Selasa, 06 Oktober 2015

Sukses Identifikasi 100 Jenazah Korban Mina, Inilah Kisah Tim Linjam


Detik - Hingga hari ini jumlah korban wafat yang berasal dari jemaah haji Indonesia dan WNI mukimin berjumlah 100 orang. Semua proses identifikasi ini dilakukan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang tergabung dalam tim khusus perlindungan jemaah (Linjam).

Dengan peralatan terbatas, mereka bekerja keras mencari tahu ratusan korban Tragedi Mina 204 yang berasal dari Indonesia. Kepala Seksi Linjam Daker Makkah Jaetul Muchlis Basyir berbagi cerita bagaimana timnya menembus birokrasi Arab Saudi yang terkenal sukar.

Letkol yang masih aktif di TNI AU ini juga bertukar pikiran bagaimana penanganan ke depan bagaimana jika ada peristiwa serupa terjadi lagi. Termasuk usulan bagaimana cara melindungi jemaah dengan membekali mereka identitas yang paten.

Berikut petikan wawancara dengan Jaetul Muchlis yang dilakukan di Makkah, Minggu (4/10/2015):

Apa langkah yang diambil Tim Linjam ketika insiden crane dan Tragedi Mina?

Dengan 2 peristiwa, saya tidak menyebut musibah, tentang kejadian crane di Masjidil Haram dan kejadian peristiwa Mina beberapa waktu lalu. Jadi kami dari tim perlindungan jemaah yang merasa memiliki amanah dari UU untuk memberikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan untuk jemaah. Jadi sejak pertama kita mendengar informasi tentang kejadian itu tentunya kita senantiasa untuk berkoordinasi dengan teman-teman yang ada di lapangan untuk segera bergerak dan membuka akses-akses untuk menembus lokasi kejadian.

Juga dalam beberapa waktu yang lalu dengan kejadian peristiwa Mina ini langsung ini direktif dari menteri agama kita dibuat tim. Tiga tim yang dibentuk untuk menyelesaikan ataupun juga menindaklanjuti peristiwa di Mina ini.

Adapun saat kejadian crane, kita sudah kontak teman-teman yang memang punya akses ke rumah sakit, untuk mendata siapa di antara korban tersebut yang memang mengalami luka ringan, berat dsb. Dan juga menghubungi teman-teman yang mampu untuk mendata korban wafat dari jemaah kita .

Maka kejadian crane itu sebagaimana diketahui ada korban wafat dan beberapa luka-luka. Nah kemudian kita sebagai tim tentu senantiasa terus berkoordinasi dengan mencari informasi sekecil apapun untuk kita tindaklanjuti, kita kembangkan, untuk mengetahui identitas korban luka-luka maupun jemaah yang wafat.

Sama halnya dengan kejadian Mina. Peristiwa Mina atau peristiwa 204 kami istilahkan. Beberapa waktu lalu Amirul Haj dalam hal ini Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membentuk 3 tim yang bergerak secara paralel. Yang pertama tim yang mendata ulang berapa jemaah yang belum kembali ke rombongan. Ada juga tim yang mendata ke RS yang ada di Arab Saudi ini untuk mengetahui berapa yang menjadi korban terkait peristiwa Mina ini.

Kami di Tim Linjam ini mempunyai spesifikasi khusus. Kami itu mengantisipasi untuk lebih awal mengetahui berapa sebenarnya korban yang dinyatakan wafat dalam peristiwa ini. Makanya akses kami tentunya mungkin agak unik ke kamar-kamar jenazah ataupun ke penampungan pemulasaraan jenazah yang ada di Arab Saudi.

Dan khusus untuk peristiwa ini semuanya dikirimkan ke Muaisim. Kami bergerak ke sana. Lebih dari 1x24 jam sejak peristiwa, kita baru dapat akses di Muaisim, itupun terbatas hanya untuk melihat, mengamati, mencermati foto-foto yang mereka rilis. Foto-foto yang sudah dipublish untuk bisa kita lihat, kita amati. Itulah modal awal kami untuk mencari jemaah.

