Kamis, 27 Februari 2014

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis

Kamis, 27 Februari 2014

La Tahzan! Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis..

'Aidh al-Qarni

Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.

Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits.

Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab'ah. Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.

Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,

{Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.}
(QS. Al-Baqarah: 216)

Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimistis dan yang seorang lagi pesimistis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimistis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. Adapun sastrawan yang pesimistis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.

Begitulah, sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala. []

*dikutip dari buku "La Tahzan" (Jangan Bersedih)

http://www.pkspiyungan.org/2014/02/la-tahzan-jadikan-buah-lemon-itu.html?m=1

Rabu, 26 Februari 2014

Ulama Jangan Berpolitik?

Ulama Jangan Berpolitik?

Mewaspadai Ungkapan Racun: "Ulama Jangan Berpolitik!"

Ulama jangan berpolitik dan jangan dekati politik!

Ulama rabbany itu jauh dari masalah-masalah politik.

Benarkah ini?

Berkaca kepada sejarah ternyata setiap pemimpin besar yang adil dan besar selalu didampingi ulama rabbani, bahkan mereka sendiri adalah ulama.

Empat orang Khulafaurrasyidin adalah para ulama yang dilingkari oleh ratusan bahkan ribuan ulama shahabat.

Umar bin Abdul Aziz didampingi oleh seorang perdana mentri yang bernama Raja' bin Haiwah. Wama adraka ma Raja' bin Haiwah? (Dan siapakah Raja' bin Haiwah? seorang tokoh besar tabi'in -ed). Di samping itu puluhan ulama tabi'in yang selalu menyertai dan membantu beliau menjalankan amanah. Terus, siapa yang meragukan keulamaan dan ketinggian ilmu beliau (Umar bin Abdul Azizi) sendiri?

Harun ar Rasyid didampingi oleh dua orang murid Abu Hanifah; Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy Syaibany. Juga seorang alim besar yang bernama Al Kisa-i.

Sultan Shalahuddin al Ayyuby selalu disertai oleh ulama yang sangat hebat dan shaleh; qadhi Fadhil.

Sultan Muhammad al Fatih didampingi selalu oleh seorang guru rabbany yang bernama Syamsuddin Aqa.

Begitu sejarah mencatat! Ini baru segelintir.

Perlu dikoreksi kembali, barangkali penyebab bobroknya kondisi perpolitikan sekarang justru karena ulama menjauh dari ring politik. Tidak mau tahu terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah. Atau tidak mau ambil resiko, semua cari selamat. Lebih parahnya, pemimpin itu didampingi para ulama suu'.

Saya kira ungkapan: politik haram, ulama jangan berpolitik, politik tidak ada hubungannya dengan agama, agama jangan dibawa-bawa ke arena politik adalah ungkapan politis para ahli syahwat dan ahli dunia yang tidak mau terganggu kebebasannya. Ungkapan orang yang tidak ingin diatur oleh agama, yang ingin bebas sesuai seleranya.

Untuk menyambut kebangkitan Islam di masa yang akan datang persepsi ini perlu diperbarui. Dikembalikan kepada porsi semestinya. Hadits tentang larangan ulama mendekati tangga sultan perlu dipahami dengan benar dan proposional.

Sultan yang baik didampingi oleh ulama rabbany yang baik. Ulama jahat (suu') mendampingi pemimpin yang zalim.

*by Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

http://www.pkspiyungan.org/2014/02/mewaspadai-ungkapan-racun-ulama-jangan.html?m=1

Senin, 24 Februari 2014

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler

Partai Agama Bisa Lebih Baik dari Partai Sekuler
Oleh:
 Prima Kumara

Beberapa survei mengatakan bahwa perolehan suara partai politik(parpol) berbasis agama pada Pemilu 2014 diprediksi semakin menurun. Bahkan partai ini terancam tidak dapat meloloskan calon anggota legislatifnya menjadi anggota DPR.

Partai Politik (parpol) bisa kita bagi dalam dua kelompok, yaitupartai sekuler (bukan berbasis agama) dan partai agama. Partai sekulerumumnya menggunakan jargon-jargon nasionalis, dan sebaliknya partaiagama menggunakan jargon agama.

