Senin, 29 September 2014

Kontroversi Tentang Pilkada

Kontroversi Tentang Pilkada

Blog ini sengaja mengcopas tulisan Kwik Kian Gie karena menurut saya tulisan Beliau lebih netral dari kepentingan. Semua kubu yang pro dan yang tidak setuju kan yang dibawa-bawa adalah rakyat. Entah rakyat yang mana.
Silakan disimak ya....

Kontroversi Pilkada

Oleh : Kwik Kian Gie

Sejak Indonesia berdiri sampai tahun 2007 tidak ada Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) secara langsung oleh rakyat. Dalam era Reformasi terbit UU Nomor 22 Tahun 2007 yang menentukan bahwa Kepala Daerah pada semua jenjang, yaitu Gubernur, Walikota dan Bupati dipilih secara langsung oleh rakyat.


Di tahun 2011 Pemerintahan SBY mengajukan RUU yang mengembalikan Pilkada kepada DPRD. Secara implisit berarti bahwa setelah 5 tahun memerintah dengan sistem Pilkada langsung dirasakan bahwa Pilkada langsung lebih banyak mudaratnya dibandingkan dengan Pilkada oleh DPRD.
Yang sangat aneh, ketika RUU diterima oleh DPR tidak ada yang mempermasalahkan. Namun ketika fraksi-fraksi di DPR terkelompok ke dalam hanya dua koalisi saja, yaitu Koalisi Merah Putih yang menguasai sekitar 70% suara dan Koalisi Gotong Royong yang menguasai sisanya, meledaklah perdebatan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja tentang pro dan kontra Pilkada melalui DPRD.

Dalam perdebatan yang demikian gemuruhnya tidak ada yang mengemukakan kenyataan ini. Yang dikemukakan oleh yang setuju maupun yang tidak setuju yalah aspek korupsinya.

Dalam pertimbangannya RUU menggunakan dua argumentasi, yaitu untuk “Memperkuat sifat integral dalam NKRI” dan “Sangat mahal, yang tidak sebanding dengan manfaat yang diperolehnya.” Secara lisan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengemukakan bahwa Pilkada langsung oleh rakyat telah mengakibatkan demikian meluas dan besarnya korupsi sampai pada para Kepala Daerah sendiri, sehingga 330 Kepala Daerah telah masuk penjara atau menjadi tersangka.

Yang pro Pilkada langsung mengatakan bahwa para anggota DPRD akan minta sogokan dari calon Kepala Daerah supaya dipilih. Yang pro Pilkada melalui DPRD mengatakan bahwa kenyataannya, para Kepala Daerah itu harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa terpilih. Seperti telah dikemukakan, pendirian pemerintah yang dinyatakan oleh Mendagri juga mengemukakan betapa hebatnya korupsi dalam Pilkada langsung.

Korupsi atau lengkapnya KKN tidak hanya terjadi pada Pilkada. KKN terjadi pada semua aspek kehidupan bangsa kita sejak lama, yang semakin lama semakin mendarah daging. Bahkan telah merasuk ke dalam otak yang oleh para filosof Yunani kuno disebut sudah terjadi corrupted mind pada elit bangsa kita.

Maka kalau aspek KKN yang dijadikan argumen, yang pro Pilkada langsung maupun yang pro Pilkada melalui DPRD sama-sama kuatnya atau sama-sama lemahnya. Marilah kita telaah hal ini tanpa menggunakan faktor KKN, karena kalau terus menggunakan faktor KKN sebagai argumentasi, kita disuguhi oleh tontonan para maling yang teriak maling.

Kita mulai dari pertimbangan yang tertuang dalam RUU. Yang pertama, yaitu Pilkada melalui DPRD memperkuat sifat integral dalam NKRI memang benar. Beberapa  daerah sangat menonjol kemajuannya dan kesejahteraan rakyatnya karena mempunyai Kepala Daerah yang memang sangat kompeten. Tetapi justru penonjolan kemampuan sangat sedikit daerah inilah yang membuat terjadinya kesenjangan yang besar antara daerah-daerah yang bagus dan daerah-daerah yang masih saja berantakan. Cepat atau lambat, hal yang demikian jelas akan memperlemah NKRI. Ketika saya menjabat sebagai Kepala Bappenas ada beberapa Kepala Daerah yang minta alokasi dana lebih besar. Saya menolaknya, karena segala sesuatunya telah dipertimbangkan dengan cermat. Beberapa Kepala Daerah langsung menjawab :”Pak, apakah kami perlu menyatakan diri ingin merdeka, memisahkan diri dari NKRI supaya bisa mendapatkan alokasi anggaran yang kami minta ?”

Pada waktu yang sama sangat banyak daerah yang minta agar Bappenas memberikan pendidikan dn pelatihan kepada para perencana daerah. Sampai sekarang yang terjadi yalah atau anggaran daerah dipakai buat yang bukan-bukan, atau banyak sisa anggaran. Ahok kelebihan anggaran yang mulai membagi-bagikan uang kepada para kepala daerah sekitarnya.

Argumentasi lainnya yang tertuang dalam RUU yalah “sangat mahal, yang tidak sebanding dengan manfaat yang diperolehnya.” Apa benar argumentasi ini ? Tidak mutlak, karena nyatanya – seperti yang telah disebutkan tadi – memang ada beberapa Kepala Daerah yang sangat kompeten. Bagian terbesar dari daerah-daerah tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, kita saksikan sendiri di berbagai televisi betapa banyak dan memalukannya tingkah lakunya Kepala Daerah dalam KKN maupun dalam bidang demoralisasi.

Kita ambil satu contoh yang menonjol adanya kesenjangan sangat besar antara penolakan terhadap Pilkada melalui DPRD dan prestasi dari Kepala Daerah yang paling keras menolak, yaitu pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jokowi- Ahok. Dalam Suara Pembaruan tanggal 17 September 2014 halaman A 23 diberitakan bahwa “hingga pertengahan kedua September 2014 penyerapan APBD hanya 30 %. Diperkirakan penyerapan anggaran untuk pembangunan infra struktur sangat minim, yaitu hanya 0,01 % dari total nilai APBD DKI 2014 sebesar Rp. 72,9 trilyun. “ Selanjutnya dikatakan “Bahkan bila dilihat dari nilai penyerapan anggaran yang baru mencapai 30% atau sebesar Rp. 21,87 trilyun, penyerapan anggaran untuk pembangunan hanya 0,04%. Sedangkan sisanya 29,96% merupakan penyerapan anggaran dari gaji pegawai, alat tulis kantor (ATK) dan TALI (telpon, air, listrik, dan internet).
 
Jadi yang menolak luar biasa dahsyatnya, yaitu Jokowi-Ahok hanya mampu membangun infra struktur sebesar 0,01% dari anggaran yang disediakan, dan hanya 0,04% dari anggaran pembangunan yang disediakan.

Dalam bidang pembangunan MRT, Gubernur yang lama Fauzi Bowo yang memulai dengan pemberitaan sangat besar. Tetapi dihentikan oleh Gubernur Jokowi dengan alasan terlampau mahal. Setelah 3 bulan dilanjutkan lagi dengan Gubernur Jokowi memegang gambar lokasi awal pembangunan MRT di bunderan HI, seolah-olah dia yang memulai. Todal biaya sama sekali tidak kurang, bahkan mungkin ketambahan bunga utang untuk 3 bulan lamanya.
Tentang legitimasi juga sangat aneh dengan pemilihan pemimpin penyelenggara dari berbagai jenjang secara langsung oleh rakyat. Bupati, Walikota, Gubernur, Anggota DPR, anggota DPRD dan Presiden sama semua legitimasinya, sama semua penyandang voc populi vox dei, sama semua menyuarakan suara Tuhan, tetapi pendapatnya dan kepentingannya bisa sangat berseberangan luar biasa.

Hak rakyat yang dirampas

Argumen bahwa Pilkada melalui DPRD merampas hak rakyat sangat banyak dipakai oleh yang pro Pilkada langsung. Marilah kita berpikir jernih dan jujur. Rakyat yang mana ? Jumlah rakyat yang ikut Pilpres adalah 70 juta untuk Jokowi dan 62 juta suara untuk Prabowo. Jokwi memperoleh 53% suara rakyat. Dari perbandingan angka ini saja tidak dapat dikatakan seluruh rakyat merasa haknya dirampas. 62 juta suara bukannya nothing.

Dalam poster kampanye gambar yang dijadikan template yalah Bung Karno, Megawati dan Jokowi. Pikiran Bung Karno tentang Demokrasi sangat jelas, yaitu Demokrasi Perwakilan, dan itupun ditambah dengan asas pengambilan keputusan yang tidak didasarkan atas pemungutan suara melulu. Dia menggunakan istilah diktatur mayoritas dan tirani minoritas untuk mempertegas pendiriannya. Dia juga selalu mengemukakan apakah 50% plus satu itu Demokrasi ? Apakah 50% plus satu itu boleh dikatakan sama dengan “Rakyat” ?

Jumlah rakyat yang menggunakan hak pilihnya termasuk yang tertinggi di dunia. Apakah penggunaan hak politiknya yang berbondong-bondong itu karena sangat sadar politik ataukah datang untuk menerima uang dari para calon legislatif maupun eksekutif yang dipilih secara langsung ?
Kalau 5 tahun yang lalu uang yang harus dikeluarkan untuk menjadi anggota DPR rata-rata sekitar Rp. 300 juta, di tahun 2014 sudah menjadi Rp. 3 milyar.

Demokrasi, walaupun sistem perwakilan membutuhkan rakyat yang sudah cukup pendidikan dan pengetahuannya. Marilah kita sangat jujur terhadap diri sendiri. Apakah bagian terbesar dari rakyat Indonesia sudah cukup pendidikannya ? Para calon presiden sendiri mengemukakan betapa tertinggalnya bagian terbesar dari rakyat kita dalam bidang pendidikan yang dijadikan fokus dari platformnya. Berbicara soal pilkada langsung rakyat digambarkan sebagai yang sudah sangat kompeten menjadi pemilih yang sangat bertanggung jawab.

Melihat demikian banyaknya orang yang demikian luar biasa semangatnya untuk memasuki arena penyelenggaraan negara, kita patut tanya pada diri sendiri tentang apa motifnya ? Apakah mereka demikian semangat, demikian ngotot, bersedia mengeluarkan uang, bersedia menggadaikan harta bendanya untuk menjadi anggota legislatif atau eksekutif itu karena demikian luar biasa cintanya kepada bangsa, ataukah sudah membayangkan harta dengan jumlah berapa serta ketenaran dan kenikmatan apa yang akan diperolehnya ?

Saya berhenti menulis ini karena Kompas tanggal 22 September 2014 baru datang dengan head line “Wakil Rakyat di Daerah Tergadai”. Isinya bahwa surat pelantikan sebagai anggota DPRD sudah laku dan sudah lazim dijadikan agunan untuk memperolh kredit dari berbagai bank.” Satu bukti lagi bahwa Pilkada langsung berakibat sepert ini yang sangat memalukan.

sumber: http://kwikkiangie.com/v1/2014/09/kontroversi-tentang-pilkada/

Rabu, 11 Juni 2014

Kriminalasasi Pajak : Kakanwil Pajak Jambi Dijadikan Tersangka

Kriminalasasi Pajak : Kakanwil Pajak Jambi Dijadikan Tersangka

KATADATA – Tujuh orang pegawai Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Sumatera Barat (Sumbar) dan Jambi ditetapkan menjadi tersangka oleh Kepolisian Daerah Jambi. Ketujuh pegawai yang dijadikan tersangka tersebut termasuk Kepala Kanwil Ditjen Pajak Sumbar dan Jambi Muhammad Ismiransyah M. Zain.

Menurut informasi, penetapan tersangka tersebut berawal dari langkah Kanwil melakukan pemeriksaan bukti permulaan atas kasus yang melibatkan PT Niaga Guna Kencana, salah satu perusahaan properti di Jambi. Adapun periode pemeriksaan yang dilakukan Ditjen Pajak adalah untuk tahun pajak 2009-2012.

Direktorat Intelijen dan Penyidikan Ditjen Pajak kemudian melakukan gelar perkara dan menyetujui penyidikan karena ada indikasi kuat tindak pidana pajak. Namun setelah dilakukan penyidikan, pihak Niaga Guna Kencana melakukan somasi atas pelaksanaan pemeriksaan bukti perkara peminjaman dokumen.

