Selasa, 19 April 2016

Bagaimana Jika Imam Shalat tak Disukai Jamaah?


REPUBLIKA.CO.ID, Menjadi imam shalat jamaah merupakan tugas mulia. Sebab, imam dalam shalat jamaah adalah individu yang memimpin orang banyak dalam menjalankan ibadah paling agung dalam Islam. Apalagi, jika di samping menjadi imam, ia juga memberikan nasihat, pengajaran, dan peringatan kepada jamaahnya. Berapa banyak orang yang tersadarkan dari kesesatannya dan menyesal atas segala kelalaiannya.

Ustaz Bachtiar Nasir menjelaskan, di samping tugas mulia, menjadi imam shalat jamaah juga merupakan tanggung jawab besar. Imam tak hanya mesti memiliki keahlian membaca Alquran dan ilmu tentang shalat.
Ia pun dituntut mempunyai sifat dan akhlak sebagai panutan jamaahnya. Karena itu, papar Ustaz Bachtiar, seharusnya yang menjadi imam shalat jamaah adalah mereka yang berilmu, wara, benar bacaan, dan banyak hafalan surah Alqurannya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Seorang imam adalah penjamin (pelaksanaan shalat) dan muazin adalah orang yang diberikan kepercayaan untuk menjaganya. Ya Allah tunjukilah para imam dan berilah ampunan untuk para muazin.” (HR Abu Daud, Ahmad, al-Baihaqi, Tirmizi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Para ulama menjelaskan, maksud dari penjamin dalam hadis di atas, seorang imam wajib menjaga shalat makmumnya agar tidak batal, menjaga rakaat shalatnya serta tidak buru-buru dalam shalatnya yang merusak rukun shalat. Menurut Ustaz Bachtiar, hal itu juga berarti imam memikul bacaan bagi makmum dalam shalat jahr dan juga memikul beban bacaan al-Fatihah bagi makmum yang masbuk.

Karena itulah Rasulullah menjelaskan siapa yang paling berhak menjadi imam shalat jamaah. Dari Abu Mas’ud al-Anshari ia berkata, Rasulullah  bersabda, “Yang (paling berhak) menjadi imam pada satu kaum adalah yang paling baik dan banyak hafalannya terhadap Alquran. Jika mereka sama di dalam bacaan (hafalan), maka yang paling berilmu terhadap Sunah. Jika mereka sama di dalam Sunah, yang paling dahulu berhijrah. Jika mereka sama di dalam hijrah, yang paling dahulu masuk Islam (di dalam riwayat lain: yang paling tua umurnya). Seorang laki-laki janganlah menjadi imam di dalam wilayah kekuasaan laki-laki lain, dan janganlah dia duduk di atas permadani/tempat duduk khususnya di dalam rumah orang itu, kecuali dengan izinnya.’’ (HR Muslim).

Seharusnya, para imam menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Rasulullah selalu memperhatikan keadaan dan kondisi para jamaahnya dalam memanjangkan atau memendekkan bacaann ketika menjadi imam.

Bahkan, terang Ustaz Bachtiar, Rasul marah kepada imam yang membaca terlalu panjang, sehingga menyebabkan jamaah tidak mau melakukan shalat berjamaah.Seorang imam hakikatnya adalah miniatur kepemimpinan umat di luar shalatnya.

Tentu hal itu dapat dicapai jika imam memiliki sifat dan akhlak mulia dan mampu menerapkan nilai-nilai shalat dalam kehidupannya. "Tidak sepatutnya seorang imam memaksakan mazhab yang diikutinya jika berada dalam lingkungan bermazhab yang dibenarkan akidah ahlussunah wal jamaah," papar Ustaz Bachtiar Nasir.

Dari Abu Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak melewati telinga-telinga mereka, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya sampai ia kembali kepada tuannya, istri yang bermalam dalam keadaan suaminya marah terhadapnya, dan seseorang yang mengimami suatu kaum dalam keadaan mereka tidak suka kepadanya.” (HR Tirmizi, Thabrani dan Baihaqi). Wallahu a’lam bish shawab.
Sumber : Pusat Data Republika

Senin, 11 April 2016

Ini Tiga Kelompok yang Dibenci Rasulullah SAW

Ini Tiga Kelompok yang Dibenci Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Hasan Basri Tanjung

Dalam Kitab Riyadhush-Shalihin, Imam an-Nawawi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi dari Jabir RA. Pada suatu kesempatan, Nabi SAW berkumpul dengan sahabatnya, lalu memberi petuah yang menggetarkan hati. 

Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, sungguh yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah al-tsatsaruun dan al-mutasyaddiquun serta al-mutafaihiquun," sabda Rasulullah SAW. 

Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, Kami mengerti al-tsartsaruun dan al-mutasyaddiquun. Tapi, siapakah al-mutafaihiquun itu?” Beliau SAW menjawab, “al-mutakabbiruun.

Melalui hadis ini, Nabi SAW hendak mengingatkan umatnya akan tiga perkara yang paling dibencinya karena termasuk akhlak al-mazmumah (perilaku buruk) yakni: Pertama, al-tsartsaruun (orang yang banyak celoteh dan suka membual). 

Golongan pertama yang dibenci Nabi SAW adalah pembual atau pendusta yang banyak cakap dan lagunya, serta pandai pula bersilat lidah. Kadang disertai argumentasi logis dan yuridis, namun mengandung kebohongan dan tipuan. Kalau bicara seenaknya, kurang menjaga adab dan menyela pembicaraan. 

Nabi SAW berpesan, “Katakanlah yang baik atau diam.” (HR Bukhari). Banyak kata tapi sedikit makna dan tidak sesuai fakta. Mereka itulah orang-orang munafik yang apabila berkata ia dusta, bila berjanji diingkari dan bila dipercaya dikhianati (HR. Bukhari). Jangan percaya kepada orang yang banyak cakap, tapi minim amal atau tidak sesuai dengan lakunya (QS [61]:2-3). 

Kedua, al-mutasyaddiquun (Orang yang suka bicara berlebihan kepada orang lain). Golongan kedua yang dibenci Nabi SAW adalah orang berlagak fasih dengan tata bahasa yang menakjubkan. Jika bicara, bumbunya berlebihan hingga tak sesuai kenyaataan. 

Lihai dalam bertutur kata, tapi hanya ingin dapat pujian. Tidak jarang pula, bahasanya indah namun berbisa (menghinakan). Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah. 

Dalam diri manusia ada hati (wadah), akal (pengendali) dan hawa nafsu (keinginan). Jika hati kotor maka yang keluar dari lisan pun kotor. Jika baik maka yang keluar dari ucapan juga baik (QS [91]:8-10). Alquran menyindir manusia yang perkataannya menarik, tetapi palsu belaka (QS [2]:204, [22]:30). 

Ketiga, al-mutafaihiquun (Orang yang suka membesarkan diri). Golongan ketiga yang sangat dibenci Nabi SAW yakni orang sombong atau angkuh. Kesombongan pertama adalah ketika Iblis menolak sujud kepada Nabi Adam AS, lalu ia pun dikeluarkan dari surga (QS [5]:29-35). 

Fir’aun yang mengaku Tuhan (QS [79]:23-25,[28]:38), akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah. Qarun yang pongah karena harta kekayaannya (QS [28]:76-82), dilenyapkan ke perut bumi. Raja Namrudz yang menyetarakan diri dengan Allah SWT. (QS [2]:258), justru dimatikan oleh seekor nyamuk. 

Nasihat Imam Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam perlu kita renungi, "Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan penyesalan, lebih baik dari ketaatan yang melahirkan bangga dan kesombongan.

Tetaplah rendah hati, karena keangkuhan adalah awal dari semua kejatuhan. Jangan sombong di depan orang tawadhu, nanti kau dipermalukan. Jangan pula rendah hati di depan orang sombong, nanti kau dihinakan. Allahu a’lam bish-shawab. 

Minggu, 10 April 2016

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah


Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah
12-08-2010 12:02
Kerangka dasar ini menyajikan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi para penggunanya. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:
(a) penyusun standar akuntansi keuangan syariah, dalam pelaksanaan tugasnya;
(b) penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan syariah;
(c) auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum; dan
(d) para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah.


FILE:  KDPPLKSyariah.pdf
Sumber IAI Global
PSAK 102 Akuntansi Murabahah

PSAK 102 Akuntansi Murabahah

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi mudharabah.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi mudharabah baik sebagai pemilik dana (shahibul maal) maupun pengelola dana (mudharib).

Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang menggunakan akad mudharabah.

Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan mudharabah.


FILE:  PSAK_102_Akuntansi_Murabahah.pdf

Sumber : IAI Global

PSAK 106 Akuntansi Musyarakah

PSAK 106 Akuntansi Musyarakah

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi musyarakah.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi
musyarakah.

Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang menggunakan akad musyarakah.

Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Dana tersebut meliputi kas atau aset nonkas yang diperkenankan oleh syariah.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan musyarakah.


FILE:  PSAK_106_Akuntansi_Musyarakah.pdf
PSAK 105 Akuntansi Mudharabah

PSAK 105 Akuntansi Mudharabah

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi mudharabah.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi mudharabah baik sebagai pemilik dana (shahibul maal) maupun pengelola dana (mudharib).

Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang menggunakan akad mudharabah.

Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan mudharabah.


