Kamis, 27 Maret 2014

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Kedengkian Menyebabkan Memilih Jalan Kesesatan

Sebagian orang yang sesat dan memilih jalan kesesatan bukanlah karena ia tidak tahu mana yang hak dan mana yang batil.

Akan tetapi dia tersesat karena kebencian dan kedengkiannya kepada orang lain atau kelompok lain.

Awalnya sepele, akan tetapi karena kebenciannya itu dibiarkan tumbuh dan berkembang, bahkan dipupuk dengan perangai jahat dan kata-kata berbisa, akhirnya ia tidak merasa lagi bahwa dia sesat, bahkan merasa dirinya benar dan berada pada pihak yang benar.

Awalnya mungkin ada perperangan batin yang dahsyat seperti yang pernah dirasakan oleh Umayyah bin Abi Shalt dan Abu Jahal. Akan tetapi ketika bertemu dengan teman seide atau komunitas seperangai, kedengkian itu mengkristal hingga menutup batinnya untuk melihat kebenaran. Akhirnya sampai pandangannya terbalikpun tidak dia sadari lagi.

Sifat-sifatnya yang dulu mulia akhirnya terkikis menjadi biadab. Semua hanya berubah karena benci dan dengki.

Sejarah mencatat banyak sekali orang bertipe seperti ini. Di antaranya para pembesar kafir Quraisy yang menjadi penentang dakwah Rasulullah, seperti: Walid bin Mughirah, Al 'Ash bin Wail, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, 'Utbah bin Rabi'ah, Nadhar bin Harits, juga gembong munafik Ibnu Ubay bin Salul dan seluruh Yahudi Madinah yang tidak mau beriman kepada Rasulullah.

Baik itu kedengkiannya kepada pribadi Rasulullah maupun kebenciannya kepada keluarga atau suku Rasulullah. Seperti, bagaimana dahsyatnya kedengkian Bani Makhzum (suku Abu Jahal) kepada Bani Hasyim (suku Rasulullah).

Atau yang lebih dahsyat dari itu bagaimana kedengkian Bani Hanifah (suku besar Musailimah al Kadzdzab) kepada Bani Mudhar (suku besar Rasulullah).

Seluruh orang yang kita sebutkan di atas awalnya adalah orang-orang mulia yang bersifat dengan sifat baik. Para pemilik akal cerdas yang menjadi rujukan. Hingga mereka dijadikan panutan dan pemuka masyarakat. Tapi sayang sekali, mereka jadi jahat justru ketika kebenaran dan hidayah datang menyapa.

Allah berfirmah dalam surat al Baqarah 109:

حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق

"...karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka..."

Ya Allah, sucikan hati kami dari kedengkian yang menghitamkan hati nurani. Pertemukan kami dengan teman-teman yang saling mengingatkan untuk menjauhi sifat keji. Dan jauhkan kami dari orang-orang yang meracuni batin kami dengan perangai yang Engkau murkai.

*by Zulfi Akmal
(Al Azhar, Cairo)

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir tengah Terjadi Genosida

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir tengah Terjadi Genosida

Anggota Komnas HAM Menduga di Mesir Tengah Terjadi Genosida

Hidayatullah.com–Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Maneger Nasution menyampaikann duka cita atas kasus vonis mati pengadilan Mesir terhadap 529 aktivis Al Ikhwan al Muslimun.

“Terkait kasus vonis mati pengadilan Mesir terhadap 529 aktivis Ikhwanul Muslimin, Komnas HAM menyampaikan hari berkabung kemanusiaan,” tulis Maneger dalam rilis yang diterima hidayatullah.com, Selasa (25/03/2014) malam.

Menurut Maneger kasus ini bisa jadi sebagai upaya pemerintah Mesir memangkas habis anggota dan paham Ikhawanul Muslimin. Maneger meminta agar badan dunia turut campur menyelesaikan masalah ini.

