Kamis, 31 Maret 2016

Siapa “Ahli Waris” Akun Media Sosial Anda?



Hidayatullah.comApa yang terjadi dan perlu dilakukan dengan akun media sosial seseorang setelah  kematiannya? Masalah ini menjadi salah satu isu yang perlu dipertimbangkan di era internet ini.
Baru-baru ini Facebook telah memperkenalkan opsi untuk menambahkan daftar kontak pewaris untuk profil Anda.
Diperkirakan ada lebih dari 30 juta akun Facebook yang pemiliknya sudah meninggal dunia.
“Kematian merupakan hal yang paling tidak pernah dipikirkan secara seksama terkait dengan media sosial,” kata Tama Leaver, pengajar senior di Fakultas Ilmu Internet di Universitas Curtin, dikutip laman australiaplus.com, Selasa (29/03/2016).
“Ada banyak keterkaitan mengenai bisa bergabung dan berbincang satu sama lain, tapi apa yang akan kita lakukan dengan materi-materi yang ditinggalkan seorang pengguna media sosial masih menjadi hal yang perlu dipikirkan secara mendalam,” ujar Tama Leaver.
Ini menjadi masalah akut yang dihadapi oleh jaringan sosial terbesar di dunia Facebook yang sudah berjalan selama 10 tahun dan memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif.
Sekitar 8.000 pemegang akun Facebook meninggal setiap hari, dan diperkirakan jumlah profil milik orang yang sudah meninggal akan mencapai 30 juta.
Facebook kini telah memperkenalkan opsi untuk menambahkan daftar kontak pewaris untuk profil Anda, tetapi sedikit orang yang menyadari hal itu, menurut Dr Leaver.
“Ini adalah fungsi yang terbatas dan tidak juga berarti Anda dapat mengontrol akun seseorang tersebut. Tapi opsi ini hanya membolehkan Anda mengunggah pesan di akun almarhum kalu Ia sudah meninggal,” katanya.
“Mereka tidak bisa kembali keakun itu mengedit atau menghapus materi di akun itu.”
Begitu orang yang masuk dalam kontak pewaris mengunggah pesan terakhir, profil pemilik aku itu akan diabadikan oleh Facebook.
Akun milik almarhum kemudian tidak akan bisa menambah teman lagi tapi orang masih bisa mengunggah pesan kenangan mereka di halaman aku almarhum.
“Seringkali laman yang diabadikan menjadi makam digital dan pada hari peringatan kematian seseorang atau ulang tahunnya, orang masih bisa mengunggah pesan,” Dr Leaver menambahkan.
Jika ada pesan yang tidak layak dan menghina, kontak pewaris memiliki otoritas untuk menghapus akses seseorang untuk mengunggah pesan di laman almarhum.
“Apa yang tidak bisa mereka lakukan adalah kembali ke postingan lama milik almarhum dan menghapus materi-materi lama di akun itu. Mereka hanya bisa melakukan hal-hal yang bersifat membersihkan atau merapikan akun milik almarhum saja,” katanya.
Dr Leaver mengatakan kebanyakan orang tidak memikirkan kehidupan digital mereka ketika menyusun surat wasiat dan instruksi setelah kematiannya.
Namun dia mengatakan memberikan akses pada seseorang kea kun media sosial dan akum email pribadi bisa menjadi hal penting dalam rangka mengurus keuangan dan dampak personal dari kematian seseorang.
“Ini sama halnya dengan membicarakan mengenai warisan, ada baiknya Anda membicarakan apa yang Anda kehendaki dengan materi di akun media sosial Anda,” katanya.
“Hal ini bahkan lebih penting jika Anda  membicarakan juga akun email Anda karena sering kali hal vital yang dibutuhkan keluarga Anda disimpan di akun emailnya.”
Sementara itu di Australia, jika seseorang meninggal mendadak dan tidak meninggalkan pesan perintah apapun, maka tidak ada upaya hukum yang memberikan pedoman bagi keluarga, pengadilan atau perusahaan media sosial.
“Aturan hukum di Australia tidak mengatur sama sekali tentang materi digital ketika Anda meninggal,” kata Dr Leaver.
Ada sejumlah kasus hukum di Amerika Serikat dimana sejumlah orang menggugat perusahaan media sosial agar bisa mendapat akses terhadap akun media sosial kerabat mereka, tapi aturan hukum di Australia belum pernah diuji terkait ketentuan atau terms of service yang sebagian besar kita menandatanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu,” katanya.*
Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Selasa, 29 Maret 2016