Kepala Kanwil menanggapi somasi tersebut, tapi pihak Niaga Guna Kencana juga melaporkan ke Polda Jambi dengan empat delik sangkaan pada 8 April 2014. Pihak Polda kemudian melakukan penyidikan terhadap pegawai Kanwil Ditjen Pajak Sumbar dan Jambi dengan sangkaan kasus pemalsuan surat, penggelapan, perbuatan tidak menyenangkan, dan kejahatan jabatan pada 14 April 2014.

 “Tanggal 28 Mei Kepala Kanwil dipanggil sebagai saksi, dan tanggal 6 Juni Kepala Kanwil dipanggil sebagai tersangka,” sebut sumber Katadata tersebut.

“Jadi ada tujuh tersangka, yaitu lima orang pemeriksa bukti permulaan, satu orang operator komputer sebagai pengunduh data, serta Kepala Kanwil.”

Kepala Seksi Hubungan Eksternal Ditjen Pajak Hendri Z menolak menjelaskan kasus yang terjadi di Jambi tersebut. Dia beralasan belum mengetahui perkembangan kasus itu. “Saya belum tahu. Malah saya tahunya dari Anda,” kata dia saat dihubungi Katadata, Senin (9/6). 

Pihak Kepolisian melalui Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Boy Rafli Amar mengaku belum mengetahui detail kasus ini. Dia menolak memberikan keterangan. “Saya belum dapat informasi. Silakan hubungi Polda Jambi,” tuturnya.

Kepala Kanwil Ditjen Pajak Sumbar dan Jambi Muhammad Ismiransyah M. Zain yang coba dihubungi tidak mengangkat telepon selulernya. Namun saat dihubungi melalui nomor kantornya, seorang pegawai yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan Ismiransyah sedang dipanggil pimpinan Ditjen Pajak ke Jakarta.

“Bapak hingga Senin pekan depan berada di Jakarta. Dipanggil dinas ke sana,” tuturnya. 

http://www.katadata.co.id/berita/2014/06/09/periksa-pengusaha-kakanwil-pajak-jambi-dijadikan-tersangka

Selasa, 10 Juni 2014

Pimpinan KPK Harap Para Capres Punya Visi Jelas Soal Pajak

Pimpinan KPK Harap Para Capres Punya Visi Jelas Soal Pajak

Jakarta - Pajak menjadi sumber keuangan pokok negara Indonesia. Pengelolaan dana yang berasal dari pajak menjadi tantangan utama para calon pemimpin bangsa.

Permasalahan soal pajak ini kini tengah disoroti KPK. Salah satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto sangat berharap kedua pasang capres-cawapres yang tengah bertarung punya visi yang jelas soal pajak.

"Di negara maju, sektor perpajakan perlu diperdebatkan secara terbuka," kata Bambang di Jakarta, Senin (9/6/2014).

Bambang juga memberikan kritik pada kedua pasang capres-cawapres. Seharusnya, para kandidat mencantumkan sumber pendanaan untuk membiayai program-program yang telah mereka rancang.

"Ini duitnya, duit dari mana dan duit siapa? Hal ini perlu diungkapkan karena erat kaitannya dengan pengelolaan uang negara dimana 68% penerimaan negara bersumber dari pajak," tegas komisioner bidang penindakan itu.

Saat ini, Indonesia kecolongan penerimaan pajak di sektor pertambangan. Pasalnya, dari 10.900 perusahan pertambangan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) hanya 44% yang berkualifikasi clean and clear.

"Tapi 30%-40% perusahaan yang berkualifikasi tersebut tidak punya NPWP. Kita nggak mau Indonesia dieksploitasi alamnya,” tambah Bambang.

Minggu, 01 Juni 2014

"Eco-driving" tips 
 hemat bahan bakar

"Eco-driving" tips hemat bahan bakar

"Eco-driving" tips nyetir hemat bahan bakar

Jakarta (ANTARA News) - Bila ingin kendaraan tidak terlalu banyak mengonsumsi bahan bakar, pengguna mobil dapat menerapkan eco-driving, cara menyetir yang dapat menghemat bahan bakar.

Sugehendi dari Nissan College memberikan tips bagi para pengemudi, terutama untuk mobil berkapasitas bensin 1.500 cc.

Mesin bensin berkapasitas 1.500 cc bekerja optimal pada putaran 2.000-2.500 rpm. Bila berada lebih atau di bawah angka itu, dapat berakibat pada meningkatnya konsumsi bahan bakar.

"Kalau pakai mobil manual, saat pindah gigi cukup di 2.000 rpm, terutama kalau di jalan yang datar atau macet," kata Sugehendi saat seminar "Smart Driving With Nissan Evalia St" di Jakarta Selatan.

Saat menemui jalan yang menurun, ia menyarankan untuk segera melepas injakan pedal gas. Sebaliknya, ketika jalan menanjak, pengemudi sebaiknya mengantisipasi jarak tanjakan itu untuk menambah gas.

"Kalau menanjak, dari jauh sudah tambah gas. Jangan pas dekat baru nge-gas, itu boros. Mesin dipaksa kerja."

Ketika berbelok pun, ia menyarankan agar jangan berbelok terlalu tajam.

"Kalau terlalu tajam, gesekan ban dengan jalan terlalu besar. Mesin bekerja ekstra, jadi bahan bakar juga ekstra," jelasnya.

Pengemudi pun jangan bersikap agresif ketika mengemudi. Kunci dari eco-driving adalah bersikap santai dan tenang.

"Kunci eco-driving di mindset. Kalau santai bisa membuka pikiran supaya mobil bisa bekerja lebih efisien," katanya.
Editor: Desy Saputra

Sabtu, 31 Mei 2014

Menkes: Tak Perlu Sopan Kepada Perokok

Menkes: Tak Perlu Sopan Kepada Perokok

INILAHCOM, Jakarta- Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi mengatakan tidak perlu berlaku sopan terhadap perokok yang sembarangan merokok.

Menkes mengatakan, semua orang harus bersikap tegas terhadap perokok sembarangan, apalagi jika cara baik-baik sudah dilakukan untuk memberitahu tapi mereka masih membandel.

"Seperti saya punya cerita, ada ibu yang pernah mengeluh kepada saya, waktu dia naik angkutan umum, sopirnya dengan enak merokok, si ibu menegur, 'bang tolong jangan merokok, saya bawa bayi', bukannya dimatikan tapi si sopir malah bilang 'ya udah ibu jangan naik angkot ini, naik angkot yang lain saja'. Masa sama orang seperti ini kita harus sopan, tak uu ya (gak usah ya)," ketus Menkes ketika membuka Indonesia Conference on Tobacco or Health (ICTOH) di Jakarta, Jumat (30/5/2014).

Konferensi juga merupakan rangkaian kegiatan memperingati hari tanpa tembakau setiap 31 Mei.

Jika cara-cara baik sudah kita upayakan namun si perokok aktif tidak sadar juga, lanjut Menkes, maka perokok pasiflah yang harus bersikap tegas.

"Misalnya sudah dengan gesture seperti kita menutup mulut atau menggunakan masker, tapi terkadang kalau kita seperti itu eh si dia cuma mikirnya, 'ya udah tutupin terus aja mulutnya, saya ngerokok terus', makanya kalau menurut saya tidak perlu sopan-sopan dengan perokok, harus tegas," ujarnya lagi.

Karena Menkes menegaskan, rokok itu tidak hanya berbahaya bagi si pelakunya sendiri, tapi juga berbahaya bagi orang lain yang menjadi perokok pasif.

Data Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Kemenkes menyebut asap rokok orang lain (AROL) merupakan asap yang bercampur antara asap dan partikel. Asap ini terdiri dari 7000 senyawa kimia yang bercampur yang di dalamnya terdapat bahan-bahan berbahaya seperti cat kuku, pembersih toilet, racun tikus, pestisida, dan asap knalpot mobil. Ratusan diantaranya adalah beracun dan sedikitnya 69 merupakan bahan penyebab kanker.

Perokok pasif diperkirakan menyebabkan kematian dini yaitu sekitar 600 ribu setiap tahunnya di dunia. Sekira 700 juta anak-anak di dunia atau sekitar 40% dari jumlah keseluruhan anak-anak di dunia terpapar asap rokok orang lain di dalam rumahnya.

Bayi yang terpapar asap rokok, baik masih dalam kandungan atau setelah lahir ada peningkatan risiko lahir prematur dan memiliki berat bayi lahir rendah (BBLR) serta berlipat ganda risiko untuk sindrom kematian bayi mendadak.

Jelang Ramadhan Muslim Inggris Kampanye Berhenti Merokok

REPUBLIKA.CO.ID,INGGRIS – Menjelang bulan Ramadhan, kalangan Muslim di Inggris mengkampanyekan sebuah kegiatan untuk para perokok berhenti menggunakan tembakau. Kampanye tersebut berupa pelayanan kesehatan dan konseling kepada para perokok. Pelayanan kesehatan tersebut akan didirikan di Pusat saran Tower Hamlets.

Adapun alasan kegiatan tersebut dilaksanakan sebelum Ramadhan, Direktur Kesehatan Masyarakat di Tower Hamlets Council Dr Somen Banerjee mengatakan kampanye untuk berhenti merokok tepat menjelang puasa. Hal itu dikarenakan bagi umat Muslim, Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ajang untuk memperbanyak amalan.

Sehingga menurutnya, tepat bagi para perokok yang berniat untuk berhenti merokok. “Ramadan adalah waktu yang ideal untuk memulai kebiasaan sehat,” ujar Banerjee seperti dilansir OnIslam, Kamis (29/5).

Banerjee menambahkan selain memiliki dampak dalam urusan financial, berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko kanker paru-paru, penyakit jantung dan stroke. Pemilihan The Tower Hamlets sebagai pusat layanan, wilayah tersebut dianggap memiliki tingkat tertinggi merokok dan penggunaan tembakau.

Oleh karenanya ia akan terus mendorong orang segala usia untuk segera berhenti merokok. Selain karena menyambut bulan suci Ramadhan, kampanye tanpa tembakau tersebut diserukan dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Se-Dunia yang jatuh pada hari ini tanggal 31 Mei.

Red: Taufik Rachman
Rep: C63

Senin, 26 Mei 2014

Pilihlah yang Terbaik

Pilihlah yang Terbaik

Senin, 26 Mei 2014

"Pilihlah yang Terbaik" | Oleh Mahfud MD

Masih banyak yang berpendapat bahwa politik itu kotor dan harus dijauhi. Padahal, politik itu keharusan yang tak bisa dihindari.

Tak ada orang yang bisa menghindari politik karena setiap orang pasti hidup di suatu negara, sedangkan negara adalah organisasi politik tertinggi. Orang yang ingin memengaruhi kebijakan negara haruslah merebut kekuasaan politik. Orang yang menyatakan tidak mau terlibat dalam politik dan membiarkan kekuasaan politik diambil orang, maka dia terikat pada kebijakan-kebijakan pemenang kontes politik, betapa pun tak sukanya dia pada kebijakan itu. Karena itu, dapat dikatakan bahwa politik itu adalah fitrah atau sesuatu yang tak bisa dihindari.

Di dalam Islam pun, politik mendapat tempat yang hukumnya bisa menjadi wajib. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa memperjuangkan nilai kebaikan agama itu takkan efektif kalau tak punya kekuasaan politik. Memperjuangkan agama adalah saudara kembar dari memperjuangkan kekuasaan politik (al-din wa al-sulthan tawamaan).

Agak lengkapnya Al- Ghazali mengatakan: “Memperjuangkan kebaikan ajaran agama dan mempunyai kekuasaan politik adalah saudara kembar. Agama adalah dasar perjuangan, sedang kekuasaan politik adalah pengawal perjuangan. Perjuangan yang tak didasari (prinsip) agama akan runtuh, dan perjuangan agama yang tak dikawal akan sia-sia.” Dari pandangan Al-Ghazali itu bisa disimpulkan bahwa berpolitik itu wajib karena berpolitik merupakan prasyarat dari beragama dengan baik dan nyaman.

