Kamis, 20 Agustus 2015

BPJS: Perokok Harusnya Bayar Premi Lebih Mahal

Rabu, 19 Agustus 2015, 12:01 WIB
Komentar : 0
Republika/Yasin Habibi
Kampanye anti-rokok
Kampanye anti-rokok

REPUBLIKA.CO.ID, SALATIGA -- Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Regional VI, Andayani Budi Lestari, menyatakan perokok aktif seharusnya membayar premi lebih mahal dibanding peserta bukan perokok karena mereka memiliki risiko sakit lebih besar.

"Kalau mau fair seharusnya seperti itu, apalagi prinsip BPJS itu gotong royong untuk saling menolong," katanya dalam temu pemimpin redaksi di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu.
Ia menjelaskan, selama ini tidak ada pembedaan biaya premi bagi perokok dengan nonperokok. Padahal pengisap tembakau punya risiko terkena penyakit serius dengan biaya perawatan dan pengobatan lebih mahal.

Secara umum, menurut dia, respons penduduk Jawa Tengah terhadap BPJS Kesehatan relatif baik. Meski demikian masih saja sebagian peserta yang tidak fair dalam menggunakan fasilitas BPJS.
"Ketika sakit mereka baru mengurus kepesertaan BPJS, namun setelah sembuh tidak mau bayar iuran lagi," katanya.

Iuran per bulan kepesertaan BPJS Kesehatan terbagi menjadi tiga kelas yakni Rp 59.500 untuk kelas 1, lalu Rp 42.500 untuk kelas 2, dan Rp 25.500 untuk kelas 3.

Jumlah peserta BPJS Kesehatan Divisi Regional Vi dengan wilayah kerja Jateng dan D.I. Yogyakarta tersebut sekitar 23 persen dari total peserta di Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 22,366 juta.

"Target peserta 23 juta orang pada Oktober 2015 bakal tercapai karena pada September 2015 ini PT Djarum akan masuk menjadi peserta BPJS Kesehatan," katanya.

Ia menyebutkan setiap bulan pihaknya membayar biaya rawat inap sekitar Rp800 miliar dan sampai sekarang BPJS Kesehatan Divisi Regional VI Jateng/DIY sudah membayar biaya kesehatan peserta sebanyak Rp 5,6 triliun.

kaos ukuran besar XXXXXL
BPJS: Perokok Harusnya Bayar Premi Lebih Mahal
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email