Rabu, 07 Oktober 2015

Inilah Sosok Wanita yang Menjadi Saksi Kelahiran dan Hidup Nabi Muhammad


dicopas dari: UMMI
Ia adalah Ummu Aiman. Kita tak tahu binar wajahnya ketika Muhammad SAW lahir dari rahim Aminah binti Wahab. Pastinya ia begitu bahagia. Wajahnya cerah sebagaimana cerah wajah bayi yang dilihatnya. Begitu pula hatinya berbunga-bunga.
Dapat dipastikan ia adalah perempuan pertama yang menggendong Muhammad SAW ketika bayi. Jika ada yang menyebut perempuan pertama itu Al-Syifa binti Auf, ada benarnya. Al-Syifa adalah bidan yang membantu persalinan. Namun, Ummu Aiman memang perempuan pertama di antara perempuan lainnya yang menjadi saksi kelahiran manusia agung dari Mekah itu ketika bayinya.
Nama lengkapnya adalah Barakah binti Tsa’labah binti ‘Amr bin Hishn binti Malik binti Salamah binti ‘Amr bin Nu’man. Suami pertama Barakah adalah ‘Ubaid bin al-Harits dari suku Khazraj. Dari pernikahan ini, ia melahirkan anak yang diberi nama Aiman. Ia pun akhirnya dikenal dengan nama Ummu Aiman.
Di tengah masyarakat Mekah, Ummu Aiman hanyalah dikenal sebagai budak. Konon wajahnya hitam. Jika pun hitam, hitam manis bisa dibilang, karena ia adalah perempuan penyayang dan peramah. Dalam riwayat, ia dikatakan berasal dari Habsyi/Habasyah (kini Ethiopia). Dari perjalanan hidup sebagai budak ini, ia memiliki impian. Ia ingin merdeka sebagai manusia. 
Entah apakah impiannya ini terwujud atau tidak, ia tak pernah tahu kemana takdir berjalan. Begitu panjang perjalanannya sebagai budak sampai akhirnya ia menjadi budak di rumah Abdul Muththalib. Kehidupan terus berjalan, ia menjalani hidup dan keseharian sebagaimana masyarakat Mekah umumnya.
Ketika Abdullah, putra Abdul Muththalib, menjalin ikatan pernikahan dengan Aminah, Ummu Aiman diserahkan ke rumah tangga ini. Ia ikut merasakan kepiluan Aminah ketika harus ditinggal suaminya demi mengadakan perjalanan niaga ke negeri Syam. Dengan penuh keharuan, Ummu Aiman terus-menerus menghibur dan menguatkan hati Aminah.
Entah apa yang dirasakan Ummu Aiman ketika penantian Aminah menunggu kepulangan suaminya dari Syam ternyata harus berujung kedukaan. Dalam perjalanan pulang ke Mekah bersama kafilah dagangnya, Abdullah harus menahan sakit dan meninggal di Yatsrib (kini Madinah). Tangis pun pecah. Ummu Aiman tak boleh ikut larut dalam kesedihan. Ia berusaha menegarkan Aminah, apalagi di rahim Aminah ada janin yang tengah dikandung.
Sampai akhirnya lahirlah bayi itu. Berserilah wajah Aminah, berserilah wajah Ummu Aiman. Hati mereka begitu bahagia. Keesokan harinya, Ummu Aiman mengabarkan kepada Abdul Muththalib yang tengah berada di sekitar Ka’bah bahwa cucunya telah lahir. Bergembiralah Abdul Muththalib mengetahui telah lahir cucunya yang bernama Muhammad dari rahim Aminah.
Ummu Aiman adalah seorang perempuan yang senantiasa mendampingi Aminah. Ia ikut merawat dan mengasuh Muhammad SAW. Tradisi di Arab saat itu, bayi yang lahir akan diserahkan kepada perempuan dari permukiman Bani Sa’ad untuk disusui. Begitu juga Muhammad SAW ketika bayi mendapatkan susuan dari Halimah al-Sa’diyah.
Permukiman Bani Sa’ad memang daerah yang kondusif untuk tumbuh kembang bayi dibandingkan daerah lainnya. Karena berbagai sebab, Muhammad SAW tetap tinggal di permukiman Bani Sa’ad meskipun masa penyusuan telah usai. Muhammad SAW menetap di permukiman Bani Sa’ad sampai usia sekitar 5 tahun, namun Halimah kerap membawa Muhammad SAW berkunjung ke rumah ibu kandungnya. Aminah dan Ummu Aiman tetap bisa menuntaskan kerinduannya bersua Muhammad SAW.
Saat usia Muhammad SAW menginjak sekitar 6 tahun, Aminah berziarah ke makam suaminya. Muhammad SAW turut dalam perjalanan itu. Beberapa bulan tinggal di Yatsrib, Ummu Aiman membersamai Aminah dan Muhammad SAW.
Ketika pulang dari Yatsrib ke Mekah, Aminah merasakan kesakitan. Di tengah perjalanan, Aminah meninggal dunia. Ummu Aiman memakamkan ibu kandung Muhammad itu di daerah Abwa (letaknya di antara Mekah dan Madinah). Muhammad pun dibawa Ummu Aiman ke Mekah. Muhammad yang telah menjadi yatim piatu terus dirawat Ummu Aiman ketika dalam pengasuhan Abdul Muththalib.
Setelah Abdul Muththalib meninggal dunia, Muhammad SAW tinggal di rumah pamannya Abu Thalib. Di keluarga Abu Thalib ini, Ummu Aiman juga turut serta. Ummu Aiman terus menyertai dan menyaksikan perjalanan hidup Muhammad SAW.