Sate Klatak - Sate Imogiri - Sate Pak Pong



Rombongan "ROJALI" ini setelah menempuh jarak sekitar 70 km dari kantornya tampak "bahagia" melihat pesanan sudah datang. Pesanan terdiri dari : 5 porsi sate klatak (berarti tiap orang dapat 2 tusuk sate klatak ukuran besar), 1 porsi tongseng dan 2 porsi sate goreng. Teh Poci dan teh es. Penasehat "Rojali" mengingatkan selain berdoa dulu sebelum makan tak lupa narsis dan nambah nasi.
(Ket. gbr. kika: Pak Momon, Big Sugeng, Pak Har, Pak Supri dan Pak Wawan)


Kalau warung sate jualan sate, jualan gulai dan jualan tengkleng itu biasa. Tapi kalau warung sate jualan sate "klathak" kayaknya hanya ada di Warung Sate Pak Pong Jl. Imogiri. Walaupun saat ini sudah diikuti oleh banyak penjual sate lainnya.

Buat temen-temen yang kebetulan lagi ke Jogja dan gemar  makan sate kambing, sepertinya belum lengkap kalau belum mencoba sate klathak. Kalau biasanya sate dibakar dengan tusukan bambu, sate klathak dibakar dengan jeruji sepeda. Kalau sate biasanya dihidangkan dengan bumbu kecap, maka sate klathak ya dimakan begitu saja tanpa nasi dan tanpa bumbu kecap. Rasanya gurih, mungkin bumbunya bawang putih plus garam sebelum dibakar. Kelebihan sate ataupun sate klatak Pak Pong adalah kambingnya masih muda sehingga daging relatif empuk. Karena laris begitu mau habis, langsung motong kambing saat itu juga (mungkin stok kambing muda sudah ada di kandang ya?), otomatis dagingnya seger.

Pendapat saya tentang harga relatif murah, cuma dari sisi volume/isi tiap porsinya menurut saya terlalu sedikit. Makanya kalau mau pesen sekalian 2 porsi per orang atau pesennya misalnya 1 porsi sate, satu porsi sate klatak (1 porsi = 2 tusuk), 1 porsi tongseng atau kalau mau iseng makan balungan ya ada tengkleng. Tapi harus ingat setelah makan penyakit magh bisa kumat ( mah mamah...he he he ). Minuman khasnya kalau ada teh tubruk gula batu. Biar nggak marah-marah seperti kejadian di atas sebaiknya kalau mbawa rombongan ya sangu makanan kecil dan beli buah untuk menetralisir (menetralisir kalau antri lama atau biar makanan kita seimbang, ada sate ada buah kan jadi sehat).

Lokasinya Dari terminal Giwangan ke arah Imogiri kurang lebih 4 km (lampu merah belok kanan kurang lebih 300 m kanan jalan)
Alamat : Jl. Imogiri Timur Km 7, Jejeran, Wonokromo, Pleret

 "Petugas" sedang membakar sate klatak yang mau dibawa pulang
(makanya nggak pakai jeruji, tapi pakai tusuk bambu)

saat menunggu adalah saatnya meminum teh poci gulabatu



Tengkleng "balungan" Pak Pong bisa meredam emosi, apalagi kalau dikasih ke supporter bonek
pasti mereka suka banget dan dijamin tidak ngamuk

Kamis, 24 Maret 2016

Sejarawan: Pattimura Pahlawan Islam


Pattimura atau Thomas Matulessy lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817. Dia juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura, seorang pahlawan Maluku sekaligus Pahlawan nasional Indonesia.

Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis: "Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan.”

Namun sejarawan Mansyur Suryanegara berbeda pendapat. Dia mengatakan dalam bukunya "Api Sejarah" bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja itu dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Kapitan Pattimura

Siapa yang tak kenal Kapitan Pattimura? Pahlawan Nasional yang gambarnya tertera di uang kertas Rp1.000 keluaran tahun 2000. Perjuangannya dalam mengusir penjajah Belanda di Maluku sudah tidak diragukan lagi. Namun yang menjadi kontroversi adalah agama yang dianutnya. Apakah ia beragama Kristen atau Islam?

Nunu oli/ Nunu seli/ Nunu karipatu/ Patue karinunu  (Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).”