Karena paraktiknya politik itu banyak diwarnai oleh perilaku jahat, kotor, bohong, dan korup, timbullah kesan umum bahwa politik (pada situasi tertentu) adalah kotor dan harus dihindari. Jangankan kita, mujaddid Islam, Muhammad Abduh, pun pernah marah kepada politik dan politisi karena berdasarkan pengalaman dan pengamatannya waktu itu beliau melihat di dalam politik itu banyak yang melanggar akhlak, banyak korupsi, kebohongan, dan kecurangan-kecurangan.

Muhammad Abduh pernah mengungkapkan doa taawwudz yang biasanya hanya untuk menghujat setan, yaitu, “audzu billahi minassyaythaanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) dispesifikkan oleh Muhammad Abduh ke dalam kegiatan politik menjadi “audzu billahi minassiyaasati wassiyaasiyyien”, (Aku berlindungkepada Allahdari godaan politik dan politisi) Tetapi dengan mengacu pada filosofi Al-Ghazali menjadi jelas bahwa berpolitik itu bagian dari kewajiban syarsyari karena tugas-tugas syarsyari hanya bisa direalisasikan di dalam dan melalui kekuasaan politik (organisasi negara).

Dalam kaitan inilah ada kaidah ushul fiqh yang menyebutkan “Ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib” (Jika ada satu kewajiban yang tidak bisa dilaksanakan kalau tidak ada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain wajib juga diadakan/ dipenuhi). Dengan kata lain, “jika kewajiban mensyiarkan nilai kebaikan Islam tak bisa efektif kalau tidak berpolitik, maka berpolitik itu menjadi wajib pula hukumnya.” Inilah yang menjadi dasar, mengapa sejak awal turunnya Islam, muslimin itu sudah berpolitik, ikut dalam kegiatan bernegara, bahkan mendirikan negara.

Dalam konteks keindonesiaan sekarang ini kaum muslimin tidak boleh apatis terhadap pemilihan presiden dan calon presiden. Kita tidak boleh bersikap “tidak akan memilih” pasangan capres/cawapres yang mana pun hanya dengan alasan tidak ada pasangan yang ideal. Kita tetap harus memilih karena siapa pun yang terpilih akan menentukan arah kebijakan negara yang juga mengikat kita.

Dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan capres/cawapres: Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sudah disaring melalui proses konstitusional yang sah. Semuanya sama baiknya, atau, sama tak baiknya. Tak ada yang boleh mengatakan bahwa secara mutlak pasangan yang satu lebih baik dari pasangan yang lain. Semua tergantung penilaian kita masing-masing. Kata sekelompok orang pasangan Prabowo-Hatta lebih baik karena ini dan itu, sedangkan pasangan Jokowi-JK lebih jelek karena ini dan itu.

Tetapi kata sekelompok orang lainnya pasangan Jokowi-JK lebih baik karena bla-bla-bla, sedangkan pasangan Prabowo-Hatta lebih jelek karena bla-bla-bla. Jadi kedua pasangan ada kelebihan dan kekurangannya serta ada pendukung dan penolaknya masing-masing. Menghadapi alternatif seperti itu kita harus tetap memilih dengan kesadaran penuh bahwa takkan pernah ada alternatif yang ideal untuk dipilih. Bahkan, mungkin saja, semua alternatif yang tersedia semuanya sangat tidak ideal. Jika demikian halnya, maka ada kaidah akhaff al-dhararain, yaitu memilih yang paling sedikit jeleknya di antara alternatif-alternatif yang sama-sama jelek.

Dalam hal prinsip dan sistem pemerintahan, misalnya, tidak ada yang betul-betul baik dari antara sistem-sistem yang tersedia. Baik teokrasi, demokrasi, monarki, aristokrasi, oligarki, maupun tirani semuanya samasama tidak ideal dan mengandung segi-segi kelemahan.

Tetapi, sebagian terbesar negara-negara di dunia memilih prinsip dan sistem demokrasi, bukan karena sistem itu bagus melainkan karena ia mengandung kelemahan yang paling sedikit jika dibanding dengan sistem yang lain. Maka itu, pilihlah yang terbaik dari yang ada, meskipun tidak ideal.***

Moh. Mahfud MD
Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta

*sumber: http://koran-sindo.com/node/390718

Selasa, 20 Mei 2014

Perbedaan Deklarasi Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK

Perbedaan Deklarasi Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK

Oleh: Bayu Hermawan
  
INILAHCOM, Jakarta - Dua pasangan calon presiden yang akan bertarung di Pilpres mendatang hari ini resmi di deklarasikan. Secara umum tidak ada yang berbeda dalam deklarasi pasangan Capres Jokowi-Jusuf Kalla dan pasangan Capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Namun menurut psikolog politik Universitas Indonesia, Dewi Harun ada perbedaan yang menonjol antara deklarasi Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK. Ia menilai deklarasi Capres dan Cawapres Jokowi-JK dirasakan sebagai antiklimaks, karena tidak ada kejutan lagi untuk rakyat siapa yang akan dipilih menjadi Cawapresnya.

"Sebab memang sudah diramalkan dan dibicaran sejak jauh-jauh hari, jika JK yang akan menjadi Cawapres. Kemudian, jika memang pada akhirnya yang dipilih adalah JK, mengapa keputusan yang sederhana seperti itu perlu waktu pemikiran yang terlalu lama, sehingga kesannya basi," jelasnya, Senin (19/5/2014).

Selain itu, saat memberikan sambutan atas penetapan dan pendaftaran Capres, Jokowi pun sama sekali tidak menyampaikan visi dan misi yang akan diusung. Hal ini menimbulkan kesan kurangnya leadership yang dimiliki oleh Capres PDIP itu.

"Yang terakhir menurut saya Jokowi tampak tenggelam oleh kharisma JK, terlihat Jokowi kurang percaya diri," ujarnya.

Pakar personal branding itu melanjutkan, sementara saat acara deklarasi pasangan Capres Prabowo-Hatta banyak kejutan yang muncul. Kejutan terbesar tentu saja bergabungnya Partai Golkar pada menit-menit terakhir.

Selain itu, deklarasi pasangan Prabowo-Hatta selain meriah juga berlangsung khimad, dimana seluruh pimpinan partai pendukung mempunyai kesempatan yang sama untuk berbicara.

"Prabowo juga bisa menyampaikan pidato yang menggelegar dan memukai, dengan memasukan visi misinya yang jelas. Selain itu Prabowo terlihat PD dan gembira dengan dukungan yg mengalir kepadanya khususnya dari poros partai islam dan ketua NU serta Golkar di menit terakhir," tandasnya

Jumat, 16 Mei 2014

PT Kereta Api menyiapkan KA Tambahan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA-- Tiket kereta api (KA) angkutan lebaran tahun ini sudah dijual sejak sebulan lalu. Bahkan tiket KA angkutan lebaran tersebut sudah ludes terjual. Namun pihak PT KAI akan menyiapkan KA tambahan untuk angkutan lebaran tersebut.

Dari total 14 rangkaian yang dioperasikan di Pulau Jawa, 5 rangkaian kereta diantaranya disiagakan di wilayah Daop VI Yogyakarta. Lima KA tambahan ini adalah KA Argo Lawu relasi Solo-Gambir (350 kursi), KA Lodaya Pagi dan Lodaya Malam relasi Solo-Bandung (456 kursi), KA Sancaka relasi Yogya-Surabaya (456 kursi), dan KA Jaka Tingkir relasi Purwosari-Pasar Senen (896 kursi).

Manajer Humas PT KAI Daop VI Yogyakarta, Bambang Setio Prayitno. mengatakan, operasional kereta tambahan tersebut dilakukan mulai H-7 hingga H+7 atau 21 Juli-5 Agustus. "Pemesanan tiket untuk kereta tambahan tersebut mulai dibuka pada Kamis (15/5) ini secara serentak pukul 00.00 WIB," katanya, Kamis (15/5).

Menurutnya, pemesanan tiket akan lebih efektif dilakukan secara online. Jika harus dilakukan secara manual dengan datang ke stasiun, maka ketersediaan tiket belum bisa dijamin. Hal ini karena seluruh pemesanan tiket sudah dilakukan secara terbuka dengan jaringan internet.

Layanan tiket secara online tersebut kata dia, bisa diakses melalui http: www.tiket.kereta-api.co.id atau http:www.tiketkai.com maupun http:www.paditrain.com. Selain itu, sejumlah saluran KAI juga melayani pemesanan seperti gerai Alfamart, Indomaret, Kantor Pos, Pegadaian serta agen tiket resmi.

"Kami khawatir saja jika harus ke stasiun, tapi ternyata sudah terpesan," katanya.

Meski begitu kata dia, saat pertama kali dibuka pemesanan biasanya sistem jaringan sulit terbuka. Terutama saat terjadi lonjakan //traffic// yang mengakses laman tiket online dalam waktu yang bersamaan.  "Harus terus dicoba. Jaringan tidak akan eror, hanya kesulitan akses karena server dikeroyok ramai-ramai," ujarnya.

Harga tiket angkutan lebaran KA tambahan ini menurutnya, masih bersifat tarif dinamis. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari PT KAI untuk harga tiket kereta lebaran. Namun diprediksi berada pada kisaran batas atas.

Sedangkan kuota tiket kereta reguler, arus mudik dari luar daerah menuju Yogyakarta sendiri sudah habis terjual. Namun warga Yogya yang ingin mudik ke luar daerah masih tersedia cukup banyak. Pasalnya wilayah Yogya merupakan tujuan mudik.

Red: Bilal Ramadhan
Rep: Yulianingsih

Jumat, 09 Mei 2014

OJK Tinjau Ulang Aturan KPMM Perbankan Syariah

OJK Tinjau Ulang Aturan KPMM Perbankan Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki 2014, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi telah menjadi anggota Islamic Financial Services Board (IFSB). Sebagai anggota, Indonesia juga ikut serta dalam penerapan standar yang telah ditetapkan oleh IFSB.

IFSB merupakan organisasi yang menetapkan standar internasional di bidang jasa keuangan syariah. Lembaga ini mendorong perwujudan dan peningkatan tingkat kesehatan dan stabilitas industri jasa keuangan Syariah (JKS) dengan mengeluarkan standar kehati-hatian yang bersifat global.

Oleh karena itu, menurut Deputi Komisioner OJK, Mulya Effendy Siregar, OJk juga tengah menilai kembali ketentuan syariah (PBI 7/13 tahun 2005) terkait ketentuan KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum). Hal ini dilakukan dalam rangka harmonisasi aturan PBI dan revised capital adequacy standard Islamic Financial Services Board Desember lalu.

Namun, menurut dia, bukan berarti Indonesia akan langsung menerapkan aturan tersebut. OJK akan menilai kembali sesuai dengan kondisi di bank syariah. Artinya apakah cocok dengan Indonesia dan tingkat kemampuan bank syariah.

"Karena ada aturan internasional yang tak tepat bagi bank di Indonesia. Contohnya, aturan shadow banking internasional, yang jika diterapkan di Indonesia maka seluruh Baitul Mal wa Tamwil bisa gulung tikar," papar Mulya.

Red: Nidia Zuraya
Rep: Ichsan Emrald Alamsyah

Kamis, 24 April 2014

Politik Pajak dan Anggaran Capres 2014*)

Politik Pajak dan Anggaran Capres 2014*)

Politik Pajak dan Anggaran Capres 2014*)
oleh Sunarsip

Di negara yang demokrasinya telah maju, pajak dan anggaran (tax and budget) selalu menjadi isu sentral dalam menarik simpati publik. Amerika Serikat (AS) adalah contoh betapa isu pajak dan anggaran ini begitu strategis kedudukannya untuk merebut simpati publik. Dalam kampanye politik pada pemilihan presiden AS pada 2018 dan 2012 lalu, dengan jelas kita bisa menyaksikan garis perbedaan terkait politik pajak dan anggaran yang ditawarkan oleh kedua kubu: Partai Demokrat (Obama) dan Partai Republik.

Kubu Demokrat menekankan pada pajak yang rendah bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan pajak yang tinggi bagi kelompok masyarakat kaya dan korporasi. Sedangkan dari sisi alokasi anggarannya, Demokrat memberi perhatian lebih untuk jaring pengaman sosial (social security), atau yang kita kenal sebagai Obama Care, yang memang saat itu sangat dibutuhkan. Obama juga melihat politik pajak dan anggaran AS harus menjadi alat untuk “mengoreksi” ketidakadilan, dimana saat itu pajak yang dikenakan untuk kelompok masyarakat kaya/korporasi dianggap masih rendah, di saat AS sedang membutuhkan dana besar untuk memulihkan ekonominya akibat krisis sejak 2007.

