TOP NEWS

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas mattis nisi felis, vel ullamcorper dolor. Integer iaculis nisi id nisl porta vestibulum.

Tuesday, October 18, 2011

Royal Wedding Yogyakarta

Puluhan Ribu Masyarakat Padati Jalan Rute Kirab Pengantin Ageng

  KPH Yudanegara dan GKR Bendara menuju kereta Kyai Jongwiyat. Kereta peninggalan Sri Sultan HB VII 
itu yang akan mengantar kedua mempelai ke Bangsal Kepatihan.
detik.foto
KEPATIHAN YOGYAKARTA (18/10/2011) pemda-diy.go.id – Puluhan ribu masyarakat dari berbagai daerah di DIY maupun Jawa Tengah, tumpah ruah memadati sepanjang jalan mulai dari Alun-alun Utara sampai Malioboro. Masyarakat rela berjubel dan berpanas-panasan sejak pukul 13.30 WIB memadati jalan rute kirab untuk menyaksikan Pengantin Ageng Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat KPH Yudanegara dan GKR Bendara miyos, Selasa (18/10) sore.


Tua, muda, anak-anak, laki-laki perempuan datang ke pusat kota Yogyakarta dan  sudah bergerak menuju titik-titik jalan yang dilewati Penganten Ageng untuk mencari tempat yang nyaman untuk melihat. Tak ayal karena teriknya sinar matahari serta berjubelnya masyarakat yang ingin melihat  pengantin kirab, banyak pengunjung yang pingsan. Tidak hanya itu, banyak anak-anak yang lepas dari pegangan orangtuanya karena saling berdesak-desakan. Namun berkat kesiapsiagaan petugas baik Polisi, Sat Pol PP, anggota PMI, PAM baik dari Pare Anom maupun  dari Kecaamatan Kraton, situasi dapat dikendalikan dan dapat tertangani dengan baik.

Kirab Pengantin Ageng Kraton Yogyakarta KPH Yudanegara - GKR Bendara sempat molor dari waktu yang dijadwalkan semula. Iring-iringan kereta kirab baru berangkat dari regol Keben sekitar 16.30 WIB. Dan setelah melewati lautan manusia yang mengelu-elukan pengantin, perlahan tapi pasti akhirnya iring-iringan kereta kirab pengantin yang hanya mampu bergerak lamban tersebut tiba di Kepatihan sekitar 17.20 WIB.

Setelah tiba di Kepatihan, pengantin yang memakai busana kraton basahan Jangan Menir turun dari kereta kencana Kyai Jong Wiyat berjalan melewati Bangsal Kepatihan sisi selatan dan barat menuju Gedhong Wilis untuk istirahat sejenak. Selang beberapa menit kemudian tepatnya sekitar pukul 17.57, dengan mobil Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas beserta segenap keluarga tiba di Kepatihan langsung menuju tempat yang telah dipersiapkan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, tempat resepsi di gelar. Sultan dan GKR Hemas miyos di sambut songsong agung jene.

Sultan dalam kesempatan ini memakai busana baju taqwo warna kombinasi kuning, hitam dan ungu, serta kain parang barong. Sedang GKR Hemas mengenakan busana kebaya  warna hijau muda.

Adapun urutan kirab yang menempuh jarak kurang lebih sejauh 1 kilometer tersebut, pertama pasukan prajurit  Ketanggung dan Wirobrojo. Dibelakang prajurit kereta Kyai Kus Ijem yang ditumpangi para rayi dalem, kereta Jong Wiyat peninggalan Sultan HB VII yang ditumpangi Pengantin Ageng KPH Yudanegara – GKR Bendara. Urutan ketiga kereta Noto Puro yang ditumpangi keluarga pengantin pria, disusul kemudian kereta Kyai Noto Biru, kereta Kyai Permili. Urutan terkahir adalah 14 kuda yang dinaiki para penari.

Sebelum kirab dimulai beberapa kelompok masyarakat mempersembahkan tarian daerahnya seperti dari  NTB, Boyolali dan lain-lain.

Salah satu pengunjung dari Kuthoarjo, Siswanto, disela-sela menyaksikan kirab mengatakan, kirab Pengantin Ageng ini merupakan peristiwa sangat langka yang perlu ditonton. Peristiwa budaya dan pesta rakyat ini kata dia, mengingatkannya pada pernikahan terbesar abad ini yaitu putra pangeran Charles dari Inggris beberapa waktu lalu.

”Kirab ini mengingatkan saya ketika acara pernikahan putra Pangeran Charles di inggris itu, sampai anak saya  tak ajak ke Jogja meskipun anak saya bolos sekolah. Agar anak saya tahu dengan budaya adiluhung Jawa ini,” ujar Siswanto yang diiyakan istrinya.

Menurut Siswanto, Pawiwahan Agung ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata Yogyakarta untuk menjadi lebih terkenal lagi dibanding dengan daerah-daerah lain. “Jogja memang Istimewa mas,’ tutup Siswanto.(Kar/***)
 humas pemprof diy

Beksan Bedoyo Manten dan Lawung Sambut Tamu Resepsi Pengantin Ageng  
KEPATIHAN YOGYAKARTA (18/10/2011) pemda-diy.go.id – Dibalut dekorasi bernuansa Jawa dan dihiasi lampu-lampu kristal, Bangsal Kepatihan, Selasa (18/10) malam, tampak sangat megah menaungi sekitar 1500 undangan yang menghadiri Resepsi Pernikahan Ageng Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, KPH Yudanegara – GKR Bendara. Suasana semakin sakral ketika pengantin memakai busana kebesaran kraton basahan Jangan Menir warna gelap.

