Senin, 29 Agustus 2011

1 Syawal 1432 H  (Hasil Keputusan Pemerintah)

1 Syawal 1432 H (Hasil Keputusan Pemerintah)

Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011
Dari hasil sidang istbat yang dipimpin oleh Menteri Agama, memutuskan 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011

Penetapan ini didasarkan belum terlihatnya hilal atau bulan baru di beberapa tempat pengamatan. Ketinggian hilal sangat tipis dan belum mencapai dua derajat. Sidang isbat dihadiri perwakilan berbagai ormas Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Keputusan ini berbeda dengan PP Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada  Selasa 30 Agustus 2011

Sementara itu Dewan Syariah Pusat DPP PKS juga sejalan dengan keputusan Pemerintah, yaitu menyempurnkan puasa menjadi 30 hari dan Idul Fitri 1432 jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011

Kemenag: Mayoritas Sistem Hisab Tunjukkan Awal Syawal Jatuh Pada 31 Agustus

Tanggal jatuhnya awal bulan Syawal akan ditetapkan dalam sidah isbat di Kementerian Agama malam ini. Berdasarkan 22 sistem hisab yang digunakan di berbagai negara di dunia, mayoritas menunjukkan 1 Syawal jatuh pada Rabu (31/8) mendatang.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan Kemenag Senin (29/8/2011) mengenai hasil yang ditunjukkan 22 sistem menggunakan rumus hisab, kebanyakan dari sistem menunjukkan ketinggian hilal masih jauh dari 2 derajat, angka minimal untuk menandai perbedaan bulan.

Hanya tujuh di antara 22 sistem tersebut yang menunjuk hilal sudah lebih dari dua derajat atau dengan kata lain, hari tanggal 1 Syawal jatuh pada Selasa (30/8). Tujuh sistem tersebut adalah Sulaman-Nayyirain, Fath al-Rauf al-Mannaan, Qawaid al Falakiyah, Ittifau Dzatil Bain, Mathala al-Said dan Astro Info.

Pemerintah sendiri baru akan mengumumkan jatuhnya 1 Syawal padal sidang itsbat pada malam ini. Sidang akan dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin langsung oleh Kemenag.

"Kita kan menggunakan rukyat, bukan hisab. Jadi ditunggu saja hasil sidangnya," tutur Cecep Nurwendaya, Anggota Badan Hisab Rukyat Kemenag dalam presentaasi di depan Menag Suryadharma Ali, di kantornya, komplek lapangan banteng, Jakarta Pusat, Senin (29/8/2011) sumber Detik.com

Keputusan PP Muhammadiyah 1 Romadhon dan 1 Syawal 1432 H
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah awal ramadhan atau 1 Ramadhan 1432 H jatuh Senin Legi, 1 Agustus 2011. Sedangkan 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada hari Selasa Kliwon 30 Agustus 2011. Dengan demikian puasa yang akan dijalankan warga Muhammadiyah hanya 29 hari.

Hal itu diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas kepada wartawan di kantor di Jl Cik Ditiro Yogyakarta, Kamis (14/7/2011).

"Dari hasil hisab Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1432 H jatuh Senin Legi 1 Agustus 2011," kata Yunahar.

Berdasarkan hitungan hasil hisab hakiki ramadhan, syawal dan dzulhijah oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah lanjut Yunahar, puasa tahun ini selama 29 hari. Dengan demikian 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa Kliwon 30 Agustus 2011. Sedangkan 1 Dzulhijah 1432 H jatu pada hari Jumat Wage 28 Oktober 2011.

"Hari Arafah 9 Dzulhijah jatuh hari sabtu Pahing 5 November 2011 dan Idul Adha 10 Dzulhijah jatuh Ahad Pon 6 November 2011. Semua telah dihitung oleh tim ahli hisab Muhammadiyah," kata Yunahar didampingi Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Oman Fathurahman.

Oman mengatakan Ijtimak menjelang Ramadhan 1432 H terjadi pada hari Ahad Kliwon 31 Juli 2011 pukul 01:41:00 WIB. Tinggi hilal pada saat matahari terbenam di Yogyakarta minus 7 derajat. Dengan demikian berarti hilal sudah wujud dan di seluruh Indonesia pada saat matahari terbenam hilal sudah di atas ufuk.

"Saya kira untuk awal puasa atau 1 ramadhan sampai saat ini tidak ada perbedaan yakni Senin 1 Agustus. Sedangkan hitungan 1 Syawal dan 1 Dzulhijah, Muhammadiyah sudah menetapkan semuanya," kata Oman.

Yunahar menambahkan PP Muhammadiyah meminta kepada seluruh warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia untuk tetap berpegang teguh sesuai hasil hisab majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah. Saat ini PP Muhammadiyah juga sudah memberitahukan hasil hisab awal ramadhan itu kepada seluruh Pengurus Daerah (PD) dan Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah seluruh Indonesia.

"Untuk tempat salat Idul Fitri dan Idu Adha yang akan digunakan hendaknya yang representatif dan sudah biasa digunakan serta memberitahukan kepada pemerintah/instansi setempat," imbau Yunahar.

Mengenai adanya sweeping yang akan dilakukan oleh kelompok atau ormas Islam lainnya. Yunahar mengatakan Muhammadiyah menghormati orang yang sedang menjalankan puasa dan menghormati orang yang tidak sedang berpuasa. Muhammadiyah juga menyadari hidup di masyarakat yang majemuk sehingga tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain.