Sementara itu, kubu Republik cenderung bertolak belakang dengan Demokrat. Republik justru melihat kelompok masyarakat kaya dan korporasi perlu mendapat “perlindungan” dari pembebanan pajak tambahan untuk menjaga kelangsungan usahanya di tengah merosotnya ekonomi AS. Menurut kubu Republik, bila kelompok masyarakat kaya dibebani pajak tambahan, hal itu akan menyebabkan konsumsi masyarakat berkurang, yang pada akhirnya akan menyebabkan kelesuan industri. Hal yang sama juga akan berlaku bila korporasi dipajaki lebih tinggi. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan biaya produksi meningkat dan korporasi akan mengurangi kemampuan produksinya sehingga PHK pun menjadi tak terelakkan.

Pilihan politik pajak dan anggaran kedua kubu ini tentunya memiliki argumentasi yang kuat. Sekilas, kita akan menilai bahwa politik pajak dan anggaran Demokrat lebih populis (“merakyat”) dibanding Republik yang terkesan membela kelompok kapitalis. Padahal, pilihan politik pajak dan anggaran yang ditawarkan kubu Republik sejatinya masuk akal. Dengan komposisi penduduk AS yang sebagian besar adalah pekerja (workers), logikanya kesempatan kerja menjadi lebih utama dibanding social security, dimana pada saat itu angka pengangguran di AS masih sangat tinggi. Bila pajak korporasi dinaikkan pastinya akan semakin banyak korporasi yang mengalami kesulitan dan makin banyak pegawai yang di PHK.

Namun, dalam pertarungan memperebutkan simpati publik, apa yang ditawarkan Obama ternyata lebih menarik. Masyarakat AS lebih percaya dengan politik pajak dan anggaran Obama dalam membantu menyelematkan perekonomian AS, meskipun sesungguhnya efektivitas implementasinya kini mulai banyak diragukan. Faktanya, sejak Obama berkuasa pada 2008, perekonomian AS tidak kunjung membaik. Pertumbuhan ekonomi AS masih sangat rendah dan tingkat pengangguran pun masih tinggi. Di sisi lain, implikasi dari politik pajak dan anggaran yang diterapkan Obama telah menyebabkan AS harus mencetak uang lebih banyak melalui kebijakan Quantitative Easing (QE), dimana Bank Sentral AS harus membeli obligasi negara sekitar US$85 miliar per bulannya.

***

Dengan memperlihatkan contoh di AS tersebut, sejatinya saya hanya ingin memberikan contoh betapa politik pajak dan anggaran telah menjadi pembeda diantara para calon presiden (capres) sekaligus menunjukkan arah kebijakan fiskal yang akan diambil bila memerintah nanti. Pertanyaannya bagaimana dengan di Indonesia?

Sejak era reformasi ini, kita hampir tidak pernah melihat ada hal yang berbeda terkait dengan politik pajak dan anggaran dari para capres. Bahkan, kita bisa menyaksikan bahwa dalam setiap kampanye capres, hampir tidak ada yang memperlihatkan “keberaniannya” untuk berbeda dalam politik pajak dan anggarannya. Terhadap kedua isu ini, para capres baru sebatas mampu menjelaskan permasalahan yang dihadapi sektor pajak dan anggaran kita tanpa mampu menjelaskan strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Kita belum melihat, misalnya, apa yang akan ditawarkan oleh para capres dalam upayanya meningkatkan tax ratio yang masih sangat rendah, sekitar 12 persen dari PDB. Misalnya, adakah capres yang secara tegas berani menyampaikan seperti Obama: memajaki lebih tinggi untuk kelompok masyarakat kaya dan korporasi? Dugaan saya, tidak akan ada capres yang berani menempuh politik pajak dan anggaran seperti apa yang ditawarkan Obama ataupun kubu Republik. Sebagai contoh, sulit kita berharap capres kita akan dengan tegas berani mengatakan bahwa untuk menaikan tax ratio, kita akan memajaki kelompok masyarakat kaya atau korporasi dengan pajak yang lebih besar, seperti yang ditawarkan Obama. Kenapa? Secara jujur harus diakui bahwa politik kita masih belum mampu lepas dari politik patronase. Hampir seluruh capres kita memiliki “patron” dengan kelompok konglomerasi tertentu. Dengan kondisi seperti ini, capres akan ditinggalkan patronnya bila pada akhirnya mengetahui bahwa mereka akan dipajaki lebih tinggi bila nanti capres tersebut berkuasa.

Di sisi lain, kita juga belum melihat adanya politik anggaran yang jelas, tegas dan berbeda terkait dengan kebijakan alokasi anggaran dari para capres. Sebagai contoh, apa yang ditawarkan para capres untuk mengatasi belanja subsidi BBM yang kini mencapai hampir 30 persen dari APBN? Apa yang ditawarkan capres terkait dengan beban pembayaran utang yang semakin tinggi di saat kemampuan menarik pajak kita masih sangat rendah? Bagaimana solusi para capres untuk mengatasi buruknya kondisi infrastruktur kita ditengah keterbatasan dana pembangunan di APBN?

Kemampuan para capres dalam mengartikulasikan secara jelas dan tegas terkait dengan politik pajak dan anggarannya sangat penting untuk mengetahui arah kebijakan fiskal ke depan. Sayangnya, sejak era pemilihan presiden secara langsung ini, kita belum menyaksikan ada capres yang memperlihatkan orisinalitas dalam politik pajak dan anggarannya. Hampir seluruh capres menawarkan hal yang relatif sama. Padahal, problem pajak dan anggaran kita saat ini membutuhkan sentuhan yang berbeda dibanding sebelumnya.

Faktanya, sejak era reformasi ini, postur APBN kita tidak mengalami perubahan. Kemampuan menarik pajak kita masih relatif rendah, beban subsidi BBM dan beban pembayaran utang yang tinggi, di sisi lain belanja subsidi untuk kelompok miskin dan belanja infrastruktur sangat rendah, yang sesungguhnya mencerminkan ketimpangan dalam alokasi anggaran. Akibatnya, kita bisa menyaksikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemampuannya dalam kemampuannya mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pendapatan antar kelompok masyarakat juga sangat rendah.

Mudah-mudahan, dalam kontestasi capres 2014 ini, para capres kita mulai berani “menunjukkan diri” untuk menampilkan politik pajak dan anggaran yang orisinal serta menawarkan konsep yang berbeda. Sehingga, politik capres kita pun akan semakin berkualitas dengan banyak bertarung dalam tataran kebijakan bukan politik yang dibangun berdasarkan figur dan popularitas semata.***

*)Analisis ini dimuat oleh REPUBLIKA, pada Senin, 21 April 2014 di halaman 1. Sunarsip adalah Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI).

dicopas dari:
http://sunarsip.com/index.php?option=com_content&view=article&id=199:politik-pajak-dan-anggaran-capres-2014&catid=39:fiskal-dan-apbn&Itemid=131

Kamis, 17 April 2014

Saatnya OJK Atur Profesi Perencana Keuangan

Saatnya OJK Atur Profesi Perencana Keuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Kisah artis Ferdi Hasan yang merugi miliaran rupiah karena tersangkut investasi bodong cukup mengagetkan banyak orang. Terlebih, menurut pengakuan presenter televisi tersebut, investasinya buntung justru karena mengikuti rekomendasi dari perencana keuangan, QM Financial.

Profesi perencana keuangan pun dipertanyakan. Sebatas apa perencana keuangan bisa memberi saran investasi pada kliennya? Sekadar saran atau boleh sampai merekomendasikan suatu produk? Risza Bambang, Chairman One Shildt Financial Planning mengatakan, dalam bekerja seorang perencana keuangan akan menganalisa kondisi keuangan, profil risiko dan mengaitkannya dengan mimpi kehidupan klien.

Selanjutnya, perencana keuangan bisa saja merekomendasikan instrumen investasi yang paling cocok bagi si klien. “Sah-sah saja, perencana keuangan menyebut nama produk asalkan tidak hanya satu produk dan keputusan terakhir ada di klien,” ujar Risza.

Ketua Financial Planning Standards Boards (FPSB) Indonesia, Tri Djoko Santoso menjelaskan, perencana keuangan terbagi dua. Pertama, perencana keuangan yang bekerja pada lembaga keuangan. Mereka harus mempunyai lisensi dari otoritas agar dapat menawarkan produk-produk keuangan, seperti asuransi dan reksadana Kedua, perencana keuangan independen.

Di luar negeri, perencana keuangan independen harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu soal independensi mereka dan sumber-sumber penghasilan. Mereka juga perlu mendapatkan lisensi atas independensi mereka dari pemerintah disana. Nah, "Di Indonesia, setahu saya, belum ada aturan dari OJK untuk profesi perencana keuangan independen ini,” jelas Tri.

Di Indonesia sendiri, sertifikasi profesi perencana keuangan diterbitkan oleh FPSB Indonesia yang merupakan afiliasi dari FPSB America Ltd di Amerika Serikat.

Lembaga ini mempunyai kewenangan menerbitkan dan mencabut dua macam sertifikat profesi yakni Certified Financial Planner (CFP) dan Registered Financial Planner (RFP).

FPSB Indonesia mengikat profesi perencana keuangan dengan kode etik. Cuma, kata Tri Djoko, jika terjadi pelanggaran akan membutuhkan proses yang panjang hingga berbuah sanksi.

Toh begitu, anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kusumaningtuti S. Soetiono yang akrab disapa Titu menyatakan, profesi perencana keuangan sebenarnya dibutuhkan oleh regulator. "OJK butuh financial planner untuk menjadi juru bicara dalam mengedukasi masyarakat," ujar Titu.

Soal kasus investasi bodong yang menimpa Ferdi Hasan, Titu berpendapat, jika perencana keuangan menyerahkan pemilihan investasi kepada investor, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor sendiri. Sebaliknya, jika perencana keuangan menunjuk suatu perusahaan investasi tertentu, tanggung jawabnya ada pada perencana keuangan.

Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Sarjito menambahkan, seseorang bisa merekomendasikan produk investasi jika mengantongi izin sebagai penasihat investasi.

Sayang, OJK belum mengatur profesi perencana keuangan ini. Belajar dari kasus Ferdi, rasanya aturan main itu sudah mendesak. (Dea Chadiza Syafina, Noor Muhammad Falih)

Editor: Erlangga Djumena
Sumber: KONTAN
.......,...............................................................
IKLAN
Dijual ruko tempat strategis di Jl Veteran Yogyakarta, Shm, Lt:270m.Lbg:+-400m.kmtd:10.kmnd:4.dapur 2.  Harga Rp 1,5M.sudah ditawar 1,3 M
Peminat serius hub big.sugeng@gmail.com

Sabtu, 12 April 2014

Inilah 10 Fasilitas Favorit Tamu Hotel

Inilah 10 Fasilitas Favorit Tamu Hotel

Sabtu, 12 April 2014 | 16:19

Tampilan Kamar Hotel Harris Malang
Sebuah survei terbaru yang digelar oleh situs perbandingan harga Hotel.com, berhasil mengungkap fasilitas hotel yang paling populer dan diinginkan oleh kalangan tamu.

Uniknya, tawaran jacuzzi dalam kamar hotel atau ukuran yang lebih besar tidak masuk dalam daftar keinginan para tamu, karena peringkat pertama dari fasilitas yang paling diinginkan oleh tamu berhubungan dengan makanan, yaitu sarapan gratis.

Dalam melakukan survei ini, pihak Hotels.com mewawancarai lebih kurang 1.000 wisatawan di seluruh dunia untuk mengetahui hotel mana dan fasilitas di kamar yang paling mereka inginkan.

Seperti dilansir oleh Hotels.com dan dikutip oleh laman Foxnews, berikut daftar urutan fasilitas yang diinginkan oleh para tamu.

