Kamis, 19 Juli 2012

Politik Pencitraan

Saya sebenarnya awam tentang politik, awam tentang pencitraan. Tapi tetap maksain nulis tentang politik pencitraan. Biar kelihatan ilmiah maka saya kutipkan pengertian politik menurut wikipedia: Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional
Sedangkan pengertian  Pencitraan adalah (1) Sebuah usaha untuk menonjolkan citra terbaik di mata publik; (2) Usaha pembuktian keeksisan; (3) Menunjukkan apa yang dirasakan secara sangat berlebihan hingga tidak sesuai lagi. Pencitraan awalnya adalah istilah yang digunakan bagi para politisi yang tiba-tiba jadi banyak berbuat amal menjelang pemilu. Hal ini digunakan untuk memperbaiki citra mereka di mata publik.

Sebagian orang berpendapat bahwa politik pencitraan itu menyesatkan. Misalnya pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro: "Masyarakat saat ini butuh pemimpin yang kembali ke konsep awal demokrasi, yaitu 'dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat'. Dan benar-benar pemimpin yang bisa memimpin, bukan pemimpin berdasarkan iklan maupun uang" ungkapnya pada diskusi "Pemimpin Iklan dan Uang Versus Pemimpin Rakyat" di Rumah Perubahan, Jakarta (Suara Pembaruan).

Sedangkan menurut  ekonom Rizal Ramli yang dimuat di Suara Pembaruan di Jakarta, baru-baru ini. “Jangan tertipu politik pencitraan pemerintah soal inflasi ekonomi. Jangan membaca inflasi nasional, tapi lihat dan amati langsung ke rakyat. Kalau inflasi nasional sekitar tiga persen, itu berarti rakyat sekitar dua kali lipat atau sampai enam persen,” kata mantan Menteri Perekonomian itu.

Ada juga yang berpendapat bahwa politik pencitraan itu tidak bertanggung jawab. Pengamat politik Yudi Latief menyatakan, pengelolaan pemerintahan yang berbasis pada pencitraan adalah basis pemerintahan yang dibangun oleh kategori moral tersendiri, yakni tidak bertanggungjawab.  “Pemerintahan pencitraan tidak akan bertanggungjawab. Atas dasar inilah, kita bisa menilai kebohongan-kebohongan pemerintah,” katanya, saat diskusi Meja Bundar 2011: Tahun Kebenaran, Pertemuan Meja Bundar 100 Tokoh Pergerakan,” di Jakarta (Suara Pembaruan)

Tapi meskipun banyak pakar dan ahli sudah ngasih rambu-rambu, sudah ngasih sinyal-sinyal, sudah ngasih peringatan tetap saja masih banyak orang yang tertipu dengan politik pencitraan. Wajar saja yang merancang politik pencitraan ternyata adalah para ahli politik juga. Jadi di mana mana memang ada hitam ada putih ada politik yang ikhlas ada politik pencitraan.

Penutup:
Sebagai orang awam saya akan mengemukakan ilustrasi politik pencitraan dengan melihat foto di bawah ini:



Apa yang ingin ditampilkan dari foto itu?
1. Kesan bahwa ybs adalah orang yang peduli dengan kebersihan
2. Kesan bahwa ybs adalah orang yang peduli dengan kebersihan tempat ibadah
3. Kesan bahwa ybs  adalah orang yang rajin beribadah
4. dll

Padahal yang sesungguhnya:
Ybs cuma sedang bergaya seolah membersihkan tempat wudhu, sama sekali nggak membersihkan tempat wudhu

Jadi jangan tertipu ya...

kaos ukuran besar XXXXXL
Politik Pencitraan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

11 komentar