"Kami hanya mengimbau agar orang yang tidak berpuasa untuk tidak provokatif atau demontratif sehingga dapat mengundang atau menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan," pungkas dia.

Sumber: Detik.com

Minggu, 28 Agustus 2011

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah

ZAKAT FITRAH

A.                Apakah Ada Kewajiban harta selain zakat?
Zakat adalah kewajiban pereodik harta, dan wajib dikeluarkan dalam setiap kesempatan dan keadaan. Dalam kondisi biasa seorang muslim tidak diwajibkan selain zakat, kecuali dengan sukarela.
1.                  Dalam kondisi darurat terdapat kewajiban harta selain zakat, yang disepakati para ulama, yaitu:
a.                   Hak kedua orang tua, dalam bentuk nafkah yang mereka butuhkan pada saat anaknya kaya
b.                  Hak kerabat, dengan perbedaan tingkat kedekatan yang mewajibkan nafkah
c.                   Hak orang-orang yang sangat membutuhkan pakaian atau rumah tinggal
d.                  Membantu keluarga untuk membayar diyat pembunuhan yang tidak disengaja
e.                   Hak kaum muslimin yang sedang ditimpa bencana

  1. Masih ada hak-hak lain yang masih diperdebatkan apakah wajib atau sunnahh, antara lain:
a.             Hak tamu selama tiga hari
b.            Hak orang yang hendak meminjam kebutuhan rumah, bagi tetangga
  1. Sedangkan hak fakir miskin terhadap harta orang kaya secara umum sudah banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun dalam hadits. Dan bentuk masyarakat Islamiy yang saling melindungi tidak akan pernah terwujud tanpa hal ini.
Ketika zakat sudah mengcover kebutuhan fakir miskin, maka orang-orang kaya tidak diminta yang selain zakat. Namun jika zakat belum mencukupi maka harus diambilkan dari orang-orang kaya selain zakat, yang dapat mencukupi kebutuhan dasar fakir miskin. Sebagaimana diambil pula dari orang kaya itu kebutuhan untuk melindungi Negara dari ancaman musuh jika dari zakat belum mencukupi. Semua ini hampir disepakati oleh para ulama, meskipun terdapat perbedaan di sesputar (apakah ada kewajiban harta selain zakat?) perbedaan itu terpulang kepada kewajiban selain zakat yang permanent, bukan yang insidentil.


  1. Apakah Boleh Menetapkan Pajak bersama dengan zakat?

  1. Bagi imam setelah bermusyawarah dengan ahlul halli wal aqdi, diperbolehkan untuk menetapkan zakat kepada kaum muslimin selain zakat, dengan dalil:
a.             Jaminan sosial kaum muslimin hukumnya wajib. Jika dari zakat dan pendapatan kas Negara tidak cukup, maka boleh menetapkan pajak tambahan kepada orang kaya
b.            Belanja Negara sangat banyak, pos-pos dan sumber zakat sangat terbatas, maka bagaimana mungkin mampu menutup kebutuhan Negara yang tidak masuk dalam pintu distribusi zakat? Dan bagaimana mampu menutup pos penerima zakat jika sumber zakatnya sangat kecil?
c.             Kewajiban yang tidak akan terlaksana kecuali dengan adanya sarana, maka menghadirkan sarana itu menjadi kewajiban pula. Dari itulah imam Al Ghazali Asy Syafi’iy memperbolehkan imam untuk mewajibkan kepada orang kaya untuk membiayai kebutuhan seorang tentara. Demikian juga imam Asy Syathibiy al Maliki memperbolehkan imam yang adil untuk menugaskan orang kaya membiayai tentara selain dari baitul mal. Dan para ulama lain berpendapat seperti ini.

  1. Syarat-syarat yang wajib diperhatikan dalam penetapan zakat
a.             Terdapat kebutuhan riil yang tidak tercukupi oleh sumber-sumber pendanaan konvensional (zakat, bagi hasil ,…) 
b.            Pembagian beban pajak secara adil kepada mereka yang mampu
c.             Penyaluran uang pajak untuk kemaslahatan umat, bukan kepentingan penguasa
d.            Mendapat persetujuan dewan permusyawaratan, atau ahlul halli wal aqdi. Karena penetapan pajak merupakan keputusan sensitif, yang mengintervensi kepemilikan pribadi yang dilindungi hukum. Maka tidak diperbolehkan mengambilnya kecuali karena kebutuhan syar’iy yang ditetapkan oleh ahlul halli wal aqdi.
Pajak yang ditetapkan dengan memenuhi syarat-syarat di atas tidak lagi masuk dalam pungutan liar, dan cukai yang tercela dan diharamkan dalam beberapa hadits. 
 D.    Zakat Fithrah

1.      Ta’rif dan Hukumnya
a.                         Zakat atau sedekah fitrah adalah zakat yang disebabkan datangnya idul fitri setelah ramadhan. Diwajibkan pada tahun kedua hijriyah-bersamaan dengan kewajiban puasa- berbeda dengan zakt-zakat yang lainnya. Karena zakat ini wajib atas setiap orang bukan atas kekayaan.
b.            Jumhurul ulama bersepakat bahwa zakat fitrah itu hukumnya wajib, seperti dalam hadits Ibnu Umar: Bahwasannya Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan satu sha’ kurma dan gandum atas setiap orang merdeka atau budak sahaya, laki-laki dan wanita umat Islam ini”. HR Al Jama’ah. Demikianlah pendapt empat madzhab
c.             Rasulullah saw telah menjelaskan hikmahnya sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia yang sangat sulit dihindari orang yang sedang berpuasa. Zakat fitrah juga menjadi makanan fakir miskin pada hari raya itu sehingga mereka semua dapat merayakan idul fitri dengan senang dan bahagia.