1. Sarapan gratis
2. Restoran
3. Wi-Fi Internet gratis
4. Parkir
5. Layanan Front Office 24 jam
6. Bebas Rokok
7. Kolam renang
8. Bar
9. AC
10. Kopi/teh di lobi hotel

Sementara itu, untuk para tamu yang lebih senang berdiam dalam kamar, berikut 10 fasilitas dalam kamar yang paling mereka inginkan.

1. Wi-Fi Internet gratis
2. Kamar mandi mandi
3. Ukuran kamar
4. TV
5. AC
6. Kopi/teh
7. Ruangan bebas rokok
8. Seprai kualitas premium
9. Housekeeping harian
10. Tipe Matras

Penulis: Feriawan Hidayat/FER

Sumber:Foxnews
dicopas dari
http://m.beritasatu.com/food-travel/177444-inilah-10-fasilitas-favorit-tamu-hotel.html

Kamis, 10 April 2014

OJK Akan Panggil Bank Terlibat dalam Uji Coba Branchless Banking

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memanggil bank-bank serta perusahaan telekomunikasi yang mengikuti uji coba Branchless Banking atau yang kini disebut program Layanan Keuangan Digital (LKD). Pemanggilan terkait rencana OJK mengkaji ulang program tersebut.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, OJK bersama para peserta uji coba akan membahas masalah-masalah penting seputar rencana berlakunya program LKD yang aturannya ditargetkan keluar tahun ini. "Minggu ini kita kumpulkan peserta uji coba, ini ga bisa ditunda," ujar Muliaman baru-baru ini.

Ia mengatakan, terdapat beberapa isu kritis mengenai program yang disebut juga dengan nama Unit Perantara Layanan Keuangan (UPLK) atau Unit Perantara Layanan Sistem Pembayaran (UPLSP) tersebut. "Ada beberapa isu kritis, siapa yang boleh ikut. Dulu BI ada syarat BUKU, kemudian agent, peraturan bagi perusahaan telko, itu harus diriview ulang, setelah itu buat agenda prioritas," ujarnya.

OJK akan bersinergi bersama BI dalam mengeluarkan aturan LKD. BI akan menyokong dari sisi aturan sistem pembayaran. Aturan ini mengikat perusahaan telekomunikasi yang terlibat. Sementara OJK akan mengatur dari sisi agen bank atau agent banking. Untuk melanjutkan pilot project tersebut, OJK akan mengacu pada petunjuk pelaksanaan yang sudah ada.

Uji coba Branchless Banking sebelumnya dilaksakanan pada Mei hingga November 2013. Pilot project melibatkan lima bank dan dua perusahaan telekomunikasi yaitu PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan PT Bank Sinar Harapan Bali serta PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk.

Red: Nidia Zuraya
Rep: Satya Festiani

Senin, 07 April 2014

Anak Petinggi PKS ini Harumkan Indonesia di MTQ Internasional

Anak Petinggi PKS ini Harumkan Indonesia di MTQ Internasional

Ananda Muhammad Saihul Basyir nama lengkapnya, putra ke-8 dari pasangan Ustadz Mutammimul Ula dan Dra Hj Wirianingsih (aleg PKS DPR RI), saat ini sedang berada di Kuwait mengikuti ajang perlombaan MTQ Internasional yang diselanggarakan oleh pemerintah Kuwait dan diikuti oleh peserta dari lebih 50 negara.

Ananda Basyir (panggilan akrabnya) saat ini masih sekolah kelas 3 SMA di Pesantren terpadu Darul Quran Mulia Serpong dan salah satu penghafal yang masih muda karena telah mengkhatamkan dan menyelesaikan hafalan Al Qur’an ketika masih kelas 6 SD.

Informasi kedatangan Ananda Basyir sudah sejak lama dari kakaknya Mas Aaf dan berikutnya Mas Faris mengkonfirmasi ulang, lalu dicarilah informasi ke panitia bahwa ada 2 orang delegasi yaitu Mas Fatahulloh dan Ananda Basyir yang merupakan anak kader berprestasi dan salah satu dari 10 bintang Al-Qura’an.

Pada hari sabtu pagi, 5/4/2014, Alhamdulillah masyarakat dan anak-anak Indonesia menyaksikan secara langsung kakaknya, Ananda Basyir melantunkan alunan yang indah dengan sempurna di gedung IICO (International Islamic Charitable Organization), South Surra.

MTQ sendiri berlangsung selama satu pekan yang terbagi dalam kategori lomba Tilawah, Hafalan 30 Juz, Hafalan dengan berbagai riwayat dengan 6 (enam) orang juri yang berasal dari Kuwait, Saudi, Mesir, Jordan, Bahrain memeperebutkan hadiah yang sangat fantastis.

Sebelum perlombaan MTQ tersebut, Ananda Basyir menggunakan hak pilihnya sebagai WNI untuk pertama kali mencoblos di Kuwait pada hari jum’at siang, 4/4/2014. Tidak lupa, kami mengajaknya keliling kantor perwakilan dan bertemu dengan bapak duta besar, diplomat (home staff), PPLN Kuwait, serta kader-kader PKS yang saat itu sedang bertugas sebagai saksi, dan tentunya dengan masyarakat.

Pada hari keesokan harinya setelah berlomba, ananda Basyir bertemu dan bersilaturahmi dengan kader tangguh PIP yang baru usai berjihad dalam pemilu 2014 dibawah komando dari ketua PIP PKS Kuwait, Ust. Noor Aziz, Lc.

*Tim Humas PIP PKS Kuwait

Jumat, 04 April 2014

Kantor Pajak Jawa Tengah Selidik 6 Wajib Pajak

Kantor Pajak Jawa Tengah Selidik 6 Wajib Pajak

Kantor Pajak Jawa Tengah Selidik 6 Wajib Pajak

TEMPO.CO, Surakarta - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II saat ini tengah memeriksa bukti permulaan atas adanya dugaan pidana perpajakan yang dilakukan enam wajib pajak. Kepala Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II, Basuki Rakhmad, mengatakan keenam wajib pajak tersebut diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 11,3 miliar. "Jumlah itu dihitung dari kewajiban membayar pajak yang tidak dilakukan oleh wajib pajak," ujarnya, Kamis, 3 April 2014. Tindak pidana perpajakan yang dilakukan, kata dia, umumnya yakni wajib pajak tidak membayar pajak sesuai dengan ketentuan.

Basuki menjelaskan, keenam wajib pajak yang masuk kategori bandel itu terdapat di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Basuki tidak menyebutkan identitas mereka. Dia hanya menyebutkan di Kabupaten Sukoharjo terdapat satu wajib pajak bandel yang berbisnis dalam bidang perdagangan bahan bangunan. Di Kabupaten Karanganyar, ada dua wajib pajak bandel. Salah satunya memiliki usaha dalam bidang perdagangan alat rumah tangga, sementara yang lainnya berdagang pupuk. Di Kabupaten Cilacap, terdapat satu wajib pajak bandel yang punya usaha dalam bidang jasa konstruksi.

Seorang wajib pajak perorangan di Magelang yang punya usaha dalam bidang peternakan juga sedang diperiksa. Terakhir, wajib pajak bandel yang disorot berada di Surakarta. Dia memiliki usaha yang bergerak dalam bidang industri kertas.

Selain memeriksa wajib pajak, Kantor Wilayah Pajak Jawa Tengah II sudah mengeluarkan 4.378 surat paksa pembayaran pajak dan 200 surat perintah penyitaan aset. Juga melelang enam aset milik wajib pajak dan memblokir 47 rekening.

Basuki mengatakan tindak penegakan hukum ini untuk mengamankan target penerimaan pajak sebesar Rp 7,097 triliun. Saat ini setoran pajak baru Rp 1 triliun.

Adapun Kepala Seksi Pelayanan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta, Hafidz El Fauzi, mengatakan, hingga akhir Maret 2014, penyampaian surat pemberitahuan tahunan wajib pajak perorangan mencapai 47,2 persen dari total 63.736 wajib pajak. “Bagi wajib pajak yang menyampaikan SPT lewat e-filling masih ada waktu sampai 30 April 2014,” katanya. (Baca: Batas Akhir Penyerahan SPT Pajak e-Filing Diundur).

Sebanyak 2.274 wajib pajak ditargetkan menggunakan e-filling, namun ternyata 3.798 orang tercatat memanfaatkan layanan tersebut.

Lagi, Ormas Islam Serukan Pilih parpol Islam

Lagi, Ormas Islam Serukan Pilih parpol Islam
03 April 2014 19:06 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) mengeluarkan maklumat berkaitan dengan Pemilu 2014. Ketua Umum Al-Irsyad Abdullah Jaidi Mubarak mengatakan, imbauan tersebut ditanda tangani terdiri 60 ormas Islam. Di antara ormas itu adalah Muhammadiyah, NU, Persis, Hidayatullah, dan Al-Irsyad.

Ormas Islam, menurut dia, mengimbau agar umat Muslim untuk memanfaatkan momen pileg dan pilpres dengan menggunakan hak suaranya. "Berkenaan dengan memilih caleg, supaya kita menjatuhkan pilihan, salah satunya tentu seorang Muslim, berakhlakul karimah, berilmu, dan memiliki kemampuan memimpin," kata Abdullah, Kamis (3/4).

Imbauan itu, kata dia, berdasarkan sifat Rasul. Dalam memilih caleg, menurut dia, diutamakan harus seorang yang amanah, punya kepedulian tunggal dan komitmen terhadap kemajuan Islam. Hal itu merujuk pada sebuah hadits agar kaum Muslim untuk tidak mengambil pemimpin di luar kalangan sendiri.

Pesan itu harus diterjemahkan bahwa lebih mengutamakan pemimpin yang seiman memiliki mudarat lebih banyak daripada pertimbangan lainnya. Karena itu, dengan menjatuhkan pilihan ke orang yang beriman, mendirikan shalat dan menjaga hubungan dengan Allah, serta pribadi jujur maka mencoblos itu merupakan sebuah keputusan terbaik.

Pasalnya, umat sekarang sedang menanti seorang tuntunan yang cerdas dan amanah, serta sanggup membela kepentingan Islam di Indonesia. "Intinya pilihan itu baik untuk caleg dan partai yang punya komitmen maupun kepentingan Islam dan Muslimin, baik parpol Islam atau yang berbasis Islam," ujar Abdullah.

Red: Joko Sadewo
Rep: Erik Purnama Putra

Rabu, 02 April 2014

Aa Gym: Pilihlah Partai yang ingin mengajak kita jadi bangsa yg diridhoi Alloh

Aa Gym: Pilihlah Partai yang ingin mengajak kita jadi bangsa yg diridhoi Alloh

Tujuh hari lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi yang untuk kesekian kalinya akan memilih orang-orang yang akan memimpin negeri ini. Pesta yang hadir 5 tahun sekali selalu menarik perhatian banyak orang karena disinilah optimisme dan pesimisme bercampur menjadi satu; apakah nasib bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk?

Tentu kita semua menginginkan masa depan bangsa yang lebih baik. Maka gunakan sebaik-baiknya 'momen 5 menit' di bilik suara yang akan menentukan '5 tahun' masa depan kita.

Saking pentingnya pemilu bagi masa depan bangsa, Abdullah Gymnastiar atau yang terkenal dengan nama Aa Gym turut berpesan agar kita menggunakan hak pilih secara baik, salah satunya adalah dengan memilih partai atau calon pemimpin yang ingin mengajak kita menjadi bangsa yang diridhoi Alloh.

"Kalau akan memilih partai, jangan pilih karena figur namun pilih yang ingin mengajak kita jadi bangsa yg diridhoi Alloh," ungkap Aa Gym lewat akun twitternya @aagym.

Suara kita menentukan masa depan bangsa kita.

Selasa, 01 April 2014

Jalur Kereta Kedungjati-Yogyakarta Bakal Terkoneksi Kembali

Jalur Kereta Kedungjati-Yogyakarta Bakal Terkoneksi Kembali

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Perjalanan jalur kereta api lama, Kedungjati- Tuntang- Ambarawa- Bedono- Magelang- Yogyakarta bakal dapat dinikmati kembali. Tahun 2015, reaktivasi jalur Kedungjati- Tuntang diproyeksikan sudah rampung pengerjaannya.

“Sehingga jalur rel ini sudah akan tersambung hingga stasiun Ambarawa,” jelas Kabid Perkeretaapian dan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Dishubkominfo Jawa Tengah, Prasetyo Kentjono, baru- baru ini.

