yang paling mudah adalah dengan mengambil video dengan 15 fps (frame per second)(5), maka selama 4 detik saja bisa dapat 60 frame. Disini Kepolisian perlu sekali untuk memeriksa 60 frame pic tersebut. Karena kemungkinan itu akal-akalan saja.
(3) http://www.detiknews..com/read/2011/…on-video-porno
(4) http://en.wikipedia.org/wiki/Burst_m…photography%29
(5) http://en.wikipedia.org/wiki/Frame_rate
3. Kemungkianan email palsu dan manipulasi link
Kemungkianan terjadi email palsu ini berawal dari pernyataan Arifinto bahwa ia tidak sengaja melihat situs asusila hanya karena membuka link (6). Jadi ini bisa saja ada oknum yang sengaja mengirim email kepada arifinto dengan email palsu (7) saat beliau rapat Paripurna. Lalu email tersebut berisi Sender dan Subject yang Penting dan urgent (8) lalu ada link yang mengharuskannya untuk mengklik. Link ini bisa saja dimanipulasi melalui bit.ly atau tiny*url.com
(6) http://nasional.kompas.com/read/2011…anya.Buka.Link
(7) Teknis Mengirim Email palsu dapat dibaca pada buku karangan S’to berjudul Seni Teknik Hacking 1 penerbit Jasakom
(8) http://news.okezone.com/read/2011/04…ari-sesama-pks
4. Gambar beresolusi rendah juga tidak bisa dipercaya
Perhatikan gambar yang beredar di dunia maya tentang Arifinto yang sedang melihat ipad. Sangat-sangat mungkin gambar tersebut telah dimanipulasi dengan software pengolah gambar. Atau bahkan malah gambar tersebut memang ada yang dipalsukan (9)(10). Gambar yang beresolusi tinggi mudah ketahuan jika photoshopped. Cara agar tidak mudah diketahui sebuah gambar telah photoshopped, maka dengan mengecilkan resolusinya.
(9) http://bit.ly/fotomenyesatkan
(10) http://nasional.inilah.com/read/deta…-wajah-tifatul




Dari keempat point diatas, saya coba menyimpulkan sebuah skenario berjudul Mafia Wartawan.
Mafia Wartawan
Sekumpulan oknum ingin membuat heboh perpolitikan nasional. Tujuannya bisa bermacam-macam, mulai dari pengalihan issue Wikileaks yg membocorkan Korupsi SBY, sampai mengotori citra partai tertentu. Misi pun dijalankan. Seorang wartawan ditugaskan ke balkon atas DPR, dia ditugaskan mengarahkan kamera ke anggota DPR yang sedang sendiri dan pastinya membawa ipad. Wartawan lainnya segera mencari link situs asusila yang disain webnya berupa tampilan gallery (seperti tampilannya Folder dalam View Thumbnail). Setelah ketemu link situs asusila tersebut, lalu disamarkan nama domain yang vulgar tadi dengan bit.ly agar tampak “safe” dibaca. Link tersebut pun dikirim melalu email palsu dengan mengubah “Sender” menjadi president@pks.com, dan “Subject” berupa “Urgent dibaca: Tanggapan fraksi terkait aksi walk out”.
Wartawan yang diatas balkon segera melakukan burst untuk mengambil sebanyak2nya gambar sampai 60an pic saat anggota dewan tersebut sedang melihat ipad. Anggota dewan tersebut tidak akan mengelak jika ditanya apakah ia melihat gambar asusila di ipad karena di dalam email tersebut memang terdapat link yang mengarah kesana.

Wartawan yang telah mendapat burst pic tersebut memilah-milah gambar dan sebagian dimanipulasi dengan software agar semakin meyakinkan. dan kemudian berita pun dimuat di situs berita online.
Tifatul: Perbuatan Arifinto Bukan Dosa Besar
Detik: Ulah iseng Arifinto menonton pornografi dalam rapat paripurna DPR, sudah pasti mempengaruhi citra PKS. Namun perbuatannya tersebut tidak tergolong salah satu dosa besar dan sudah pula ditebus dengan mengundurkan diri sebagai anggota DPR.

Demikian papar mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring, mengenai kontroversi ulah Arifinto. Tifatul dicegat wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (11/4/2011), sebelum mengikuti rapat kabinet dalam kapasitasnya selaku Menkominfo.

"Ya tentu itu akan berpengaruh (terhadap citra PKS). Tapi dengan pengunduran diri, itu sudah bentuk pertanggungjawaban beliau sebagai pejabat publik," ujar Tifatul.

Politisi senior PKS ini mengingatkan masyarakat untuk tidak menghakimi Arifinto. Di dalam ajaran Islam yang digolongkan sebagai dosa besar adalah berbuat musyrik, durhaka kepada orang tua, membunuh, berzina dan sumpah palsu.

Sedangkan yang diperbuat Arifinto hanya membuka tautan yang diterimanya melalui surat elektronik dan ternyata berisi materi pornografi. Namun jelas bahwa Arifinto tidak membuat video mesum dan tidak pula melakukan penipuan.

"Ini bukan dosa besar. Jangan cepat mengadili orang, yang proporsional. Dia (Arifinto) dikirim link lalu membuka, itu masalahnya. Dia tidak menipu orang lain. Yang main iPad atau tidur dalam rapat juga ada," ujar dia.

Di dalam kapasitasnya selaku Menkominfo, Tifatul membantah peraturan soal materi pornografi yang Kementerian Komunikasi dan Informasi buat telah 'memakan' teman sendiri. Sebab peraturan diberlakukan kepada siapa saja dan bukan bertujuan untuk menjebak seseorang.

"Saya menjalankan amanah UU ITE dan Anti Pornografi. Ini pelajaran buat semuanya, bahwa yang remeh temeh sebetulnya tidak substantif dan tidak ada kepentingannya untuk rakyat," wanti Tifatul.

kaos ukuran besar XXXXXL
Mensikapi Kasus Arifinto Anggota DPR FPKS
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email