Kalimat puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Ahmad Lussy, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura saat akan menghadapi hukuman gantung oleh penjajah Belanda. Saat itu, 16 Desember 1817, tali gantung telah dililitkan di lehernya. (Kapitan artinya pemimpin, sedangkan Pattimura merupakan salah satu nama marga di Maluku yang beragama Islam)

Dari kata-kata yang diucapkannya, tampak bahwa Ahmad Lussy (dalam dialek Maluku disebut Mat Lussy) adalah seorang pejuang  berjiwa besar yang pantang menyerah. Sebagaimana pejuang Muslim yang digetari semangat jihad, ia tidak takut terhadap  ancaman maut.

Namun keberanian itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarahwan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura versi pemerintah, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.”

Namun, menurut sejarahwan, M Nour Tawainella, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya pada  zaman itu.

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan nama lengkapnya dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim  menjadi nama seorang Kristen. Thomas adalah nama yang lazim digunakan orang beragama Kristen. Sedangkan Mattulessy adalah salah satu nama mataruma (marga/fam/nama keluarga) Kristen di Maluku.

Celakanya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen. “Karena kita sudah terbiasa mendengar yang salah, ketika saya benarkan, yang salah itu dianggap benar, yang saya benarkan itu dianggap salah,” ungkap Ahmad Mansur Suryanegara kepada Media Umat, Senin (18/11) melalui sambungan telepon.

Muslim Taat

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari Kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah) yang dalam dialek bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, Kapitan Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit yang ditulis M Sapija. “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan.”

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kerajaan Islam atau kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan mengganti marga Pattimura menjadi Mattulessy. Walhasil nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

Berbeda dengan Sapija yang tidak menyebut Pattimura sebagai marga, Ahmad Mansur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga dan masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

“Di sana itu ada marga Pattimura dan tidak ada seorang pun yang beragama Kristen. Keturunan Pattimura beragama Islam,” ujar Ahmad Mansur Suryanegara.

Masih menurut Ahmad Mansur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

Ia juga menegaskan, semua gerakan perlawanan terhadap Kerajaan Protestan Belanda itu mayoritasnya Islam. Sedangkan orang Kristen sendiri jarang sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada yang melakukan perlawanan.

Ahmad Mansur pun menyatakan penulisan pemalsuan sejarah oleh pemerintah itu sudah biasa. Karena Muhammad Hatta, ---yang menghapus tujuh kata penerapan syariat Islam dalam Piagam Jakarta---  menurut Ahmad Mansur Suryanegara, meskipun beragama Islam tetapi tidak suka dan tidak menghendaki bangkitnya Islam politik.

Begitu juga dengan Muhammad Yamin ---yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) saat itu--- memalsukan sejarah atau mengangkat orang-orang yang sebenarnya menentang sejarah, yang sebenarnya bukan pahlawan ditulis seolah sebagai pahlawan.

“Jadi Hatta dan Yamin tidak menghendaki Islam politik, maka nanti pengaruhnya terhadap P dan K dan lainnya itu lalu diangkatlah orang-orang yang sebenarnya menentang sejarah, yang sebenarnya bukan pahlawan dipahlawani,” bebernya.

Namun, perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan pepatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari pemerintah. Di antara pepatah-petitih itu adalah sebagai berikut:

Yami Patasiwa/ Yami Patalima/ Yami Yama’a Kapitan Mat Lussy//Matulu lalau hato Saparuambuine/ Ma Parang kua Kompania//Yami yama’a Kapitan Mat Lussy/ Isa Nusa messe/ Hario/ Hario//Manu rusi’a yare uleu uleu `o/ Manu yasamma yare uleu-uleu `o/ Talano utala yare uleu-uleu `o//Melano lette tuttua murine/  Yami malawan sua mena miyo/ Yami malawan sua muri neyo//

(Kami Patasiwa/ Kami Patalima/ Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy// Semua turun ke kota Saparua/ Berperang dengan kompeni Belanda// Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy/ Menjaga dan mempertahankan/ Semua pulau-pulau ini// Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap/ Mari pulang semua/ Ke kampung halaman masing-masing/ Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)/ Sudah pulang-sudah pulang// Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)/ Sudah pulang-sudah pulang/ Ke kampung halaman mereka// Di balik Nunusaku/ Kami sudah perang dengan Belanda/ Mengepung mereka dari depan/ Mengepung mereka dari belakang/ Kami sudah perang dengan Belanda/ Memukul mereka dari depan/ Memukul mereka dari belakang//)

Nama Kapitan Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama fiktif Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada nama Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah.