Pekerjaan yang sama, tambah Prasetyo, selanjutnya juga akan dilakukan untuk jalur lama Bedono- Magelang hingga Yogyakarta.

Jika jalur lama kereta api ini sudah terkoneksi kembali, maka perjalanan kereta api akan melalui beberapa stasiun yang menjadi rintisan perkembangan perkeretaapian di tanah air.

“Nantinya kereta akan melewati beberapa stasiun. Diantaranya Stasiun Jambu, Bedono, Magelang, sebelum tersambung ke sejumlah stasiun di Yogyakarta,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan, terkait reaktivasi Ambarawa hingga Yogyakarta, sejauh ini sudah ada penjajakan kesepakatan kerjasama antara Pemprov Jawa Tengah, PT Kereta Api dan Kementrian Perhubungan RI.

Dari kajian yang sudah dilakukan, tambahnya, ada beberapa titik lokasi yang akan dibangun jalur baru. Karena jalur lama sudah tidak memungkinkan lagi. Terutama untuk jalur kereta yang menanjak terjal, yang saat ini masih aktif dilalui lokomotif bergerigi dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Bedono.

“Tim, saat ini, masih menyiapkan desain jalur baru yang dimaksud, untuk menghindari tanjakan Jambu yang terjal,” tambah Prasetyo. 

Red: Hazliansyah
Rep: Bowo Pribad

Kamis, 27 Maret 2014

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Sebagian orang yang sesat dan memilih jalan kesesatan bukanlah karena ia tidak tahu mana yang hak dan mana yang batil.

Akan tetapi dia tersesat karena kebencian dan kedengkiannya kepada orang lain atau kelompok lain.

Awalnya sepele, akan tetapi karena kebenciannya itu dibiarkan tumbuh dan berkembang, bahkan dipupuk dengan perangai jahat dan kata-kata berbisa, akhirnya ia tidak merasa lagi bahwa dia sesat, bahkan merasa dirinya benar dan berada pada pihak yang benar.

Awalnya mungkin ada perperangan batin yang dahsyat seperti yang pernah dirasakan oleh Umayyah bin Abi Shalt dan Abu Jahal. Akan tetapi ketika bertemu dengan teman seide atau komunitas seperangai, kedengkian itu mengkristal hingga menutup batinnya untuk melihat kebenaran. Akhirnya sampai pandangannya terbalikpun tidak dia sadari lagi.

Sifat-sifatnya yang dulu mulia akhirnya terkikis menjadi biadab. Semua hanya berubah karena benci dan dengki.

Sejarah mencatat banyak sekali orang bertipe seperti ini. Di antaranya para pembesar kafir Quraisy yang menjadi penentang dakwah Rasulullah, seperti: Walid bin Mughirah, Al 'Ash bin Wail, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, 'Utbah bin Rabi'ah, Nadhar bin Harits, juga gembong munafik Ibnu Ubay bin Salul dan seluruh Yahudi Madinah yang tidak mau beriman kepada Rasulullah.

Baik itu kedengkiannya kepada pribadi Rasulullah maupun kebenciannya kepada keluarga atau suku Rasulullah. Seperti, bagaimana dahsyatnya kedengkian Bani Makhzum (suku Abu Jahal) kepada Bani Hasyim (suku Rasulullah).

Atau yang lebih dahsyat dari itu bagaimana kedengkian Bani Hanifah (suku besar Musailimah al Kadzdzab) kepada Bani Mudhar (suku besar Rasulullah).

Seluruh orang yang kita sebutkan di atas awalnya adalah orang-orang mulia yang bersifat dengan sifat baik. Para pemilik akal cerdas yang menjadi rujukan. Hingga mereka dijadikan panutan dan pemuka masyarakat. Tapi sayang sekali, mereka jadi jahat justru ketika kebenaran dan hidayah datang menyapa.

Allah berfirmah dalam surat al Baqarah 109:

حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق

"...karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka..."

Ya Allah, sucikan hati kami dari kedengkian yang menghitamkan hati nurani. Pertemukan kami dengan teman-teman yang saling mengingatkan untuk menjauhi sifat keji. Dan jauhkan kami dari orang-orang yang meracuni batin kami dengan perangai yang Engkau murkai.

*by Zulfi Akmal
(Al Azhar, Cairo)

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir tengah Terjadi Genosida

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir tengah Terjadi Genosida

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir Tengah Terjadi Genosida

Hidayatullah.com–Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Maneger Nasution menyampaikann duka cita atas kasus vonis mati pengadilan Mesir terhadap 529 aktivis Al Ikhwan al Muslimun.

“Terkait kasus vonis mati pengadilan Mesir terhadap 529 aktivis Ikhwanul Muslimin, Komnas HAM menyampaikan hari berkabung kemanusiaan,” tulis Maneger dalam rilis yang diterima hidayatullah.com, Selasa (25/03/2014) malam.

Menurut Maneger kasus ini bisa jadi sebagai upaya pemerintah Mesir memangkas habis anggota dan paham Ikhawanul Muslimin. Maneger meminta agar badan dunia turut campur menyelesaikan masalah ini.

“Mendorong OKI (Organisasi Negara-negara Islam) dan dewan HAM PBB untuk  menginvestigasi kemungkinan terjadinya genosida oleh pemerintahan yang berkuasa di Mesir,” tegas dia.*

Sabtu, 15 Maret 2014

Antara pencitraan dan kerja nyata

Antara pencitraan dan kerja nyata

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Asma Nadia

Saya tidak mengira, ternyata ada kemiripan antara penerbitan dan politik. Sekalipun keduanya merupakan bidang yang berbeda, tapi cara mencapai puncak kurang lebih sama.

Ada pepatah yang bilang "Don't Judge a book from its cover" atau intinya jangan melihat buku dari penampilan luar, tapi lihat isinya.

Nasihat ini sampai sekarang masih akurat kebenarannya, menjadi acuan saya setelah membangun penerbitan sendiri di tahun 2009. Sayangnya tak semua penerbit, juga pembaca memerhatikan. Ada yang membeli buku karena cover-nya bagus, setelah beli baru tahu bahwa isinya mengecewakan. Ada juga buku yang judulnya menggoda, ternyata selesai dibaca, isinya tidak sebagus judulnya. Tidak sedikit buku yang begitu populer, namun isinya sebenarnya biasa saja.

Buku bagus itu tergantung pada isi, dan idealnya masyarakat membeli buku yang bagus. Akan tetapi kenyataannya banyak buku yang tidak bagus tapi laris di pasaran. Sebaliknya banyak buku bagus yang tidak laku di pasaran.

Saya sering ke toko buku dan membeli buku yang didiskon hingga 70%. Aktivitas ini sering saya lakukan untuk membeli buku-buku yang akan dikirim ke RumahBaca Asma nadia, 123 perpustakaan dhuafa, sebagian memiliki sekolah dan kelas komputer gratis bahkan tempat bernaung bagi anak-anak yatim yang tak mampu. Dari aktivitas ini saya menemukan kenyataan, sekalipun buku-buku tersebut harganya murah dan mendapat diskon besar, ternyata sebagian besar adalah buku bagus.

Lalu kenapa diobral? Kenapa tidak laku?

Ternyata sekalipun bagus, tetapi buku-buku tersebut tidak berhasil membangun pencitraan sebagai buku bagus. Buku bagus yang gagal membangun pencitraan kemungkinan besar akan gagal di pasaran. Buku bagus bukan jaminan laris manis di pasar jika tidak terbangun branding yang meluas.

Prinsip yang sama ternyata juga berlaku di dunia politik.

Saya mengenal beberapa politisi yang baik, jujur dan berdedikasi, tapi mereka gagal menjadi pilihan rakyat. Tidak semua politisi bagus mendapat kepercayaan rakyat. Sebaliknya banyak politisi yang mengajukan diri hanya untuk kepentingan pribadi, justru terpilih. Kenapa? Sekalipun tidak spesial mereka sukses memasarkan dirinya, sukses dalam pencitraan dan branding.

Pencitraaan atau branding adalah kuncinya.

Ada politisi yang begitu populer sehingga dengan mudah bisa meraih jabatan penting. Akan tetapi setelah menjabat tidak banyak perubahan berarti yang dicapainya. Ternyata sang politisi punya segudang perlengkapan untuk membangun pencitraan dirinya, sehingga setiap hal kecil yang dilakukannya terlihat besar dan kelalaian besar yang dilakukannya terlihat kecil. Ibarat buku, cover bagus judul memukau, tapi isinya kurang memuaskan.

Di sisi lain, ada juga politisi yang berdedikasi tinggi. Bahkan sebelum menjabat pun sudah berkontribusi banyak untuk rakyat. Akan tetapi karena dengan berbagai alasan, termasuk kekhawatiran tidak ikhlas, tidak melakukan pencitraan, hingga malah tidak terpilih.

Ada juga politisi baik yang berhasil menjabat. Karena begitu besar dedikasinya untuk rakyat ia sibuk pergi ke sana kemari, menyelesaikan masalah di sana dan di sini. Ia tidak sempat memikirkan pencitraan dan tak meminta wartawan meliput kegiatannya. Akhirnya rakyat tidak menyadari kiprah sang pemimpin tersebut dan di episode berikutnya dia tidak terpilih lagi.

Ini tipe politisi bagus dan hebat tapi gagal dalam pencitraan.

Lalu bagaimana solusinya?

Harapan saya untuk para politisi yang jujur, baik dan berdedikasi,jangan lupa membangun pencitraan. Pencitraan bukan bermaksud mengumbar kebaikan, atau didasari ketakutan melakukan sesuatu secara tidak ikhlas, tapi itu penting untuk memenangkan hati rakyat. Kalau pencitraan adalah salah satu kunci kemenangan, maka jangan lupa selain kerja juga membangun dan menjaga pencitraan.

Bagaimana jika politisi bagus tersebut tetap mengabaikan pencitraan?

Sama seperti kita mempromosikan buku. Saya sendiri setiap membaca buku bagus, akan menyampaikan kepada orang lain tentang betapa bagusnya buku tersebut, sehingga kalaupun pencitraan buku atau dana promosi buku tersebut tidak maksimal, orang tetap mendengarnya dengan harapan mau membeli dan puas karena membaca buku bagus.

Kalau kita kenal politisi baik yang bisa diandalkan tapi melupakan pencitraan, maka sebagai masyarakat yang peduli perubahan, kita harus membantu meningkatkan citra mereka demi masa depan rakyat dan bangsa ini.

Jika kita berdiam diri, bisa-bisa medan pertempuran politik dimenangkan oleh para politisi busuk. Sesuatu yang tentu sama-sama tidak kita harapkan.

Selasa, 11 Maret 2014

Mengapa kita merasa lapar saat mencium bau makanan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Penelitian baru yang didanai oleh Dewan riset Eropa yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bagaimana sistem endocannabinoid mengontrol asupan makanan dengan menggunakan indra penciuman.

Endocannabinoids adalah bahan kimia yang diproduksi di dalam tubuh dan digunakan untuk mengirim pesan antarsel.

Sistem endocannabinoid adalah jaringan reseptor neuron, enzim dan endocannabinoids yang terdapat di otak hewan dan manusia. Reseptor dalam sistem endocannabinoid yang berhubungan dengan sensasi, seperti euforia, kecemasan, dan rasa sakit.

Para ilmuwan tahu bahwa ketika kita lapar, tubuh kita meningkatkan kinerja indra penciuman dalam rangka meningkatkan kemampuan kita untuk mencari makanan.

"Peningkatan bau memungkinkan kita untuk menemukan sumber makanan," kata penulis studi, Giovanni Marsicano, dilansir dari Medical News Today.

Namun, mekanisme yang menjelaskan bagaimana koordinat otak menunjukkan sensasi kelaparan, indra penciuman, dan asupan makanan masih belum dipahami dengan baik. Selama kita lapar, otak meningkatkan mekanisme untuk merangsang indra penciuman.

Marsicano menggunakan tikus sebagai subyek. Sensasi kelaparan mengaktifkan reseptor CB1, lalu olfactory bulb dan korteks. Jadi, mekanisme otak akan meningkatkan kepekaan kita terhadap bau ketika kita lapar, yang pada gilirannya meningkatkan keinginan kita untuk mencari makanan.