2.      Siapa yang diwajibkan
  1. Zakat ini diwajibkan kepada setiap muslim budak atau merdeka, laki-laki atau wanita, kecil atau dewasa, miskin atau kaya. Seorang laki-laki mengeluarkan zakat untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang isteri mengeluarkan zakat untuk dirinya atau oleh suaminya. Tidak wajib dibayarkan untuk bayi yang masih dalam kandungan, meskipun disunnahkan menurut Ahmad bin Hanbal

  1. Jumhurul ulama mensyaratkan zakat itu kepada seorang muslim yang memiliki kelebihan makanan pada hari ied itu sebesar zakat fitrah yang menjadi kewajibannya. Hutang yang belum jatuh tempo tidak boleh menggeser kewajiban zakat, berbeda dengan hutang yang sudah jatuh tempo (yang harus dibayar seketika itu).

3.      Besar zakat fitrah
a.       Tiga ulama (Malik, Syafi’iy, dan Ahmad) telah bersepakat bersama jumhurul ulama bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ kurma, handum atau makanan lain yang menjadi makanan pokok negeri yang bersangkutan. Seperti yang ada dalam hadits di atas, juga hadits Abu Said Al Khudzriy : “Kami pernah membayar zakat fitrah dan Rasulullah saw bersama kami berupa satu sha’ makanan, atau kurma, atau gandum, seperti itu kami membayar zakat, sampai di zaman Muawiyah datang di Madinah yang mengatakan: Sekarang saya berpendapat bahwa dua mud gandum Syam itu sama dengan satu sha’ kurma, lalu pendapat ini dipakai kaum muslimin saat itu.” HR Al Jama’ah. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa zakat fitrah itu sebesar satu sha’ dari semua jenis makanan.
    1. Satu sha’ adalah empat sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar atau empat mud. Karena sat umud itu juga sebesar sendokan dengan dua telapak tangan orang dewasa standar, yang dikonfersi kurang lebih 2176 gr
c. Zakat fitrah dikeluarkan dari makanan pokok mayoritas penduduk di suatu negeri, atau dari mayoritas makanan pokok muzakki jika lebih baik dari pada makanan pokok negeri mustahik. Demikianlah pendapat jumhurul ulama.
d.         Diperbolehkan membayar dengan nilai uang satu sha’ jika lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Demikianlah pendapat madzhab Hanafi, yang diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz dan Hasan Al Bashriy, pendapat yang lebih mudah dikerjakan pada masa sekarang ini.  

4.      Waktunya

  1. Zakat fitrah wajib dibayar oleh orang yang bertemu dengan terbenam matahari hari terakhir bulan ramadhan, menurut madzhab Syafi’iy. Atau yang bertemu dengan terbit fajar hari ied menurut madzhab Hanafi dan Malikiy
  2. wajib mengeluarkannya sebelum shalat ied, seperti dalam hadits Ibnu Abbas. Diperbolehkan membayarnya lebih awal sejak masuk bulan Ramadhan menurut madzhab Syafi’iy. Dan yang utama mengakhirkannya satu atau dua hari menjelang iedul fitri. Demikianlah pendapat yang dipegang oleh madzhab Malikiy. Diperbolehkan mendahulukannya sampai awal tahun menurut madzhab Hanafiy, beralasan bahwa namanya tetap zakat. Dan menurut madzhab Hanbali diperbolehkan mensegerakannya mulai dari separo kedua bulan Ramadhan.

5.      Kepada Siapa Zakat ini dibagikan

  1. Para ulama bersepakat bahwa zakat fitrah ini dibagikan kepada fakir miskin kaum muslimin. Abu Hanifah memperbolehkan pembagianya kepada fakir miskin ahli dzimmah.
  2. Prinsipnya bahwa zakat fitrah itu diwajibkan untuk dibagkan kepada fakir miskin, sehingga tidak diberikan kepada delapan ashnaf lainnya. Kecuali jika ada kemaslahatan, atau kebutuhan lain. Zakat ini juga hanya dibagikan di negeri zakat itu diambil,, kecuali jika di negeri itu tidak ada fakir miskin maka diperbolehkan untuk memindahkannya ke Negara lain.
  3. Zakat fitrah tidak boleh dibagikan kepada orang yang tidak boleh menerima zakat mal, seperti orang murtad, fasik yang mengganggu kaum muslimin, anak, orang tua atau isteri.