Persembahan Beksan Bedoyo Manten dan Lawung menyambut tamu undangan yang menghadiri resepsi, yang sebelumnya diawali permohonan kepada sang khaliq dengan memanjatkan do’a, yang dipimpin Pengirit Abdi Dalem Konco Kaji Raden Rio.H. Abdul Ridwan Johan. Tamu undangan yang hadir diantaranya Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Duta Besar Indonesia untuk Suriname Nur Syarir Raharjo.

Beksan Bedoyo Manten yang dibawakan oleh 6 penari merupakan beksan karya cipta adi luhung Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Beksan ini menceritakan pertemuan dua muda mudi dan perjalanan cinta mereka dalam menempuh bahtera kehidupan.

Sementara persembahan kedua Beksan Lawung, yaitu tarian perang-perangan atau ulah yuda. Beksan Lawung merupakan salah satu beksan ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Beksan ini diilhami oleh keadaan waktu dimana ada kegiatan prajurit sebagai abdi dalem raja yang selalu mengadakan latihan watangan, berlatih ketangkasan berkuda dengan membawa watang atau lawung, yaitu sebuah tongkat panjang berujung tumpul dan silang menyodok untuk menjatuhkan lawan.  

Beksan Lawung ini oleh Sultan dijadikan Beksan ceremonial yang sangat terhormat, bahkan menjadi wakil pribadi dari Sultan pada resepsi perkawinan agung pada hari pertama di Kepatihan, dan lengkapnya dibawakan oleh 40 orang penari, namun pada resepsi Pengantin Ageng KPH Yudanegara – GKR Bendara hanya dibawakan oleh 14 penari, dimana pada saat kirab menunggang kuda. (rsd)



 KPH Yudanegara menggunakan busana batik Kampuh Tua yang diciptakan secara replika dari kain Kampuh tua oleh Afif Syakur pada saat mengikuti Proses Upacara Panggih Pernikahan Agung Kraton Yogyakarta, Selasa (18/10).jogjanews.com

Ritual pondhongan menandai berakhirnya upacara panggih pernikahan agung Keraton Yogyakarta di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta, Selasa (18/10/2011).kompas.com

SBY-Boediono Hadiri Panggih Pengantin Putri Sultan HB X

Yogyakarta - Detik.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta istri Ani Yudhoyono, Wapres Boediono bersama istri Herawati menghadiri acara panggih pengantin GKR Bendara-KPH Yudanegara. Acara panggih pengantin digelar di emper Bangsal Kencana Keraton.

Sebelum presiden dan wakil presiden hadir, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas bersama adik-adik Sultan menunggu di emper Bangsal Kencana sebelah utara. Saat Sultan dan GKR Hemas tiba semua gamelan yang ada di keraton dibunyikan bersamaan. Gendhing atau lagu yang dibawakan adalah "kodok ngorek".

Wapres bersama istri tiba di keraton, Selasa (18/10/2011) pukul 09.40 WIB. Sultan dan GKR Hemas langsung menyambutnya dengan berjabat tangan dan mempersilakan duduk di kursi VVIP yang telah di sediakan. Sekitar 20 menit kemudian, Presiden SBY bersama Ani Yudhoyono hadir.

Setelah SBY duduk, acara panggih dimulai dengan hadirnya kedua pengantin. Rombongan pengantin pria didampingi utusan Sultan, GBPH Prabukusumo. Sedang pengantin putri didampingi GKR Pembayun menuju tempat panggih yang ada di depan Sultan.

Kedua mempelai mengenakan busana paes ageng Yogyakarta. Pengantin pria KPH Yudanegara datang dari arah timur dari bangsal Kesatriyan. Sedangan GKR Bendara tiba dari utara bangsal kencana.

Acara panggih dimulai dengan pengantin putri membasuh telapak kaki pengantin pria. Setelah itu dilanjutkan acara pondhongan yakni pengantin putri dipondhong oleh Yudanegara dan adik Sultan GBPH Suryodiningrat.

Usai acara pondhongan presiden dan wapres kemudian memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

Beberapa tamu yang hadir dalam acara panggih di antaranya Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung, mantan Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, pakar ekonomi pertanian HS Dilon, anggota DPR RI Ganjar Pranowo, Sri Edi Swasono, Meutia Hatta, Emil Salim, dan sebagainya.
 
Yudanegara Lancar Ucapkan Ijab Kabul Dalam Bahasa Jawa
Yogyakarta- detikNews -
Meski berasal dari Lampung, pengantin pria KPH Yudanegara lancar mengucapkan ijab kabul dalam Bahasa Jawa saat menikah. Prosesi akad nikah langsung dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Masjid Panepen Kraton Ngayogyakarto pada pukul 07.10 WIB.

Sebelum akad nikah dimulai, Sultan sudah hadir di dalam Masjid Panepen. Sultan mengenakan busana motif kembang warna hijau dan hitam dengan kain batik serta blangkon motif trumtum.

