Jumat, 27 November 2015

Nasehat PERSIS untuk Bupati Purwakarta: Adat yang Berbau Musyrik Harus Ditinggalkan

Jakarta (SI Online) - Organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam yang berbasis di Jawa Barat, Persatuan Islam (Persis), menyarankan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi supaya memilah dan memilih budaya mana yang sesuai dengan agamanya sebagai seorang Muslim dan budaya mana yang tidak sesuai. 
"Yang tidak sesuai ditinggalkan, untuk apa meramaikan hal-hal kayak begitu (budaya-budaya musyrik, red)," ungkap Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) KH Maman Abdurrahman yang baru saja menyelesaikan masa jabatannya dalam Muktamar XV kepada wartawan di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/11). 
Maman, yang kini menjabat sebagai salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini menyatakan ketidaksetujuannya terhadap upaya Dedi Mulyadi menghidupkan budaya-budaya Sunda yang bertentangan dengan syariat. 
"Saya tidak setuju yang dibesar-besarkan kok adat kebiasaan, padahal di situ berbau syirik," tandasnya. 
Maman juga mengimbau, kepada para ulama di wilayah Purwakarta supaya mengeluarkan fatwa bila kelakuan Dedi Mulyadi diharamkan dalam Islam. 
Sebagai lembaga penjaga akidah umat, MUI setempat juga diminta untuk menjauhkan masyarakat dari ajaran-ajaran syirik. 
Seperti diketahui Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.
Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.
Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Alquran.
Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "keindahan", tapi untuk "keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.
Dedi tidak bangga dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayulnya, yang dikemas atas nama kearifan lokal (local wisdom).
red: shodiq ramadhan
----------------------------------------------------

AMS Larang Habib Rizieq ke Jawa Barat, FPI: Itu Provokasi dan Tidak Sesuai Adat Sunda


 

AMS Larang Habib Rizieq ke Jawa Barat, FPI: Itu Provokasi dan Tidak Sesuai Adat Sunda
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab saat memimpin doa

Bandung (SI Online) - Sejumlah organisasi massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda (AMS) melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab ke Polda Jawa Barat atas tuduhan pelecehan terhadap budaya sunda. Habib Rizieq dituduh telah memplesetkan salam orang Sunda 'sampurasun' menjadi 'campur racun'. Dan atas dasar itu, AMS menolak Habib Rizieq masuk ke wilayah Jawa Barat. 
Ketua DPD FPI Jawa Barat, KH Abdul Kohar mengklarifikasi bahwa Habib Rizieq dalam ceramahnya di Purwakarta beberapa waktu lalu itu tidak melecehkan adat Sunda seperti yang dituduhkan. Menurutnya, ceramah tersebut isinya hanya ingin menyelamatkan umat Islam Purwakarta dari berbagai hal yang mengarahkan pada perusakan akidah. (baca: FPI Jabar: Ceramah Habib Rizieq di Purwakarta untuk Menyelamatkan Umat, Bukan Menghina Adat)
Dijelaskannya, masalah sebenarnya adalah upaya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang sedang mengkampanyekan salam 'sampurasun' sebagai ganti 'assalamualaikum'. Itu yang dianggap sedang meracuni akidah umat Islam. Karena itulah, para ulama di Purwakarta menilai tindakan Bupati yang sedang meracuni akidah itu dikatakan sebagai 'campur racun'. (baca: Bupati Purwakarta, Sampurasun atau Campur Racun)
"Kata-kata 'campur racun' sendiri itu keluar dari para ulama Purwakarta dalam diskusi sebelum ceramah Habib Rizieq, saya jadi saksinya karena ikut disitu," ujarnya saat dihubungi Suara Islam Online, Rabu (25/11/2015). 
Karena itu, kepada pihak pelapor, Kyai Kohar mengatakan seharusnya dilakukan klarifikasi dahulu sebelum bertindak.
Terkait pernyataan AMS yang menolak Habib Rizieq memasuki wilayah Jawa Barat, Kyai Kohar menilai itu adalah bentuk provokasi yang tidak sesuai adat sunda. "Justru yang menolak tamu yang datang ke Jawa Barat itu adalah provokator, mereka itulah yang mencederai adat sunda yang kita kenal Someah Hade Kasemah," ujarnya.
Filosofi Someah Hade Kasemah berarti bahwa orang Sunda harus ramah pada tetamunya. Ramah dalam arti menjamu, menjaga, memelihara, menghargai dan berupaya membahagiakan tamu mereka.
Kyai Kohar mencurigai, upaya provokatif tersebut ditunggangi oleh pihak tertentu yang memang sebenarnya tidak suka dengan dakwah Islam. "Kami melihat ini ada pihak ketiga yang melakukan provokasi dan ingin memperkeruh suasana," ungkapnya.
  
Ia menyerukan kepada seluruh pihak, untuk memandang persoalan ini dengan objektif, "Jangan sampai malah membenarkan fitnah yang bisa merugikan semua pihak," pungkasnya.
red: adhila

kaos ukuran besar XXXXXL
Nasehat PERSIS untuk Bupati Purwakarta: Adat yang Berbau Musyrik Harus Ditinggalkan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email