Kamis, 01 Agustus 2013

Impase Politik Mesir: Kritik atas Pandangan Coen Husain Pontoh


Oleh: Sapto Waluyo
(Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

[Draf awal artikel ini telah dikirimkan ke jurnal online, Indo Progress, yang dikelola aktivis Kiri. Tapi, belum direspon sampai saat ini. Karena ini, artikel dikemas ulang dengan kerangka tetap sama, agar dapat diakses publik luas.]

Coen Husain Pontoh, mantan tokoh PRD (Partai Rakyat Demokratik) dan Editor IndoProgress, menulis artikel "Masa Depan Politik Mesir"[i]. Substansi gagasan yang diuraikannya sama sekali tak cocok dengan judul terpasang. Bukan masa depan demokrasi di Mesir dengan beragam tantangannya yang diulas, tapi debat perspektif Liberal vs Islamis, konstelasi politik domestik, bahkan kolaborasi militer yang menyembulkan pengkhianatan Ikhwanul Muslimin (IM), seperti dituduhkan Coen. Posisi IM sebagai salah satu aktor politik utama dikuliti habis, hingga visi ekonomi IM diadili tanpa riset memadai.

Tesis tentang masa depan demokrasi di Mesir hanya dibeberkan dalam dua – cuma dua – paragraf terakhir. Sayang sekali, pembaca disodorkan banyak informasi parsial dan logika tak nyambung dengan dinamika faktual di lapangan.

Perspektif Kiri

Artikel Coen mewakili pandangan golongan Kiri yang terkesan lepas tangan atas gejolak politik atau – lebih keren dijuluki -- revolusi rakyat yang telah didorongnya. Aktivis Kiri di Mesir yang tergabung dalam gerakan Tamarrud[ii] (pembangkangan sipil) berperan sentral dalam penjatuhan Presiden Muhammad Mursi. Namun, ketika kudeta militer mengambil alih kuasa, mereka terkejut dan meradang, lalu kini gamang menghadapi situasi yang tak bisa dikendalikan lagi.

Karena itu, sangat aneh bila Coen hanya menyorot perdebatan terbuka antara pendukung liberal vs islamis. Pada kenyataannya, ada kelompok Kiri semisal Egyptians Movement for Change yang memelopori Tamarrud dengan membuat petisi penolakan atas legitimasi Presiden Mursi.

Petisi Tamarrud itu mengklaim telah berhasil mengumpulkan dukungan: 15 juta (10 Juni) atau 22 juta (29 Juni) atau 30 juta (2 Juli) tanda tangan. Entah mana yang benar dan bagaimana proses pengumpulan tanda tangan secepat itu dilakukan, karena bukti kongkritnya tak pernah diperlihatkan ke publik, kecuali 170.000 tanda tangan yang dikirimkan ke Mahkamah Konstitusi. Jika benar Tamarrud mampu mengumpulkan dukungan sebanyak itu, mengapa mereka tidak segera membentuk “Partai Pelopor Revolusioner”? Niscaya tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menandinginya di kotak suara atau di jalanan.

Tamarrud juga menepuk dada telah sukses mengerahkan 17 juta massa di Tahrir Square, dan itu dipercaya oleh para pengagumnya di luar Mesir sebagai demonstrasi terbesar sepanjang sejarah. Tetapi, orang yang pernah datang ke Kairo dan mengunjungi Tahrir Square akan bingung, bagaimana mungkin jutaan orang bisa berkumpul di kawasan yang mirip dengan lapangan Monas Jakarta itu?

Gamal Abdel Nasser memang acap berbagi inspirasi dengan Soekarno, sehingga mereka melontarkan gagasan dan kebijakan yang mirip, salah satunya adalah membangun Tahrir Square dan Medan Merdeka (dengan Monas sebagai simbol) menjadi lanskap utama ibukota Mesir dan Indonesia. Bagi pengamat yang obyektif, Tahrir Square hanya bisa disesaki oleh 300-400 ribu massa. Lebih dari itu, akan jadi neraka kerumunan[iii].

Sementara itu, pendukung Mursi – bukan hanya dari kubu Islamis, tetapi juga National Coalition for Supporting Legitimacy yang bersetuju dengan hasil Pemilu dan supremasi sipil – telah mencatat 11 juta dukungan (pertengahan Juni 2013)[iv]. Ini juga sulit dibuktikan, tetapi bisa dilacak tanda-tandanya dalam demonstrasi massa yang berpusat di lapangan Rabiah el-Adaweyah (Naser City), lalu menyebar Maidan Nahdah, selanjutnya menyemuti pusat kota Ramses Street. Sekujur kota Kairo stop beraktivitas untuk sementara waktu. Bahkan, aksi massa itu mempengaruhi lalu lintas ke kota lain, karena terminal Ramses yang berdekatan dengan Jembatan 6 Oktober jadi urat nadi. Tapi semua berjalan damai, tak ada aksi anarki, kecuali saat preman bayaran dan aparat keamanan memprovokasi. Karena itulah bisa dipahami majalah Time[v]membuat laporan utama “The World Best Protesters”, dengan 7 juta massa di seluruh penjuru kota.

Diskursus revolusi di Mesir pada pada fase penumbangan diktator (2011) maupun fase kudeta (2013) tak mungkin dilepaskan dari peran gerakan Kiri (sosialis-Nasseris), karena itu tak bisa disederhanakan hanya sebagai pertarungan wacana Liberal vs Islamis[vi]. Coen sengaja menyimpan jejak aktivis Kiri agar terselamatkan dari perebutan kekuasaan temporal, sehingga dapat berlindung dalam tesis suci tentang revolusi genuin rakyat. Hal itu tidak berlaku bagi Alaa Abdel Fattah[vii], salah seorang tokoh muda Kiri di balik Revolusi 25 Januari 2011 yang mempopulerkan slogan “Roti, Kebebasan, dan Keadilan Sosial” (Bread, Freedom, Social Justice).

Sebenarnya ada pula peran kelompok independen yang antara lain diwakili figur Wael Ghanem[viii], Marketing Executive Google untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang menginisiasi gerakan “We Are All Khaled Said” lewat facebook. Ada lagi, aktivis perempuan Asmaa Mahfoudz[ix] yang menerbitkan video berani mati sebagai bentuk deklarasi anti-Mubarak di YouTube untuk membakar semangat para demonstran di Tahrir Square. Spektrum ideologi pendukung Revolusi sangat rancak mirip Wikipedia, dalam istilah Ghanem, setiap orang dapat memberikan kontribusi.

Apakah Coen sengaja membatasi bacaan atau menyembunyikan fakta gerakan Kiri (dan beragam kelompok lain) di Mesir? Yang menyedihkan, inisiatif pembangkangan aktivis Kiri telah dimanfaatkan jenderal militer loyalis Mubarak dan memunculkan impase politik baru, kebuntuan yang berujung kekerasan. Sebagaimana pengamat liberal, Zuhairi Misrawi[x], Coen berselebrasi dengan wacana kudeta, seraya melupakan sejarah kelam pemerintahan sipil Salvador Allende yang digulingkan Jenderal Augusto Pinochet (Arief Budiman, 1987).

Menjadi tanggung-jawab intelektual Kiri untuk berterus-terang: apakah mereka bersetuju dengan kudeta militer sebagai bagian dari perlawanan rakyat tak bersenjata? Jika menolak pemerintahan sipil hasil pemilu yang dinilai tak becus menjalankan tuntutan Revolusi, maka haruskah bersepakat dengan pemerintahan boneka yang dikontrol penuh militer dan berniat menjalankan pemilu di masa darurat (agar calon militer maju lagi dalam pemilu dan mendapat legitimasi palsu)? Bagaimana upaya mencerdaskan dan menjaga stamina rakyat proletar untuk mengawal misi Revolusi, jika sebagai intelektual Kiri sudah menentukan distingsi: mana (kelompok) rakyat yang harus dibela, mana (kelompok) rakyat yang harus dikorbankan? Seberapa relevan pandangan humanisme Kiri dalam menimbang nyawa manusia yang bergelora menuntut perubahan?[xi] Darah yang tumpah di Indonesia (1965) atau di Chile (1973) atau di Mesir (2013) adalah darah rakyat, meski berlabel komunis atau sosialis atau islamis.

Konstelasi Politik Rumit

Coen menyebut empat kekuatan yang berpengaruh pasca kejatuhan Mubarak di Mesir, yaitu: militer yang terselamatkan gempuran Revolusi, birokrat antek Mubarak (fulul), IM yang diakui memiliki struktur dan jaringan organisasi luas, dan massa rakyat yang berasal dari berbagai aliran politik dan ideologi campur-aduk. Lalu, di mana posisi kekuatan kiri (sosialis-nasseris)? Rupanya, Coen menisbatkan kelompok Kiri sebagai bagian dari kuasa besar bernama "massa rakyat", padahal real politiknya terbatas. Tiga kelompok pertama dicap Coen sebagai “pemain lama dalam desain politik Mubarak dan secara institusi dan program-program politik adalah yang paling siap dalam proses politik pasca penggulingan”. Sementara kekuatan rakyat, dijelaskan Coen, walaupun moral politiknya besar, tapi secara kelembagaan politik paling lemah karena: tidak punya kepemimpinan politik yang jelas, tidak punya struktur organisasi yang teratur dan luas, serta tidak memiliki program-program politik dan ekonomi alternatif yang solid. Sebuah otokritik yang jujur tentang kelemahan golongan Kiri.

Coen mengkategorikan IM sebagai pemain lama bersama militer dan birokrat fulul, seakan terpisah dari kekuatan rakyat yang secara implisit dipersepsikan sebagai pemain baru. Di sinilah kesalahan persepsi itu bermula, berdasar asumsi bahwa IM tidak terlibat dalam arus Revolusi Januari 2011 menggulingkan rezim Mubarak. Suatu asumsi yang terbangun berlandaskan teks formal dan tidak membaca secara cermat dinamika di lapangan, termasuk di Medan Tahrir pada masa-masa genting kejatuhan Mubarak. Pimpinan IM[xii] memang tidak memberikan pernyataan formal untuk memelopori atau memimpin Revolusi, namun mereka mendukung penuh dan menugaskan kader-kader muda[xiii] untuk memperkuat soliditas aksi dan melindungi peserta aksi dari kalangan perempuan atau kelompok rentan.

Tokoh muda IM, Mohammed Abbas tercatat sebagai salah seorang anggota The Revolutionary Youth Council yang terbentuk di Medan Tahrir dan bertahan selama 18 hari Revolusi. Tokoh senior IM secara bijak mengambil jarak dari Revolusi Kaum Muda Mesir, agar gerakan perlawanan massif itu tidak prematur karena bisa dituding mengusung ideologi radikal Islamis atau dicap sekadar duplikasi Revolusi Islam Iran (1979). Harga yang harus dibayar adalah IM dipersepsikan kontra-revolusioner atau justru menunggangi Revolusi untuk ambisi kekuasaan. Anehnya, tak ada yang menuding hal serupa ketika tokoh liberal semacam Mohammed el-Baradei baru turun ke Medan Tahrir persis di bulan Januari 2011. El-Baradei kini diangkat sebagai Wakil PM dalam pemerintahan sementara, setelah kalah dalam pilpres tahun 2012.