Hewan dan manusia akan memproses bau berbeda, terutama ketika ingin mencari makanan. Marsicano berpendapat bahwa  respon indra penciuman ketika lapar pada manusia lebih rendah dibandingkan hewan. Itu sebabnya mengapa otak hewan ketika lapar tidak akan bisa serasional manusia.

Red: Yudha Manggala P Putra
Rep: Mutia Ramadhani

Kamis, 27 Februari 2014

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis

Kamis, 27 Februari 2014

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis..

'Aidh al-Qarni

Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.

Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits.

Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab'ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.

Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,

{Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.}
(QS. Al-Baqarah: 216)

Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimistis dan yang seorang lagi pesimistis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimistis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Adapun sastrawan yang pesimistis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.

Begitulah, sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala. []

*dikutip dari buku "La Tahzan" (Jangan Bersedih)

http://www.pkspiyungan.org/2014/02/la-tahzan-jadikan-buah-lemon-itu.html?m=1

Rabu, 26 Februari 2014

Ulama Jangan Berpolitik?

Ulama Jangan Berpolitik?

Mewaspadai Ungkapan Racun: "Ulama Jangan Berpolitik!"

Ulama jangan berpolitik dan jangan dekati politik!

Ulama rabbany itu jauh dari masalah-masalah politik.

Benarkah ini?

Berkaca kepada sejarah ternyata setiap pemimpin besar yang adil dan besar selalu didampingi ulama rabbani, bahkan mereka sendiri adalah ulama.

Empat orang Khulafaurrasyidin adalah para ulama yang dilingkari oleh ratusan bahkan ribuan ulama shahabat.

Umar bin Abdul Aziz didampingi oleh seorang perdana mentri yang bernama Raja' bin Haiwah. Wama adraka ma Raja' bin Haiwah? (Dan siapakah Raja' bin Haiwah? seorang tokoh besar tabi'in -ed). Di samping itu puluhan ulama tabi'in yang selalu menyertai dan membantu beliau menjalankan amanah. Terus, siapa yang meragukan keulamaan dan ketinggian ilmu beliau (Umar bin Abdul Azizi) sendiri?

Harun ar Rasyid didampingi oleh dua orang murid Abu Hanifah; Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy Syaibany. Juga seorang alim besar yang bernama Al Kisa-i.

Sultan Shalahuddin al Ayyuby selalu disertai oleh ulama yang sangat hebat dan shaleh; qadhi Fadhil.

Sultan Muhammad al Fatih didampingi selalu oleh seorang guru rabbany yang bernama Syamsuddin Aqa.

Begitu sejarah mencatat! Ini baru segelintir.

Perlu dikoreksi kembali, barangkali penyebab bobroknya kondisi perpolitikan sekarang justru karena ulama menjauh dari ring politik. Tidak mau tahu terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah. Atau tidak mau ambil resiko, semua cari selamat. Lebih parahnya, pemimpin itu didampingi para ulama suu'.

Saya kira ungkapan: politik haram, ulama jangan berpolitik, politik tidak ada hubungannya dengan agama, agama jangan dibawa-bawa ke arena politik adalah ungkapan politis para ahli syahwat dan ahli dunia yang tidak mau terganggu kebebasannya. Ungkapan orang yang tidak ingin diatur oleh agama, yang ingin bebas sesuai seleranya.

Untuk menyambut kebangkitan Islam di masa yang akan datang persepsi ini perlu diperbarui. Dikembalikan kepada porsi semestinya. Hadits tentang larangan ulama mendekati tangga sultan perlu dipahami dengan benar dan proposional.

Sultan yang baik didampingi oleh ulama rabbany yang baik. Ulama jahat (suu') mendampingi pemimpin yang zalim.

*by Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

http://www.pkspiyungan.org/2014/02/mewaspadai-ungkapan-racun-ulama-jangan.html?m=1

Senin, 24 Februari 2014

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler
Oleh:
 Prima Kumara

Beberapa survei mengatakan bahwa perolehan suara partai politik(parpol) berbasis agama pada Pemilu 2014 diprediksi semakin menurun. Bahkan partai ini terancam tidak dapat meloloskan calon anggota legislatifnya menjadi anggota DPR.

Partai Politik (parpol) bisa kita bagi dalam dua kelompok, yaitupartai sekuler (bukan berbasis agama) dan partai agama. Partai sekulerumumnya menggunakan jargon-jargon nasionalis, dan sebaliknya partaiagama menggunakan jargon agama.

Ada yang menarik sejak pemilu 2004 sampai sekarang, kita makin sulit membedakan mana parpol agama dan mana parpol sekuler. Hal ini dikarenakan, parpol - parpol sekuler juga telah merubah jargon mereka menjadi partai religius nasionalis namun tetap dengan cita rasa sekuler.

Kalau parpol agama menggunakan jargon dan simbol agama maka itu bisa dikatakan wajar, namun bagaimana dengan parpol sekuler yang

menggunakan simbol - simbol dan jargon agama dalam kampanyenya. Ini bisa dikategorikan masuk dalam strategi politik yakni pencitraan.

Pencitraannya akan terlihat jelas manakala saat pembahasan sidang-sidang tentang undang-undang, mereka menggunakan pemikiransekulernya sementara simbol dan jargon agamanya ditanggalkan.

Ketika mereka dicokok KPK, mereka dengan bangga mengatakan bahwa untung partainya bukan partai agama sehingga 'wajar' kalau kurang memperhatikan moral.

Tahun 2013-2014 ini, banyak pengamat dan juga lembaga survei yang tiba-tiba punya hobi baru meneliti dan menganalisa partai-partai

berbasis agama, padahal sebelumnya tidak kedengaran dan tidak terlihat di ranah itu. Banyak tuduhan, partai politik yang benar-benar murni berasaskan agama dituduh menjual agama demi kepentingan politiknya.

Seharusnya kita bisa lebih jernih dan obyektif menilai, mana partaipolitik yang menggunakan politik sebagai alat untuk memperjuangkanagama di ranah pemerintahan, dan mana partai politik sekuler tetapi

mereka menggunakan agama sebagai alat politik guna untuk memikat dan menarik banyak masa yang mayoritas beragama. Jadi pertanyaannya, siapa yang menjual agama untuk kepentingan politik dan siapa menggunakan politik untuk agama?

Dari data ICW dan FITRA diketahui bahwa urutan partai politik yang

terkorup adalah Golkar (36,36%), kedua PDIP (18,18%), Partai Demokrat 11,36%), PPP (9,65%), PKB (5,11%), PAN (3,97%), dan PKS (2,27%). Mari kita berpikir obyektif dan fair, dari data tersebut diketahui bahwa partai agama itu sesungguhnya tingkat korupsinya jauh lebih kecil dibanding partai nasionalis atau sekuler.

Mencermati situasi gaduhnya politik tanah air belakangan ini kadangjuga disebabkan karena kita tidak 100 persen menjadi diri sendiri,yang akhirnya secara otomatis kita tidak bisa menjadi Indonesia.

Padahal kalau kita lihat dan baca terwujudnya Sumpah Pemuda 1928adalah karena setiap tokoh yang terlibat waktu itu 100 persenberkepribadian utuh sebagai Jong Java, Jong Sumatra, jong IslamintenBond, dan lain-lain. Karena mereka utuh menjadi diri mereka sendiri,ada ruang luas untuk berbagi dengan komponen bangsa yang lain tanpa merasa curiga dan khawatir dikhianati.

Namun kini, setiap diri kita, setiap parpol cenderung beridentitas dan berkepribadian setengah, akibatnya akan sangat rapuh karena absen bersikap. Padahal jika kita 100 persen beragama, maka akan memunculkan 100 persen Indonesia.

Oleh karenanya, sudahlah para agen survey maupun pengamat bertindaklah sewajarnya saja, tidak usah membuat framing - framing khusus untuk partai tertentu.

Persilahkan, semua peserta pemilu 2014 berlomba-lomba membuat yang terbaik untuk bangsa ini. Adanya partai berbasis agama bukanlah yang menakutkan, partai berbasis agama atau bukan, yang punya tetap orang Indonesia. Biarkan rakyat memilih mana yang terbaik

Di antara partai yang ada saat ini, apakah partai agama atau partaisekuler yang akan jadi pilihanya.

Di sejumlah negara maju seperti Jerman misalnya, partai berazas agama justru bisa memberi solusi bagi masyarakatnya. Partai CDU, partainya Angela Merkel dipercaya oleh masyarakat dan terbukti membuat Jerman jaya dan menjadi penyelamat Eropa dalam mengatasi krisis.

Terlebih lagi di daerah negara bagian Bayern, daerah terkaya di seluruh Jerman, pemenangnya selalu partai agama. Begitu juga di negara-negara lain seperti Turki atau Iran.

Sebuah kesadaaran besar yang kita sepakat bersama bahwa Bhineka itu adalah karunia, oleh karenanya janganlah partai berbasis agama dikerdilkan dan jangan pula diframing tetapi berdirilah dan amatilah secara adil diantara partai-partai yang ada tersebut.

Prima Kumara

Warga Pancoran

primakumara05@gmail.com

  

http://m.inilah.com/read/detail/2077105/partai-agama-bisa-lebih-baik-dari-partai-sekuler

Kamis, 20 Februari 2014

Cita cita sederhana orangtua

Cita cita sederhana orangtua

Kamis, 20 Februari 2014

Cita-Cita Sederhana Orang Tua

"Cita-Cita Orang Tuaku"

Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

Dulu kedua orang tuaku tidak pernah mencita-citakan diriku untuk kuliah sampai doktor, juga tidak mencita-citakan diriku untuk hafal al Qur'an.

Beliau bukan orang sekolah tinggi, jadi tidak ngerti hal gituan.

Tapi beliau sangat mendukung kalau ingin "sekolah setinggi-tingginya". Begitu bahasa beliau.

Tidak pernah juga mendorong-dorong supaya juara di sekolah, sekalipun selalu juara. Lalui saja apa adanya. Tidak ada iming-iming hadiah kalau berprestasi.

Hanya satu yang beliau cita-citakan untuk diriku; "kalau mendengar suara azan, aku langsung menuju mesjid, kalau dapat sebelum azan dikumandangkan sudah berada di mesjid. Syukur-syukur bisa jadi imam". Itu saja cita-cita beliau yang sederhana.

Namun sekarang aku baru sadar betapa mulia, besar, dan sulitnya cita-cita beliau itu. Cita-cita Nabi Ibrahim untuk anak cucunya. Aku tidak tahu, dari mana ibu-bapakku mendapatkan hal itu.

Banyak aku melihat orang yang sudah bertitel doktor, bahkan profesor, kalau mendengar suara azan seperti tidak terpanggil untuk segera memenuhi panggilannya. Begitu juga ada yang hafal al Qur'an 30 juz, cuek saja ketika azan berkumandang, lebih memilih shalat sendirian dari pada berjama'ah. Bahkan shalatnya sudah di akhir-akhir waktu.

Ketika beliau datang berkunjung ke Mesir beberapa bulan yang lalu, untuk menunggu kelahiran cucu yang kedua dariku, beliau sempat agak marah karena di waktu azan sudah berkumandang aku masih juga bercerita, tidak langsung menuju mesjid.

Di samping itu ternyata ibuku sempat curhat kepada istriku, setelah beliau pulang baru disampaikan kepadaku. Beliau berkata: "Satu saja yang mama cemaskan terhadap si Zul. Kalau sudah sibuk bekerja mencari nafkah, asyik dengan uang, dia jadi terlambat-lambat melakukan shalat. Shalat berjama'ahnya jadi bolong-bolong".

Sekarang, aku juga tidak muluk-muluk bercita-cita untuk anak keturunanku. Jadi apa pun mereka nanti, yang penting halal dan diredhai Allah, ketika azan berkumandang telapak kaki mereka otomatis mengarah ke mesjid untuk shalat berjama'ah.