Ada yang menarik sejak pemilu 2004 sampai sekarang, kita makin sulit membedakan mana parpol agama dan mana parpol sekuler. Hal ini dikarenakan, parpol - parpol sekuler juga telah merubah jargon mereka menjadi partai religius nasionalis namun tetap dengan cita rasa sekuler.

Kalau parpol agama menggunakan jargon dan simbol agama maka itu bisa dikatakan wajar, namun bagaimana dengan parpol sekuler yang

menggunakan simbol - simbol dan jargon agama dalam kampanyenya. Ini bisa dikategorikan masuk dalam strategi politik yakni pencitraan.

Pencitraannya akan terlihat jelas manakala saat pembahasan sidang-sidang tentang undang-undang, mereka menggunakan pemikiransekulernya sementara simbol dan jargon agamanya ditanggalkan.

Ketika mereka dicokok KPK, mereka dengan bangga mengatakan bahwa untung partainya bukan partai agama sehingga 'wajar' kalau kurang memperhatikan moral.

Tahun 2013-2014 ini, banyak pengamat dan juga lembaga survei yang tiba-tiba punya hobi baru meneliti dan menganalisa partai-partai

berbasis agama, padahal sebelumnya tidak kedengaran dan tidak terlihat di ranah itu. Banyak tuduhan, partai politik yang benar-benar murni berasaskan agama dituduh menjual agama demi kepentingan politiknya.

Seharusnya kita bisa lebih jernih dan obyektif menilai, mana partaipolitik yang menggunakan politik sebagai alat untuk memperjuangkanagama di ranah pemerintahan, dan mana partai politik sekuler tetapi

mereka menggunakan agama sebagai alat politik guna untuk memikat dan menarik banyak masa yang mayoritas beragama. Jadi pertanyaannya, siapa yang menjual agama untuk kepentingan politik dan siapa menggunakan politik untuk agama?

Dari data ICW dan FITRA diketahui bahwa urutan partai politik yang

terkorup adalah Golkar (36,36%), kedua PDIP (18,18%), Partai Demokrat 11,36%), PPP (9,65%), PKB (5,11%), PAN (3,97%), dan PKS (2,27%). Mari kita berpikir obyektif dan fair, dari data tersebut diketahui bahwa partai agama itu sesungguhnya tingkat korupsinya jauh lebih kecil dibanding partai nasionalis atau sekuler.

Mencermati situasi gaduhnya politik tanah air belakangan ini kadangjuga disebabkan karena kita tidak 100 persen menjadi diri sendiri,yang akhirnya secara otomatis kita tidak bisa menjadi Indonesia.

Padahal kalau kita lihat dan baca terwujudnya Sumpah Pemuda 1928adalah karena setiap tokoh yang terlibat waktu itu 100 persenberkepribadian utuh sebagai Jong Java, Jong Sumatra, jong IslamintenBond, dan lain-lain. Karena mereka utuh menjadi diri mereka sendiri,ada ruang luas untuk berbagi dengan komponen bangsa yang lain tanpa merasa curiga dan khawatir dikhianati.

Namun kini, setiap diri kita, setiap parpol cenderung beridentitas dan berkepribadian setengah, akibatnya akan sangat rapuh karena absen bersikap. Padahal jika kita 100 persen beragama, maka akan memunculkan 100 persen Indonesia.

Oleh karenanya, sudahlah para agen survey maupun pengamat bertindaklah sewajarnya saja, tidak usah membuat framing - framing khusus untuk partai tertentu.

Persilahkan, semua peserta pemilu 2014 berlomba-lomba membuat yang terbaik untuk bangsa ini. Adanya partai berbasis agama bukanlah yang menakutkan, partai berbasis agama atau bukan, yang punya tetap orang Indonesia. Biarkan rakyat memilih mana yang terbaik

Di antara partai yang ada saat ini, apakah partai agama atau partaisekuler yang akan jadi pilihanya.