Para aktivis dan wartawan yang terlibat langsung di Medan Tahrir telah mencatat peran tak terbantahkan kader IM dalam melindungi gerakan rakyat dari penyusupan dan provokasi preman atau aparat loyalis Mubarak.[xiv] Tugas lain kader IM ialah mengamankan toko dan apartemen yang ditinggalkan penghuninya karena bergabung dengan aksi di Medan Tahrir, termasuk memasok dan mengatur logistik demonstran. Bahkan, sampai soal kecil kebersihan di Medan Tahrir menjadi perhatian kader IM, disamping penataan waktu dan barisan shalat berjamaah. Konsistensi IM dalam pendisiplinan aksi massa tetap terjaga pada saat atau pasca penjatuhan Mursi dengan mengusung slogan pro-legitimasi dan pro-konstitusi. Demonstrasi Tajarrud yang berpusat di Medan Rabiah al-Adawiyah terlihat rapi dan aman (sehingga digambarkan mirip jamaah haji yang sedang berkumpul di kota suci), sementara demonstrasi di Medan Tahrir yang dimotori Tamarrud merekam pelecehan seksual terhadap sedikitnya 100 perempuan.

Pada momen yang tepat dan diperhitungkan dengan jeli untuk menandai Revolusi 2011, IM menghadirkan tokoh sekaliber Yusuf Qaradhawy untuk memimpin khutbah Jum’at di Medan Tahrir, Tapi, IM tidak mau memonopoli panggung Tahrir, sehingga tokoh seperti el-Baradei dan Amr Mousa yang lebih menguasai panggung, selain Hamdin Sabahi. IM memang pemain lama dalam perpolitikan Mesir, jauh sebelum Mubarak berkuasa, karena sejak berdiri 1928 di kota Ismailiyah, IM menyatakan menaruh perhatian terhadap kondisi negara Mesir (saat masih di bawah kekuasaan Raja Farouk) dan dunia Islam. IM bukan semata gerakan dakwah yang meramaikan masjid dengan zikir, namun memompa semangat perjuangan rakyat. Pendukung utama IM di masa awal terdiri dari kalangan pedagang, pekerja, kuli pelabuhan dan petani kecil plus guru dan dosen (Ishak Musa al-Husaini, 1983). Karena formasi keanggotaan yang beragam itulah, IM menampilkan diri sebagai gerakan populis, meski tak bisa dibilang gerakan proletariat dalam kacamata Kiri. Tapi jelas, IM tak bisa dikategorikan sebagai kelas borjuasi yang tak memiliki basis sosial dan ideologi di akar rumput.

Hasil pemilu legislatif tahun 2011 diperkuat dengan pemilihan presiden 2012 menunjukkan basis IM justru di pedesaan dan kota-kota kecil di luar Kairo. Sangat gamblang tergambar dalam hasil pemilu itu, betapa loyalis Mubarak hanya menguasai kota-kota besar yang dikontrol ketat aparat, sambil berbagi suara dengan partai sosialis dan liberal yang bermain di kalangan menengah. Jika harus dibandingkan, IM di Mesir bak perpaduan Masyumi (dalam hal ideologi) cum PDIP/NU (dalam hal loyalitas pengikut) di Indonesia. Mungkin tak paralel betul, namun siapa dapat memungkiri bahwa IM adalah arus utama gerakan populis di Mesir dan bukan kelompok minoritas pinggiran, apalagi sekadar klub intelektual salon.

Pengkhianatan IM?

Untuk mendukung tesisnya, betapa kudeta militer tak perlu ditangisi, Coen mendalilkan IM mengkhianati Revolusi saat berkolaborasi dengan militer. Pada Februari 2011, Coen menyitir beberapa anggota Dewan Penasehat[xv] IM bertemu dengan Wakil Presiden Jenderal Omar Suleiman. Hasil pertemuan itu, masih menurut Coen, adalah IM sepakat untuk membersihkan Tahrir Square dari para demonstran. Sebagai imbalannya, militer akan membebaskan dua tokoh terkemuka IM dari dalam penjara, yakni Khairat El-Shater dan Hassan Malek. Entah apa kaitannya, Coen menjelaskan, militer kemudian membebaskan Aboud dan Tarek El Zomor yang dipenjara karena tuduhan hendak membunuh Presiden Anwar Sadat. Tak lama kemudian, Tarek al-Bishri dan anggota IM Sobhi Saleh, ditunjuk SCAF untuk mempersiapkan amandemen konstitusi.

Simpulan Coen terlalu jauh menafsirkan interaksi antar kekuatan politik di tengah situasi chaos pasca mundurnya Mubarak. Esam al-Amin[xvi] mencatat, justru militer (SCAF) yang berinisiatif mencari pelindung agar kejahatan politik dan skandal korupsinya selama rezim Mubarak berkuasa tak dituntut kaum revolusioner. Militer memasang tiga target utama sebagai garansi apabila kekuasaan diserahkan kepada pemerintahan sipil. Pertama, mengamankan kekayaan haram para jenderal yang bernilai 25-35 persen dari ekonomi nasional hasil korupsi. Kedua, imunitas dan impunitas dari segala kejahatan politik dan ekonomi yang dilakukan di masa lalu. Ketiga, status istimewa dalam konstitusi yang membolehkan militer mengontrol anggarannya tanpa pengawasan sipili dan memiliki hak veto untuk kebijakan strategis, termasuk hubungan luar negeri dan keputusan untuk menyatakan perang dan damai. Bagaimana mungkin IM dapat memberikan garansi itu semua, sedang legitimasi politik belum di tangan dan pemilu yang bebas masih dalam wacana? Media pro-militer dan loyalis Mubarak telah mendefinisikan setiap peristiwa sesuai dengan kehendak politiknya. Bahkan, media pro-status quo tak segan-segan melakukan manipulasi agar membentuk opini publik. Itulah yang dianggap sebagai fakta.

Sikap kritis tetap dipertahankan kaum Islamis sebagaimana terlihat dalam kritik Tariq Ramadan[xvii], cucu langsung Hassan al-Banna yang kini menetap di Eropa, dalam kondisi revolusi yang kompleks sering terjadi paradoks. Setelah Mursi terpilih sebagai Presiden dan rancangan konstitusi mulai disusun, maka militer menuntut kembali hak prerogatifnya. Konstitusi itu menetapkan 15 anggota Dewan Keamanan Nasional, sesuai dengan jumlah wilayah otonomi militer, mencakup tanggung-jawab untuk masalah vital seperti pernyataan perang dan damai, serta kewenangan peradilan militer untuk memeriksa kasus sipil. Sebuah porsi kuasa yang membuat peran militer lebih menentukan dalam konfigurasi baru politik Mesir, bahkan lebih luas daripada di masa Mubarak, begitu kritik tajam Ramadan.

Pandangan kritis semacam itu sangat diperhatikan penentu kebijakan IM di masa Revolusi, karena itu mereka tidak pernah memberikan konsesi kepada militer untuk menekan aksi demonstran di Tahrir Square. Buktinya, kader muda IM tetap bergabung bersama kaum revolusioner sampai jadwal pemilu ditentukan. Setelah proses pemilu, segenap komponen gerakan IM menyokong fondasi kehidupan demokrasi berbasis konstitusi baru. Sebab, mereka merasakan betul derita rakyat akibat kondisi darurat militer sejak Revolusi 1952. Presiden sementara Adly Mansour dan PM Hazem Beblawi serta Wakil PM el-Baradei tak pernah merasakan sedikitpun derita rakyat. Mereka justru kaum elite borjuasi sejati yang hidup aman dan mewah di tengah penderitaan rakyat. IM menginginkan rakyat Mesir hidup normal sebagaimana negeri demokrasi lainnya. Sikap politik IM itu dapat diteorikan sebagai format baru gerakan Islam pasca Musim Semi Arab, yang mengarah pada gerakan konstitusionalisme. Andai saja, IM mau berkolaborasi dengan militer untuk memenuhi ambisi politiknya, sebagaimana ilusi Coen, maka kedua kekuatan itu akan sukses bersekutu menghabisi lawan-lawan politik lainnya. Tak ada yang mampu menandingi kedua aktor utama itu seandainya bersatu, meskipun kekuatan lain didukung Amerika Serikat dan Israel serta didanai Negara-negara Teluk sekalipun.

Tapi, IM menolak berselingkuh dengan militer. Mereka konsisten untuk memenuhi misi Revolusi: mengakhiri rezim darurat militer dan membentuk pemerintahan sipil yang kokoh. Untuk itu, IM menyetujui pembentukan partai politik (Freedom and Justice Party), sebagaimana kekuatan lain bebas melakukan hal serupa. Tatkala FPJ menang pemilu dan Mursi mendapat amanah kursi Presiden, Muhammad Badie selaku Ketua Umum IM menyatakan secara terbuka: “Rakyat Mesir telah menentukan pemimpinnya yang baru. Saya tunduk kepada perintah Presiden yang dipilih oleh rakyat.”[xviii] Tak ada dualisme kepemimpinan bagi rakyat Mesir.

Fakta tak terbantahkan, Presiden Mursi kemudian memensiunkan dini dua Jenderal paling berpengaruh dalam militer, yakni Hussein Tantawi (Panglima Angkatan Bersenjata Mesir yang berkuasa sejak 1991) dan Sami Anan (Kepala Staf Angkatan Bersenjata sejak 2005). Tak hanya itu, Mursi juga membebas-tugaskan 70 perwira militer dan menugaskan perwira baru yang lebih berintegritas. Hal itu bagian dari upaya reformasi di tubuh militer. Sebelumnya pada Juli 2011 telah dilakukan pemecatan terhadap 600 perwira polisi yang terlibat dalam penyerangan terhadap demonstran di Tahrir Square. Mantan tentara dan polisi inilah yang berkolaborasi dengan preman bayaran menimbulkan instabilitas baru.

Mursi sempat menumbuhkan kebanggaan baru di tubuh militer saat berhasil merebut wilayah Sinai dari tangan Israel dan sukses menggelar gencatan senjata Palestina-Israel serta mengakhiri blokade Gaza. Tak ada nuansa kolaborasi, apalagi pengkhianatan IM dalam konteks itu, secara terang-terangan atau sembunyi. Suatu perkara yang luput dilakukan Mursi: reformasi di tubuh Kepolisian dan Dinas Intelijen (Mukhabarat) yang selama ini membatasi gerak bebas rakyat. Selain itu juga, institusi Kejaksaan dan Kehakiman masih dipenuhi pendukung rezim lama, sehingga mereka dapat memproses dakwaan yang tak masuk akal kepada kaum sipil.

