Minggu, 01 November 2015

Inilah Tipe-tipe Persahabatan, Di Mana Posisi Anda?


http://www.hidayatullah.com
Saat itu, tidak ada yang meragukan kekuatan jumlah pasukan Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi, yang memiliki 1000 tentara berkuda. Namun, ketika mereka berhadapan dengan pasukan Muslim, kekuatan itu seperti tidak ada gunanya, mereka dihancurkan tanpa ampun. Thulaihah Akhirnya mencari tahu penyebab kekalahan pasukannya,”Celakalah kalian! Apa yang menyebabkan kalian kalah?!”
Salah satu diantara prajuritnya pun menyatakan,”Saya akan memberi tahu anda penyebab kekalahan kami. Sesungguhnya tidak ada diantara kita seorang prajurit, kecuali ia menginginkan temannya mati terlebih dahulu darinya. Sedangkan kita berhadapan dengan satu kaum yang semuanya ingin mati sebelum teman-temannya!” (Hayat As Shahabah, 4/642)
Kisah di atas menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan persaudaraan yang mampu membentuk  prilaku itsar, hingga dalam masalah nyawa sekalipun! Disamping mempersolid kekuatan Muslim sifat ini juga menumbuhkan tingginya semangat untuk berkorban. Dengan berbekal kelebihan itu, para sahabat mampu mengalahkan  kekuatan senjata sekaligus banyaknya prajurit musuh. Makna Itsar sendiri, adalah pengutamaan terhadap hajat orang lain daripada hajat diri sendiri dikala membutuhkannya. (Tafsir Ibnu Kastir, hal. 1852)
Ketinggian sifat itsar para salaf bisa mencapai pada tahapan di atas karena, sifat ini sudah menjadi karakter dalam kehidupan mereka. Hal ini tergambar dari beberapa kasus prilaku itsar mereka dalam beberapa peristiwa.  Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan, bahwa suatu saat seorang laki-laki yang mengaku sedang mengalami kesusahan datang kepada Rasulullah, sedangkan di rumah beliau sendiri tidak ada apa-apa yang bisa diberikan. Lalu Rasulullah menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia untuk memberi pelayanan kepada laki-laki tersebut. Akhirnya ada seorang laki-laki Anshar yang bernama Abu Thalhah menerima tawaran tersebut. Padahal saat itu di rumah kaluarga Abu Thalhah tidak ada persediaan makanan kecuali untuk anak-anak mereka. Akhirnya anak-anak mereka ditidurkan tanpa makan malam sedangkan ia dan istri juga tidak makan malam itu,  lantas semua makanan disajikan untuk tamu Rasulullah tersebut. Keesokan harinya, Rasulullah bersabda,”Allah takjub terhadap si fulan dan fulanah”. Hingga turunlah firman Allah yang artinya,”…dan mereka melakukan itsar atas diri mereka, walau ada pada mereka kesusahan…” (Al Hasyr [59]: 9)
Kisah itsar para salaf juga ditemuai di saat perang Yarmuk terjadi. Kala itu, Ikrimah dan bebarapa sahabat beliau terluka parah dan dalam keadaan kritis. Namun, ketika disodorkan air, beliau malah menolak, dan menyarankan agar air itu diberikan kepada orang lain. Padahal beliau dalam keadaan luka berat dan amat membutuhkan air. Demikian pula ketika air itu disodorkan kepada sahabat lainnya, air itu ditolaknya. Hingga sampai orang ke tiga, Ikrimah sudah wafat, kemudian disusul orang ke dua, hingga orang ketiga. Semuanya tidak ada yang meminum air tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. (lihat, Tafsir Ibnu Kastir, hal. 1852)
Ibnu Umar dalam sebuah periwayatan menyampaikan bahwa beliau mengirim kepala kambing untuk sahabat Rasulullah, namun sahabat tersebut malah menyarankan agar kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat lainnya. Demikian pula sahabat yang kedua, menyarankan agar kepala kambing tersebut diberikan kepada sahabat lainnya, hingga sampai kepada sahabat yang ke tujuh, ia meminta agar kepala kambing itu diberikan kepada sahabat yang pertama. (Al Ihya, 5/954)
