Rabu, 18 Mei 2011

Cuti Bersama yang "dipaksakan"

Hari Selasa (17-5-2011) adalah hari libur nasional, sedagkan senin (16-5-2011) kemarin adalah hari kejepit nasional. Biasanya pada hari kejepit nasional itulah para pegawai atau pekerja memanfaatkan untuk menambah satu hari libur dengan cara ijin atau mbolos. Dalam jadwal cuti bersama tahun 2011 yang dikelurakan akhir tahun 2010 tanggal 16 Mei tidak termasuk cuti bersama tahun 2011. Entah karena dipengaruhi pertimbangan apa, tiba-tiba Jumat sore ada sms dari temen temen bahwa hari senin merupakan cuti bersama. Hal yang sama akan terjadi nanti tanggal 3 Juni 2011. Karena tanggal 2 Juni 2011 adalah hari libur jatuh pada hari Kamis, maka pemerintah telah mengumumkan hari Jumat tanggal 3 Juni 2011 adalah hari cuti bersama (mudah-mudahan pengumuman yang berselang 1 minggu sebelumnya tidak mengurangi manfaat cuti bersama terutama dari temen-temen yang pisah keluarga karena tugas). Yang jelas perlu disampaikan di sini bahwa cuti bersama sesungguhnya bukan gratis, tetapi mengurangi hak cuti pegawai yang berjumlah 12 hari dalam setahun.

Bagi temen-temen yang kumpul keluarga dalam satu kota mungkin akan dengan senang hati menyambutnya. Bagaimana jika ada temen-temen yang pisah keluarga dan beda kota tentu pengumuman yang mendadak sungguh sesuatu yang sangat merugikan. Setidak-tidaknya itulah yang saya rasakan, saya mesti harus memplanning ulang pertiketan. Dan itu tidak seberapa.

Seorang teman yang bertugas di Bulukumba Sulawesi Selatan misuh-misuh pada pembuat kebijakan. Bagaimana nggak ndongkol, dia yang berniat tidak pulang ke Madiun tiba-tiba harus "nganggur" 4 hari sementara cutui tahunanya harus berkurang lagi satu hari. Jarak Bulukumba - Madiun bukanlah jarak Jakarta Depok atau bekasi. Dia harus menempuh perjalanan darat dari Bulukumba ke Makassar, diteruskan dengan pesawat Makassar ke Surabaya. dari Surabaya dilanjutkan jalan darat ke Madiun. Kondisi itu tentu memerlukan perencanaan baik anggaran maupun pertiketan. Jika pengumuman mendadak seperti kemarin, bagaimana dia harus mencari tiket, seandainya ada tentu harganya pasti sangat mahal. Sebagai PNS tentu dia terpaksa menahan kerinduan pada keluarganya di Madiun daripada dia tidak bisa mbalik lagi ke tempat tugasnya.

Hal yang sama dikeluhkan oleh teman saya yang bertugas di Payakumbuh, sementara keluarganya ada di lampung. Untuk pulang dia harus menempuh melalui pesawat terlebih dulu ke Jakarta barulah dilanjutkan ke Lampung. Dia malah sampai jam 5 sore masih pegang tiket akhirnya dibatalkan. Lha malamnya malah menyesal sebab nanya lagi harganya sudah tiga kalai lipat.

Kebijakan yang tidak bijak yang mendadak tentu membingungkan pihak-pihak seperti perbankan, kantor pemerintah, pabrik dan instansi lain. Koordinasi mesti dilakukan padahal penngumuman keluar pada Jumat sore yang pada saat itu karyawan sudah pulang.

Mungkin pengambil kebijakan di Jakarta hanya berfikir  bahwa Indonesia itu hanyalah Jakarta dan sekitarnya. Tidak tahu ada 3 zona waktu, tidak tahu kalau Indonesia itu terdiri beribu pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Jika sudah seperti itu wajarlah kebijakan yang ditempuh tidak mempertimbangkan  aspek itu. Ibaratnya baju untuk orang lain, tapi yang dipakai adalah ukuran baju sendiri..... Seorang pemimpin di level apapaun seyogyanya jangan berfikir sempit untuk dirinya, tapi mesti berfikir luas dengan mempertimbangkan berbagai aspek.



foto : poskota


kaos ukuran besar XXXXXL
Cuti Bersama yang "dipaksakan"
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

5 komentar