Distribusi Zakat

Distribusi Zakat

DISTRIBUSI ZAKAT

A. Mustahik  Zakat

Firman Allah :
Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS. At Taubah: 60

Pertama: Fuqara Masakin
1.      Fakir adalah orang yang membutuhkan dan tidak meminta minta, sedangkan miskin adalah yang meminta-minta.
2.      Keduanya bermacam-macam:
  • orang yang tidak memiliki kekayaan dan tidak pula pekerjaan
  • orang yang memiliki kekayaan dan pekerjaan yang tidak mencukupi setengah kebutuhan
  • orang yang memiliki kekayaan dan pekerjaan yang tidak mencukupi kebutuhan standar
3.      Sedangkan orang kaya yang tidak boleh menerima zakat adalah orang yang telah memiliki kecukupan untuk diri dan keluarga.
4.      Orang fakir miskin diberikan sejumlah yang dapat mencukupinya
  • yang mencukupinya sepanjang hidupnya, menurut Imam Syafi’iy
  • yang mencukupinya selama satu tahun menurut madzhab Maliki dan Hanbali

bentuk kecukupan sepanjang hidup dapat berupa alat kerja, atau modal dagang, atau dibelikan bangunan kemudian diambil hasil sewanya, dan sarana-sarana lainnya seperti yang disebutkan oleh madzhab Syafi’iy dalam buku-bukunya secara rinci.
Di antara kecukupan adalah buku-buku dalam bermacam ilmu, biaya pernikahan bagi yang membutuhkan. Sebab tujuan utama zakat adalah mengangkat fakir miskin sampai pada standar layak.

Kedua: Amilin
Yaitu orang-orang yang bertugas mengambil zakat dari para muzakki, dan mendistribusikan kepada para mustahiq. mereka itu adalah kelengkapan personil dan finasial untuk mengelola zakat.
1.            Termasuk dalam kewajiban imam adalah mengutus para pemungut zakat dan mendistribusikannya, seperti yang pernah Rasulullah dan para khalifah sesudahnya lakukan
2.            Syarat orang-orang yang dapat dipekerjakan sebagai amil pengelola zakat, adalah seorang muslim, baligh dan berakal, mengerti hukum zakat-sesuai dengan kebutuhan lapangan- membidangi pekerjaannya, dimungkinkan mempekerjakan wanita dalam sebagian urusan zakat, terutama  yang berkaitan dengan wanita, dengan tetap menjaga syarat-syarat syar’iy
3.            Para amil mendapatkan kompensasi sesuai dengan pekerjaannya. Tidak diperbolehkan menerima suap, meskipun dengan nama hadiah, seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim: …Sesungguhnya aku mempekerjakan kalian salah seorang di antaramu melaksanakan tugas yang pernah Allah sampaikan kepadaku, kemudian datang kepadaku dan mengatakan: “Ini untukmu dan ini hadiah untukku, apakah ketika ia duduk di rumah ayah ibunya akan ada hadiah yang menghampirinya?
4.            Para amil harus bersikap lunak dengan para muzakki, meyakinkan apa yang menjadi kewajibannya, mendoakannya ketika mengambil zakat, menetapkan para mustahiq, dan memberikan bagian mereka.

Ketiga : Muallaf
Mereka itu adalah orang-orang yang sedang dilunakkan hatinya untuk memeluk Islam, atau untuk menguatkan Islamnya, atau untuk mencegah keburukan sikapnya terhadap kaum muslimin, atau mengharapkan dukungannya terhadap kaum muslimin.
1.            Bagian para muallaf tetap disediakan setelah wafat Rasulullah saw, karena tidak ada nash/teks yang menghapusnya. Kebutuhan untuk melunakkan hati akan terus ada sepanjang zaman. Dan di zaman sekarang ini keberadaannya sangat terasa karena kelemahan kaum muslimin dan tekanan musuh atas mereka.
2.            Yang berhak menetapkan hak para muallaf dalam zakat hanyalah imam/kepala negara. Dan ketika tidak ada imam maka memungkinkan para pemimpin lembaga Islam, atau organisasi massa tertentu mengambil peran ini
3.            Diperbolehkan juga di zaman sekarang ini memberikan zakat kepada para muallaf bagi mereka yang telah masuk Islam untuk memotivasi mereka, atau kepada sebagian organisasi tertentu untuk memberikan dukungan terhadap kaum muslimiin. Juga dapat diberikan kepada sebagian penduduk muslim yang miskin yang sedang dirakayasa musuh-musuh Islam untuk meninggalkan Islam. Dalam kondisi ini mereka dapat pula diberikan dari selain zakat.

Keempat: Para Budak
Zakat dapat juga digunakan untuk membebaskan orang-orang yang sedang menjadi budak, yaitu dengan:
·         Membantu para budak mukatab yaitu budak yang sedang menyicil pembayaran sejumlah tertentu untuk pembebasan dirinya dari majikannya agar dapat hidup merdeka. Mereka berhak mendapatkannya dari zakat
·         Atau dengan membeli budakn kemudian dimerdekakan
Pada zaman sekarang ini, sejak penghapusan system perbudakan di dunia mereka sudah tidak ada lagi. Tetapi menurut sebagian madzhab Maliki dan Hanbali berpendapat tentang pembebasan tawanan muslim dari tangan musuh dengan uang zakat termasuk dalam bab perbudakan. Dengan demikian maka mustahik ini tetap akan ada selama masih berlangsung peperangan antara kaum muslimin dengan musuhnya.   

Kelima: Gharimin (berhutang)
Al Gharim adalah orang yang berhutang dan tidak mampu membayarnya, ada dua macam jenis gharim yaitu:
1.      Al Gharim untuk kepentingan dirinya sendiri, yaitu orang yang berhutang untuk menutup kebutuhan primer pribadi dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, seperti rumah, makan, pernikahan, perabotan. Atau orang yang terkena musibah sehingga kehilangan hartanya, dan memaksanya untuk berhutang. Mereka dapat diberi zakat dengan syarat:
·         membutuhkan dana untuk membayar hutang
·         hutangnya untuk mentaati Allah atau untuk perbuatan mubah
·         hutangnya jatuh tempo saat itu atau pada tahun itu
·         tagihan hutang dengan sesame manusia, maka hutang kifarat tidak termasuk dalam jenis ini, karena tidak ada seorangpun yang dapat menagihnya.
Al Gharim diberikan sejumlah yang dapat melunasi hutangnya.
2.      Al Gharim untuk kemaslahatan orang lain, seperti orang yang berhutang untuk mendamaikan dua orang muslim yang sedang berselisih, dan harus mengeluarkan dana untuk meredam kemarahannya. Maka siapapun yang mengeluarkan dana untuk kemaslahatan umum yang diperbolehkan agama, lalu ia berhutang untuk itu, maka ia dibantu melunasinya dari zakat.