Tudingan Coen melompat ke kebijakan ekonomi Mursi yang dicap neoliberal seperti model Erdoganomic di Turki. Apa yang bisa dilakukan seorang Presiden di masa transisi, ketika tuntutan rakyat begitu tinggi dan tekanan asing demikian dahsyat? Tatkala cadangan devisa merosot drastik, inflasi menjulang dan angka kemiskinan serta pengangguran ikut terkerek; sebuah langkah darurat harus dilakukan. Menurut Strategic Analysis[xix], cadangan devisa Mesir menciut dari $13,5 milyar (2010) tinggal $4,8 milyar (2012). Angka pengangguran meningkat dari 12,06 persen (2011) menjadi 12,31 persen (2012). Begitu pula angka kemiskinan sangat tinggi (40 persen).

Suasana yang dihadapi Mursi boleh jadi mirip dengan tekanan yang dihadapi Presiden B.J. Habibie (1998-1999) di Indonesia. Karena itu, Mursi menempuh langkah drastik mengurangi impor gandum, seraya mengoptimalkan anggaran negara untuk subsidi pertanian agar kebutuhan pokok (roti) terpenuhi. Di era Mubarak produksi gandum domestik dibatasi maksimal 20 persen, sekarang sudah melampaui 60 persen. Dulu Mesir harus mengimpor gandum sepenuhnya dari AS, sekarang Mursi mengimpor dari negara yang lebih bersahabat demi menghemat belanja negara, sambil meningkatkan pendapatan petani lokal. Mursi juga membebaskan hutang produktif 40.000 petani marjinal yang memiliki hutang di bawah 10.000 pounds (Rp 30 Juta), sehingga mereka bisa bernafas lega dan memulai hidup baru. Itu semacam bail out untuk rakyat kecil.

Kesalahan Mursi yang dibesar-besarkan kelompok kiri adalah menerima pinjaman IMF sebesar $4,8 milyar. Hal itu yang membakar emosi gerakan Tamarrud, bahkan Mursi digembar-gemborkan sebagai antek AS hanya karena alumni Universitas California (1982). Padahal, pinjaman IMF itu untuk memperkuat cadangan devisa, sedangkan pihak yang paling beruntung dapat pinjaman AS selama ini adalah militer Mesir, tiap tahun dapat $1,3 miliar atau 70 persen dari total anggaran militernya (Global Research, 27 Juli 2013). Di luar IMF, Mursi juga mendapat bantuan Qatar senilai $8 milyar dan pinjaman lunak dari Turki sebesar $2 milyar. Investasi memang sulit datang di tengah krisis politik, tapi kunjungan Mursi ke China (Agustus 2012) menghasilkan perjanjian investasi senilai $4,9 milyar. Bersama investor Korea, Mursi merintis pembangunan pabrik Samsung terbesar di kawasan Arab, di provinsi Bani Suweif, agar barang elektronik terjangkau masyarakat. Pembangunan pabrik otomotif nasional, komputer, hingga peralatan militer sudah masuk dalam program kabinet Mursi. Yang paling memukul Negara-negara Teluk penyokong kudeta adalah kebijakan Mursi merevitalisasi Terusan Suez, sehingga dalam satu tahun ditargetkan meningkatkan devisa hingga $100 milyar dari semula hanya $5,6 milyar. Hal itu tentu akan menekan ekonomi Uni Emirat dan Kuwait yang bersandar pada pelabuhan internasional. Terang sekali, nasionalisme ekonomi yang coba dimunculkan Mursi.
Jika Coen masih berpikir Mursi menjalankan kebijakan neoliberal sebagaimana Erdogan, maka Coen harus membaca ulang referensi yang digunakannya[xx].

Kiri Romantik

Sikap intelektual kiri yang membiarkan kudeta militer tanpa kritik, bahkan melakukan selebrasi, telah menciderai aspirasi gerakan rakyat yang murni. Dalam bahasa Khaled Abou el-Fadl[xxi], justru intelegensia sekular yang terang-terangan melakukan pengkhianatan terhadap cita-cita Revolusi dan demokrasi. Romantisme yang mengorbankan akal sehat dan nurani universal. Sebagian di antara aktivis Kiri ada yang menjual ayat-ayat Revolusi demi kekuasaan atau kemewahan.

Kaum Islamis dengan segala catatan plus-minus atas gebrakan politiknya di Mesir, telah membuktikan bahwa mereka lebih siap untuk menghadapi ajang demokrasi (Pemilu dan Referendum). Lebih dari itu, mereka juga siap untuk berpolitik secara elegan (nir-kekerasan) di jalanan dengan aksi massa yang tak pernah terbayangkan (unthinkable) sebelumnya. Bukan semata mempertahankan kekuasaan, tapi menegakkan konstitusi dan meraih legitimasi publik otentik.

Sementara tokoh Kiri semacam Coen (yang melanjutkan studi ke City University of New York pasca bubarnya PRD) berlindung di balik tesis Rosa Luxemburg atau Leon Trotsky, tapi kehilangan elan revolusionernya. Sebab, mereka tak dapat lagi merasakan harumnya gas air mata dan wanginya darah yang tumpah ditembus peluru aparat, saat asyik berdiskusi di kafe atau gedung berpendingin udara. []


________________________________________
[i] Coen Husain Pontoh, “Masa Depan Demokrasi Mesir”, http://indoprogress.com/masa-depan-demokrasi-mesir/, diakses 19 Juli 2013.
[ii] Sapto Waluyo, “Tamarrud vs Tajarrud”, Republika, 11 Juli 2013, h. 6.
[iii] Noah Shachtman, How Many People Are in Tahrir Square? Here’s How to Tell, www.wired.com/dangerroom/2011/02/how-many-people-are-in-tahrir-square-heres-how-to-tell/, diakses 21 Juli 2013.
[iv] Al-Sharq Al-Awsat, Egypt Braces for June 30 Protests, http://www.aawsat.net/2013/06/article55307786, diunduh 23 Juli 2013
[v] Time, Egypt: The Street Rules, 22 Juli 2013, h. 18-25.
[vi] Kekeliruan serupa juga terlihat dalam opini Ikhwanul Kiram di Republika, Islam Versus Liberal Sekuler, http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/12/12/23/mfhk6f-islam-versus-liberalsekuler, diunduh 24 Juli 2013.
[vii] Alaa Abdel Fattah adalah seorang blogger yang mencetuskan slogan Revolusi. Ia pembaca buku Sayid Qutb, yang salah satunya membahas “Keadilan Sosial dalam Islam” (Al Adalah al-Ijtimaiyah fil Islam). The Guardian, 2 November 2011, Egyptian activist Alaa Abd El Fattah accuses army of hijacking revolution,http://www.guardian.co.uk/world/2011/nov/02/egyptian-activist-alaa-accuses-army, diunduh 24 Juli 2013.
[viii] Nancy Scola, Ghonim: "Our Revolution Is Like Wikipedia", 14 Februari 2011, http://techpresident.com/blog-entry/ghonim-our-revolution-wikipedia, diakses 24 Juli 2013.
[ix] Democracy Now!, Asmaa Mahfouz & the YouTube Video that Helped Spark the Egyptian Uprising, http://www.democracynow.org/2011/2/8/asmaa_mahfouz_the_youtube_video_that, diunduh 24 Juli 2013.
[x] Zuhairi Misrawi, “Ikhwanul Muslimin Tumbang” dalam Kompas, 5 Juli 2013, h. 6.
[xi] Gelombang demonstran pro-Legitimasi telah merasakan tragedi pasca kudeta: penyerangan Jum’at (5/7) menyebabkan 47 tewas, pembantaian subuh (8/7) menewaskan 51 jamaah di Masjid Rabiah al Adawiyah, dan penyerangan preman bayaran di Manshurah (19/7) menewaskan 4 perempuan demonstran.
[xii] Jonathan D. Halevi, the Jerusalem Center for Public Affairs, Intelligence Document Reveals Muslim Brotherhood Role in Egyptian Revolution, http://jcpa.org/intelligence-document-reveals-muslim-brotherhood-role-in-egyptian-revolution/#sthash.oFSkJGL7.dpuf, diunduh 24 Juli 2013.
[xiii] Global Post, Inside the Muslim Brotherhood: Part 1, www.globalpost.com/dispacth/egypt/110220/inside-the-muslim-brotherhood#1, diakses 22 Juli 2013.
[xiv] Al Youm al Sab’aa, No. 120, “Protesters in Bloody Wednesday clashes in Cairo’s Tahrir Square would have been slain but for the fact that young Muslim Brothers defended them”, 15 Februari 2011.
[xv] Suatu bukti Coen tak menguasasi betul struktur organisasi IM. Maktab al-Irsyad bukanlah “Dewan Penasehat”, tapi Pengurus Pusat IM. Istilah Mursyid Aam, sebagai konsekuensinya, juga bukan “Ketua Dewan Penasehat”, tapi Ketua Umum. IM memang kerap menggunakan nomenklatur sufi sebagai identitas organisasinya.
[xvi] Esam al-Amin, The Calculus of Egypt’s Presidential Race, International Policy Digest, http://www.internationalpolicydigest.org/2012/04/23/the-calculus-of-egypts-presidential-race/, diunggah 22 Juli 2013.
[xvii] Tariq Ramadan, Mohammad Morsy's dangerous game: The unfolding paradox in Egypt, http://www.abc.net.au/religion/articles/2012/12/13/3654018.htm, diunduh 22 Juli 2013.
[xviii] Al-Masry Al-Youm, 25 Juni 2012.
[xix] Strategic Analysis, Middle East and North Africa Oil and Gas Sector Risks and Forecasts Report, The Henry Jackson Society, Juni 2013.
[xx] Telaah tentang sistem ekonomi yang ditawarkan IM dapat disimak “Visi Peradaban Komprehensif Al-Ikhwan Al-Muslimun”, Jakarta: Maktaba Syameela, 2009. Sementara, untuk meneliti kebijakan ekonomi Erdogan, lihat Ahmad Dzakirin, Kebangkitan Pos-Islamisme: Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu, Solo: Era Adicitra Intermedia, 2012.
[xxi] Khaled Abou El Fadl, The collapse of legitimacy How Egypts secular intelligentsia betrayed the revolution, http://www.abc.net.au/religion/articles/2013/07/11/3800817.htm, diakses 24 Juli 2013.

Selasa, 30 Juli 2013

Konteks Indonesia dari Enigma Demokrasi di Mesir

29 Jul 2013 13:14:46| Suara Publik | Penulis : Sapto Waluyo (*)

Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Mesir pasca-kudeta militer pada awal Juli 2013. Lebih dari 100 orang tewas dan 4.500 luka-luka, saat pendukung pro-legitimasi berkumpul di lapangan Masjid Rabiah al-Adawiyah, Naser City (Kompas, 28/7).

Yang mengerikan sebagian besar mereka tertembak peluru aparat di bagian kepala atau dada. Penembakan terjadi justru di tengah malam hingga pagi hari, saat pendemo sedang melakukan shalat tarawih dan mempersiapkan sahur.