“Mendorong OKI (Organisasi Negara-negara Islam) dan dewan HAM PBB untuk  menginvestigasi kemungkinan terjadinya genosida oleh pemerintahan yang berkuasa di Mesir,” tegas dia.*

Sabtu, 15 Maret 2014

Antara pencitraan dan kerja nyata

Antara pencitraan dan kerja nyata

REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Asma Nadia

Saya tidak mengira, ternyata ada kemiripan antara penerbitan dan politik. Sekalipun keduanya merupakan bidang yang berbeda, tapi cara mencapai puncak kurang lebih sama.

Ada pepatah yang bilang "Don't Judge a book from its cover" atau intinya jangan melihat buku dari penampilan luar, tapi lihat isinya.

Nasihat ini sampai sekarang masih akurat kebenarannya, menjadi acuan saya setelah membangun penerbitan sendiri di tahun 2009. Sayangnya tak semua penerbit, juga pembaca memerhatikan. Ada yang membeli buku karena cover-nya bagus, setelah beli baru tahu bahwa isinya mengecewakan. Ada juga buku yang judulnya menggoda, ternyata selesai dibaca, isinya tidak sebagus judulnya. Tidak sedikit buku yang begitu populer, namun isinya sebenarnya biasa saja.

Buku bagus itu tergantung pada isi, dan idealnya masyarakat membeli buku yang bagus. Akan tetapi kenyataannya banyak buku yang tidak bagus tapi laris di pasaran. Sebaliknya banyak buku bagus yang tidak laku di pasaran.

Saya sering ke toko buku dan membeli buku yang didiskon hingga 70%. Aktivitas ini sering saya lakukan untuk membeli buku-buku yang akan dikirim ke RumahBaca Asma nadia, 123 perpustakaan dhuafa, sebagian memiliki sekolah dan kelas komputer gratis bahkan tempat bernaung bagi anak-anak yatim yang tak mampu. Dari aktivitas ini saya menemukan kenyataan, sekalipun buku-buku tersebut harganya murah dan mendapat diskon besar, ternyata sebagian besar adalah buku bagus.

Lalu kenapa diobral? Kenapa tidak laku?

Ternyata sekalipun bagus, tetapi buku-buku tersebut tidak berhasil membangun pencitraan sebagai buku bagus. Buku bagus yang gagal membangun pencitraan kemungkinan besar akan gagal di pasaran. Buku bagus bukan jaminan laris manis di pasar jika tidak terbangun branding yang meluas.

Prinsip yang sama ternyata juga berlaku di dunia politik.

Saya mengenal beberapa politisi yang baik, jujur dan berdedikasi, tapi mereka gagal menjadi pilihan rakyat. Tidak semua politisi bagus mendapat kepercayaan rakyat. Sebaliknya banyak politisi yang mengajukan diri hanya untuk kepentingan pribadi, justru terpilih. Kenapa? Sekalipun tidak spesial mereka sukses memasarkan dirinya, sukses dalam pencitraan dan branding.

Pencitraaan atau branding adalah kuncinya.

Ada politisi yang begitu populer sehingga dengan mudah bisa meraih jabatan penting. Akan tetapi setelah menjabat tidak banyak perubahan berarti yang dicapainya. Ternyata sang politisi punya segudang perlengkapan untuk membangun pencitraan dirinya, sehingga setiap hal kecil yang dilakukannya terlihat besar dan kelalaian besar yang dilakukannya terlihat kecil. Ibarat buku, cover bagus judul memukau, tapi isinya kurang memuaskan.

Di sisi lain, ada juga politisi yang berdedikasi tinggi. Bahkan sebelum menjabat pun sudah berkontribusi banyak untuk rakyat. Akan tetapi karena dengan berbagai alasan, termasuk kekhawatiran tidak ikhlas, tidak melakukan pencitraan, hingga malah tidak terpilih.

