Kamis, 14 April 2011

Mafia Hukum Suburkan 'Pelacuran' Akademisi

Mafia hukum bisa dilakukan oleh para sarjana, akademisi dan cerdik pandai. Para ahli hukum malah menjadi biang keladinya. Buktinya, saksi ahli dalam perkara hukum sering menjadi ‘pelacur’ intelektual.
    

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menduga adanya praktik mafia hukum dalam pemberian kesaksian ahli dalam proses persidangan. Saksi Ahli bahkan kadang dijadikan pelacuran intelektual. Busyro menilai, pemberian saksi ahli kerap diperdagangkan oleh oknum-oknum akademisi, demi meraup pundi uang.
    
Sinyalemen Busyro itu menguatkan fakta adanya ‘pelacuran’ dalam dunia akademis, yang seolah tidak menempati posisi tindakan kriminal. Sementara terhadap pelacur jalanan, berbagai ungkapan miring dilayangkan.
      
Inilah hebatnya ‘pelacur’ yang memiliki gelar akademis. Ia bisa saja membenarkan perlakuannya dengan alasan yang masuk akal melalui penipuan terhadap orang-orang yang diidentikkan dengan kebodohan. Kejahatan dalam dunia akademis dan pendidikan dapat dikatakan sebagai biang segala kejahatan. Karena pada dasarnya pendidikan akan membentuk watak seseorang menuju arah lebih baik. Lalu bagaimana halnya moralitas seorang akademisi jika pada masa tranformasi menuju arah lebih baik justru melakukan tindak kejahatan akademis?
     
Secara umum, tujuan akademis dan pendidikan adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dan kepribadian manusia secara menyeluruh. Melalui persiapan jiwa dan intelektualitas disertai penghayatan dan aplikasi secara lahir maupun batin. Lalu tujuan tersebut mengalami distorsi. Kebanyakan model pendidikan yang sedang berlangsung saat ini berbentuk temporary (terbatas) dan mengejar gelar akademis.
    
"Ada ahli yang bersaksi sebagai saksi ahli dan diberikan uang untuk kesaksiannya dengan harga Rp500 juta atau Rp250 juta," kata Busyro Muqoddas dalam Lokakarya Manajemen Korupsi Terpadu I di JCLEC, Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/4/2011). Hal tersebut adalah jelas tindakan yang memalukan dunia akademisi. "Ini ‘pelacuran’ intelektual," ketusnya.
    
Sayang bahwa akademisi pelaku kejahatan mafia hukum dengan modus saksi ahli tidak dapat dipidana. Karena itu, seharusnya kampusnya sendiri yang memberi sanksi meski tidak ada unsur korupsi, melainkan tidak memiliki komitmen intelektual.
     
Pelacuran akademis di bidang hukum sekalipun, jelas identik dengan menjual diri. Seperti kehidupan masyarakat modern yang berkasta, ‘pelacuran’ pun punya kelas tersendiri. ‘Pelacuran’ akademisi bisa digambarkan dengan penggadaian kemulian dan kehormatan demi fulus dan harta, walaupun sebagian akademisi ada yang melakukannya sebagai kesenangan semata. 
   
SUMBER : Inilah.com

kaos ukuran besar XXXXXL
Mafia Hukum Suburkan 'Pelacuran' Akademisi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

4 komentar