Rabu, 15 Juni 2011

Longterm Invesment

Investasi jangka panjang (longterm invesment) adalah investasi yang akan  diusahakan dan baru dapat dicairkan setelah jangka waktu lebih dari 1 tahun. Berikut ini adalah beberapa contoh diantaranya: property di daerah yang tumbuh dengan pesat, emas yang dapat dipakai untuk menutup resiko inflasi yang cenderung naik, saham, obligasi dan reksadana.

Harapannya adalah investasi itu akan mendatangkan capital gains dimasa yang akan datang. Banyak orang berlomba-lomba untuk dapat mempunyai investasi jangka panjang. Ada yang bertujuan hanya memanfaatkan uang nganggur ada juga yang memang berorientasi mencari return. Semangat untuk melakukan investasi jangka panjang sesungguhnya bukanlah hal yang salah atau keliru. Sayangnya tabungan/investasi tersebut tampaknya hanyalah berorientasi pada keuntungan keduniaan, belum diimbangi berfikir pada tabungan dan investasi yang berorientasi pada kebutuhan pribadi di akhirat.

Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu, ada tetangga meninggal. Ketika prosesi pemakaman sudah selesai maka orang yang meninggal itu ditinggal sendirian di kuburan (makam). Dia akan mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan selama di dunia ini sendirian. Anaknya, istrinya, hartanya dan investasi serta tabungan yang dia miliki tidak ikut mendampinginya di kuburan. Semua terputus. Investasi yang selama ini dia usahakan kini berubah bukan menjadi haknya lagi tapi sudah menjadi harta waris. Yang menikmati dari hasil jerih payahnya adalah ahli warisnya.

Betulkah semua terputus?
     
Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:

عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ:
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)

“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.
Lantas Longterm Invesment yang sesungguhnya bisa dinikmati sampai kita meninggal?
     
  1. Sedekah jariyah. Alokasikan sebagian investasi kita ke amal jariyah misalnya untuk pembangunan sarana ibadah, sarana pendidikan dan sarana umum lainnya
  2. Ilmu yang bermanfaat. Sudahkah kita mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain?
  3. Anak yang shalih yang mendo’akannya. Kita mungkin selalu berdoa agar anak kita menjadi anak yang sholeh tetapi apakah dalam pendidikan formal dan non formal apakah sudah diorientasikan ke sana? Sudahkah akhlak kita bisa dijadikan teladan oleh anak-anak kita? Sudahkan ibadah kita  bisa dijadikan teladan oleh anak-anak kita?
 Mudah-mudahan setelah ini kita tidak hanya berfikir longterm  investment yang mendatangkan gains yang besar tapi kita juga mulai berorientasi pada longterm invesment yang bisa membantu kita ketika kita sendirian di alam kubur. Jadi hidup memang harus seimbang.

Wallohu a'lam


kaos ukuran besar XXXXXL
Longterm Invesment
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

4 komentar