FILE:  PSAK_105_Akuntansi_Mudharabah.pdf

Sumber : IAI Global
PSAK 104 Akuntansi Istishna'

PSAK 104 Akuntansi Istishna'

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi istishna’.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan untuk lembaga keuangan syariah dan koperasi syariah yang melakukan transaksi istishna’, baik sebagai penjual maupun
pembeli.

Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli,
mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’).

Berdasarkan akad istishna’, pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan barang pesanan (mashnu’) sesuai spesifikasi yang disyaratkan untuk diserahkan kepada pembeli, dengan cara pembayaran di muka atau tangguh.

Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi istishna’.


FILE:  PSAK_104_Akuntansi_Istishna'.pdf

Sumber : IAI Global

PSAK 103 Akuntansi Salam

PSAK 103 Akuntansi Salam

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi salam.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan untuk entitas yang melakukan transaksi salam, baik sebagai penjual atau pembeli. Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang menggunakan akad salam.

Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi salam.


FILE:  PSAK_103_Akuntansi_Salam.pdf

Sumber : IAI Global

PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah

PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur penyajian dan pengungkapan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) untuk entitas syariah, yang selanjutnya disebut “laporan keuangan”, agar dapat dibandingkan baik
dengan laporan keuangan entitas syariah periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas syariah lain. Pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi dan peristiwa tertentu diatur dalam PSAK terkait.

Ruang Lingkup Pernyataan ini diterapkan dalam penyajian laporan keuangan entitas
syariah untuk tujuan umum yang disusun dan disajikan sesuai dengan PSAK. Entitas syariah yang dimaksud di PSAK ini adalah entitas yang melaksanakan transaksi syariah sebagai kegiatan usaha berdasarkan prinsip-prinsip syariah yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya.

Pernyataan ini bukan merupakan pengaturan penyajian laporan keuangan sesuai permintaan khusus (statutory) seperti pemerintah, lembaga pengawas independen, bank sentral, dan sebagainya.

laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas syariah yang meliputi:
(a) aset;
(b) kewajiban;
(c) dana syirkah temporer;
(d) ekuitas;
(e) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
(f) arus kas;
(g) dana zakat; dan
(h) dana kebajikan.

Pernyataan ini berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengaturan penyajian laporan keuangan bank syariah.

FILE:  PSAK_101_Penyajian_Lap_Keu_Syariah.pdf


Sumber : IAI Global

Sabtu, 09 April 2016

Prijanto Beberkan Keterkaitan Ahok, Sunny dan Podomoro



REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode sebelumnya, Prijanto tidak heran mengapa Sunny Tanuwidjaja termasuk menjadi orang yang dicegah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan suap pembahasan Raperda Reklamasi Teluk Jakarta.
Sunny yang disebut staf khusus Gubernur DKI Jakarta Basuki (Ahok), ini diduga memiliki keterkaitan dengan kasus suap yang membelit PT Agung Podomoro Land dan Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta.

Prijanto mengakui Sunny adalah orang terdekat Ahok yang bertugas menjadi salah satu staf pribadi Ahok. Prijanto bercerita pengalamannya pada medio 2013 lalu, saat ia hendak melaporkan dugaan pelanggaran yang dilakukan PT Agung Podomoro Land dalam kasus Taman BMW kepada Ahok. Saat itu Ahok masih menjadi Wagub DKI.

Ia terlebih dahulu menemui Sunny terkait dugaan tanah bersertifikat 'bodong' yang diserahkan PT Agung Podomoro Land kepada Pemprov DKI. Menurut Prijanto, Sunny mengakui memang ada indikasi pelanggaran itu, dan ia mengatakan laporan itu akan ditindaklanjuti dan dilaporkan kepada Ahok

Namun yang menjadi keanehan kata Prijanto, sepekan setelahnya kata Prijanto justru Pemprov DKI mengemukakan tidak ada pelanggaran terkait itu. Padahal kata Wagub dari Fauzi Bowo (Foke) itu, jelas-jelas ada pemanipulasian serah terima lahan Taman BMW yang semestinya berjumlah 26 hektar itu.

"Jadi kalau tanya siapa Sunny dan hubungan Podomoro, saya simbolkan ada hubungan erat antara Ahok, Sunny dan Podomoro kaitan disininya terjadi pembiaran terhadap kasus korupsi masa lalu atau ikut mungkin ikut di dalamnya" kata Prijanto dalam diskusi bertajuk 'Reklamasi Penuh Duri' di Kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (9/4).

Menurutnya, jika Pemprov DKI mengetahui ada kekeliruan dalam serah terima tersebut, menindaklanjuti dengan menegur pihak pengembang. Bukan malah justru mensertifikati beberapa lahan yang ia duga 'bodong tersebut'.