Sumber:
- Kapitan Pattimura: Korban Deislami Sejarah
http://mediaumat.com/sosok/5168-116-kapitan-pattimura-korban-deislami-sejarah.html

Selasa, 15 Maret 2016

Pendaftaran Pendidikan Kedinasan


JAKARTA – Kabar gembira bagi putra-putri terbaik lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) sederajat. Tahun 2016 ini, pemerintah membuka kesempatan kepada mereka untuk mengikuti seleksi menjadi siswa/taruna pada Kementerian/Lembaga yang mempunyai Lembaga Pendidikan Ikatan Dinas (LPID).

 Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Dwi Wahyu Atmaji mengungkapkan, ada tujuh LPID yang membuka kesempatan 5.940 kursi calon siswa. Ketujuh LPID dimaksud adalah Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN, yang membuka kesempatan untuk 3.650 siswa.

Adapun LPID lainnya adalah Istitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dengan 900 kursi, Sekolah Tinmggi Ilmu Statistik (STIS) yang membuka 500 kursi,  Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) yang mencari 300 calon siswa/taruna, 260 calon taruna Akademi Imigrasi (AIM) dan Poltekip, 250 orang untuk Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (STMKG), dan sebanyak 80 orang untuk Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN).

Atmaji lebih lanjut menjelaskan, bagi warga masyarakat yang bermaksud melakukan pendaftara dapat melakukan pendaftaran secara online melalui portal panseldikdin.menpan.go.id sesuai dengan jadwal. Informasi lengkap terkait dengan pendaftaran dapat diakses di portal masing-masing Kementerian/Lembaga Pendidikan Kedinasan yang akan dibuka mulai tanggal 15 Maret s/d 27 Mei 2016.

Dengan sistem pendaftaran terpadu ini, maka tidak ada satu orang atau pihak manapun yang dapat membantu kelulusan dengan kewajiban menyediakan uang dalam jumlah tertentu.
Ditambahkan, peserta hanya boleh mendaftar di salah satu dari 7 (tujuh) Kementerian/Lembaga Pendidikan Kedinasan. “Apabila mendaftar di dua atau lebih Lembaga Pendidikan, maka yang bersangkutan dinyatakan gugur,”  ujarnya di Jakarta, Senin (14/03).

Menurut Atmaji, peserta dapat mengikuti pendidikan apabila telah dinyatakan lulus keseluruhan tahapan seleksi.
Untuk pengangkatan menjadi CPNS,  dilakukan setelah dinyatakan lulus serta memperoleh ijazah dari Lembaga Pendidikan yang bersangkutan dan ditempatkan pada jabatan tertentu berdasarkan usulan dari Kementerian/Lembaga yang bersangkutan dan Pemerintah Daerah (yang melakukan pola pembibitan bagi lulusan STTD) berdasarkan formasi yang ditetapkan oleh Menteri PANRB. “Jadi, meskipun sudah diterima di lembaga  pendidikan ikatan dinas tersebut, tidak otomatis diangkat menjadi CPNS,” pungkas Atmaji.  (ags/HUMAS MENPANRB)

Daftar  Ketujuh LPID  yang membuka  pendaftaran sebagai berikut  :

  1. Kementerian Keuangan (PKN STAN) sebanyak 3.650 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 3 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 20 s/d 24 Juni 2016); Pengumuman Masuk PKN STAN : klik STAN
  2.  Kementerian Dalam Negeri (IPDN) sebanyak 900 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 29 Maret s/d 19 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 9 s/d 13 Mei 2016);
  3.  Kementerian Perhubungan (STTD) sebanyak 300 siswa pola pembibitan (pendaftaran dibuka dari tanggal 4 April s/d 27 Mei 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 9 s/d 10 Agustus 2016);
  4. Kementerian Hukum dan HAM (AIM dan POLTEKIP) sebanyak 260 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 4 Mei 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 30 Mei s/d 3 Juni 2016);
  5.  Badan Pusat Statistik (STIS) sebanyak 500 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 1 Maret s/d 30 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 19 s/d 22 Juli 2016);
  6.  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) sebanyak 250 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Maret s/d 22 April 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 11 Mei s/d Selesai);
  7.  Lembaga Sandi Negara (STSN) sebanyak 80 siswa (pendaftaran dibuka dari tanggal 15 s/d 30 Maret 2016, pelaksanaan TKD dari tanggal 15 s/d 22 April 2016.