Tragedi itu melengkapi pembantaian yang dilakukan di depan markas Garda Republik, tempat penahanan Presiden Muhammad Mursi. Sedikitnya 56 tewas dan lebih dari 700 luka-luka (BBC, 8/7). Dinamika politik Mesir mengalami setback, dari fajar demokrasi kembali ke malam gelap otoriterianisme baru.

Dalam konteks Indonesia yang masih mengalami transisi panjang sejak reformasi 1998, tragedi Mesir memberi pelajaran berharga. Perluasan demokratisasi dan pembentukan pemerintahan sipil yang kuat adalah agenda penting abad 21 (Oxford Manifesto, 1997).

Karena itu, perlu jeli ketika menyorot dinamika politik di suatu negara. Komentator emosional justru meruntuhkan argumentasi paling mendasar, bahwa kedaulatan sungguh-sungguh di tangan rakyat.

Komentar aneh antara lain dilontarkan Zuhairi Misrawi, analis politik Timur Tengah lewat akun twitternya. Politisi muda yang mengaku memperjuangkan prinsip demokrasi itu menilai, "Ikhwanul Muslimin ingin mengesankan kepada dunia senagai 'korban'. Padahal, mereka telah memprovokasi militer untuk melakukan tindakan biadab. Jika IM tidak melawan militer, maka tragedi berdarah itu tidak akan terjadi. Jadi kesalahan tidak sepenuhnya pada militer." (@zuhairimisrawi, 28/7)

Betapa naifnya pandangan Zuhairi, seakan IM menghargai nyawa rakyat begitu murah demi mencapai citra politik yang dibayangkannya.

Padahal, pimpinan IM tegas menyatakan, bahwa mereka memperjuangkan pemulihan legitimasi pemerintahan sipil berdasarkan konstitusi yang telah disetujui mayoritas rakyat dalam referendum 2012. IM tidak bergerak sendiri, tapi bersama kekuatan lain lintas-ideologi yang bernaung di bawah "National Coalition to Support Legitimacy".

Lebih jauh Zuhairi menuding, "IM juga pegang senjata dan bom bunuh diri. Ini yang menyebabkan militer harus mengambil tindakan keras. Puluhan militer dan rakyat Mesir ditembak dan dibom oleh IM dalam dua pekan ini. Mesir menuju perang saudara," (@zuhairimisrawi, 27/7).

Zuhairi menolak istilah pembantaian karena media Mesir yang dikutipnya menyebut "isytibakat" (bentrok).

Tudingan Zuhairi sungguh tak berdasar, karena insiden bentrok bersenjata terjadi di kawasan Sinai, kota el-Arish atau Rafah, yang memang selama ini dikuasai milisi bersenjata tak dikenal. Mereka tak ada hubungan organisatoris dengan IM. Bahkan, ada dugaan faksi militer Mesir yang selama ini membina, meski tak sepenuhnya bisa mengendalikan. Insiden itu justru memperlihatkan salah satu dampak kudeta adalah kerawanan di daerah perbatasan.


Problematika Demokrasi

Demokrasi menyisakan persoalan klasik, rakyat mana semestinya yang berdaulat? Rakyat yang ikut pemilihan umum (apapun pilihan politiknya) ataukah rakyat yang tak memilih alias Golput (apapun alasannya)?

Apakah rakyat yang mengeluarkan mosi tidak percaya lewat petisi atau turun ke jalan sama nilainya dengan rakyat yang datang ke bilik suara?

Pertarungan di kotak suara jelas lebih terukur untuk menentukan siapa pemenang dan siapa yang berhak memerintah. Tetapi, jika dua kubu demonstran sedang berhadapan, maka suara siapakah yang paling menentukan?

Dalam pemilu sekurangnya ada KPU selaku penyelenggara dan MK sebagai wasit, sedangkan adu kekuatan massa tak jelas siapa menjadi penengah. Itulah enigma demokrasi, misteri yang sulit dicerna.

Dalam kerangka problematik itu, simpulan Zuhairi tentang pergantian rezim di Mesir amat mencengangkan. Sebagai tokoh muda yang kencang menyuarakan demokrasi justru merayakan kudeta militer lewat artikel provokatif,

"Ikhwanul Muslimin Tumbang*" (Kompas, 5/7). Bukan kebetulan, Kompas pada hari sama menulis berita utama, "Demokrasi Tumbang di Mesir". Bukankah itu bermakna IM pendukung utama demokrasi di negeri piramida dan, "mafhum mukhalafah"-nya, kelompok yang menjatuhkan Mursi adalah anti-demokrasi?

Zuhairi menyatakan Mursi hanya mementingkan kelompoknya sendiri dan memonopoli jabatan politik dan kantong ekonomi. Faktanya, Mursi yang mengangkat Menhan Abdul Fattah al-Sisi (menggantikan Marsekal Hussein Tanthawi, orang kuat Husni Mubarak) dan Ketua MK Adly Mansour (hakim agama yang sempat menjadi Wakil Ketua MA). Jika tidak dipromosikan Mursi, maka kedua tokoh itu tak akan tercatat dalam sejarah Mesir modern. Bukti lain, lima menteri dalam kabinet Mursi menyatakan mundur saat militer mengultimatum. Berarti mereka bukan loyalis Mursi atau IM.

Lalu, kelompok oposisi ingin jatah kekuasaan apa lagi?

Mengakhiri Darurat Militer

Tindakan drastik yang dilakukan Mursi dalam 100 hari pemerintahannya adalah mempercepat pensiun 70 jenderal loyalis Mubarak bersamaan dengan pencopotan Hussein Thantawi dan Sami Annan dari posisi Panglima dan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata.

Entah hal itukah yang dimaksud Zuhairi sebagai monopoli, padahal Mursi kemudian mengangkat perwira muda untuk mulai gerakan reformasi militer Mesir. Selain itu, sesuai konstitusi, Presiden Mursi berhak mengangkat Gubernur baru. Dari 27 posisi Gubernur, cuma 5 yang berafiliasi partai, selebihnya kaum profesional.

Figur baru yang menyulut kontroversi global adalah Gubernur Luxor yang dituduh tokoh Jamaah Islamiyah dan diduga terlibat dalam insiden penembakan turis asing di kota wisata itu pada 1997. Tuduhan itu tidak didukung oleh bukti peradilan dan semua orang tahu Jamaah Islamiyah telah berubah fundamental, menempuh jalur demokrasi-damai dan menjauhi cara kekerasan.

Kudeta militer saat ini justru dapat membangkitkan kembali bibit kekerasan yang coba dinetralisir di Mesir dalam satu dekada terakhir. Jika tokoh oposisi merasa diri mampu menjadi Gubernur, mereka dapat mengajukan nama dan ikut seleksi, bukan mendukung kudeta.

Sebenarnya Mursi telah melakukan gebrakan berupa mobilisasi militer Mesir menguasai kembali Gurun Sinai yang di masa Mubarak lepas ke tangan Israel. Hampir 70 persen lalulintas udara dan darat Mesir dulu dikuasai Israel.

Politik cerdas Mursi dicermati betul PM Israel Benyamin Netanyahu yang mengatakan, "Sikap Mursi jauh lebih berbahaya daripada nuklir Iran'. Sementara itu pemerintah AS memuji inisiatif Mursi memfasilitasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel, hingga terbukanya perbatasan Rafah mengakhiri blokade Jalur Gaza.

Militer Mesir memang "the real actor" dalam politik nasional, namun kini semua prajurit di bawah komando Panglima Tertinggi (Presiden).

Berdasarkan konstitusi baru, tak ada lagi kekuasaan Dewan Tinggi Militer (SCAF) yang tak terbatas. Dulu SCAF punya otoritas untuk membubarkan parlemen, membekukan partai hingga menangkap tokoh sipil tanpa proses peradilan.

Mursi mengakhiri kezaliman itu lewat Dekrit yang membuka jalan bagi penetapan konstitusi. Demi menghilangkan ketergantungan atas bantuan militer AS, Mursi berinteraksi dengan Rusia dan Jerman. Hasilnya, dalam dua bulan saja telah dikirim dua kapal selam tercanggih dari Jerman, walau
diprotes keras Israel.


Prioritas ekonomi

Alasan lain kudeta militer disebut Zuhairi karena Mursi mengabaikan pemulihan ekonomi, malah lebih sibuk mengutak-atik konstitusi yang bernuansa syariah. Benarkah?

Mursi mewarisi kondisi ekonomi terburuk dalam sejarah Mesir yang ditinggalkan Mubarak. Hutang luar negeri menumpuk, defisit anggaran mengancam.

Menurut "Strategic Analysis" (The Henry Jackson Society, 2013), cadangan devisa Mesir menciut dari 13,5 miliar dolar AS (2010) tinggal 4,8 miliar dolar AS. (2012).

Tahun 2008, ekonomi Mesir masih tumbuh 7,2 persen. Kemudian turun jadi 4,7 persen (2009), 5 persen (2011), dan naik sedikit 5,5 persen (2012). Akibat eskalasi politik yang digoyang terus oposisi, pertumbuhan ekonomi Mesir kini terpuruk 2,2 persen (awal 2013). Angka inflasi 2012 (7,3
persen) uniknya lebih rendah dari 2011 (11,8 persen).

Karena itu harga sembako relatif stabil, hanya BBM melonjak. Angka pengangguran meningkat
dari 12,06 persen (2011) menjadi 12,31 persen (2012). Begitu pula angka kemiskinan masih tinggi (40 persen).

Tak seorangpun sanggup melakukan keajaiban dalam waktu satu tahun, namun kebijakan ekonomi Mursi jelas-tegas memprioritaskan kecukupan pangan. Di era Mubarak produksi gandum domestik dibatasi maksimal 20 persen, sekarang sudah melampaui 60 persen. Dulu Mesir harus mengimpor gandung ke AS, sedang Mursi mengimpor dari negara yang lebih bersahabat demi menghemat belanja negara, sambil meningkatkan pendapatan petani lokal.

Sebagai bukti komitmen pro-kesejahteraan, Mursi menghapus hutang 40.000 petani yang memiliki pinjaman di bawah 10.000 pounds (Rp 30 Juta). "Bail out" untuk rakyat kecil.

Investasi memang sulit datang di tengah krisis politik, tapi kunjungan Mursi ke China (Agustus 2012) menghasilkan perjanjian investasi senilai 4,9 miliar dolar AS. Bersama investor Korea, Mursi merintis pembangunan pabrik Samsung terbesar di kawasan Arab, di Provinsi Bani Suwef, agar barang elektronik terjangkau masyarakat.

Pembangunan pabrik otomotif nasional, komputer, hingga peralatan militer sudah masuk dalam program kabinet Mursi. Semua rencana itu kini hancur.

Yang paling membuat gerah sebagian kaum liberal mungkin pengaturan penjualan "khamar" (minuman keras), meski hal itu sama sekali tidak mengganggu sektor pariwisata.