Ummu Aiman juga menyaksikan perjalanan rumah tangga Muhammad SAW dengan Khadijah binti Khuwailid. Menurut riwayat, Muhammad SAW memerdekakan Ummu Aiman sebagai budak pada masa ini. Konon Ummu Aiman cedal. Karena itu, ia pun kerap keliru berkalimat ketika berbicara. Muhammad SAW memakluminya. Dalam berbagai kesempatan, Ummu Aiman dan Muhammad SAW juga seringkali bercanda. Bercanda yang benar tentunya.
Ummu Aiman adalah sosok perempuan yang memiliki keimanan begitu kokoh. Perjuangannya demi tegaknya Islam tak diragukan. Begitu agungnya perempuan ini. Ia adalah salah satu dari barisan manusia yang memeluk Islam pertama kali. Ummu Aiman mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT pun mencintai dan menyayangi Ummu Aiman.
Begitu pula Muhammad SAW yang menyayangi dan menghormati perempuan ini dan menempatkannya sebagai ibunda. “Ia adalah ibuku setelah ibuku,” kata Muhammad SAW. Ummu Aiman adalah saksi perjalanan hidup Muhammad SAW. Ia menyaksikan kehidupan Mekah sebelum Islam dan ketika akhirnya Islam bercahaya di Mekah. Di Mekah dan di Madinah, ia senantiasa larut dalam perjuangan Islam. Ia adalah saksi sejarah Islam di masa permulaan.
Ummu Aiman yang tak lagi bersuami akhirnya menikah dengan Zaid bin Haritsah. Pernikahan ini terjadi setelah Muhammad SAW menjadi Nabi dan Rasul. Entah apakah Ummu Aiman mendengar perkataan Muhammad SAW atau tidak, “Barangsiapa yang ingin menikah dengan perempuan ahli surga, maka nikahilah Ummu Aiman.” Dari lisan Muhammad SAW, Ummu Aiman telah disebut sebagai perempuan ahli surga. Subhanallah.
Ada kisah menarik yang kerap diceritakan saat Ummu Aiman melakukan perjalanan hijrah ke Madinah. Karena menyusul, Ummu Aiman berangkat ke Madinah seorang diri. Dalam kondisi berpuasa, Ummu Aiman terus melangkah di tengah lahan gersang dan tandus. Panas pun menyengat.
Meskipun dilanda kehausan yang begitu sangat, Ummu Aiman tak menghentikan puasa. Sampai tiba berbuka, Ummu Aiman ternyata tak menemukan air setetes pun, padahal kehausan telah mengeringkan kerongkongannya.
Pada saat inilah Allah SWT memiliki kehendak. Allah SWT menampakkan kekuasan-Nya. Dari langit ada tali putih yang menurunkan timba air...ada tali putih dengan timba berisi air diturunkan dari langit.Dengan diselimuti keterkejutan, Ummu Aiman meminum air dalam timba itu. Allah SWT dengan kuasa-Nya telah menampakkan mukjizat kepada Ummu Aiman. Setelah kejadian itu, kata Ummu Aiman, tak ada lagi rasa haus. Meskipun terik mentari menyengat, meskipun berpuasa di tengah kondisi panas, ia tak pernah merasakan kehausan.
Ia adalah Ummu Aiman. Dari suaminya yang pertama, ia melahirkan seorang putra bernama Aiman yang berjihad sampai akhirnya menggapai kesyahidan dalam Perang Hunain. Zaid bin Haritsah, suaminya yang kedua dan juga anak angkat Muhammad SAW, menggapai syahid dalam perang Mu’tah. Dari pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah, ia melahirkan seorang putra, Usamah. Usamah juga seorang pejuang, bahkan telah diamanahi sebagai panglima perang dalam usianya yang masih muda.
Ummu Aiman telah melahirkan pahlawan Islam. Ia juga terus-menerus menyertai perjuangan menegakkan kalimat Allah SWT. Medan perang pun tak luput dari pengalaman hidupnya. Lihatlah ketika perang Uhud, ia sekuat daya ikut memanah. Sebagaimana perempuan lainnya, ia juga turut memberikan air minum dan mengobati pejuang-pejuang Islam yang terluka. Begitu pula dalam perang Khaibar, ia turut menyertai perjuangan kaum muslim.
Allah SWT memberikan usia panjang kepada Ummu Aiman. Ketika Muhammad SAW wafat, bersedihlah hatinya. Ia tentu mengerti jika Muhammad SAW yang sedari kecil telah dirawatnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang pasti akan menghadapi takdir kematian. Ia bersedih dan menitikkan air mata karena wahyu tak akan lagi diturunkan.
Dengan usia panjangnya, Ummu Aiman menjadi saksi sejarah kepemimpinan khulafaur rasyidin. Saat kematian ‘Umar bin Khaththab, ia sempat berkata bahwa Islam akan melemah. Ummu Aiman tentu tidak meramal, tetapi ia hanya membaca tanda-tanda zaman bahwa Islam akan mengalami kemunduran setelah kematian Umar.
Tentu saja dalam hatinya ia ingin Islam tetap berjaya sampai hari kemudian. Ummu Aiman meninggalkan dunia ini di masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan, sekitar tahun 20 Hijriyah. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Hendra Sugiantoro. Lahir di Yogyakarta, 11 Mei 1982 

kaos ukuran besar XXXXXL
Inilah Sosok Wanita yang Menjadi Saksi Kelahiran dan Hidup Nabi Muhammad
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email