Di kalangan salaf juga ada dua orang yang terkenal persahabatnnya, yakni Masruq dan  Khaitsamah. Kedua-duanya memang sedang terlilit hutang, namun keduanya lebih mengutamakan untuk membayar hutang sahabatnya. Masruq secara diam-diam melunasi Khaitsaman dan Khaitsamah juga melunasi hutang Masruq, tanpa sepengetahuannya. (Al Ihya, 5/954)
Demikianlah hasil tarbiyah yang dilakukan oleh Rasulullah. Masing-masing berlomba-lomba untuk mencintai saudaranya. Masing-masing berusaha untuk menjadi orang yang paling perhatian terhadap sahabatnya. Karena dengan melakukan hal itu, mereka menjadi orang yang dicintai Allah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,”Tidak saling mencintai antara dua sahabat karena Allah, kecuali Allah paling mencintai siapa yang paling mencintai saudaranya.” (Riwayat Al Hakim, beliau menyatakan,”Isnadnya Shahih)
Sifat itsar, tidak hanya menjadikan generasi awal, sebagai generasi yang tangguh dan ditakuti oleh musuh tapi di akhirat pelakunya juga memperoleh balasan dari Allah sebagai pribadi yang dicintai Allah Ta’ala.
Varian Hubungan Persahabatan
Sifat itsar  tidak timbul tanpa sebab. Ia tumbuh disebabkan persahabatan yang didasari cinta karena Allah. Imam Al Ghazali menggambarkan persahabatn semacam ini sebagai jenis kecintaan kepada seseorang, bukan karena pribadi orang  tersebut, tapi karena ingin memperoleh keridhaan Allah.
Sedangkan, mencintai seseorang karena kecintaan kepadanya menghantarkan kepada kecintaannya kepada perkara duniawi tidak termasuk kecintaan yang didasari karena mencari keridhaan Allah. Kecintaan seperti ini mirip kecintaan seseorang terhadap uang. Seseorang cinta uang bukan karena bendanya, tapi karena dengan uang ia bisa memperoleh apa yang ia cintai.
Demikian pula kecintaan kepada teman, ada yang mencintai teman karena ingin memperoleh keuntungan dari hubungan pertemanan itu. Bahkan pada keuntungan inilah ia tambatkan kecintaannya yang hakiki. Tidak heran, ada orang yang menjalin pertemanan untuk membangun jaringan bisnis atau memperkuat posisi politis. Ada pula pihak yang menjalin pertemanan dan mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya untuk mendukung popularitas. Memang tidak ada larangan dalam hal itu, kacuali jika ada pelanggaran syar’i dalamnya, namun posisi pertemanan ini tidak akan melahirkan sifat itsar dan pengorbanan.
Biasanya, pertemanan jenis ini akan langgeng selama kepentingannya ada. Jika tujuan utama persahabatan tidak bisa diraih, maka persahabatan akan berakhir, karena dipandang tidak ada manfaat yang diperoleh. Bahkan terkadang pertemanan seperti ini berlanjut kapada hal-hal dilarang dalam syariat. Sekelompok manusia bisa suatu saat terlihat kompak dan solid, namun setelah waktu berlalu mereka berpisah, mereka saling hantam dan salin jegal. Bahkan sering pula dijumpai dalam satu team sekalipun terjadi saling sikut dan saling curiga karena masing-masing memiliki kepentingan sendiri yang ingin diraih dari perkumpulannya tersebut. Tentu, persahabatan yang seperti itu tidak akan membawa kemenangan bagi umat, dan tidak pula memperoleh keridhaan dari Allah Ta’ala. Bahkan bisa menimbulkan sifat egois yang pribadinya berpeluang untuk mudah diadu domba oleh musuh.*
Rep: Sholah Salim
Editor: Thoriq

kaos ukuran besar XXXXXL
Inilah Tipe-tipe Persahabatan, Di Mana Posisi Anda?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email