Ada lagi, pergantian Direksi yang mengelola Pelabuhan Suez yang di era Mubarak menghasilkan pemasukan sebanyak 5,6 miliar dolar AS per tahun. Mursi menargetkan Suez sebagai hub ekonomi global dengan penghasilan meningkat 100 miliar dolar AS per tahun. Revitalisasi Suez mengancam perdagangan di Dubai dan Kuwait, karena itu negara Teluk mendukung kudeta.

Konstitusi Islam?

Isu menyesatkan seputar konstitusi baru disebut Misrawi sebagai "konstitusi prematur" dan dituding meminggirkan hak kaum perempuan dan kelompok minoritas. Bila kita cermati lebih teliti konstitusi baru itu justru mengakui hak kaum perempuan dan minoritas yang tak pernah disebut
sekalimat pun dalam konstitusi lama produk militer.

Sangat aneh, apakah Zuhairi betul-betul membaca naskah Konstitusi 2012 atau sekadar mengutip
pendapat komentator Arab? Bandingkan konstitusi itu dengan Dekrit 33 pasal yang dikeluarkan rezim boneka Adly Mansour, sangat kontradiktif.

Konstitusi baru Mesir disetujui mayoritas rakyat (71 persen) dalam referendum 2012 menegaskan berakhirnya kondisi darurat militer selama lima dekade, digantikan sistem presidensialisme yang dipilih untuk masa 4 tahun.

Pembatasan masa jabatan Presiden itu dinyatakan dalam pasal 133, sehingga tak ada lagi presiden yang berkuasa sesukanya. Pergantian pemerintahan dilakukan melalui Pemilu, bukan kudeta.

Secara khusus pasal 232 konstitusi baru Mesir mengisolasi petinggi Partai Nasional Demokrat (yang berkuasa di era Mubarak) selama 10 tahun. Klausul itu mirip dengan kebijakan Vaclav Havel ketika menjabat Presiden Ceko di masa transisi (1993-2003). Apakah konstitusi macam itu yang dikritisi Zuhairi dan lebih menyukai Dekrit darurat?

Akan halnya klausul terkait syariahi Islam disebut dalam pasal pertama bahwa Mesir adalah "negara sipil" (bukan teokrasi) yang berdasarkan ajaran Islam Sunni. Dalam penjelasannya dinyatakan, posisi penting Al Azhar sebagai rujukan untuk merancang regulasi terkait warga Muslim. Jadi, tak ada yang disebut islamisasi konstitusi, karena ketentuan itu mirip dengan konstitusi di negara lain (seperti Malaysia yang menetapkan Islam sebagai agama negara dan Melayu jadi bahasa resmi).

Zuhairi begitu sengit mengecam "ikhwanisasi Mesir" -- sebuah istilah yang absurd, karena tak ada dalam dokumen organisasi IM atau "Freedom and Justice Party" sebagai sayap politik, apalagi kebijakan resmi Presiden Mursi.

Zuhairi lupa sikap terbuka Muhammad Badie (Mursyid Aam IM) yang pada hari terpilihnya Mursi dalam Pilpres putaran kedua menandaskan: "Hari ini rakyat Mesir memilih pemimpin baru. Saya, tak terkecuali, sebagai warga negara Mesir tunduk kepada kepemimpinan baru yang dipilih rakyat." Sejak itu, Mursi melepaskan tugas sebagai pimpinan FJP dan Maktab Irsyad IM (Ikhwan Web, 30 Juni 2012).

Ironisnya, Zuhairi kehilangan kritisisme tatkala menyinggung aksi kelompok Tamarrud (pembangkang), padahal itu mirip gejala awal Talibanisme. Kelompok yang tidak puas dengan pemerintahan sah, malah berkolaborasi dengan unsur militer menempuh jalan ilegal. Akan
halnya, pengaruh asing dalam kejatuhan Mursi cukup disimak kritik keras dari Dr. Aidh
al-Qarni, dai yang disegani di Timur Tengah, atas dukungan Kerajaan Saudi dan Emirat Arab untuk aksi militer.

Demokrasi sebagai sistem politik modern mengandung janji dan misteri. Ada faktor substansi (kedaulatan rakyat), ada pula aspek prosedur (penyelenggara, peserta dan pengawas pemilu serta pemutus perkara jika terjadi sengketa).

Daulat individu akan berbaur dengan legitimasi kolektif. Prinsip "one man, one vote, one value" tidak membedakan seorang jenderal yang memimpin pasukan besar, seorang pengusaha yang memiliki aset dan pegawai melimpah, seorang ulama/pendeta yang memimpin lembaga berpengaruh, dengan rakyat jelata (penjual martabak atau kopi di pinggir kota Kairo), semua punya hak/kewajiban sama.

Para jenderal, konglomerat dan sebagian ulama itu mendukung kudeta dan membatalkan putusan rakyat dalam kotak suara.

Demokrasi mempersilakan mantan loyalis rezim masa lalu untuk bertarung memperebutkan suara setelah masa "iddah" politik, asalkan mereka terbukti tidak melanggar hukum/HAM. Demokrasi juga memberi peluang bagi pihak yang kalah dalam pemilu untuk beroposisi dan berdemonstrasi. Tapi, demokrat sejati tak membiarkan militer merampas legitimasi demi membentuk rezim boneka.

Sejumlah aktivis dan tokoh independen hadir dalam demonstrasi pro-legitimasi pasca-kudeta, karena mereka percaya konstitusi 2012 dan kebebasan sipil merupakan keniscayaan. Mereka terkejut dengan sikap Presiden interim Adly Mansour yang memberangus kebebasan, menangkap politisi tanpa peradilan, membredel media independen. Bahkan, Menhan Abdel Fattah el-Sisi yang jelas lebih berkuasa dari Presiden Adly, secara terbuka memobilisasi demonstran dan menembaki rakyat sendiri.

Jika rakyat Mesir telah memilih perubahan fundamental untuk mengakhiri dominasi militer, mengapa kaum demokrat dan liberal di negeri ini (termasuk Zuhairi) masih menyangsikannya. Padahal, Mesir adalah negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI tahun 1945 dan tokoh IM menjadi pelopor pembentukan Front Pembela Kemerdekaan Indonesia.

Jauh sebelum Zuhairi lahir, kaum Islamis telah menunjukkan komitmen dan kontribusinya untuk pembebasan negeri terjajah. Pengorbanan yang disaksikan dunia saat ini demi tegaknya legitimasi pemerintahan sipil hasil demokrasi yang beradab. (*)
------------
* Direktur Eksekutif "Center for Indonesia Reform" (CIR), alumni Hubungan Internasional Fisip Universitas Airlangga (Unair) dan S-2 S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU) Singapura.



Rabu, 24 Juli 2013

Seorang BiJak Ditanya

Seorang BiJak Ditanya



Musyafa Ahmad Rahim, LcUst. Musyaffa Ahmad Rahim, LC
dakwatuna.com

سُـئِــل حَـكِـيْـــمٌ

Seorang bijak ditanya:


سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَنْ أَسْوَأُ النَّاسِ حَالاً

1. Siapakah manusia yang kondisinya paling buruk?
قَالَ : مَنْ قَوِيَتْ شَهْوَتُهُ .. وَبَعُدَتْ هِمَّتُهُ.. وَقَصُرَتْ حَيَاتُهُ .. وَضَاقَتْ بَصِيْرَتُهُ
Ia menjawab: Seseorang yang kuat syahwatnya, jauh cita-citanya, pendek hidupnya dan sempit bashirah-nya (mata hatinya)

سُئِلَ حَكِيْمٌ : بِمَ يَنْتَقِمُ اْلإِنْسَانُ مِنْ عَدُوِّهِ…..؟
 2. Dengan apa seorang manusia membalas dendam kepada musuhnya?
فَقَالَ : بِإِصْلاَحِ نَفْسِهِ
Ia menjawab: dengan memperbaiki dirinya

سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَا السَّخَاءُ …… ؟
 3. Apa itu sifat dermawan?
فَقَالَ : أَنْ تَكُوْنَ بِمَالِكَ مُتَبَرِّعاً، وَمِنْ مَالِ غَيْرِكَ مُتَوَرِّعاً
Ia menjawab: Hendaklah engkau menyumbangkan hartamu dan wara’ dari harta yang bukan milikmu

سُئِلَ حَكِيْمٌ : كَيْفَ أَعْرِفُ صَدِيْقِيْ اَلْمُخْلِصَ …..؟
4. Bagaimana aku tahu mana teman yang tulus ikhlas?
فَقَالَ : اِمْنَعْهُ .. وَاطْلُبْهُ..فَإِنْ أَعْطَاكَ ..فَذَاكَ هُوَ ,..وَإِنْ مَنَعَكَ..فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ!
Ia menjawab: Kalau dia memintamu, jangan dikasih, dan mintalah sesuatu darinya, jika ia tetap memberi, itulah dia teman sejati, dan jika ia tidak memberinya, maka, cukuplah Allah sebagai tempat meminta pertolongan

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ :مَاذَا تَشْتَهِيْ …..؟
 5. Apa yang menjadi kesenanganmu?
فَقَالَ : عَافِيَةَ يَوْمٍ !
Ia menjawab, sehari saja saya selamat dan aman!
فَقِيْلَ لَهُ : أَلَسْتَ فِي الْعَافِيَةِ سَائِرَ اْلأَيَّامِ …؟
Maka ditanyakan kepadanya: Bukannya sepanjang hari engkau selamat dan aman?
فَقَالَ : اَلْعَافِيَةُ أَنْ يَمُرَّ يَوْمٌ بِلاَ.. ذَنْبٍ.
Ia menjawab: Yang dimaksud dengan ‘selamat dan aman’ adalah ada satu hari berlalu dan engkau tidak berbuat dosa pada hari itu

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ : جَوَّادٌ وَبَخِيْلٌ وَمُسْرِفٌ وَمُقْتَصِدٌ
6. Seorang bijak berkata: Manusia ada empat; dermawan, pelit, berlebihan dan ekonomis
فَالْجَوَّادُ : مَنْ أَعْطَى نَصِيْبَ دُنْيَاهُ لِنَصِيْبِهِ مِنْ آخِرَتِهِ.
Dermawan yaitu seseorang yang memberikan jatah dunianya untuk akhiratnya
وَالْبَخِيْلُ : هُوَ..اَلَّذِيْ لاَ يُعْطِيْ وَاحِداً مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ.
Seorang pelit yaitu seseorang yang tidak memberikan jatahnya, baik untuk dunia maupun untuk akhirat
وَالْمُسْرِفُ : هُوَ الَّذِيْ يَجْمَعُهُمَا لِدُنْيَاهُ.
Seorang musrif (yang berlebihan) adalah seseorang yang menggabungkan seluruh jatahnya untuk urusan dunia
وَالْمُقْتَصِدُ: هُوَ الَّذِيْ يُعْطِيْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ
Seorang yang muqtashid (ekonomis) adalah seseorang yang memberikan kepada masing-masing jatahnya; dunia untuk dunia dan akhirat untuk akhirat