Senin, 14 Maret 2016

Hutang Peradaban Moderen Pada Matematika Islam


`'Setiap kehidupan adalah matematis,'' cetus Prof Abdulalim Abdullah Shabazz, seorang guru besar matematika di Clark Atlanta University, AS. Tokoh Islam di Amerika, Malcolm X menyatakan, matematika adalah hidup, dan hidup adalah matematika.

Lebih dari itu, Galileo dari Galilea menegaskan bahwa matematika merupakan bahasa yang digunakan Tuhan dalam menulis alam semesta.Asal-muasal matematika yang berasal dari bahasa Yunani m thema (sains, ilmu pengetahuan atau belajar) telah muncul sejak 3000 SM.

Adalah bangsa Sumeria yang hidup di daerah Mesopotamia, lewat lembaran tanah liat, diketahui sudah mulai menggunakan angka untuk pertama kalinya. Jejak matematika juga ditemukan dalam Plimpton - matematika Babilonia yang bertarikh 1900 SM.

Matematika lahir dari tuntutan kebutuhan hidup. Tak heran, bila kemudian ilmu hitung memegang peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Berkat matematika-lah, manusia dapat melakukan aktivitas perdagangan, menggukur tanah serta memprediksi peristiwa dalam astronomi.

 `'Angka-angka mengatur segalanya,'' papar Phitagoras, ahli matematika Yunani.Kesadaran umat Islam akan pentingnya menguasai matematika baru muncul pada akhir abad ke-8 M.

Ahli sejarah Carl B Boyer, dalam 'History of Mathematics' menyatakan, `'Awal abad pertama penaklukan yang dilakukan bangsa Arab adalah masa kebingungan politik dan intelektual.'' Menurut Boyer baru pada 750 M, umat Islam mulai menyadari pentingnya melakukan transfer pengetahuan dari bangsa-bangsa yang ditaklukannya.

Selasa, 01 Maret 2016

Resmi Jabat Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi Diminta Tancap Gas



JAKARTA - Sindonews.com
Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro resmi melantik Ken Dwijugiasteadi sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Kementerian Keuangan. Ken sendiri awalnya merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pajak Kemenkeu menggantikan Sigit Priadi Pramudito yang mengundurkan diri akhir 2015.

Dia menerangkan dilantiknya Ken sebagai Dirjen Pajak Kemenkeu menjadi penegasan bahwa hari ini Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu telah memiliki pimpinan pajak yang definitif dan dapat mengambil keputusan untuk mencapai target penerimaan yang dicanangkan.

"Pada siang hari ini kita baru saja menyaksikan pelantikan Pak Ken selaku Dirjen Pajak yang baru. Dan tentunya saya harapkan pelantikan pada siang hari ini adalah penegasan bahwa hari ini Ditjen Pajak sudah punya pimpinan pajak yang definitif," katanya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (1/3/2016).

Lanjut dia, diharapkan segenap jajaran Ditjen Pajak Kemenkeu dapat segera berlari cepat, dan berupaya keras mencapai target yang ditetapkan, baik pada tingkat pusat maupun wilayah. Dengan demikian menurutnya, apa yang menjadi harapan dalam konteks pengamanan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 dapat tercapai.

"Tentunya, di Ditjen Pajak bapak ibu sudah kenal Pak Ken karena Pak Ken berkarir sepenuhnya di Ditjen Pajak dari level yang paling awal, sampai kepala kanwil, sampai kemudian staf ahli menkeu yang juga merangkap tugas sebagai Deputi Dirjen," imbuh dia.

Mantan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) ini juga berharap agar Dirjen Pajak yang baru ini langsung tancap gas, mengingat pengalaman dan riwayatnya yang berkarir cukup lama di Ditjen Pajak Kemenkeu.

"Nah tentunya, saya harapkan untuk Pak Ken tidak perlu lagi adaptasi, pengenalan, dan seterusnya. Langsung tancap gas dan bagaimana mencari strategi yang baik dalam rangka pengamanan penerimaan pajak," tandasnya.

Sebagai informasi, Ken Dwijugiasteadi mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak sejak 1982. Pria kelahiran Malang, 8 November 1957 mengawali karier sebagai Pegawai Negara Sipil (PNS) golongan III-A. Ken menunggu 33 tahun untuk memuncaki jabatan di Otoritas Pajak. Itu pun setelah Sigit Priadi Pramudito mundur dari jabatan Dirjen Pajak Kemenkeu.