KPH Yudanegara tiba di Masjid Panepen didampingi KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo dan KPH Wironegara. Yudanegara mengenakan busana warna putih dengan kain motif trumtum. Sedangkan abdi dalem Kaji (penghulu) dipimpin Kanjeng raden Penghulu Dipodiningrat juga tiba lebih dulu sebelum pengantin datang.

Setelah semua siap, Sultan kemudian memerintahkan Kanjeng Raden Penghulu untuk memulai khutbah nikah. "Kanjeng Raden Penghulu miwiti caos khutbah nikah," pinta Sultan.

Seusai khutbah nikah, Sultan kemudian menjabat tangan Yudanegara mengucapkan ikrar ijab qabul. Dengan lancar dan singkat, Yudanegara mengucapkan ikrar ijab qabul menggunakan Bahasa Jawa. Adapun mas kawinnya adalah kitab suci Al Quran, seperangkat alat salat dan uang serta perhiasan emas. Namun jumlah emas dan uang yang dimasukkan dalam sebuah kotak dan tidak disebutkan.

Usai buku nikah ditandatangani oleh dua orang saksi, petugas KUA Kecamatan Kraton kemudian menyerahkan dua buku nikah warna hijau dan merah kepada pengantin pria. Yudanegara kemudian melakukan sembah sungkem dengan mencium lulut kanan Sultan.

Setelah prosesi akad nikah selesai, gamelan yang ada di kraton kemudian dibunyikan sebagai tanda telah selesainya acara akad nikah. KPH Yudanegara bersama rombongan kemudian kembali ke Bangsal Kesatriyan untuk mengikuti prosesi panggih yang akan digelar di Bangsal Kencana.

(bgs/lia)

KPH Yudhanegara-GKR.Bendara Siraman Air Kembang Setaman

Biro Umum, Humas dan Protokol
Nurbaiti Helmi menyiramkan air dari tujuh sumber 
di Kompleks Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat ke tubuh anaknya. Reuters/Beawiharta.

Karaton,Yogyakarta (17/10/2011) Portal.Jogjaprov-go.id. – Prosesi rangkaian pernikahan KPH. Yudhanegara - GKR.Bendara setelah keduanya melakukan Nyanti, hari senin,17/10 melakukan prosesi selanjutnya yaitu Prosesi Siraman atau mandi bunga setaman dan air suci dari 7 mata air yang langsung di ambil dari sumbernya.

Upacara Siraman yang memiliki makna ritual siraman yaitu memiliki makna membersihkan secara lahir maupun batin bagi calon pengantin putra maupun putri untuk persiapan memasuki kehidupan baru yaitu yang disebut kehidupan rumah tangga.

Tepat pukul 09.00 wib GKR Hemas Ibunda GKR Bendara di Ndalem Sekar Kedaton atau Keputren mengambil air bunga setaman untuk menyiram calon mempelei pengantin putri yang disiramkan di atas kepala GKR Bendara sebanyak 7 kali pengambilan dengan menggunakan gayung yang kemudian diikuti saudara-saudara tuanya yang lain seperti GKR Pembayun, dan dilanjutkan oleh para pinisepuh atau yang dianggap lebih tua dan bersih.

Prosesi siraman calon mempelai pengantin putri berlangsung khusu’ karena siraman ini mempunyai makna yang sakral bagi gambaran seseorang yang diharapkan hidupnya berjalan sesuai dengan cita-citanya.

Bersamaan dengan itu juga di kediaman calon mempelai Pengantin Pria dimana dia Nyantri juga dilangsungkan siraman. Bagi KPH. Yudhanegara siraman dilakukan oleh ibundanya sendiri Hj. Nurbaiti Helmi, dan untuk pertamakalinya menyiramkan air kembang setaman ke tubuh KPH Yudhanegara yang kemudian diikuti berturut-turut Calon Ibu Mertua yaitu GKR Hemas serta pini sepuh dan sesepuh keluarga pengantin Pria.

Usai melakukan siraman calon mempelai pengantin putri selanjutnya minum jamu dan dikerik dengan maksud merapikan anak-anak rambut dibagian kening dan tengkuk, agar terlihat lebih rapi saat dirias atau pahesan nantinya,

Adapun prosesi setelah kedua mempelai melakukan siraman mulai nanti malam pukul 18.00 WIB di Karaton akan diadakan Upacara "Tantingan" oleh Sri Sultan HB X kepada putri bungsunya terkait dengan niat GKR Bendera untuk nikah dengan dengan pria idamannya yaitu KPH Yudhanegara di Emper Prabayeksa, Karaton Yogyakarta Hadiningrat yang akan dsaksikan oleh GKR.Hemas, seluruh kakak-kakaknya serta Sentono Dalem.

Pukul 19.30 WIB dilangsungkan prosesi Midodareni di Bangsal Sekar Kedaton. Midodareni mempunyai makna malam saat-saat calon pengantin putri menunggu datangnya bidadari turun kebumi. Dan saat itulah yang ditunggu calon pengantin putri untuk mendapatkan berkah dari Tuhan YME agar menganugerahkan kecantikan sehingga calon mempelai putri nantinya tampak cantik berseri-seri menjelma seperti bidadari yang turun dari Kahyangan. (Kar***...)



HUMAS Ro UHP Provinsi DIY


GKR Bendara (kiri), putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyerahkan pelangkahan kepada GRAj Nur Abra Juwita (kanan), 
putri keempat Sultan, pada prosesi pelangkahan di Keraton Kilen, Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Minggu (16/10/2011). 
GKR Bendara yang akan menikah dengan KPH Yudanegara melakukan prosesi pelangkah karena akan mendahului kakaknya GRAj Nurabra Juita.