Di situ kita melihat foto-fotonya. Ada yang bisa kita lihat, kita identifikasi, kita verifikasi, yang berangkat dari kebiasaan orang Indonesia, kelaziman orang Indonesia. Baik dari segi berpakaian mungkin, dari face raut mukanya mungkin.

Kemudian ada hal-hal yang mungkin khas dipakai jemaah indonesia. Gelang yang dipakainya, slayer beraneka warna yang dipakainya. Ini modal awal kami di tim ini untuk menelusuri keberadaan dari yang diduga sebagai korban dalam peristiwa ini.

Kami juga kami melakukan tahapan-tahapan dalam pencarian ini. Modal awal kita dengan foto tadi, kemudian kita coba cocokkan dengan file/ arsip yang dimiliki oleh instansi yang berkompeten dalam hal ini polisi di muaisim, polisi yang menyidik perkara-2 atau kejadian di luar kelaziman. Nah di situ kita akurkan file itu.

Dari foto yang patut kita duga warga Indonesa dengan karakteristik tertentu kita cocokkan dengan file yang dimiliki kepolisian. Jika file itu mendukung dugaan jenazah berasal dari Indonesia seperti ada gelang identitas di situ, ada paspor di situ kemudian berlanjut ke tahapan selanjutnya.

Tahapan ketiga kita langsung lihat jenazahnya dengan penomoran seperti nomor foto yang kita peroleh kemudian kita buka file dengan nomor yang sama dengan foto itu. Dan kemudian tahap ketiga meyakinkan dengan melihat jenazah yang ada dalam peti itu.

Nah inilah yang mungkin senantiasa kita lakukan siang malam dengan pendekatan-pendekatan khusus. Karena institusi yang ada di sini baik kepolisiannya, kesehatannya, boleh dikatakan agak sulit kita tembus aksesnya.

Kalau boleh kita bicara apabila kita diberikan akses, dari awal bisa masuk ke lokasi di ring 1 untuk mengidentifikasi bukan hal yang sulit menurut kami di tim ini. Karena dengan khasnya, karakterisitik jemaah haji mungkin ditunjuk dari jauh aja sudah ketahuan itu jemaah kita. Cuma untuk akses ke situ sangat protektif sekali. Makanya di hari kejadian di tanggal 24 September kita belum mendapat akses untuk masuk ke TKP itu.

Bagaimana mengatasi akses yang terbatas?

Kita berbagai upaya. Sedikit modal pengalaman-pengalaman yang lalu, kami dengan tim dengan Pak Naif ini yang juga tahu kultur bahasa arab sini, tahu habitnya orang arab sini,  tahu mungkin hal-hal yang bisa menyentuh, mempererat sehingga mereka bisa terbuka. Itu kami lakukan.

Ya kalau mungkin lazimnya orang sini harus peluk kiri kanan cipika cipiki itu kita lakukan semua itu. Kita ekspose apa yang mereka senangi. Kita perkenalkan Indonesia sehingga ada komunikasi. Kalau ada komunikasi, terjalin harmoni di antara kami dengan mereka inilah jalan akses kami masuk ke situ.

Tetapi itu tidak segampang yang dipikirkan temean-teman atau masyarakat Indonesia karena kadang-kadang mereka berubah. Setiap saat bisa berubah. Nah yang saya lihat di sini bahwa ketentuan penanganan emergency yang seperti kejadian ini belum ada protap yang jelas. Atau mungkin kita tidak tahu tentang protap itu.

Sehingga ketika hari ini kita diperlakukan model A besok mungkin sudah berubah lagi. Berubah cara mereka memperlakukan kita. Ataupun juga setiap orang tidak memiliki standar pelayanan yang jelas.

Mungkin satu orang mempersilakan kita mengakses buka file di gudang arsip mereka, tapi satu orang lagi melarangnya. Nah inilah terjadi friksi-friksi yang kami hadapi. Tapi dengan berbagai upaya bagaimana tim ini bisa mencari titik-titik atau celah sekecil apapun untuk bisa masuk dan mendapatkan akses orang yang ada di sini.