Diperbolehkan membayar hutangnya mayit dari zakat. Karena gharim mencakup yang masih hidup dang yang sudah mati. Demikian madzhab Maliki, berdasrkan hadits Nabi yang bersabda: “Aku adalah yang terdekat pada seorang mukmin daripada diri mereka sendiri. Barang siapa yang meninggalkan harta maka itu untuk ahli warisnya, dan barang siapa yang meninggalkan hutang, atau kehilangan maka kepadaku dan kewajibanku” Muttafaq alaih.

Sebagian ulama hari ini memperbolehkan zakat dipinjamkan dengan qardhul hasan, karena qiyas aulawiy (prioritas) yaitu: Jika hutang yang sudah terjadi boleh dibayarkandari zakat, maka qardhul hasan yang bersih dari riba lebih prioritas dari pada pembagian zakat. Berhutang dalam dua keadaan itu tujuannya sama yaitu untuk menutup kebutuhan.

Keenam: Fi sabilillah
Ibnul Atsir berkata: kata Sabilillah berkonotasi umum, untuk seluruh orang yang bekerja ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban, yang sunnah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan jika kata diucapkan maka pada umumnya ditujukan untuk makna jihad. Karena banyaknya penggunaannya untuk konotasi ini maka sepertinya kata fisabilillah, hanya digunakan untuk makna jihad ini (Kitab An Nihayah Ibnu Atsir)
Menurut empat madzhab, mereka bersepakat bahwa jihad termasuk ke dalam makna fi sabilillah, dan zakat diberikan kepadanya sebagai personil mujahidin. Sedangkan pembagian zakat kepada selain keperluan zakat, madzhab Hannafi tidak sependapat dengan madzhab lainnya, sebagaimana mereka telah bersepakat untuk tidak memperbolehkan penyaluran zakat kepada proyek kebaikan umum lainnya seperti majid, madrasah,  dll.
Pandapat lain. Imam Ar Razi mengatakan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya teks zhahir dari firman Allah (وفي سَبيل الله) tidak hanya terbatas pada para tentara saja. Demikianlah yang dirilis oleh Al Qaffal dalam tafsirnya dari sebagian ulama fiqih,, bahwasannya mereka memperbolehkan penyaluran zakat kepada seluruh proyek kebaikan, seperti mengkafani mayit, membangun pagar, membangun masjid, karena kata fi sabilillah berlaku umum untuk semua proyek kebaikan.
As Sayyid Siddiq Hasan Khan berkata: Sabilillah artinya seluruh jalan yang menuju kepada Allah. Sedangkan jihad –meskipun jalan terbesar kepada Allah- tetapi tidak ada dalil yang mengkhususkan pembagian zakat henya kepada mujahid. ( Ar Raudhatunnadiyyah).
Rasyid Ridha berkata: Sabilillah di sana adalah kemaslahatan umum kaum muslimin yang digunakan  untuk menegakkan urusan dunia dan agama, bukan pada individunya. Yang utama dan pertama adalah persiapan perang, seperti pembelian senjata, perbekalan tentara, alat transportasi, pemberarngkatan pasukan…dan termasuk juga dalam hal ini adalah mendirikan rumah sakit, membuka jalan, mempersiapkan para da’I yang menyerukan Islam, mengirimkan mereka ke daerah-daerah kafir, (Tafsir Al Manar)
Syeikh Mahmud Syaltut dalam bukunya “Islam Aqidah dan Syari’ah” dalam hal ini menyatakan: Sabilillah adalah seluruh kemaslahatan umum yang tidak dimiliki oleh seseorang, dan tidak memberi keuntungan kepada perorangan. Lalu dia menyebutkan: setelah pembentukan satuan perang adalah rumah sakit, jalan, rel kereta, dan mempersiapkan para da’i.
Syeikh Hasanain Makhluf,  Muftin Mesir terdahulun berfatwa tentang kebolehan menyalurkan zakat kepada seluruh organisasi kebaikan Islam, bersandar kepada ungkapan Ar Razi dari Al Qaffal dll dalam memaknai kata fisabilillah.
Dalam Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb berkata: fisabilillah adalah jalan luas yang mencakup seluruh kemaslahatan jama’ah yang menegakkan kalimat Allah.
Kesimpulan: Yang rajah (kuat) bahwa yang dimaksud dari firman Allah “fisabilillah” adalah jihad seperti yang dimaksudkan oleh jumhurul ulama. Akan tetapi bentuk jihad pada masa sahabat dan para ulama sesudahnya terbatas pada berperang. Karena hukum Allah sudah berdiri tegak dan Negara Islam berwibawa. Adapun pada zaman sekarang ini, bentuk jihad itu tampil dengan warna yang bermacam-macam untuk menegakkan agama Allah, menyampaikan dakwah dan melindungi umat Islam. Kami berpendapat bahwa sangat mungkin untuk menyalurkan zakat kepada lembaga-lembaga modern seperti ini yang masuk ke dalam bab fisabilillah. Yaitu jalan yang digunakan untuk membela agama Allah dan menjaga umat Islam, baik dalam bentuk tsaqafah (wawasan), pendidikan, media, atau militer, dst. Dan perlu ditegaskan di sini bahwa peperangan yang boleh dibiayai dengan zakat adalah perang fisabilillah di bawah bendera Islam, untuk membela kepentingan Islam dan dibawah komando pemimpin Islam.