Janur Kuning Dipasang, Royal Wedding Jogja Dimulai

NILAH.COM, Yogyakarta - Kalangan abdi dalem Keraton Yogyakarta memasang tarub atau hiasan janur kuning di pintu gerbang di sekitar keraton yang menandai dimulainya pernikahan putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara.

Tarub yang berasal dari daun kelapa muda menambah pemandangan sekitar keraton menjadi indah. Pemasangan tarub dalam budaya Jawa bermakna akan dimulainya hajatan pernikahan seorang pasangan pengantin.

Tarub dipasang di Ndalem Pagelaran, Pacikearan, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Ponconiti, Bangsal Trajumas, Regol Dana Pratapa, Bangsal Kencana, dan Regol Gepura.

Para abdi dalem juga melengkapi beberapa sesaji berupa pisang sanggan, tumpeng, buah-buahan, dan beberapa hasil bumi lain. Semua ini dilakukan sebagai bentuk doa kepada Allah SWT agar pernikahan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara berjalan lancar.

Menurut kerabat keraton GBPH Parbukusumo, tarub dan tuwuhan menurut tradisi Jawa dilakukan berdasarkan hitungan waktu hari serta tanggal yang cermat. Pelaksanaan biasanya bersamaan dengan berlangsungnya upacara siraman, hanya waktunya berbeda. [ant]

Royal Wedding Kraton Yogyakarta Di Mulai,Kedua Mempelai Nyantri
Dikirim pada 16 Oct 2011 Biro Umum, Humas dan Protokol
Kraton Yogyakarta(16/10/2011)Portal.Jogjaprov-go.id. -  Setelah melakukan berbagai rangkaian Pra Pernikahan agung yang dilakukan oleh kedua calon mempelai Pengatin Agung Kraton Yogyakarta yaitu KPH Yudhanegara dan GKR Bendara mulai pagi ini(Minggu,16/10) pukul 09.00 WIB resmi mulai melakukan rangkaian Pernikahan Agung masing-masing. KPH Yudhanegara mulai jam 09.00 WIB Nyantri di bangsal Kasatriyan, GKR Bendara melakukan upacara adat Plangkahan dan Ngabekten di Kraton Kilen, komplek Kraton Yogyakarta Hadiningrat.


Adapun prosesi rangkaian  Nyantri KPH Yudhanegara di Bangsal Kasatrian, Kraton Yogyakarta yang merupakan salah satu adat bagi pengantin Pria  untusan dari Kraton  Yogyakarta  yaitu adik sultan KGPH Hadiwinoto mengutus KRT.Jatingrat dan KRT.Yudahadiningrat pukul 09.25 WIB berangkat menuju Ndalem Mangkubumen untuk menjemput calon mempleai pria di mana Pengantin Putra berada dengan menggunakan 3 Kereta Kraton yang terdiri Kereta  Kus Gading, Kereta Kyai Pustoko manik, Kereta Kyai Pustokoharjo.

Setelah dijemput oleh kedua utusan Kraton KRT.Jatingrat dan KRT.Yudahadiningrat  tepat pukul 10.30 WIB ketiga kereta itu tiba kembali di regol Magangan.  Kereta  Kus Gading kereta penjemput yang dinaiki KRT.Jatingrat dan KRT.Yudahadiningrat, Kereta Kyai Pustoko manik yang dinaiki KPH Yudhanegara beserta saksi utusan Pengantin Pria dan ,Kereta Kyai Pustokoharjo yang dinaiki Ibunda Pengantin Pria  yaitu Ibu Tursandi.

Di regol magangan itu juga GKR Hemas telah menjemput calon pengantin pria yang kemudian menuju Bangsal Kasatriyan melalui plataran bangsal Kencono dan kemudian masuk Bangsal Kasatrian dimana di tempat tersebut telah menunggu Kerabat Kraton Yogyakarta yaitu putri dalem dan GBPH.Hadiwinoto, GBPH.Prabukusumo, GBPH.Yudhaningrat dan sentono dalem kraton Yogyakarta, sekaligus meninjau lokasi untuk Nyantri.

Adapun maksud dari Nyanti sendiri adalah"Tujuannya adalah untuk pengenalan pada anggota keluarga kraton, untuk mengakrabkan, supaya kraton bisa mengenali calon mantu lebih jauh.Disamping itu juga untuk menyesuaikan diri dengan tradisi keluarga Kraton.Hal ini dilakukan untuk memaastikan bahwa pemngantin pria sudah berada dilingkungan pengantin  putri (Kraton), hingga untuk memperlancar jalan prosesi pernikahan.

Sementara itu di waktu yang sama calon Pengantin Putri juga melakukan prosesi  yaitu plangkahan . Plangkahan dilakukan  GKR Bendoro  karena sebagai putri bungsu Putri Sri Sultan HB X masih mempunyai kakak dimana GKR Bendara mendahului menikah atau meliwati kakaknya GRAy Nur Abrajuwita, sebagaimana tradisi yang telah berjalan secara turun temurun di jawa, maka harus ada tradisi plangkahan tersebut. Adapun prosesi plangkahan tersebut adalah GKR Bendara memberikan seliran pisang sanggan,memberikan seperngkat pakaian dengan sepatu kepada kakaknya yang dilangkahi disaksikan kedua orangtuanya yaitu  Sri Sultan hamengku Buwiono X dan GKR Hemas serta saudara-saudaranya serta sentono dalem di kraton Kilen.