قَالَ حَكِيْمٌ : أَرْبَعَةٌ حَسَنٌ، وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ أَحْسَنُ !
7. Seorang bijak berkata: ada empat hal baik, namun, ada empat hal lebih baik;
اَلْحَيَاءُ مِنَ الرِّجَالِ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ النِّسَاءِ..أَحْسَنُ .
a. Sifat malu dari kaum lelaki adalah baik, namun, sifat malu yang dimiliki kaum perempuan lebih baik
وَالْعَدْلُ مِنْ كُلِّ إِنْسَانٍ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ الْقُضَاةِ وَاْلأُمَرَاءِ..أَحْسَنُ.
b. Keadilan dari semua manusia adalah baik, namun, keadilan dari para hakim dan pemimpin adalah lebih baik
وَالتَّوْبَةُ مِنَ الشَّيْخِ ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهَا مِنَ الشَّبَابِ..أَحْسَنُ .
c. Taubat dari seseorang yang sudah tua adalah baik, namun, taubat dari seorang muda lebih baik
وَالْجُوْدُ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ..حَسَنٌ.. وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقُرَاءِ..أَحْسَنُ .
d. Derma bagi orang kaya adalah baik, namun, derma dari kaum fakir adalah ahsan

قَالَ حَكِيْمٌ : إِذَا سَأَلْتَ كَرِيْماً …. فَدَعْهُ يُفَكِّرُ….فَإِنَّهُ لاَ يُفَكِّرُ إِلاَّ فِيْ خَيْرٍ.
8. Jika engkau bertanya kepada seorang mulia, maka biarkannya ia berfikir, sebab ia tidak berfikir kecuali yang terbaik
وَإِذَا سَأَلْتَ لَئِيْماً.. فَعَجِّلْهُ.. لِئَلاَّ يُشِيْرَ عَلَيْهِ طَبْعُهُ ..أَنْ لاَ يَفْعَلَ !
Dan jika engkau bertanya kepada seorang yang buruk (tercela), maka segerakan, agar wataknya tidak memberi isyarat kepadanya untuk berkata: “Jangan lakukan”!

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ : اَلأَغْنِيَاءُ أَفْضَلُ أَمِ الْعُلَمَاءِ … ؟
9. Manakah yang lebih afdhal; ulama atau orang kaya?
فَقَالَ : اَلْعُلَمَاءُ أَفْضَلُ .
Ia menjawab: Ulama lebih baik
فَقِيْلَ لَهُ : فَمَا بَالُ الْعُلَمَاءِ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ اْلأَغْنِيَاءِ . وَلاَ نَرَى اْلأَغْنِيَاءَ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ الْعُلَمَاءِ..؟
Ditanyakan kepadanya: Lalu kenapa para ulama mendatagi pintu-pintu orang kaya?! Dan kami tidak melihat orang-orang kaya mendatangi pintu-pintu para ulama?!
فَقَالَ : لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ عَرَفُوْا فَضْلَ الْمَالِ ، وَاْلأَغْنِيَاءُ لَمْ يَعْرِفُوْا فَضْلَ الْعِلْمِ!
Ia menjawab: Sebab para ulama mengetahui keutamaan harta, sementara orang-orang kaya tidak mengetahui keutamaan ilmu

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلنَّاسُ فِي الْخَيْرِ أَرْبَعَةٌ : فَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ .. اِبْتِدَاءً، وَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ … اِقْتِدَاءً .
9. Dalam hal kebajikan, manusia ada empat macam; ada yang memulai, ada yang melakukannya dalam rangka berqudwah
وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. حِرْمَاناً ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. اِسْتِحْسَاناً .
Dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena tidak ada kesempatan dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena memandangnya sebagai sesuatu yang terbaik
فَمَنْ يَفْعَلُهُ اِبْتِدَاءً …….. كَرِيْمٌ!
a. Adapun yang melakukannya dalam rangka memulai, maka ia adalah seorang yang mulia
وَمَنْ يَفْعَلُهُ اِقْتِدَاءً ……. حَكِيْمٌ !
b. Ada pula yang melakukannya karena mencontoh dan berteladan, maka ia adalah seorang yang bijaksana
وَمَنْ يَتْرُكُهُ اِسْتِحْسَاناً …… غَبِيٌّ!
c. Ada juga yang meninggalkannya karena menganggap baik, maka ia adalah seorang bodoh
وَمَنْ يَتْرُكُهُ حِرْمَاناً …….. شَقِيٌّ !
d. Dan ada pula yang meninggalkannya karena tidak mendapatkan kesempatan, maka ia adalah seseorang yang celaka.

Selasa, 11 Juni 2013

PN Surakarta Bebaskan Terdakwa Pengemplang Pajak Rp 9,2 Miliar

PN Surakarta Bebaskan Terdakwa Pengemplang Pajak Rp 9,2 Miliar

Muchus Budi R. - detikNews

Solo - Seorang warga Jakarta yang memimpin dua buah CV di Solo, diajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Surakarta karena didakwa menggelapkan pajak perusahaan dengan merekayasa laporan pemberitahuan tahunan ke kantor pajak senilai lebih dari Rp 9,2 miliar. Namum hakim memutuskan dia tak tebukti bersalah dan divonis bebas.

Budiyati, Direktur CV Kondang Murah Solo yang bergerak di bidang penjualan kayu gelondongan, olahan, serta penjualan bahan bangunan, didakwa melakukan kejahatan pajak pada tahun 2007 dengan merekayasa laporan tahunan yang diserahkan ke kantor pajak. Dalam laporan pemberitahuan tahunan tahun 2007 itu pendapatan perusahaan diperkecil sehingga negara mengalami kerugian Rp 4,7 miliar.

Ulah serupa juga dilakukan pada perusahaannya yang lain, CV Muncul Lestari Mandiri. Budiyati juga didakwa memanipulasi laporan sejak awal 2006 hingga akhir 2007. Selain itu CV Muncul Lestari Mandiri juga tidak didaftarkan sebagai perusahaan yang terkena PPN sehingga selama dua tahun perusahaan tersebut tidak membayar PPN. Dari kasus CV Muncul Lestari Mandiri ini negara dirugikan Rp 1,5 miliar pada tahun 2006 dan Rp 3 miliar pada tahun 2007.

Meskipun demikian, sejak awal memang jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa 'sangat ringan'. Budiyati hanya dituntut hukuman penjara satu tahun dengan masa percobaan dua tahun dan membayar pajaknya dengan total nilai Rp 9,2 miliar.

Dalam sidang putusan hari ini, Senin (10/6/2013), majelis hakim PN Surakarta yang diketuai Eni Indriyartini menyebutkan terdakwa tidak terbukti telah melakukan tindak pidana karena alat bukti yang diajukan di persidangan tidak cukup kuat untuk menjeratnya. Karena itu, terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan. Hakim juga memerintahkan harkat dan martabat terdakwa segera dipulihkan.

Kuasa hukum terdakwa, Johannes, tentu saja puas dengan putusan hakim. Sedangkan pihak JPU mengaku masih harus pikir-pikir. Sementara itu pihak Kantor Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II melalui Kabid Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Basuki Rahmad, belum mereaksi. Basuki mengatakan hingga saat belum menerima laporan hasil sidang. Pihaknya baru akan mereaksi setelah menerima laporan resmi.

Sementara itu, guru besar ilmu hukum Universitas Sebelas Maret (UNS), Jamal Wiwoho, mendorong agar JPU menempuh langkah kasasi. Sebab jika putusan itu diterima akan menimbulkan dampak yang cukup fatal.

"Kerugian negara sebesar Rp 9,2 miliar tidak akan kembali jika putusan itu diterima. Selain itu akan jadi preseden, masyarakat akan semakin berani melakukan tindakan serupa," ujar Jamal.

Senin, 03 Juni 2013

Ruko Itu apartemenku, cerita tempat tinggal 20 pegawai pajak

Ruko Itu apartemenku, cerita tempat tinggal 20 pegawai pajak

Tulisan ini sebenarnya tidak mengagetkan saya. Karena saya yakin betul banyak dialami oleh temen temen pajak yang mutasinya tersebar ke seluruh penjuru nusantara dengan fasilitas yang seadanya. Kebetulan ada diantara yang diceritakan ini saya mengenalnya secara pribadi.  Sengaja saya kopas mentah-mentah dari Rakyat Merdeka agar independensi tulisan ini bisa terjaga.

Ruko Itu apartemenku, cerita tempat tinggal 20 pegawai pajak

Reporter : Arbi Sumandoyo




Udara panas bercampur semrawutnya ruangan lantai dua yang digunakan sebagai tempat penyimpanan berkas Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Batulicin sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Baju, bungkusan plastik, dan kasur terlihat berantakan di dalam ruangan berukuran 6x5 meter yang disekat dengan selembar papan berwarna putih berbalut balok sebagai tulangnya.

Tiga buah ruangan di lantai 2 itu merupakan gudang yang diisi oleh sekitar 20 pegawai KPP Pratama Batu Licin, di Jalan Raya Batulicin, Kecamatan Simpang Empat, Kota Batulicin, Kalimantan Selatan yang digunakan saban hari untuk tidur. Mereka terpaksa menyekat gudang dengan selembar papan yang diberi daun pintu untuk beristirahat.

Mahalnya biaya hidup dan sewa kamar kos di daerah Batulicin menjadi salah satu alasan para pegawai pajak akhirnya memilih untuk tinggal di ruko penyimpanan dokumen sekaligus juga kantor fungsional yang terletak dua ruko berjejer dengan KPP Pratama Batulicin.

Salah satu pegawai pajak, Ilham mengaku sudah tinggal di ruko yang dijadikan sebagai gudang KPP Pratama Batulicin itu sekitar dua tahun. Awalnya, pria berambut sedikit ikal dan berkulit hitam itu datang dari Semarang, Jawa Tengah untuk menjalani tugas sebagai pegawai Pajak tahun 2009. Ilham merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta yang menjabat Account Representatif (AR) KPP Pratama Batulicin.

Untuk meminimalisir pengeluaran, awalnya Ilham patungan dengan rekan satu kantornya untuk menyewa rumah kontrakan di wilayah Kecamatan Simpang Empat, tidak jauh dari kantornya. Namun pengeluaran di Batulicin, tidak sebanding dengan pendapatannya sebagai pegawai pajak. Untuk makan setidaknya, Ilham harus merogoh kocek dalam-dalam sekitar Rp 100 ribu per hari.

Dengan pertimbangan itu, Ilham akhirnya memutuskan untuk tidur di gudang berkas yang disewa oleh KPP Pratama Batulicin, tepat dua toko di sebelah kantornya bersama dengan enam orang lainnya yang juga ikut tidur di ruko berlantai empat tersebut.