Ketujuh Ibnu sabil
Mereka adalah para musafir yang kehabisan biaya di negera lain, meskipun ia kaya di kampong halamannya. Mereka dapat menerima zakat sebesar biaya yang dapat mengantarkannya pulang ke negerinya, meliputi ongkas jalan, dan perbekalan, dengan syarat:
·         Ia membutuhkan di tempat ia kehabisan biaya
·         Perjalanannya bukan perjalanan maksiyat, yaitu dalam perjalanan sunnah atau mubah
·         Sebagian madzhab Maliki mensyaratkan: tidak ada yang memberinya pinjaman dan ia mampu membayarnya


B.     Penyaluran Zakat Kepada Para Mustahik

1.            Imam Syafi’I berpendapat bahwa zakat harus dibagikan kepada delapan kelompok itu dengan merata, kecuali jika salah satu kelompok itu tidak ada, maka zakat diberikan kepada ashnaf yang masih ada. Jika muzakki itu sendiri yang membagikan langsung zakatnya maka gugur pula bagian amil.
2.            Madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa zakat boleh diberikan kepada sebagian ashnaf, tidak kepada seluruh ashnaf yang ada. Bahkan mereka memperbolehkan pemberian zakat hanya kepada salah satu ashnaf saja sesuai dengan kondisi. Inilah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang paling kuat, dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
a.             Tiidak diperbolehkan menghilangkan hak salah satu mustahiq tanpa ada sebab, jika imam yang melakukan pembagian dan jumlah zakat cukup banyak.
b.            Diperbolehkan memberikan zakat hanya kepada satu ashnaf saja jika ada kemaslahatan yang dapat dipertannggung jawabkan, seperti ketika perang yang mengharuskan zakat untuk pembiayaan mujahid di medan perang.
c.             Ketika membagikan zakat kepada semua ashnaf secara menyeluruh tidak diharuskan membagi rata kepada mereka. Dan yang diwajibkan adalah memberikan bagian pada masing-masing sesuai dengan jumlah dan kebutuhan.
d.            Selalu diperhatikan bahawa kelompok prioritas adalah fakir miskin. Kelompok yang diulang-ulang dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Maka tidak diperbolehkan menghalangi hak mereka dari zakat, kecuali karena kondisi darurat sesaat.
e.             Jika muzakki yang membagikan langsung zakatnya, dan jumlah zakatnya kecil, boleh diberikan kepada satu kelompok, dan satu orang saja untuk mencapai tujuan zakat, yaitu menutup kebutuhan
f.             Jika imam yang membagikan, maka bagian amilin tidak boloeh lebih banyak dari seperdelapan, menurut Imam Syafi’iy, agar zakat tidak habis di tangan para pegawai saja.

   
C.          Orang Yang Tidak Boleh Menerima Zakat

Ada lima kelompok yang tidak diperbolehkan menerima zakat, yaitu:
1.      الأغنياء orang kaya
Rasulullah saw bersabda: « لا تحل الصَّدقة لغني... »، رواه الخمسة Tidak halal zakat diberikan kepada orang kaya. HR lima ulama hadits
·         Yang dikecualikan dari criteria ini adalah: pasukan perang fi sabilillah, amil zakat, penghutang untuk kemaslahatan orang lain, seperti yang dikatakan oleh jumhurul ulama.
·         Seorang anak dianggap cukup jika ayahnya kaya, demikian juga seorang isteri dianggap kaya jika suaminya kaya, sehingga keduanya tidak boleh diberi zakat.
2.      الأقوياء المكتسبون orang kuat bekerja
Rasulullah saw bersabda:  « لا تَحل الصدقة لِغني، ولا لذي مِرَّة سَوي » رواه الخمسة tidak halal zakat diberikan kepada orang kaya dan orang yang memilkiki organ lengkap. HR lima imam hadits. ذي مِرَّة adalah orang yang memiliki organ tubuh lengkap. Juga dengan prnyataan Rasulullah terhadap dua orang lelaki yang meminta zakat: Jika kalian mau akan aku berikan kepada kalian, tetapi tidak ada hak dalam zakat ini bagi orang kaya dan orang yang kuat bekerja” HR Ahmad, Abu Daud dan An Nasa’iy
  • Ia benar-benar memiliki pekerjaan yang menghasilkan, jika tidak ada pekerjaan maka ia diberi zakat
  • Hasil penghasilannya cukup, jika tidak maka ia boleh menerima zakat sehingga mencukupi

3.      غير المسلمين non muslim
a.       Para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada orang kafir yang memerangi, orang murtad dan orang ateis.
b.      Jumhurul ulama khususnya empat imam madzhab bersepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kafir dzimmiy sebagai fakir, ia bisa menerima zakat menurut sebagian ulama dalam statusnya sebagai muallaf. Mereka bersepakat bahwa ahludzimmah boleh diberikan sedekah sunnah. Sebagaimana baitul mal memberikan kecukupan mereka dari selain zakat.
Zakat (Harta yang dikeluarkan Zakatnya dan perhitungan)