Usai Prosesi Plangkahan GKR Bendara melakukan sungkem untuk mohon doa dan restu kepada kedua oangtuanya serta melakukan Nyanti sebagaimana dilakukan calon pengantin pria di Bangsal Sekar Kedaton, juga Kompleks Karton atau Bangsal Keputren Kraton Yogyakarta sembari menanti rangkaian prosesi  Pwernikahan Agung selanjutnya yang dilakukan besok pagi(Senin,17/10/2011).

Kedua rangkaian prosesi awal pernikahan Agung atau yang lebih dikenal masyarakat Royal Wedding ini mendapatkan sambutan antausias warga masyarakat serta perhatian  Wartawan dari berbagai media baik lokal,nasional dan Internasional yang jumlahnya ratusan.

Adapun agenda Prosesi Royal Wedding besok pagi tanggal 17 Oktober 2011 meliputi: pukul 09.00 wib:Siraman bagi  Calon Pengantin putri di sekarkedaton, Pukul:10.00 WIB prosesi siraman bagi calon mempelai pria di komplek Bangsal Kasatriyan. Pukul: 14.00 wib  prosesi tantingan dan pukul 19.30 adalah prosesi Midodareni. Pukul: 21.00 wib Sri Sultan meninjau kesiapan persiapan ijab qobul maupun resepsi pernikahan.

Untuk tanggal 18 Oktober 2011  Prosesi Royal Wedding dengan agenda: pukul 08.00 WIB pelaksanaan Ijab Qobul di Masjid Penepen,Kraton Yogyakarta,Pukul 10.00 wib prosesi panggih,yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi di bangsal Kencono,Kraton Yogyakarta.  Puku :15.00 wib Kirasb dari Kraton menuju ke kepatihan Yogyakarta dan pukul 19.00 wibi prosesi resepsi di bangsal Kepatihan,Yogyakarta.

(Kar***)

HUMAS Ro UHP Provinsi DIY.
R. Rio H. Abdul Ridwan Pimpin Mujahadah Di Masjid Panepen
Dikirim pada 16 Oct 2011 Biro Umum, Humas dan Protokol
KRATON YOGYAKARTA (16/10/2011) pemda-diy.go.id – Prosesi pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara dengan KPH Yudanegara, mulai dari upacara plangkahan dan ngabekten untuk pengantin putri di Kraton Kilen, serta upacara nyantri bagi  pengantin pria telah dilaksanakan pagi tadi. Sementara Minggu malam (16/10) tepat pukul 20.00 WIB, bertempat di Masjid Kagungan Dalem Panepen Kraton Ngayogyokarto Hadingrat, digelar Mujahadah.
Mujahadah sebagai pengamalan Sholawat Wahidiyah atau bagian dari padanya menurut adab, cara dan tuntunan yang dibimbingkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah  sebagai penghormatan kepada Rosululloh  dan sekaligus merupakan do’a permohonan kepada Alloh, bagi diri pribadi dan keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, bagi bangsa dan negara, bagi para pemimpin mereka di segala bidang, bagi ummat masyarakat jami’al ‘alamin, dan seluruh makhluq ciptaan Alloh, dipimpin Pengirit Konco Kaji Raden Rio. Haji Abdul Ridwan Johan.

“Khusus dalam rangka pernikahan agung ini kita berdo’a memohon kepada Allah SWT agar semua prosesi pernikahan berjalan lancar, sukses dan mendapat perlindungan,” terang Haji Ridwan. (rsd)

HUMAS Ro UHP DIY


Kirab Temanten GKR Bendara - KPH Yudanegara Digelar Selasa Sore
Dikirim pada 12 Oct 2011 Biro Umum, Humas dan Protokol
Jalan Raya Alun-alun Utara Sampai Hotel Inna Garuda Ditutup Sementara Mulai Pukul 15.30 – 19.00 WIB

KEPATIHAN YOGYAKARTA (11/10/2011) pemda-diy.go.id – Perhelatan akbar pernikahan agung putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dengan Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara selama tiga hari berturut-turut tinggal menghitung hari.


Sementara untuk acara kirab temanten GKR Bendara - KPH Yudanegara akan digelar Selasa (18/10) sore. Guna kelancaran kirab temanten dari Keben menuju Kepatihan sebelum acara resepsi, jalan raya Alun-alun Utara sampai Hotel Inna Garuda mulai pukul 15.30 hingga 19.00 ditutup sementara. Para tamu undangan umum di luar VIP yang akan menghadiri resepsi, kendaraan parkir di Alun-alun Utara, sedang untuk menuju Kepatihan para tamu disediakan shutle bus yang stand by di empat titik, yaitu di seputaran PDHI, SD Keputran (timur pagelaran), Royal Garden (eks bioskop Soboharsono) dan Ndalem Pracimosono (barat pagelaran).