"Disini biaya hidup empat kali lipat dari Jakarta, kalau nggak irit, nggak bisa pulang," Kata Ilham beberapa pekan lalu. Tidak berbeda dengan Ilham, Febri Angga Mison, atau akrab disapa Mison juga harus tinggal di kantor lantaran beratnya biaya hidup di Kota Batulicin.


Rasa kangen terhadap keluarga menjadi alasan bagi Mison untuk mengirit pengeluarannya agar bisa bertemu dengan anak serta istrinya di Banyuwangi, Jawa Timur. Paling tidak, setiap bulan, Mison harus terbang ke Surabaya menemui anak serta istrinya selama dua hari. Hal yang paling berat dan harus ia jalani adalah melepas kerinduan dengan buah hati yang kini berusia 2 tahun. "Biayanya kalau untuk pulang pergi Rp 1,5 juta," kata Mison.

Hampir sama dengan anak buahnya, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi I (Waskon), Dikun berbinar-binar matanya saat hendak menceritakan suka duka hidup jauh dari keluarganya di Pekalongan, Jawa Tengah. Bapak berusia 50 tahun senantiasa memikirkan bagaimana anak dan istrinya hidup di luar pulau dengannya.

Dikun harus pulang pergi sebulan sekali untuk melihat anak dan istrinya hanya untuk sekadar melepas kangen. "Yang paling berat jauh dari keluarga, apalagi saya punya anak," ujar Dikun.

Pernah, waktu Dikun pertama kali tugas di Batulicin, anak serta istrinya diboyong tinggal di sana. Namun, belum satu bulan tinggal di Batulicin, anak serta istrinya tidak kerasan lantaran fasilitas penunjang jauh seperti di Pekalongan.

Untuk pendidikan, di Batulicin boleh dibilang jauh dari memadai, begitu juga dengan fasilitas kesehatan. Apalagi untuk hiburan, tempat wisata di Batu Licin nyaris tidak ada sama sekali kecuali hanya pantai tanpa pengunjung yang terletak di daerah Pagetan. "Baru tinggal di sini 1 bulan tapi nggak kerasan dan sekarang balik lagi ke Pekalongan karena sering mati lampu," kata Dikun.

Kebanyakan, para pegawai pajak yang tinggal di dalam ruko, hidup secara kekeluargaan karena merasa senasib sepenanggungan yang jauh dari rumah dan keluarga. Lingkungan yang dibangun memang berbeda dengan perkantoran pada umumnya.

Di antara atasan maupun bawahan tidak begitu terlihat kastanya dalam lingkup kerja di KPP Pratama Batulicin. Misal, Achmad Noor Wakhid, Kepala Kantor KPP Pratama Batulicin, juga tinggal di lantai 2 kantor pajak. Wakhid, seminggu sekali pulang ke Jakarta untuk menemui keluarganya dan melepas rindu berkumpul bersama anaknya.

"Cuma saya yang bisa pulang seminggu sekali, karena gaji saya mencukupi," kata Wakhid.

Pria mantan Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi di KPP Madya Jakarta Pusat ini menuturkan, suasana yang dibangun di lingkungan kantor KPP Pratama Batulicin memang dilandasi rasa kekeluargaan. Setiap Senin dan Kamis, mayoritas pegawai yang beragama Islam, melakukan puasa bersama.

Selain memperkuat iman, faktor mahalnya biaya hidup juga menjadi alasan untuk melakukan puasa setiap minggu. Menu buka puasa juga tidak ada yang istimewa, mie, gorengan dan sop merupakan menu favorit berbuka puasa. Kadang kalau ada uang lebih atau ada pegawai yang dengan sukarela mendonasikan uangnya, sate ayam merupakan menu istimewa yang mendampingi para karyawan berbuka puasa. "Di sini semua urunan (patungan), termasuk buka puasa juga kita patungan," kata Wakhid.

Prinsipnya, tutur Wakhid, suasana yang dibangun di lingkungan kerja KPP Pratama Batulicin memang demikian. Pendidikan secara rohani, ditanam jauh-jauh untuk membentuk karakter pegawai pajak yang bersih.

Dia berani untuk diperiksa, jika menerima uang suap dari wajib pajak, dia bersedia digantung di Monas. "Silakan cek, kalau ada secuil saya terima, saya bersedia digantung di Monas, emang Anas aja," tuturnya.

Selasa, 02 April 2013

Tips Perencanaan Keuangan Bagi Yang Akan Naik Gaji

Tips Perencanaan Keuangan Bagi Yang Akan Naik Gaji



Tips Perencanaan Keuangan Bagi Anda yang akan Naik Gaji

Jakarta - Apakah anda termasuk seorang yang akan mendapatkan kenaikan gaji awal tahun ini? Bingung ingin dikemanakan uangnya? CEO & Chief Financial Planner ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie mencoba menjawabnya dengan beberapa tips di bawah ini.

Bagi Prita, kenaikan gaji harus disikapi dengan kepala dingin, tidak perlu gegabah, apalagi digunakan untuk hal yang sifatnya kesenangan semata atau konsumtif.

Seseorang perlu menyisihkan sebagian dananya dari gaji yang diperoleh setiap bulannya. Menurut Prita, kenaikan gaji sebaiknya disikapi dengan menyisihkan sebagian dana untuk investasi, minimal 15% dari gaji bagi yang sudah berkeluarga.

"Bahkan, kalau masih lajang kita sisihkan sampai 50%. Pertimbangannya, semua keuangan dikontrol sendiri. Jadi mumpung masih lajang. Jangan hanya untuk foya-foya. Untuk yang sudah berkeluarga sebaiknya menyisihkan 10%-15%. Pertimbangannya untuk biaya rutin 50%, cicilan 30%, investasi 15%, dan untuk biaya jaga-jaga 5%," ungkap Prita saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Minggu (13/1/2013).

Menurut Prita, hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan dana mendadak di masa depan. Ia juga memberikan
tips-tips bagi investor pemula yang bingung akan menginvestasikan dananya.

Bagi investor pemula, kata Prita, usahakan mereka tidak memiliki utang kartu kredit karena hal itu bisa menghambat dana yang akan diinvestasikan. Kemudian, seseorang harus punya dana darurat minimal 1 kali dari dana kebutuhan per bulan.

"Ini perlu karena jangan sampai kita investasi tapi kita tidak punya uang untuk pegangan," kata Prita.

Setelah itu, seseorang harus bisa menentukan produk keuangan yang sesuai dengan kondisi keuangan masing-masing. "Tentukan produk keuangan yang sesuai dengan inti financial kita. Kita punya dana berapa kemudian produk apa yang cocok untuk dana tersebut," terang Prita.

Hal yang paling penting, kata dia, mulailah dari hal yang kecil."Mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang. Itu kemauan, harus dipaksa. Jangan nunggu uang yang besar dulu baru investasi, itu nggak akan jadi-jadi," katanya.
Prita punya istilah yang perlu dipraktikan langsung yaitu HAPSARI atau Hanya Perlu Selembar Aja Sehari. Artinya investasi bisa dimulai dari dana yang kecil tanpa menunggu uang anda kumpul besar. "Itu penting," tutupnya.
 
Sumber seutuhnya dari : Detik Finance

Selasa, 19 Maret 2013

Ahok: Pajak Saya Jangan Dikorup

Ahok: Pajak Saya Jangan Dikorup

Ahok : Pajak Saya Jangan Dikorup
Itulah judul di salah satu harian terkemuka Republika On Line siang ini. Melihat judul seperti itu saya jadi tergelitik untuk menulis. Dalam batin saya ternyata masih banyak orang yang salah kaprah, salah persepsi dan menurut saya jadi cenderung hanya asal komentar saja yang menunjukkan ketidaktahuan mekanisme penghitungan, penyetoran dan pelaporan  pajak . Kalau itu dilakukan oleh orang awam mungkin saya akan maklum saja. Tapi ini yang komentar adalah tokoh ora baen-baen (minjam bahasa ngapak yang artinya : bukan tokoh sembarangan) yang hampir semua orang tahu dan kenal, Ahok, penguasa DKI 2 yang pasti ikut menangani proyek DKI yang nilainya bukan lagi jutaan atau milyaran rupiah  tapi trilyunan rupiah.

Pernyataan Ahok disampaikan setelah menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi dengan perincian penghasilan netto sekitar Rp 500 juta. Setelah dihitung PPh terutang dikurangi dengan yang telah dipotong oleh pihak lain dan setoran bulanan, Ahok masih harus menyetor PPh sebesar Rp 58 juta. Ini saya cuplikkan dari Republika On Line:
Wagub mengaku tidak masalah dengan kenaikan nilai pajak. Meski demikian, Ahok menitip pesan untuk direktorat jendral pajak.  "Yang penting pajaknya tidak dikorup, kan sakit hati juga," ujarnya.

Agar lebih  jelas mekanisme pelaporan pajak maka akan dijelaskan satu-persatu:

UU Pajak kita menganut asas/sistem self assesment, sehingga Wajib Pajak diberikan kesempatan untuk menghitung sendiri penghasilan selama setahun, menghitung besarnya pajak yang terutang dan memperhitungkan pajak yang telah dibayar atau yang telah dipotong oleh pihak lain (kredit pajak). Semua perhitungan tersebut dituangkan dalam SPT (Surat Pemberitahuan ) Tahunan PPh Orang Pribadi ( Jika Wajib Pajak adalah Badan Usaha maka dituangkan dalam SPT Tahunan PPh Badan). Jika pajak terutang lebih besar dari kredit pajak maka kita harus membayar kekurangannya dan menyetorkanya ke Kas Negara melalui Bank/Kantor Pos dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak (SSP).

Nah selanjutnya uang pajak yang terkumpul di Kas Negara itulah yang dipakai untuk membiayai pengeluran pemerintah (tercermin di APBN). Orang Pajak tidak punya kewenangan untuk mengambil uang hasil pajak untuk keperluan instansinya apalagi untuk dirinya. Kalau insatansi Pajak memakai dana APBN tentunya dengan menggunakan mekanisme yang berlaku sama dengan instansi pemerintah yang lain.

Terus apakah uang pajak dapat dikorupsi?
Ya pasti dapatlah
Caranya bagaimana?
Caranya ya pada saat APBN itu dilaksanakan oleh pemerintah. Misalnya adanya mark up nilai proyek yang berlanjut pada kualitas pekerjaan proyek yang di bawah standar, pembangunan jalan yang di bawah standar  dan pemborosan-pemborosan penggunaan dana pemerintah. Makanya mari kita awasi DJP dan aparatnya, awasi juga pengusaha dan aparat-aparat pemerintah yang sedang diamanahi untuk menjalankan proyek2 bernilai milyaran bahkan trilyunan dari dana pajak. Kata Ahok uang pajakjangan dikoprup kan sakit hati.

Jadi kalau Ahok pesen ke DJP. agar pajaknya jangan dikorup sesungguhnya dia sedang berpesan kepada dirinya sendiri dan kepada pengusaha serta aparat pemerintah yang lainnya.