Dibandingkan dengan negara lain. Bagaimana kecepatan identifikasi Indonesia?

Saya tidak merasa berbangga diri dengan tim ini, dengan tim kami yang di lapangan. Baik tim yang menyisir rumah sakit, tim yang ke perumahan, atau kami tim yang masuk ke  wilayah-wilayah identifikasi jenazah-jenazah itu.

Mungkin boleh dibilang karena intensitas kita yang lebih banyak, frekuensi kunjungan kita lebih banyak, kemudian lobi-lobi kita yang lebih kita optimalkan saya rasa dibanding teman-teman dari negara lain ketika dia mencari jenazah saudaranya itu kita boleh berbangga diri lah kita sedikit lebih maju dari mereka. Sehingga kita mampu merilis identitas per 12 jam. Itu karena intensitas kita.

Kita berupaya mengoptimalkan waktu yang ada. Jam demi jam, hari demi hari kita terus selidiki. Sampai kita ketahui kapan peluang-peluang kita bisa masuk dan mendapatkan informasi yang banyak. Itu waktunya pun sudah kita pelajari.

Biasanya kalau siang hari kadang-kadang kami pulang hampa. Kita berangkat pagi tidak ada hasil. Tapi ketika setelah maghrib, mungkin mereka sudah fresh itu banyak sekali informasi yang kita dapatkan. Celah-celah untuk akses yang lebih jauh juga kita dapatkan di situ.

Apa tantangannya dalam  mencari 28 jemaah yang masih hilang?

Tentu tantangan ada. Apalagi kalau kita harus secara fisik secara visual untuk mengidentifikasi jenazah yang ada ini tingkat kesulitannya semakin hari semakin tinggi.  Karena, mohon maaf, saya sampaikan kondisi fisik dari korban ini semkin hari semakin rusak. Kalau dari visual agak sulit.

Nah itulah kita tempuh dengan melihat file, karena pada prinsipnya mungkin instansi terkait ini sudah memiliki sidik jari dari semua korban itu. Ini memang yang harus kita tembus.

Jadi itulah harapan-harapan kita. Kita akan temukan, ya mudah-mudahan tidak di situ (kamar jenazah-red)) 28 jemaah yang belum kembali. Mudah-mudahan teman-teman ada menemukan kembali ke kloternya dengan berbagai alasannya.

Mungkin ada yang dirawat di RS, di ICU yang selama ini tidak teridentifikasi. Nah ini semakin berkurang angka tersebut. Nah kita memang berharap ada kejelasan, apapun keadaannya. Syukur-syukur karena mereka ada di rumah sakit atau kembali  ke kloternya.

Kalaupun nanti kita temukan seperti korban-korban yang lain, apa hendak dikata. Itulah kenyataan yang ada dengan nasib jemaah-jemaah kita ini.

Pembelajaran dari kejadian ini?

Perlu dibikin petunjuk teknis ataupun juga mungkin semacam peraturan ketentuan yang diterbitkan dari instansi yang berwenang atau berkompeten di sini. Sehingga kita memiliki antisipasi lebih awal. Ketika ada hal-hal seperti ini, peristiwa seperti ini kita sudah on the track untuk melakukan tindakan-tindakan secara tahapan-tahapan. Jadi perlu contingency untuk mengantisipasi ini, sudah terstruktur dari awal dengan ketentuan yang jelas.

Ini perlu petunjuk teknis. Sehingga dalam mengantisipasi terjadinya hal seperti ini kita tinggal jalan, tidak terlalu banyak rapat, briefing, dan sebagainya. Tapi action karena ini butuh tindakan yang cepat tentunya. Sehingga dengan petunjuk teknis yang ada, software yang ada, siapa berbuat apa dalam organisasi adhoc mungkin juga perlu ada satgas antisipasi peristiwa atau kejadian. Ini yang pertama saya usulkan.

