Senin, 27 Februari 2012

Kemana Bagi Hasil Setoran awal BPIH/ONH?

Tulisan ini didasarkan adanya rencana Menteri Agama RI untuk menaikkan ONH tahun ini. Secara pribadi saya tidak mempermasalahkan kenaikan itu kalau memang komponen biaya haji ada yang naik. Tulisan ini akan mengkritisi jika calon jemaah haji dituntut kewajiban deangan selalu menyesuaikan kenaikan ONH, sementara haknya tidak ditunaikan (atas bagi hasil setoran awal BPIH).

Beberapa tahun yang lalu untuk pergi haji tidak perlu menunggu terlalu lama. Setelah mendaftar dan membayar setoran awal BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) yang dulu masih Rp 20 Juta sudah ada kepastian berangkat satu atau dua tahun lagi dan calon jemaah haji tinggal melunasi kekurangan ONH-nya menjelang keberangkatan haji.

Kondisi di atas sungguh jauh berbeda dengan saat ini. Jika mendaftar dan membayar setoran awal BPIH sebesar Rp 25 Juta pada awal Januari 2012 maka calon jamaah haji di DIY misalnya diperkirakan akan berangkat di tahun 2022 ( berarti 10 tahun dana setoran awal BPIH mengedap). Sedangkan teman saya yang mendaftar dan membayar setoran awal BPIH pada awal Januari 2012 di Klaten diperkirakan akan berangkat di tahun 2021.

Saya tidak tahu bagaimana akad antara Kementerian Agama RI dengan BPS (Bank Penerima Setoran) BPIH apakah akadnya hanya sekedar uang titipan sehingga tidak ada bagi hasil (bank syariah) atau bunga (bank konvensional) atau ada akad lain, yang jelas secara nyata bahwa Bank Penerima Setoran BPIH telah memanfaatkan dana itu untuk diputar dalam bisnis perbankan yang tentu akan menghasilkan. Buktinya ketika Menteri Agama berencana memindahkan dana BPIH dari Bank untuk dialihkan ke Sukuk, ada keberatan dari pihak perbankan.  

Setoran awal BPIH sepanjang belum digunakan untuk keperluan haji dari penyetor adalah masih merupakan hak calon haji. Dengan demikian karena masa tunggu yang panjang seperti kondisi sekarang dana tersebut mengendap di Bank, maka atas bagi hasil dana tersebut sudah seharusnya merupakan hak dari calon haji bukan hak dari Kementerian Agama RI. Kementerian Agama RI mestinya melakukan administrasi  sehingga dana bagi hasil tersebut dapat dipakai untuk mengurangi pembayaran pelunasan BPIH, syukur-syukur kalau memang jumlahnya sudah mencukupi bisa menutup pelunasan BPIH.

Setidak-tidaknya administrasi Kemenag harus dapat melihat Account tiap tiap Calon Jamaah Haji.

Setoran awal BPIH Rp 25.000.000,-
Jika dititipkan di SUKUK sebagaimana pernyataan Menteri Agama dengan bagi hasil 12% per tahun maka dalam jangka waktu masa tunggu (10 tahun akan menghasilkan:
Rp 25 jt. X 12% X 10 tahun    =   Rp 30.000.000,-
Nah jika bagi hasilnya seperti itu apa nggak bisa mengurangi pembayaran pelunasan ONH/BPIH?

Hitungan di atas mungkin agak terlalu fantastis, kalau dipakai hitungan konservatif maka  yang dijadikan acuan adalah Bunga Deposito ( contohnya adalah Deposito Bank Mandiri dengan tingkat suku bunga 5,5% /tahun), maka dalam jangka waktu masa tunggu (10 tahun) akan menghasilkan bunga sebesar
Rp 25 jt. X 5,5% X 10 tahun  =  Rp 13.750.000,-

Hitungan di atas adalah hitungan untuk satu orang, lha kalau hitungan untuk seluruh calon jamaah haji di Indonesia selama bertahun-tahun kan jumlahnya semakin menggelembung. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Busro Mukoddas yang dikutip oleh Detik "Kami berbasis pada menggelembungnya dana BPIH sejumlah Rp 38 triliun dengan bunga Rp 1,7 triliun," ujar Busyro di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Jangan-jangan Kemenag RI menganggap bunga/bagi hasil yang Rp 1,7 trilyun adalah pendapatan dari Kemenag yang penggunaanya menjadi kewenangan mereka. Padahal itu adalah hak para calon jamaah haji yang mestinya menambah nilai setoran yang diperhitungkan pada saat pelunasan BPIH/ONH.

Mudah-mudahan Menteri Agama RI dan aparatnya, KPK dan Para Wakil Rakyat Yang Terhormat di DPR bisa mempertimbangkan hal ini agar para calon jamaah haji mendapat hak-haknya.

Jika asumsi saya di atas salah, silahkan disampaikan di kolom komentar. Matur nuwun

kaos ukuran besar XXXXXL
Kemana Bagi Hasil Setoran awal BPIH/ONH?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

2 komentar