Di sejumlah negara maju seperti Jerman misalnya, partai berazas agama justru bisa memberi solusi bagi masyarakatnya. Partai CDU, partainya Angela Merkel dipercaya oleh masyarakat dan terbukti membuat Jerman jaya dan menjadi penyelamat Eropa dalam mengatasi krisis.

Terlebih lagi di daerah negara bagian Bayern, daerah terkaya di seluruh Jerman, pemenangnya selalu partai agama. Begitu juga di negara-negara lain seperti Turki atau Iran.

Sebuah kesadaaran besar yang kita sepakat bersama bahwa Bhineka itu adalah karunia, oleh karenanya janganlah partai berbasis agama dikerdilkan dan jangan pula diframing tetapi berdirilah dan amatilah secara adil diantara partai-partai yang ada tersebut.

Prima Kumara

Warga Pancoran

primakumara05@gmail.com

  

http://m.inilah.com/read/detail/2077105/partai-agama-bisa-lebih-baik-dari-partai-sekuler

Kamis, 20 Februari 2014

Cita cita sederhana orangtua

Cita cita sederhana orangtua

Kamis, 20 Februari 2014

Cita-Cita Sederhana Orang Tua

"Cita-Cita Orang Tuaku"

Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

Dulu kedua orang tuaku tidak pernah mencita-citakan diriku untuk kuliah sampai doktor, juga tidak mencita-citakan diriku untuk hafal al Qur'an.

Beliau bukan orang sekolah tinggi, jadi tidak ngerti hal gituan.

Tapi beliau sangat mendukung kalau ingin "sekolah setinggi-tingginya". Begitu bahasa beliau.

Tidak pernah juga mendorong-dorong supaya juara di sekolah, sekalipun selalu juara. Lalui saja apa adanya. Tidak ada iming-iming hadiah kalau berprestasi.

Hanya satu yang beliau cita-citakan untuk diriku; "kalau mendengar suara azan, aku langsung menuju mesjid, kalau dapat sebelum azan dikumandangkan sudah berada di mesjid. Syukur-syukur bisa jadi imam". Itu saja cita-cita beliau yang sederhana.

Namun sekarang aku baru sadar betapa mulia, besar, dan sulitnya cita-cita beliau itu. Cita-cita Nabi Ibrahim untuk anak cucunya. Aku tidak tahu, dari mana ibu-bapakku mendapatkan hal itu.

Banyak aku melihat orang yang sudah bertitel doktor, bahkan profesor, kalau mendengar suara azan seperti tidak terpanggil untuk segera memenuhi panggilannya. Begitu juga ada yang hafal al Qur'an 30 juz, cuek saja ketika azan berkumandang, lebih memilih shalat sendirian dari pada berjama'ah. Bahkan shalatnya sudah di akhir-akhir waktu.

Ketika beliau datang berkunjung ke Mesir beberapa bulan yang lalu, untuk menunggu kelahiran cucu yang kedua dariku, beliau sempat agak marah karena di waktu azan sudah berkumandang aku masih juga bercerita, tidak langsung menuju mesjid.

Di samping itu ternyata ibuku sempat curhat kepada istriku, setelah beliau pulang baru disampaikan kepadaku. Beliau berkata: "Satu saja yang mama cemaskan terhadap si Zul. Kalau sudah sibuk bekerja mencari nafkah, asyik dengan uang, dia jadi terlambat-lambat melakukan shalat. Shalat berjama'ahnya jadi bolong-bolong".

Sekarang, aku juga tidak muluk-muluk bercita-cita untuk anak keturunanku. Jadi apa pun mereka nanti, yang penting halal dan diredhai Allah, ketika azan berkumandang telapak kaki mereka otomatis mengarah ke mesjid untuk shalat berjama'ah.

Ya Allah, limpahkan lah selalu rahmat dan kasih sayang-Mu untuk kedua orang tuaku. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat dan dari anak keturunanku. Ya Tuhan, terimalah do'aku ini." (QS Ibarahim: 40)

:: PKS PIYUNGAN