Aku juga setuju Om Ahok..., uang pajak jangan dikorupsi ya

Selasa, 05 Maret 2013

Penutupan Kartu Kredit

Penutupan Kartu Kredit

Tulisan ini dicopas dari:
 http://finance.detik.com
YLKI Akui Bank Suka Mempersulit Nasabah untuk Tutup Kartu Kredit

Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) masih kebanjiran pengaduan dan keluhan masyarakat soal kartu kredit. Di antaranya, perihal mengenai sulitnya menutup kartu kredit.

"Memang bank itu kadang mempersulit nasabahnya. Makanya banyak aduan ke YLKI yang 50%-nya terkait kartu kredit," ungkap Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo ketika dihubungi detikFinance melalui sambungan telepon, Senin (4/3/2013).

Menurut Sudaryatmo, ketika nasabah ingin menutup kartu kredit harus dipastikan lebih dahulu bahwa tidak lagi ada kewajiban. "Karena memang syarat untuk menutup kartu kredit adalah tidak lagi ada tagihan," terangnya.

Jika kewajiban telah dilunasi, Sudaryatmo mengatakan nasabah harus meminta keterangan dari pihak bank mengenai bukti pelunasan. "Jangan lupa minta tandatangan dan nama jelas serta jabatan dari pegawai bank tersebut," tuturnya.

Hal ini perlu dilakukan, sambung Sudaryatmo untuk menghindari nantinya jika memang ada tagihan dikemudian hari. "Selain itu minta juga surat keterangan bahwa kartu kredit sudah lagi tidak aktif. Dan gunting saja kartunya di bank yang bersangkutan," jelasnya.

BI melalui surat edaran Bank Indonesia No.14/27/DASP tanggal 25 September 2012 perihal Mekanisme Penyesuaian Kepemilikan Kartu Kredit dijelaskan mengenai penyelesaian tagihan kartu kredit.

Penyelesaian Tagihan Kartu Kredit:

  1. Terhadap kartu kredit yang telah ditutup dan/atau diakhiri penggunaannya, pemeang kartu kredit tetap berkewajiban menyelesaikan tagihan kartu kredit berdasarkan tata cara dan mekanisme penyelesaian tagihan kartu kredit yang ditetapkan penerbit kartu kredit.
  2. Penetapan tata cara dan mekanisme penyelesaian tagihan harus memenuhi cara-cara yang tidak merugikan pemegang kartu kredit, antara lain:
  • Tidak memperhitungkan tambahan bunga, biaya dan denda selama dalam masa penyelesaian tagihan kartu kredit
  • Menetapkan jangka waktu penyelesaian tagihan dan nilai angsuran tiap bulan secara wajar sesuai besarnya tagihan kartu kredit yang harus diselesikan
  • Menggunakan cara pembayaran penyelesaian tagihan yang disepakati oleh pemegang kartu kredit

6 Langkah Mudah Menutup Kartu Kredit 

1. Bersihkan tagihan  

Jika Anda masih memiliki tagihan di kartu kredit maka bersihkanlah dahulu. cara terbaik untuk ini yaitu membayar tagihan. Jika Anda tidak sanggup membayarnya sekaligus, mulailah bayar tagihan dari kartu kredit yang punya bunga lebih rendah.

2. Cek dokumen terkait
  
Bacalah perjanjian prosedur penutupan kartu kredit anda dan kemungkinan penalti yang dikenakan sebelum anda menutup kartu kredit. Jika anda belum lama memiliki kartu kredit kemungkinan anda dikenai biaya untuk penutupan yang terlalu awal.

3. Kumpulkan hadiah yang banyak

 Umumnya, hadiah apapun seperti poin atau yang lainnya secara teknis masih menjadi milik anda sekalipun kartu kredit sudah ditutup. Tetapi orang bijak akan mengumpulkannya sebelum ditutup. Jika jumlahnya tidak memenuhi batas tertentu untuk mendapatkan hadiah, putuskan apakah akan dilepas atau mempertahankan kartu sampai batas tersebut.

Jika hadiahnya lebih kecil dari jumlah kredit ditambah bunga, lebih baik potong kerugian Anda dengan membayar tagihan dan menutup kartu kredit.

 4. Batalkan pembayaran otomatis

 Sebelum anda menutup akun, masuklah ke situs bank dan membatalkan seluruh pembayaran otomatis tagihan atau pemindahan rekening yang telah diset otomatis ke kartu kredit. Jika Anda tidak melakukan ini, bisa jadi Anda berhadapan dengan urusan dokumen yang menghabiskan waktu saat menutup kartu kredit.

5. Telepon, batalkan dan tentukan tanggal efektif penutupan

Lihat nomor pelayanan konsumen dalam tagihan kartu kredit anda. Dalam beberapa kasus nomor telepon untuk penutupan berbeda dengan layanan lainnya. Persiapkan diri anda berbicara dengan pegawai bank yang sudah terlatih membujuk konsumen membatalkan penutupan.

Jawablah seluruh penawaran dengan "tidak, terimakasih, saya ingin menutup kartu saya." Tanyakanlah kapan tanggal penutupan kartu kredit berlaku efektif dan klarifikasi jika ada biaya tambahan yang harus dibayar sebelum tanggal penutupan.

Jangan berasumsi penutupan akan efektif secara langsung. Jika ada biaya tanyakan apakah bisa dibayar terlebih dahulu. Anda juga bisa meminta penutupan kartu kredit melalui surat.

6. Mintalah konfirmasi tertulis

Ketika anda menelepon untuk menutup kartu kredit mintalah bank yang menerbitkan untuk mengirimkan surat onfirmasi permintaan penutupan dan tanggal efektif penutupan tersebut. Simpanlah surat ini.

Jika Laporan kredit anda telah selesai dan kartu kredit yang telah ditutup masih muncul, Anda akan mempunyai bukti tertulis bahwa akun tersebut telah ditutup dan perusahaan kartu kredit lah yang memprosesnya dengan tidak benar.

Senin, 11 Februari 2013

Peringatan Buat Kita

Peringatan Buat Kita

Alkisah ketika malaikat maut datang kepada seorang manusia untuk mencabut nyawa, manusia itu itu protes
Manusia :
Wahai malaikat maut, kenapa engkau datang begitu cepat, tanpa ketok pintu, tanpa  permisi, tanpa ngasih pemberitahuan, tanpa ngasih peringatan terlebih dulu.
Malaikat Maut : "......."
Manusia :  
Bukankah aku perlu berbenah dulu, aku perlu persiapan bekal, aku juga perlu pamitan, aku perlu menata kehidupan saya. Saya juga perlu memperbaiki ibadah saya, saya perlu ke notaris buat bikin surat wasiat saya, saya juga perlu mengatur keuangan saya buat membayar utang-utang saya.               
Malaikat Maut :
Wahai manusia ... siapa bilang kalau engkau belum mendapat peringatan? Ingatkah engkau ketika rambutmu mulai memutih, engkau malah mencatnya sehingga tetap hitam, ketika engkau berusia 40 engkau mulai tidak jelas ketika membaca koran dan membaca SMS dan engkau perlu bantuan kacamata plus 1, ketika tubuhmu sudah gampang masuk angin, ketika sendi-sendi tulangmu mulai kambuh dan tak sekuat seperti dulu lagi, ketika asam uratmu sudah mulai terasa, ketika kolesterolmu sudah meninggi dan ketika kerut-kerut kulitmu sudah muncul dan engkau "sembunyikan", ketika daya ingatmu sudah tidak sekuat seperti dulu..... itu semua adalah peringatan dari-Nya. Tapi engkau salah mensikapinya, bukannya sebagai bahan introspeksi tapi engkau malah gelisah dan engkau "menutupinya" dengan berbagai upaya yang kadang membahayakan kesehatanmu.
Manusia:
...........................?#@$%???
Malaikat Maut: 
Karena ini sudah saatnya maka saya akan melaksanakan tugas saya
Catatan: dalam kenyataanya, malaikat maut melaksanakan tugas tanpa ada dialog terlebih dahulu ?

Senin, 14 Januari 2013

No urut Partai Peserta Pemilu 2014

No urut Partai Peserta Pemilu 2014

KPU telah mengadakan pengundian nomor urut partai peserta Pemilu 2014. Pengundian ini berlangsung seru, diselingi gelak tawa. Nomor urut 1 yang menjadi nomor favorit, jatuh ke tangan Nasdem.

Prosesi pengundian berlangsung di gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (14/1/2014). Sekjen setiap partai berdasar abjad maju ke depan untuk mengambil kertas nomor antrean undian, dengan didampingi oleh komisioner KPU. Setelah mendapatkan nomor antrean, para sekjen didampingi ketua umum baru mengambil nomor undian nomor urut partai. Ketua umum partai yang tidak hadir hanya Megawati dan Suryadharma Ali.

Berikut nomor urut partai berdasar hasil undian:

1. Nasdem
2. PKB
3. PKS
4. PDIP
5. Golkar
6. Gerindra
7. PD
8. PAN
9. PPP
10. Hanura
(sumber: Detik.Com)

PKS tak Peduli Nomor Urut

Senin, 14 Januari 2013, 13:13 WIB

PKS tak Peduli Nomor Urut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera menilai tidak akan ada partai yang terlalu diuntungkan dengan nomor urut berapapun. Masyarakat dinilai akan jauh lebih rasional dalam Pemilu tahun 2014 mendatang.

"Rakyat akan menilai track record partai ketimbang kharisma tokoh dan kemampuan beriklan sebuah partai," ujar Ketua DPP PKS Bidang Kebijakan Publik (BKP), Hidayat Nur Wahid, Senin (14/1) pagi di gedung wakil rakyat di Senayan.

PKS, jelas Hidayat, yakin jika masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar nomor urut partai politik. Lantaran mereka akan menilai parpol dari aspek bersih dari korupsi, komitmen penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat.
 
Oleh karenanya PKS tak peduli dan akan merasa nyaman dengan nomor urut berapapun. "Yang terpenting untuk kami adalah, mesin partai sudah benar-benar siap berlari untuk memenangkan PKS, yang juga artinya memenangkan agenda-agenda rakyat," ujar Hidayat.

Menurut Hidayat yang juga Ketua Fraksi PKS DPR RI, partainya akan menyampaikan agenda perjuangan kampanye tidak lama lagi melalui acara peluncuran logo dan nomor urut kampanye.

"Perjuangan PKS tetap berbasis pada upaya menghadirkan Indonesia yang adil dan sejahtera, sesuai dengan nama partai yaitu Partai Keadilan Sejahtera,” tuturnya.

Untuk itulah ia juga berharap seluruh pengurus, kader dan simpatisan agar terus bekerja keras untuk rakyat dan menjadi bagian solusi dari masyarakat.

“Rakyat akan mengenal mana partai yang bekerja atau hanya bisa berwacana, dan mana partai yang bersih dibanding partai yang kadernya bermasalah karena banyak terbukti korupsi,” ujar Hidayat di akhir pernyataannya.