Zakat (Harta yang dikeluarkan Zakatnya dan perhitungan)



I.       HARTA YANG DIKELUARKAN ZAKATNYA

A.    ZAKAT HEWAN
Hewan yang dikeluarkan zakatnya adalah: onta, sapi, kerbau dan kambing.

1.  Syarat zakat hewan ternak adalah:
·         Mencapai jumlah satu nishab, yaitu lima onta, tiga puluh sapi, dan empat puluh kambing.
·         Sudah melewati satu tahun, dan zakat hanya dikeluarkan setahun sekali
·         Digembalakan di ladang yang boleh untuk menggembala. Sedangkan hewan yang di kandangin (dikasih makan di kandang/tidak digembalakan) maka tidak wajib zakat kecuali menurut madzhab Malikiy.
·         Tidak menjadi alat kerja, membajak, menyiram, atau membawa barang. Sebab jika dipekerjakan maka statusnya lebih mirip menjadi alat kerja daripada kekayaan.

2.      Zakat Onta.

Nishab onta adalah lima, maka barang siapa memiliki empat ekor onta, ia belum wajib zakat. Zaakt wajibnya seperti dalam table berikut ini:
Jumlah onta
Zakat wajibnya
  5 - 1 9
Seekor kambing
10 - 14
Dua ekor kambing
15 – 19
Tiga ekor kambing
20 - 24
Empat ekor kambing
25 - 35
1 bintu makhadh/anak onta yang induknya sedang hamil (usia > 1 tahun)
36 - 45
1 bintu labun/anak onta yang induknya sedang menyusui (usia > 2 tahun)
46 - 60
1 onta hiqqah (onta betina yang berumut > 3 tahun)
61 - 75
1 onta jadza’ah ( onta betina berumur > 4 tahun)
76 - 90
2 ekor onta bintu labun
91 - 120
2 hiqqah

Lebih dari seratus duapuluh maka setiap lima puluh (50) ekor zakatnya satu hiqqah, dan setiap empat puluh ekor (40) zakatnya satu bintu labun.
Jika disimak ketentuan zakat onta yang kurang dari dua puluh lima ekor menggunakan kambing, maka ini berbeda dengan qaidah bahwa zakat itu diambilkan dari harta yang dizakati. Penggunaan kambing untuk zakat onta ini adalah salah satu bentuk keringanan dalam Islam terhadap pemiliki onta yang masih sedikit.

3.    Zakat Sapi.    
Zakat sapi hukumnya wajib berdasarkan As Sunnah dan Ijma’.
Hadits Abu Dzarr dari Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada seorangpun yang memiliki onta, sapi, atau kambing tetapi tidak membayar haknya, kecuali di hari kiamat akan datang lebih besar dan gemuk dari yang ada sebelumnya, kemudian menginjak-injak dengan kaki-kakinya, dan nyeruduk dengan tanduknya. Ketika sampai ke belakang bersambung dengan yang terdepan, sehingga diputuskan di tengah-tengah manusia.” HR. Al Bukhariy
Sedang ijma’, seperti yang disebutkan oleh penulis AL Mughniy, dan menegaskan bahwa tidak ada seorangpun ulama yang menolak zakat sapi sepanjang masa. (Al Mughniy Juz: II).
Nishab sapi yang dipilih oleh empat madzhab adalah tigapuluh ekor sapi. Kurang dari itu tidak wajib zakat. Tigapuluh ekor sapi itu zakatnya seekor tabi’(sudah berusia satu tahun, dan masuk ke tahun kedua, disebut tabi’/ikut, karena ia masih mengikuti induknya), dan jika sudah mencapai jumlah empat puluh ekor, zakatnya seekor sapi musinnah ( berusia dua tahun dan masuk ke tahun ketiga, disebut musinnah/bergigi karena sudah mulai tampak giginya). Dan jika sudah berjumlah enampuluh ekor, zakatnya dua ekor anak sapi. Dan jika sudah berjumlah tujuh puluh ekor sapi, zakatnya satu ekor tabi’ dan satu ekor musinnah. Jika sudah berjumlah delapan puluh ekor, zakatnya dua ekor musinnah. Jika sudah mencapai sembilan puluh ekor, zakatnya satu musinnah dan dua ekor tabi’. Jika berjumlah seratus ekor sapi, zakatnya dua musinnah dan satu ekor tabi’, dst.

Jumlah sapi
Zakat wajibnya
30 - 3 9
seekor tabi’(sudah berusia satu tahun, dan masuk ke tahun kedua
40 - 59
zakatnya seekor sapi musinnah ( berusia dua tahun dan masuk ke tahun ketiga
60 – 69
dua ekor anak sapi
70 - 79
satu ekor tabi’ dan satu ekor musinnah
80 - 89
dua ekor musinnah
90 - 99
satu musinnah dan dua ekor tabi’
100 -
dua musinnah dan satu ekor tabi’

Dalil masalah ini adalah hadits Masruq dari Mu’adz bin Jabal, berkata: Rasulullah saw mengutusku ke Yaman, dan menyuruhku untuk mengambil setiap tiga puluh ekor sapi, seekor tabi’ jantan atau betina, dan setiap empat puluh ekor zakatnya satu ekor musinnah…”
Sekedar kami sebutkan di sini, tanpa mendalami dalilnya, bahwa Said bin Al Musayyib dan Ibnu Syihab Az Zuhriy, berpendapat bahwa nishab sapi adalah sama dengan nishab onta, yaitu lima ekor. Imam At Thabariy berpendapat bahwa nishab onta adalah lima puluh ekor.