Pihak panitia ‘royal wedding’ juga memberikan beberapa peraturan yang wajib diperhatikan oleh semua insan pers, baik fotografi maupun jurnalis yang akan meliput acara prosesi pernikahan akbar tersebut. Wartawan dilarang meliput acara pernikahan akbar tersebut jika tidak memenuhi aturan yang telah dikeluarkan pihak panitia. Peraturan itu diantaranya, registrasi wartawan pada hari Jum’at, 14 Oktober 2011 ke Media Center di Kompleks Kepatihan (Kantor Gubernur DIY) dengan membawa surat tugas dan pas foto ukuran 4x6 cm. Kemudian keesokan harinya, Sabtu, 15 Oktober, wartawan bisa mengambil ID Card ke Media Center di Magangan Kraton mulai pukul 13.00 WIB. Untuk media cetak, satu media hanya diperbolehkan mengirimkan satu wartawan tulis dan satu wartawan foto. Setelah mendapatkan ID Card resmi dari Keraton, lalu diberi ‘rundown general’ serta informasi soal busana yang wajib dikenakan. Wartawan diharapkan mencermati rundown general serta peta lokasi yang telah diberikan pihak panitia.

Para wartawan yang telah hadir pada hari Minggu, 16 Oktober, harus mendaftarkan diri di Media Center Magangan serta menitipkan tas dan alas kaki kepada panitia. Busana para wartawan yang akan meliput pada hari Minggu (16/10) dan Senin (17/10), khusus pria diwajibkan mengenakan busana peranakan lengkap dengan blangkon dan tanpa alas kaki. Kain batik yang digunakan tidak boleh bermotif parang. Sedang bagi jurnalis wanita, busana atasan kebaya model Kartini dan kain batik, juga tanpa alas kaki. Kemudian untuk hari Selasa (18/10) pagi di Kraton dan sore di Kepatihan, wartawan pria maupun wanita wajib berbusana atasan batik, berkerah dan bawahan celana panjang warna gelap, serta bersepatu.

Dalam aturan yang dikeluarkan pihak panitia, para wartawan juga diwajibkan memakai ID Card sesuai dengan foto yang tertera. Bagi wartawan yang tidak membawa ID Card Pers, maka tidak diperbolehkan meliput atau masuk ke arena acara dengan alasan apapun. Selama peliputan, wartawan diminta senantiasa menjaga sikap, perkataan serta perbuatan. Wartawan juga harus menghormati fotografer dan cameraman video resmi yang ditunjuk pihak Kraton dan memaklumi bahwa ‘spot’ utama adalah hak eksklusif mereka.

Pihak panitia juga menyediakan Media Center sebagai pusat informasi, yaitu di Magangan Kraton (dekat Rumah Makan Bale Raos) dengan fasilitas 8 buah computer berbasis MAC, 2 buah computer berbasis Windos, printer, dan akses internet bandwith 3MB. Selain di Magangan Media Center juga disediakan di Bale Woro Kompleks Kepatihan (Kantor Gubernur DIY) dengan fasilitas 5 buah computer berbasis MAC, 2 buah computer berbasis Windows, dan akses internet bandwith 1 MB. Media Center di kedua tempat tersebut mulai aktif pada hari Sabtu 15 Oktober 2011. (rsd).
Undangan

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Undangan resepsi pernikahan putri bungsu Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nur Astuti Wijareni, dengan Achmad Ubaidillah mulai disebar. Undangan "royal wedding" ala Yogyakarta itu memiliki desain yang disesuaikan tamu yang diundang.
"Warnanya hijau muda, khusus diperuntukkan jajaran Muspida DIY. Untuk tamu lain, undangan yang diberikan berwarna beda," ujar Kepala Humas Pemerintah Provinsi DIY Kuskasriyati, Kamis (29/9/2011).
Undangan itu berukuran 18 x 30 sentimeter, dibuat dari kertas berbahan keras (hard cover). Di bagian sampul, terdapat logo Keraton Yogyakarta dan di bagian atas dihiasi tulisan timbul (emboss) berwarna emas. "Undangan lainnya berwarna jingga, khusus pimpinan dan anggota DPRD DIY," ujar Kuskasriyati.

GRAj Nur Astuti Wijareni, yang kini bernama Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, akan menikah dengan Achmad Ubaidillah, yang kini bergelar Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara, pada 18 Oktober 2011. Akhir Juli lalu, saat menyerahkan mahar atau mas kawin, KPH Yudanegara tampak malu-malu mengungkapkan mas kawin yang akan diberikan kepada GKR Bendara yang telah menjadi kekasihnya selama empat tahun. 

Yudanegara mengatatakan, mas kawinnya sama seperti pasangan pada umumnya, yakni seperangkat alat shalat. Ia enggan menyebut mas kawin dalam bentuk lain. "Mungkin ada waktunya nanti. Yang jelas bukan sekarang. Pokoknya surprise lah," ujarnya.

Yudanegara mengaku sempat sedikit grogi waktu pertama kali mengungkapkan keseriusannya untuk meminang Jeng Reni, sapaan untuk GKR Bendara, di hadapan Sri Sultan Hamengkubowo X. Wajar saja, pria kelahiran Jakarta itu tak memiliki trah bangsawan keraton.

"Kalau deg-degan itu pasti, Mas, karena Sri Sultan, beliau kan tokoh. Beliau kan orangtua Reni. Kita mengalir saja, tidak ada trik khusus untuk menghadap Ngerso Dalem (Sultan, red). Kebetulan Ngerso Dalem orangnya juga mengalir," kata Yudanegara awal kali menemui Sultan untuk meminta restu meminang Jeng Reni


Perhelatan Royal Wedding Yogyakarta Bisa Jadi Paket Wisata

TERNYATA tak hanya Kerajaan Inggris saja yang bisa menghelat acara royal wedding dan mampu menarik wisatawan untuk melihat pernikahan tersebut. Sebentar lagi, Yogyakarta pun akan menyaksikan royal wedding putri Sultan Hamengku Buwono X.