Ada juga politisi baik yang berhasil menjabat. Karena begitu besar dedikasinya untuk rakyat ia sibuk pergi ke sana kemari, menyelesaikan masalah di sana dan di sini. Ia tidak sempat memikirkan pencitraan dan tak meminta wartawan meliput kegiatannya. Akhirnya rakyat tidak menyadari kiprah sang pemimpin tersebut dan di episode berikutnya dia tidak terpilih lagi.

Ini tipe politisi bagus dan hebat tapi gagal dalam pencitraan.

Lalu bagaimana solusinya?

Harapan saya untuk para politisi yang jujur, baik dan berdedikasi,jangan lupa membangun pencitraan. Pencitraan bukan bermaksud mengumbar kebaikan, atau didasari ketakutan melakukan sesuatu secara tidak ikhlas, tapi itu penting untuk memenangkan hati rakyat. Kalau pencitraan adalah salah satu kunci kemenangan, maka jangan lupa selain kerja juga membangun dan menjaga pencitraan.

Bagaimana jika politisi bagus tersebut tetap mengabaikan pencitraan?

Sama seperti kita mempromosikan buku. Saya sendiri setiap membaca buku bagus, akan menyampaikan kepada orang lain tentang betapa bagusnya buku tersebut, sehingga kalaupun pencitraan buku atau dana promosi buku tersebut tidak maksimal, orang tetap mendengarnya dengan harapan mau membeli dan puas karena membaca buku bagus.

Kalau kita kenal politisi baik yang bisa diandalkan tapi melupakan pencitraan, maka sebagai masyarakat yang peduli perubahan, kita harus membantu meningkatkan citra mereka demi masa depan rakyat dan bangsa ini.

Jika kita berdiam diri, bisa-bisa medan pertempuran politik dimenangkan oleh para politisi busuk. Sesuatu yang tentu sama-sama tidak kita harapkan.

Selasa, 11 Maret 2014

Mengapa kita merasa lapar saat mencium bau makanan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Penelitian baru yang didanai oleh Dewan riset Eropa yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Neuroscience menunjukkan bagaimana sistem endocannabinoid mengontrol asupan makanan dengan menggunakan indra penciuman.

Endocannabinoids adalah bahan kimia yang diproduksi di dalam tubuh dan digunakan untuk mengirim pesan antarsel.

Sistem endocannabinoid adalah jaringan reseptor neuron, enzim dan endocannabinoids yang terdapat di otak hewan dan manusia. Reseptor dalam sistem endocannabinoid yang berhubungan dengan sensasi, seperti euforia, kecemasan, dan rasa sakit.

Para ilmuwan tahu bahwa ketika kita lapar, tubuh kita meningkatkan kinerja indra penciuman dalam rangka meningkatkan kemampuan kita untuk mencari makanan.

"Peningkatan bau memungkinkan kita untuk menemukan sumber makanan," kata penulis studi, Giovanni Marsicano, dilansir dari Medical News Today.

Namun, mekanisme yang menjelaskan bagaimana koordinat otak menunjukkan sensasi kelaparan, indra penciuman, dan asupan makanan masih belum dipahami dengan baik. Selama kita lapar, otak meningkatkan mekanisme untuk merangsang indra penciuman.

Marsicano menggunakan tikus sebagai subyek. Sensasi kelaparan mengaktifkan reseptor CB1, lalu olfactory bulb dan korteks. Jadi, mekanisme otak akan meningkatkan kepekaan kita terhadap bau ketika kita lapar, yang pada gilirannya meningkatkan keinginan kita untuk mencari makanan.

Hewan dan manusia akan memproses bau berbeda, terutama ketika ingin mencari makanan. Marsicano berpendapat bahwa  respon indra penciuman ketika lapar pada manusia lebih rendah dibandingkan hewan. Itu sebabnya mengapa otak hewan ketika lapar tidak akan bisa serasional manusia.

Red: Yudha Manggala P Putra
Rep: Mutia Ramadhani