4.      Zakat Kambing

Hukumnya wajib berdasarkan As Sunnah dan Ijma’.

Abu Bakar ra memberikan catatan kepada Anas ra tentag nishab hewan ternak, seperti yang telah disebutkan di depan. Al Majmu’ (Imam An Nawawi) dan Al Mughni (Ibnu Qudamah) dll menyebutkan telah terjadi ijma’ tentang wajib zakat kambing. Besar zakat kambing seperti yang ditulis Abu Bakar ra dapat dilihat dalam table berikut ini:


Mulai
Sampai
Besar zakat wajibnya
1
39
Tidak wajib zakat
40
120
Seekor kambing
121
200
Dua ekor kambing
201
299
Tiga ekor kambing
300
399
Empat ekor kambing
400
499
Lima ekor kambing
Berikutnya setiap seratus ekor kambing zakatnya satu ekor kambing

Perlu dicatat di sini, bahwa syariah Islam meringankan zakat kambing, semakin banyak, zakatnya 1%, padahal prosentase yang lazim 2,5%. Hikmah yang tampak, bahwa kambing itu banyak yang kecil, karena dalam setahun ia beranak lebih dari sekali, dan setiap kali beranak lebih dari satu ekor, terutama domba. Kambing-kambing kecil ini dihitung, tetapi tidak bisa digunakan untuk membayar zakat. Dari itulah keringanan ini tidak menjadikecemburuan pemilik onta dan sapi atas pemilik kambing. Sedangkan bilangan empat puluh pertama, wajib mengeluarkan zakatnya seekor kambing, karena di antara syaratnya –menurut yang rajah/kuat- empat ekor kambing itu telah dewasa. Dan inilah madzhab Abu Hanifah dan Asy Syafi’iy dalam membahas zakat seluruh hewan ternak.

B.     Zakat hewan lain

  1. Para ulama bersepakat bahwa kuda untuk transportasi dan jihad fi sabilillah tidak diwajjibkan zakat. Sedangkan yang diperdagangkan wajib dikeluarkan zakat dagangan. Demikian juga kuda yang dikurung tidak wajib zakat, karena yang wajib dizakati adalah hewan yang digembalakan.
  2. sedangkan kuda gembalaan yang dilakukan seorang muslim untuk memperoleh anaknya –kudanya tidak hanya jantan- Abu Hanifah berpendapat tentang wajibnya zakat kuda ini, yaitu satu dinar setiap ekornya untuk kuda Arab, atau senilai 2,5 % dari perkiraan harga kuda untuk kuda non Arab.
  3. Jika kemudian berkembang jenis-jenis hewan baru yang menjadi peliharaan untuk pengembangan dan memperoleh hasilnya, seperti keledai, apakah ada kewajiban zakatnya? Para ulama modern seperti Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahab KHallaf dan Yusuf Qardhawi mengatakan wajib zakat.  Karena qiyas masalah zakat dapat dianalisa alasan hukumnya. Umar ra mewajibkan zakat kuda karena alasan yang logis, dan diikuti oleh Abu Hanifah. Nishab yang digunakan adalah senilai duapuluh mitsqal emas, dengan wajib zakatnya 2,5%. Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa nishab hewan itu adalah dua kali lipat nishab uang, minimal berjumlah lma ekor, dan senilai lima ekor onnta atau empat puluh kambing.

1.    Syarat Zakat Hewan Ternak
  1. Bebas dari aneka cacat, tidak sakit, tidak patah tulang dan tidak pula pikun. Kecuali jika seluruh ternak mengalami cacat tertentu, maka diperbolehkan mengeluarkan zakatnya dari yang cacat ini. 
  2. Betina, bagi yang mensyaratkan. Dalam kasus ini tidak boleh mengambil zakat jantan, kecuali jika lebih dewasa. Menurut madzhab Hanafi diperbolehkan zakatnya dengan uang senilai hewan yang harus dikeluarkan.
  3. Umur hewan. Ada beberapa hadits yang membatasi umur hewan zakat ternak. Maka harus terikat dengan ketentuan ini. Jika tidak ada yang memenuhi standar umur itu, maka diperbolehkan mengeluarkan yang lebih besar atau yang lebih kecil, dan mengambil selisih harganya menurut madhab Syafi’iy. Sedang menurut Abu Hanifah dibayar dengan uang senilai hewan yang wajib dikeluarkan.
  4. Sedang. Pemungut zakat tidak boleh mengambil yang paling bagus atau yang paling buruk, akan tetapi mengambil kualitas sedang, dengan memperhatikan posisi pemiliki dan fakir miskin sebagai mustahiq.

C.    Ternak dimiliki oleh beberapa pemilik

Jika ada dua orang yang menggabungkan ternaknya, maka penggabungan ini tidak mempengaruhi nishab maupun zakat menurut Abu Hanifah, masing-masing berkewajiban mengeluarkan zakatnya sendiri-sendiri ketika sudah mencapai nishabnya.  Tetapi menurut madzhab Syafi’iy, penggabungan hewan ternak dapat mempengaruhi nishab dan zakat, sepertinya ia menjadi milik satu orang dengan sayarat:
1.      Kandang penginapannya menyatu
2.      tempat peristirahatanya satu