Royal wedding atau pernikahan keluarga keraton akan digelar pada 18 Oktober nanti, namun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta akan berupaya mengemas pelaksanaan Jogja Java Carnival menjadi satu paket wisata dengan royal wedding.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Yulia Rustiyaningsih di Yogyakarta seperti yang dikutip dari antaranews.com mengatakan waktunya berdekatan, dan karena itu, kami sedang berusaha agar keduanya bisa dikemas dalam satu paket wisata.

“ Jogja Java Carnival 2011 dengan tema "Magniworld" akan berlangsung pada 22 Oktober. Apabila kedua kegiatan tersebut dapat dikemas dalam satu paket wisata, hal itu sangat berpotensi mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang cukup banyak ke Kota Yogyakarta.

Dikatakan, Jogja Java Carnival 2011 merupakan puncak peringatan hari ulang tahun Kota Yogyakarta nanti. Ia memprediksi acara tersebut akan dikunjungi sekitar 25.000 wisatawan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta berharap pada 2011 jumlah wisatawan yang datang bisa tetap dipertahankan atau mungkin lebih banyak.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Ulang Tahun Ke-255 Kota Yogyakarta Ferry Astono menuturkan, kegiatan tahunan tersebut akan digelar untuk keempat kalinya. Ia harap acara berlangsung meriah, apalagi akan ada lomba peserta karnaval.

"Tahun ini, Jogja Java Carnival mengambil tema keajaiban dunia. Kami berharap tema itu semakin meneguhkan bahwa Yogyakarta bisa menjadi rumah seni dunia. Yogyakarta adalah tempat untuk mencurahkan ekspresi seni dan budaya," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto menyebutkan, konsep dalam Jogja Java Carnival 2011 adalah pesta karnaval untuk semua warga. Namun, lanjutnya, roh Yogyakarta sebagai lahan ekspresi seni dan budaya tetap dipertahankan.

"Substansi yang ingin dibangun adalah menjadikan Jogja Java Carnival sebagai puncak dari piramida rumah seni untuk masyarakat Yogyakarta, sekaligus ikon pariwisata dan potensi ekonomi yang besar," ujarnya.
Dijelaskan, Jogja Java Carnival 2011 akan tetap mempertahankan konsep karnaval malam hari. Selain delapan kendaraan yang menampilkan sejumlah bangunan keajaiban dunia, pawai kesenian dari beberapa negara dan daerah di Indonesia juga akan memeriahkan.
Ditambahkannya, akan ada pawai pendukung yang dilakukan kelompok kesenian dari kelurahan-kelurahan di Kota Yogyakarta. Adapun kelompok kesenian dari luar negeri yang menyatakan akan hadir antara lain dari Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan China. [photo istimewa]
 Sumber: Travel info

Jelang 'Royal Wedding' Hotel di Yogya Laris

Acara masih sepekan lagi, tapi 90% kamar hotel berbintang di Malioboro telah direservasi.

Senin, 10 Oktober 2011, 12:25 WIB
Elin Yunita Kristanti

Gusti Raden Ajeng Nur Astuti Wijareni dan Achmad Ubaidillah (Dokumen Keluarga)
VIVAnews -- Pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwana X, GKRj Wijareni atau yang lebih dikenal dengan jeng Reni dengan KPH Yuda Negara atau Achmad Ubaidillah, baru akan digelar satu pekan lagi, tanggal 16 Oktober hingga 19 Oktober mendatang.

Namun, dampaknya sudah mulai kelihatan. Salah satunya, terhadap peningkatan jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Parameternya, dari tingkat hunian hotel pada hari pelaksanaan sudah mencapai 90 persen.

"Menjelang satu pekan pelaksanaan royal wedding ini hampir 90 persen hotel bintang khususnya bintang 3 hingga 5, telah di-booking oleh tamu. Khususnya hotel bintang yang berada di kawasan Malioboro yang tak jauh lokasinya dengan Keraton Yogyakarta," kata Deddy Pranowo Eryono, Ketua Badan Promosi dan Pariwisata Kota Yogyakarta, Senin 10 Oktober 2011.

Hotel berbintang khususnya bintang 3 hingga bintang 5 kebanyakan dipesan tamu undangan dari Sri Sultan HB X. "Ya memang terbanyak adalah tamu undangan dari pihak Keraton Yogyakarta yang memesan hotel bintang di kawasan Malioboro," papar Deddy.
Pesta Karnaval
Selain itu, ada juga wisatawan yang sengaja datang tidak hanya untuk melihat 'royal wedding,' namun juga menyaksikan Jogja Java Carnival. Namun mereka tak banyak yang memesan hotel bintang 3 hingga bintang 5
"Untuk wisatawan yang melihat Jogja Java Carnival lebih banyak menggunakan hotel bintang 2 ke bawah atau menginap di hotel melati," tambah dia.