Ya Allah, limpahkan lah selalu rahmat dan kasih sayang-Mu untuk kedua orang tuaku. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat dan dari anak keturunanku. Ya Tuhan, terimalah do'aku ini." (QS Ibarahim: 40)

:: PKS PIYUNGAN

Selasa, 21 Januari 2014

Menuduh Keikhlasan Para Relawan: Catatan Banjir Jakarta

 
 
 
 
 
"Kerja tidak ikhlas memang buruk. Tapi yang lebih buruk lagi adalah menuduh orang lain tidak ikhlas...." (Abdullah Haidir)

Musibah banjir di Jakarta mendatangkan keprihatinan, namun juga meningkatnya solidaritas dan kepedulian. Hal ini dibuktikan dengan marak dibukanya posko-posko bantuan, dan juga turunnya para relawan langsung ke gelanggang untuk membantu evakuasi dan memberikan bantuan.

Beberapa tokoh politik juga terlihat mondar-mandir dan blusukan, menyapa warga, menguatkan hati dan tentu saja memberikan bantuan. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat lehernya saja untuk memasuki wilayah yang terendam lebih dalam.

Namun diantara itu semua, yang layak untuk dicermati adalah banyaknya komentar pedas yang menuduh mereka -partai politik- yang membuka posko hanyalah berniat pencitraan dan kampanye. Partai politik dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tuduhan ini bukan hanya bersliweran di media sosial seperti facebook atau twitter, namun juga media turut memanas-manasi keadaan entah sengaja atau tidak.

Mari kita simak salah satu contoh, bagaimana situs berita merdeka com menampilkan judul yang terlihat sangat subjektif: "Tahun politik, kader PKS datangi korban banjir Jakarta". Berikut penggalan awal dari tulisan tersebut :

2013 Merupakan tahun politik bagi partai politik. Sebab, tahun ini parpol akan berusaha mati-matian meningkatkan citranya agar dipilih oleh publik di Pemilu 2014. Bersamaan dengan itu, awal tahun politik Jakarta diterjang banjir. Sejumlah parpol pun berusaha menarik simpati warga dengan memberikan bantuan dan mendirikan posko. Hal yang sama juga dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sejumlah kader PKS mendatangi para korban banjir yang masih bertahan di rumahnya masing-masing untuk memberikan bantuan.

Maka tulisan di atas pun bersambut dengan tambah komentar yang hampir semuanya mencibir langkah yang telah dilakukan parpol tersebut. Ada yang menyebut dengan kemunafikan, tidak ikhlas, dan serangkaian tuduhan lainnya.

Entah gejala apa, tetapi yang seharusnya terjadi dalam situasi seperti ini adalah saling berlomba untuk berbuat yang terbaik dan membantu warga yang kesulitan, bukan saling menuduh niatan apalagi dengan berpangku tangan.

Saya yakin sepenuhnya, tuduhan dan cibiran tersebut tidak akan mengurangi kerja dan kinerja parpol yang dimaksud untuk melanjutkan kerjanya, sebagaimana cibiran dan komentar tersebut juga sama sekali tidak meringankan beban yang harus ditanggung warga.

Untuk menjelaskan cara berpikir yang semestinya, empat hal berikut ini setidaknya bisa kita pertimbangkan sebelum kita banyak berkomentar nyinyir terhadap didirikannya posko bantuan dari parpol peserta pemilu.

Pertama: Menuduh Keikhlasan 

Keikhlasan adalah nasehat bagi diri agar setiap kali beramal selalu ditujukan untuk meraih ridho ilahi. Keikhlasan sewajarnya ditujukan untuk diri sendiri melalui istighfar dan renungan dalam hati, agar niatan tidak terkotori dengan apapun. Keikhlasan adalah alat evaluasi diri, bukan senjata yang ditodongkan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan di hadapan kita. Begitulah generasi sahabat memberikan contoh pada kita, ketika terjadi parade sedekah dan amal kebaikan di antara mereka, tidak ada satupun komentar dari mereka bahkan dari Rasulullah SAW yang mempertanyakan keikhlasan mereka. Ketika Usman bin Affan menyedahkan banyak logistik peperangan, Rasulullah SAW memberikan apresiasi dengan menyatakan : "Setelah ini tidak ada lagi yang bisa mengganggu amalan Usman" .

Tidak diperbolehkannya kita menuduh keikhlasan, lebih mendalam lagi bisa kita ambil dari kisah bagaimana Usamah, prajurit kecintaan Rasulullah SAW yang membunuh seorang musuh setelah mengucapkan kalimat syahadah. Usamah beralasan bahwa ucapan tersebut hanya 'pencitraan', tipuan, dan tidak ikhlas mengucapkannya karena berharap selamat dari tebasan pedang. Apakah Rasulullah SAW sepakat dengan hal itu? Tidak dan sama-sekali tidak, beliau terdengar marah dan tidak suka, serta bertanya berulang-ulang kepada Usamah: "Apakah engkau sudah membelah dadanya? (hingga engkau tahu bahwa dia tidak ikhlas mengucapkannya?". Usamah takut dan menyesal dengan perbuatannya menuduh keikhlasan seseorang.

Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan,  apakah mereka yang mencibir keikhlasan mereka yang membantu korban banjir, telah membelah dada para relawan dan mengetahui isi hati mereka? Tidak sekali-kali tidak.

Kedua: Sejarah dan Kebiasaan, bukan Pahlawan Kesiangan

Tuduhan mencari kesempatan dalam kesempitan, kampanye di tengah keprihatinan musibah, adalah tuduhan yang teramat menyakitkan. Tuduhan seperti itu mungkin wajar jika ditujukan kepada mereka yang selama ini duduk-duduk saja saat terjadi bencana di nusantara ini. Mungkin ada memang satu dua tokoh atau ormas yang bak pahlawan kesiangan yang tiba-tiba saja muncul saat bencana dan diliput media, lalu hilang pada kesempatan berikutnya.Tapi apakah semua seperti itu? Tentu tidak. Bahkan sekalipun ada yang seperti itu, tetap saja masyarakat dan korban banjir menerima kemanfaatannya, meski tak seberapa.

Namun tuduhan itu menjadi tidak wajar bahkan aneh, karena parpol semacam PKS mempunyai track record penanganan bencana sejak lama. Dari mulai bencana Tsunami Aceh, gempa bumi padang, Jogjakarta, letusan Merapi, situgintung, kebakaran-kebakaran di pasar, tanah longsor karanganyar, dan setiap musibah lainnya, kader PKS senantiasa bersama masyarakat ikut terjun langsung dalam evakuasi dan bantuan pada korban atau pengungsi. Musibah dan bencana tak mengenal tahun politik, kapan saja bisa terjadi. Begitu pula PKS, kesiapan dalam penanganan bencana menjadi latihan dan kegiatan rutin kadernya, bahkan dibentuk unit P2B yaitu penanganan dan penanggulangan bencana.

Maka jika pada banjir Jakarta ini tiba-tiba muncul berdiri 72 posko PKS di seluruh Jakarta -sebagaimana diberitakan Republika Online, maka itu bukti kesiapaan, kebiasaan dan terlatihnya kader PKS dalam membantu masyarakat saat terjadi musibah melanda. Sekali-kali mereka bukanlah pahlawan kesiangan, karena pahlawan kesiangan tak memiliki kekuatan dan nafas panjang sebesar itu.

Ketiga: Berlomba dalam Kebaikan bukan Komentar apalagi Tuduhan

Saat ini yang dibutuhkan masyarakat khususnya korban banjir adalah siapa saja mereka yang siap dan mau berkorban, dari manapun dan siapapun mereka. Mereka yang terbaik adalah yang paling banyak kemanfaatannya bagi orang lain. Ibaratnya terjadi kebakaran, maka sudah selayaknya semua bergerak untuk segera memadamkan, siapa saja yang mampu layak untuk ditiru. Bukan malah sibuk menggerutu dan menyebar tuduhan ambigu.

Keempat: Penggunaan Identitas

Salah satu yang paling sering disorot adalah penggunaan identitas, khususnya kaos bagi relawan parpol saat melayani. Siapa saja yang turun di lapangan akan mendapati situasi yang sangat rumit dan membutuhkan penanganan yang cepat, solid dan terorganisir. Maka penggunaan identitas bukan hanya wajar bagi relawan, namun menjadi sebuah keharusan sebagai sebuah kesiapan bekerja dan siap bertanggung jawab. Para TNI, Polisi, SAR, PMI pun menggunakan identitasnya masing-masing, selain untuk kemudahan konsolidasi, juga menunjukkan kesiapan bekerja dan bertanggung jawab. Dengan penggunaan identitas, masyarakat berhak komplain dan tahu kemana harus protes saat terjadi kejadian, insiden atau hal-hal yang menganggu selama pelaksanaan evakuasi atau pemberian bantuan. Relawan tanpa seragam terkadang justru malah mengundang kerancuan pelaksanaan tugas di lapangan.

Akhirnya, tulisan ini bukan untuk membela relawan dari parpol, khususnya PKS, karena salah satu bukti keikhlasan adalah baik pujian maupun cercaan tak menyurutkan langkah untuk melanjutkan amal kontribusinya. Ini yang kita dapati dengan mudah pada relawan PKS, sejak dulu sering dikomentari saat menangani bencana di daerah manapun, tapi itu semua tak menyurutkan langkah, sampai saat ini setia melayani negeri. Dari mereka layak kita mengambil inspirasi.

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

*by Hatta Syamsuddin

-sumber: www.indonesiaoptimis.com  
              PKS Piyungan
 

Sabtu, 11 Januari 2014

Mengendalikan Diri


Seekor ular masuk ke dalam tempat kerja seorang tukang kayu, setelah ia kian kemari mencari mangsa di sore hari.

Sudah menjadi kebiasaan tukang kayu itu meninggalkan sebagian alat-alat kerjanya di atas sebuah meja. Di antaranya ada sebuah gergaji.

Di tengah-tengah pencariannya ke sana sini, tubuhnya lewat di atas sebuah gergaji. Hal itu membuat kulitnya sedikit terluka. Ular itu jadi kesal. Sebagai bentuk balasan ia dengan segera mematuk gergaji dengan kuat. Dia berusaha menggigitnya. Perbuatan itu justru membuat darah mengalir dari mulutnya.

Ular itu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia berkeyakinan gergaji itu menyerangnya. Dia merasa bahwa dirinya pasti mati. Tapi ia tidak ingin mati begitu saja. Harus ada perlawanan akhir yang mengerahkan seluruh kemampuan. Tidak boleh menyerah begitu saja.

Lalu ia melilit gergaji itu sekuat-kuatnya. Dia berusaha melumat gergaji dengan kekuatan badannya.

Ketika tukang kayu bangun di pagi hari ia melihat gergajinya. Dan di sampingnya ada ular yang sudah mati. Tidak ada penyebabnya selain marah dan emosinya.

Pelajaran:

Kadang-kadang di saat marah, kita berusaha untuk melukai perasaan orang lain. Setelah semua berlalu dan kesempatan telah tiada kita baru tahu bahwa yang kita lukai sebenarnya diri kita sendiri.

Oleh karena itu, kemarahan itu adalah setan yang menguasai akal kita. Dia mengendalikan perasaan kita yang membuat perkataan dan perbuatan kita bagaikan orang tak waras. Hingga kita tidak menyadari apa yang kita ucapkan dan lakukan ketika marah.

Sudah sepantasnya kita ikuti tuntunan Rasulullah di saat marah. Kita ucapkan istighfar, kemudian kita merubah posisi supaya bisa mengendalikan emosi. Kalau perlu pergi berwudhu' mendinginkan anggota tubuh dan perasaan. Kalau belum juga teredam, shalat sunat dua rakaat dan baca al Qur'an serta tadabburi.

Bila cara seperti itu belum juga bisa membendung kemarahan, waspadailah kalau-kalau kita bukan kesetanan lagi. Tapi sudah berubah menjadi setan sebenarnya. Karena setan justru marah bila dibacakan ayat al Qur'an.

Di awal rasa marah itu muncul seseorang harus mengendalikan dirinya. Kalau tidak, ia akan kehilangan kewarasan hingga akhirnya tidak mampu menguasai diri.

Betapa banyak rasa marah sesaat yang mengakibat penyesalan seumur hidup. Bahkan penyesalan sampai ke akhirat.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari rasa marah yang mengalahkan kemampuan akal untuk menguasai diri. Lebih penting dari itu, semoga Allah menyelamatkan kita dari segala yang menyebabkan kemarahan.

*Oleh Zulfi Akmal
Sumber : PKS Piyungan