"Wong keluarga ahli waris yang tandatangan disitu bilang ga pernah punya tanah disitu, kan nggak bener itu, harusnya ya Pemprov tegas kan, sama bawahannya (PNS DKI) aja tegas, masa ama swasta, beda," ungkapnya.
Meski begitu, Prijanto tidak kemudian menduga kekeliruan ini juga terjadi di kasus pembahasan Raperda Reklamasi Teluk Jakarta. Menurutnya, penegak hukumlah yang memiliki kewenangan mengungkap keterkaitan posisi pihak-pihak tersebut. "Kalau itu biar KPK, pasti KPK punya alasan jelas sampai mencegah Sunny, artinya informasinya dibutuhkan disini," ujarnya.

Sebelumnya, KPK mencegah Sunny Tanuwidjaja yang disebut staf khusus Gubernur DKI Jakarta Basuki‎ Tjahaja Purnama alias Ahok dan Direktur Agung Sedayu Group Richard Halim Kusuma untuk tidak ke luar negeri. Pencegahan dimaksudkan untuk kepentingan penyidikan KPK terkait dugaan kasus suap pembahasan Raperda Reklamasi Teluk Jakarta.

Satu Hal yang Membuat Alim vs Satu Hal yang Membuat Bodoh


Di zaman modern, terkadang dengan mudah sosok tertentu digelari sebagai alim (jamak: ulama). Apalagi jika didukung media. Dengan mudah seseorang akan diorbitkan.
Misalnya pada bulan lalu. Seorang aktifis pembela LGBT yang tertangkap kamera menjadi peserta demo tiba-tiba tampil di sebuah stasiun televisi dengan dandanan ustadz. Parahnya lagi, dengan terang-terangan mengaku gay.
Masruq rahimahullah pernah mengatakan satu hal yang membuat seseorang menjadi alim dan satu hal yang menjadi tanda bahwa orang itu jahil (bodoh).

كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَ اللَّهَ وَ كَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجِبَ بِعَمَلِهِ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan alim jika ia takut kepada Allah dan cukuplah seseorang itu dikatakan bodoh jika ia ujub dengan amalnya sendiri”
Inilah nasehat agung yang dituturkan oleh Masruq, seorang ulama tabi’in yang sering kali shalat sunnahnya membuat kakinya bengkak hingga sang istri menangis melihatnya. Dialah ulama tabi’in yang sering puasa sunnah hingga pernah pingsan karena tetap berpuasa di musim kemarau yang sangat panas. Dialah ulama yang ketika menunaikan haji tak pernah tidur kecuali dalam kondisi sujud.
Dialah ulama yang pernah mendapat hadiah 30.000 dinar dari seorang pembesar Bashrah. Saat itu, sebenarnya ia sangat membutuhkan uang karena berada dalam kondisi kekurangan. Namun ia tidak menerimanya sembari mengatakan “ini adalah rezeki dari arah yang disangka-sangka.” Masruq menolak pemberian penguasa itu. Ketika ulama’ lain mengetahuinya, hal itu membuat mereka semakin tahu kemuliaan Masruq.
Nasehat Masruq merupakan petuah berharga bagi setiap muslim. Bahwa seorang alim, syarat utamanya adalah takut kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28)
Indikator utama inilah yang membedakan antara ulama sesungguhnya atau ulama sekedar status saja. Imam Al Ghazali menggunakan istilah ulama su’. Ulama yang jelek. Yakni mereka yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Mungkin pengetahuannya banyak, mungkin wawasannya luas, namun jika ia tidak takut kepada Allah, ia bukanlah seorang ulama. Kalaupun harus disebut ulama, ia adalah ulama su’.
Bagian kedua dari nasehat Masruq adalah kebalikannya. Satu hal yang menjadikan seseorang jahil (bodoh). Yakni ketika seseorang ujub dengan amalnya. Ia merasa amalnya banyak. Ia merasa amalnya paling baik. Lalu ia merasa takjub dengan dirinya sendiri, menganggap dirinya paling baik, menganggap dirinya layak masuk surga.
Ini mengingatkan kita pada sabda Rasulullah tentang satu peristiwa di akhirat nanti. Ada seorang yang dimasukkan Allah ke dalam surga dengan rahmatNya, namun ia menganggap berhak masuk surga dengan amalnya. Lalu ditimbanglah seluruh amalnya tersebut dengan dibandingkan nikmat penglihatan. Rupanya, seluruh amal ahli ibadah itu tidak cukup untuk “membayar” nikmat penglihatan saja. Apalagi jika dibandingkan dengan keseluruhan nikmat yang kita terima. Apalagi jika kita bukan ahli ibadah sepertinya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Bersamadakwah]