Deddy berharap, dengan semakin dekatnya hari pernikahan putri Keraton Yogyakarta ini, para pengusaha perhotelan yang berada di luar kawasan Malioboro juga mendapatkan limpahan tamu yang kehabisan kamar hotel yang ada di jantung Kota Yogyakarta.

"Yang jelas para tamu pernikahan puteri Sultan lebih banyak di kawasan Malioboro karena hajatan pernikahan akan berlangsung di Keraton dan Bangsal Kepatihan, Pemprov DIY," kata Deddy. (ren)

Ini Dia Baju Pengantin Putri Sultan untuk Royal Wedding

Jakarta - Putri Sultan Hamengkubowono X Gusti Kanjeng Ratu Bendara akan menikah Selasa (18/10/2011) esok. Baju-baju apa saja yang dipakai dalam sang putri dalam prosesi pernikahannya?

Ada beberapa busana yang dipakai GKR Bendara dan calon suaminya Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara. Busana-busana tersebut dipakai mulai dari Minggu (16/10/2011) sampai Rabu (19/10/2011).

Pada Minggu (16/10/2011) ketika menjalani prosesi nyantri, KPH Haryo memakai Atella, beskap berwarna putih. Sementara calon pengantin wanita di hari yang sama juga menjalani upacara langkahan. GKR Bendara mengenakan kebaya tangkeban.

Kebaya tangkeban ini merupakan warisan model kebaya yang umum dikenakan wanita keturunan kerajaan di masa lalu. Kebaya tersebut mirip kebaya encim hanya saja ada lipatan pada bagian dada. Panjang kebaya itu juga menutup pinggul.

GKR Bendara memesan tiga kebaya tangkeban yang akan dipakai di tiga prosesi utama yaitu sebelum siraman, setelah siraman dan saat upacara tantingan kepada perancang Budi Susanto. Tiga kebaya tangkeban itu memiliki warna berbeda-beda yaitu hijau, emas muda dan emas tua.

Kebaya tangkeban berwarna emas muda dipakai GKR Bendara saat menjalani prosesi siraman Senin (17/10/2011) ini. Sore nanti, wanita yang akrab disapa Jeng Reni itu juga memakai kebaya tangkeban untuk mengikuti prosesi tantingan. Dalam prosesi tersebut Sultan Hamengkubowono X akan bertanya pada putrinya soal kemantapannya menikah.

Di hari-h yaitu Selasa (18/10/2011), KPH Haryo yang akan menjalani akad nikah mengenakan atella putih. Sementara GKR Bendara tidak ikut dalam prosesi akad nikah tersebut.

Kedua mempelai baru dipertemukan dalam prosesi adat panggih. Saat itu pasangan pengantin tersebut akan mengenakan basahan(dodot) yang sudah disiapkan oleh perias pengantin Tienuk Rifki.

Selasa (18/10/2011) malam, kedua mempelai akan menggelar resepsi. Ketika resepsi tersebut GKR Bendara dan KPH Haryo akan menggunakan rias Paes Ageng Jangan Menir dengan kebaya merah marun.

Selain kebaya, busana penting yang juga dikenakan kedua mempelai dalam seluruh prosesi di atas adalah kain atau jarik. Khusus untuk penyedian kain batik tersebut, GKR Hemas, ibunda GKR Bendara, memesan batik tulis dari desainer sekaligus pembatik Afif Syakur.

Menurut Afif, pembuatan batik motif semen rojo itu memerlukan waktu sembilan bulan. Kain tersebut menggunakan warna tunggal biru tua dan berhiaskan prada emas.

"Motifnya memang motif klasik," ujar salah satu humas Royal Wedding Yogyakarta Ronny Guritno saat berbincang dengan wolipop melalui telepon Senin (17/10/2011).

Sedangkan untuk perhiasannya, pengantin putri akan mengenakan perhiasan keramat keraton dalam upacara adat panggih, kirab dan resepsi. Perhiasan tersebut di antaranya cundhuk menthul, pethat gunungan, penthung, subang royok, sangsangan sungsum, gelang kono, dan slepe. Sementara pengantin putra akan menggunakan sumping ron mangkoro, pethat menthul satu, dan karset.

9 comments:

  1. ..kok ndak mirip udanganku waktu nikah ya..?

    ReplyDelete
  2. @ anang: Lha dulu kok nggak merancang seperti itu? Opo mau diulang lagi?

    ReplyDelete
  3. ni pak sugeng ikut dalam acara apa tidak. sayang kalo dilewatkan pak. kalo ga salah pak sugeng dari jogja juga kan. kalo aku cuma liat dari tipi dan internet

    ReplyDelete
  4. Pak...sekrng dah di jogja ya? kapan2 mau sy undang lho.

    ReplyDelete
  5. wihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh panjang benerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr ampe capek bacanya, harusnya pesen baju kawinannya ama gw yak, eh itu seserahannya tas item itu kok bukan hermes yah? harusnya hermes tuh biar sesuatu, hihihihii

    ReplyDelete
  6. cuma bisa bilang waaaaaahhh,,,,Yogyakarta Memang Luar biasa,,,tradisi yg begitu penomenal...

    ReplyDelete
  7. Waww...banyak bangettt Pak ...

    hihihi

    ReplyDelete
  8. heboh juga ya,,, sampai ke forum2 beritanya,,,

    ReplyDelete
  9. kemarin gagal hunting foto kirab acara royal weding..hehe..gara2 rebutan angkringam gratisnyaa..

    ReplyDelete