Kedua tentang keberadaan dari jemaah itu sendiri. Nah ini satu di antaranya kendala kita, Ketika kita mau mengetahui secara pasti berapa sih sebenarnya jemaah yang belum kembali ke rombongannya.  Nah ini terkait dengan organisasi kloter. Bagaimana di situ peran petugas kloter, kepala regu atau kepala rombongannya, yang mereka lebih tahu lah keberadaan jemaahnya itu. Nah ini harus dioptimalkan organisasi kloter. Sehingga kita mudah mendapat kepastian jumlah jemaah yang belum kembali ke kloternya.

Ketiga, mungkin bisa juga disarankan tentang identitas. Kemarin kita share dengan orang yang menangani pemakaman, orang yang menangani perawatan jenazah ternyata dari negara lain itu memiliki gelang identitas yang sulit untuk dilepas. Ada beberapa faktor yang pertama, mungkin dari desain yang kita miliki ini tidak seperti yang dimiliki negara lain, tidak bisa lepas dari tangan apapun keadaannya, kecuali mungkin putus tangannya.

Kemudian yang kedua, di sini mengetahu secara persis bahwa gelang identitas yang senantiasa melekat dan dipakai jemaah ini identitas yang lengkap. Ini sudah bagus konsep ini. Di situ ada namanya, ada kloternya, ada nomor paspornya, itu data yang bagus. Cuma desain dari barangnya ini perlu kita sarankan supaya tidak mudah lepas.

Sehingga jemaah yang pingsan, atau jatuh di lapangan kemudian diangkat dengan ambulans Arab Saudi, kemudian masuk di gawat darurat di RS Arab Saudi, mungkin karena tidak tahu peran dan betapa vitalnya fungsi gelang identitas ini, dengan gampang saja mereka copot kan. Copot untuk mempermudah penanganan atau tindakan. Padahal ini sangat-sangat penting sekali.

Sehingga banyak kejadian jemaah itu dirawat di ICU, di manapun dengn identitas yang tidak diketahui. Sehingga dari awal masuk pun di pendaftaran majhul (tidak diketahui identitasnya) cuma dikatakan itu indonesia. Ini juga jadi ada kerja tambahan ya kalau tidak lengkap.

Hal-hal lain mungkin banyak hikmah yang bisa kita ambil. Ketentuan terkait khususnya peristiwa Mina ini kan jemaah kita ini terlarang dalam waktu-waktu tertentu  untuk melontar di jamarat. Kejadiannya ini kan di waktu yang dianggap secara fikih di waktu afdol.

Ini sering kita sampaikan ke jemaah, tidak kurang-kurang saya rasa. Dari mulai selebaran, dengan pengeras suara di titik kumpul jemaah terlarang untuk melontar di waktu seperti itu. Ini harus dipertajam lagi sosialisasi, sejak dari badnara mungkin. Ini banyak hikmahnya.

Pengalaman unik dan menarik selama mengidentifikasi jenazah?

Banyak hal yang mungkin tidak akan saya bisa lupakan ya. Ketika korban crane bagaimana kita berusaha untuk mencari jemaah yang belum ditemukan. Boleh dikatakan sampai mimpi-mimpi dengan jemaah yang kita cari.

Termasuk kita mau verifikasi jemaah itu. Apalagi korban crane itu kan. Banyak kantong-kantong mayat yang memang sudah, moghon maaf, kondisinya seperti itu. Kdang-kadang kita coba cari  gelang-gelannya  sampai ambil bagian-bagian tubuhnya yang selama ini mungkin kita belum pernah melakukan hal itu.

Banyak pelajaran hikmah yang kita dapatkan. Bahkan keunikan saat kita masuk ke dalam kamar jenazah. Kadang kita bercanda dengan mereka penunggu peti jenazah. Rasa canda itu mungkin untuk membunuh perasaan yang lainnya. Termasuk mungkin sekarang kondisi mayat yang… ya namanya ruang mayat dengan korban aroma sedemikian rupa.
(gah/ega)

kaos ukuran besar XXXXXL
Sukses Identifikasi 100 Jenazah Korban Mina, Inilah Kisah Tim Linjam
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email